Berita Terpopuler
Beranda / Berita Terpopuler / Redupnya Payung Keamanan AS: Negara Teluk Mulai Rajut Aliansi Mandiri Demi Bertahan

Redupnya Payung Keamanan AS: Negara Teluk Mulai Rajut Aliansi Mandiri Demi Bertahan

Setelah hampir empat bulan perang antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda, kawasan Timur Tengah justru bergerak dalam sunyi. Wilayah Teluk kini menunjukkan tanda-tanda nyata bahwa mereka tidak lagi bersandar pada payung keamanan Washington. Kegagalan Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas kawasan telah membuka celah baru. Laporan dari Newsweek mengungkapkan bahwa satu per satu negara Teluk mulai merajut perlindungan mereka sendiri di luar bayang-bayang Gedung Putih, melahirkan setidaknya tiga aliansi baru dari tengah ketidakpastian.

Keretakan di Meja Diplomasi Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)

Keseragaman yang dulu tampak kokoh di internal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kini mulai memperlihatkan keretakan yang dalam. Sejak pertempuran meluas dari Gaza hingga merambat ke Lebanon dan Iran, enam negara anggota GCC tidak lagi seirama. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai dua kekuatan utama perlahan mengambil jalan yang berbeda dari empat anggota lainnya, yaitu Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar.

Poros UEA-Israel: Dari Ekonomi Merambah ke Intelijen Militer

Arah baru diplomasi ini sebenarnya sudah dimulai enam tahun silam melalui Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) yang difasilitasi Washington. UEA dan Bahrain memilih untuk mengakui kedaulatan Israel.

Sejak saat itu, Abu Dhabi terus memperdalam hubungannya dengan Tel Aviv, mulai dari sektor ekonomi hingga masuk ke wilayah sensitif seperti kerja sama militer dan pertukaran intelijen. Menurut analis politik UEA, Salim Alketby, kedekatan ini bukan soal memihak, melainkan prinsip bahwa hubungan bilateral harus menopang stabilitas kawasan, bukan memperuncing polarisasi.

Arab Saudi Gandeng Pakistan, Negara Muslim Berpemilik Nuklir

Sebagai kekuatan ekonomi terbesar dan pusat gravitasi tradisional di Teluk, Arab Saudi enggan tinggal diam melihat pengaruh UEA yang terus melebar. Mantan diplomat Arab Saudi, Sad Abdullah Alhamad, menilai bahwa poros UEA-Israel kini telah bermutasi menjadi aliansi keamanan yang solid.

Viral di Media Sosial, Bocah Bernama Wafa Beri Kritik dan Nasihat untuk Presiden Prabowo

Menanggapi pergeseran konstelasi tersebut, Riyadh memilih jalannya sendiri. Arab Saudi memutuskan untuk menandatangani pakta keamanan strategis dengan Pakistan—satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir.

Strategi Baru Iran: Perkuat Jaringan Proksi di Bawah Radar

Di sisi lain, hampir 1.000 hari perang berlalu sejak Iran terlibat dalam konflik Israel-Hamas. Meski menerima berbagai pukulan telak, poros perlawanan yang dibangun Teheran terbukti tetap berdiri tegak. Di panggung global, Iran terus mempererat kemitraan dengan Cina dan Rusia.

Kekuatan sesungguhnya yang diandalkan Iran kini berada di bawah radar, yaitu jaringan aktor non-negara (proksi) yang tersebar dari Lebanon, Irak, hingga Yaman.

Para analis menilai Iran pascaperang perlahan meninggalkan pola pengaruh langsung. Mereka beralih ke strategi yang lebih hemat biaya melalui tangan-tangan proksi, mengubah poros yang dulu kaku menjadi jaringan pencegahan yang lebih lentur, tersebar, dan sulit dideteksi.

Lahirnya tiga poros baru ini menjadi bukti kuat bahwa ketika komitmen Amerika Serikat mulai diragukan, kawasan Teluk memilih bergerak mandiri demi mengamankan kepentingan nasional masing-masing.

Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem 40°C: Lampu Lalu Lintas hingga Lintasan Trem Meleleh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *