Para media kelas kakap sibuk menggoreng Spanyol sebagai calon tunggal juara dunia. Tapi begitu turun ke lapangan, mental juara mereka langsung meleot. Datang dengan busung dada dan gaya elit, La Furia Roja lupa kalau kesombongan adalah resep terbaik untuk mempermalukan diri sendiri. Meremehkan Cape Verde hanya karena status mereka tim debutan, pelatih Luis de la Fuente dengan angkuhnya mengacak-acak formasi dan memarkir aset berharga seperti Lamine Yamal di bangku cadangan. Hasilnya senjata makan tuan yang super tragis. Skuad harga selangit mendadak kelimpungan dan dibuat frustrasi setengah mati oleh tim kurcaci yang modalnya cuma nekat dan rekrutan LinkedIn. Sungguh tontonan komedi kelas dunia. Bagaimana bisa tim bertabur bintang Eropa mendadak linglung dan lupa cara menendang bola di depan kiper bangkotan?
Kalau ada satu laga yang harus dimenangkan Spanyol di fase grup Piala Dunia 2026, ya jelas adalah laga ini. Lawannya Cape Verde, bukan Brazil, Prancis, atau Argentina. Secara kekuatan, Cape Verde jauh di bawah Spanyol, ibarat nonton adegan Nobita versus Giant. Spanyol datang ke turnamen ini dengan status kandidat juara, namun Luis de la Fuente membawa penyakit kesombongan. La Furia Roja terlalu yakin seolah kemenangan akan datang sendiri. Sebagai bukti, ia memasang taktik yang mengada-ada, seperti memasang Gavi sebagai winger kiri, sementara Lamine Yamal dan Nico Williams diparkir di bangku cadangan. Hasilnya sudah bisa ditebak, Spanyol kesulitan. Berkaca dari Euro 2024, kekuatan Spanyol ada pada sisi sayap, namun saat melawan Cape Verde, mereka justru memaksakan serangan lewat tengah. Penyerang Mikel Oyarzabal bahkan terlihat tidak bisa ngapa-ngapain, hingga 30 menit laga berjalan ia tidak menyentuh bola sama sekali.
Di sisi lain, Cape Verde sebenarnya bukan raksasa sepak bola. Namun, malam itu di Atlanta, mereka punya tekad kuat. Bubista, pelatih Cape Verde, mengeluarkan senjata andalan: parkir bus, pesawat, sampai tank. Dengan formasi 4-1-4-1, mereka membangun tembok yang menyebalkan. Spanyol boleh pegang bola, tapi haram hukumnya cetak gol. Ada 27 tembakan yang dilepas Spanyol, tapi cuma tujuh yang tepat sasaran. Bubista tahu timnya tidak harus bermain lebih bagus, mereka hanya harus bermain lebih disiplin. Dengan fisik yang tak kenal lelah, Cape Verde sukses memaksa Spanyol main imbang tanpa gol.
Kisah Cape Verde terasa bak negeri dongeng. Ini adalah kali pertama mereka main di Piala Dunia, tapi sudah bisa membuat kandidat juara frustrasi. Sorotan tertuju pada kiper Vozinha, pria 40 tahun yang melakukan tujuh penyelamatan gemilang. Belum lagi bek Roberto Lopes, mantan bankir di Dublin yang direkrut lewat LinkedIn. Hasil imbang ini terasa luar biasa, seolah-olah kemenangan bagi mereka.
Setelah hasil ini, muncul pertanyaan: apakah Spanyol masih layak jadi kandidat juara? Jawabannya tentu saja masih. Hasil imbang pertama bukanlah jaminan gagal atau suksesnya sebuah negara di Piala Dunia, ingat kisah Argentina di 2022. Namun, ini adalah pelajaran penting bagi De la Fuente untuk berhenti bereksperimen dengan taktik aneh dan segera menurunkan pemain kunci seperti Yamal dan Nico Williams sejak menit awal. Di babak grup yang hanya tiga laga, poin sangat berarti. Bagaimana menurut kalian, apakah hasil ini memang hoki buat Cape Verde atau akibat kesombongan De la Fuente?

Komentar