Olahraga
Beranda / Olahraga / Se Edan Ini di Timnas Tapi Tiap Hari Ngelucu di Klub! Fenomena Aneh Pemain Liverpool

Se Edan Ini di Timnas Tapi Tiap Hari Ngelucu di Klub! Fenomena Aneh Pemain Liverpool

Sebagai turnamen yang terkenal sakral, ada saja kisah yang terjadi di Piala Dunia. Kalian pasti pernah dengar pemain-pemain yang cuma bersinar di turnamen ini atau cerita tentang pemain-pemain yang cuma gacor di timnas. Ya, kalau satu dua pemain sih wajar, tapi kalau pemain yang kayak gitu berasal dari satu klub, jujur janggal. Itulah fenomena aneh yang terjadi pada para pemain Liverpool musim lalu. Bahkan fans Liverpool sendiri mungkin sepakat tak ada bintang yang benar-benar menonjol, tapi waktu membela lambang negara, bisa-sebanya para pemain The Reds ini menggila. Kira-kira kenapa bisa demikian?

Kita mulai dari laga antara timnas Belanda melawan Jepang. Di laga ini, Jepang memperlihatkan semangat luar biasa untuk akhirnya menahan imbang Belanda. Negeri Kincir Angin memang tampil buruk, tapi di balik itu kita perlu memuji dua bintang Liverpool di sini. Pertama, sudah pasti Virgil van Dijk. Sebagai kapten De Oranje, Van Dijk benar-benar menjadi teladan yang tepat untuk rekan-rekan setimnya. Tandukannya ke gawang Zion Suzuki memberikan harapan buat pasukan Ronald Koeman. Aksi defensifnya juga luar biasa jauh dibandingkan aksinya waktu berseragam Liverpool. Memang di menit akhir Van Dijk gagal menghalau sepak pojok Jepang yang berakhir gol penyama kedudukan, tapi sepanjang laga ia adalah bek paling menawan Belanda. Bahkan Van Dijk sampai jadi Man of the Match karena aksi bertahannya yang luar biasa.

Selain Van Dijk, kredit juga layak diberikan pada Ryan Gravenberch. Entah mengapa di Liverpool perannya musim lalu tidak sekrusial perannya di era Jurgen Klopp. Namun di Belanda, Gravenberch langsung membuktikan kalau dia belum habis. Di laga kontra Jepang, Gravenberch menyumbang dua assist, termasuk assist buat Van Dijk. Soal permainan, Gravenberch juga bisa dibilang ada di puncak performanya. Dia ada di mana-mana mirip seperti perannya di Liverpool era Jurgen Klopp. Bahkan Gravenberch adalah gelandang paling oke punya di antara gelandang Belanda lain di laga itu dan mendapatkan rating 8,4.

Kalau Virgil van Dijk dan Ryan Gravenberch kita mungkin tak akan terlalu heran, tapi yang lebih mengejutkan adalah laga Swedia versus Tunisia. Selain menyajikan masterclass Graham Potter, kalian juga akan melihat kebangkitan Alexander Isak. Kalian tahu sendiri kan betapa tragisnya nasib Isak di Liverpool. Datang dengan banderol super mewah, Isak malah sibuk review fasilitas medis daripada turun lapangan. Namun entah ramuan ajaib apa yang diberikan Abah Potter sampai-sampai Isak bisa bangkit dan tampil gacor saat melawan Tunisia. Tidak tanggung-tanggung, Isak memborong satu gol dan dua assist bersama dengan tandemnya Victor Gyokeres, membabat Tunisia 5-1.

Van Dijk, Gravenberch, lalu Isak sudah jadi bukti betapa anehnya fenomena pemain Liverpool yang gacor di timnas. Tapi kalau kalian masih mau bukti, lihatlah laga Jerman versus Curacao. Di laga ini, Der Panzer mengamuk dengan kemenangan 7-1 dan salah satu pemain yang bersinar adalah Florian Wirtz. Kalau kalian nonton pertandingannya, Wirtz ini menjadi salah satu nyawa permainan Jerman. Kepiawaiannya mencari ruang membuat para pemain Jerman leluasa mendobrak pertahanan Curacao. Wirtz juga memberi satu assist di laga ini. Di laga tersebut, Wirtz mencatat total 64 operan dengan akurasi menyentuh 86%. Kalau di Liverpool, dari 33 penampilan, catatan Wirtz cuma 5 gol dan 3 assist. Perannya mirip-mirip di Jerman, mencari ruang dan membagi bola, tapi seringkali peran ini tak seefektif di Liverpool.

Ratusan Masyarakat Lampung Menolak Safari Politik Jokowi, Menyorot Kasus Ijazah Palsu

Keanehan pemain Liverpool nyatanya tak berhenti pada empat nama tadi. Kita juga tak boleh melupakan Mohamed Salah, pemain yang musim lalu sudah mulai dipinggirkan Arne Slot, terbukti masih sangat berguna di Mesir. Turun sebagai gelandang serang di belakang Omar Marmoush, Salah tampil menawan dan mengirim umpan-umpan kunci. Pindah ke laga Brasil versus Maroko, di balik performa kurang impresif Brasil, Alisson Becker yang berdiri di bawah mistar sejatinya tidak buruk-buruk amat. Kendati kebobolan satu gol, Alisson masih melakukan dua penyelamatan krusial. Di Liverpool, performa Alisson musim lalu jauh menurun dengan angka kebobolan mencapai 31.

Dari fenomena tadi bisa kita tarik kesimpulan kalau para pemain tadi tidak bisa bersinar di klub sementara di timnas menggila. Sudah jelas orang paling bersalah itu kini sudah meninggalkan Liverpool, Arne Slot lah orangnya. Bisa dibilang banyak pemain Liverpool yang bersinar tadi dibangun untuk strategi ‘dar-der-dor’ mirip-mirip seperti era Jurgen Klopp. Namun kalau diperhatikan cara main Arne Slot di musim 2025/2026, Liverpool cenderung mencari aman dengan hanya memegang bola, masalah gol atau menang belakangan. Akibatnya potensi pemain macam Isak, Gravenberch, hingga Wirtz tidak bisa maksimal.

Tapi bagaimanapun Arne Slot adalah masa lalu Liverpool. Musim depan The Anfield Gang menatap masa depan baru bareng seorang pelatih berideologi mirip Klopp, Andoni Iraola. Maka dari itu kita lihat apakah para pemain Liverpool yang gacor di laga internasional bisa maksimal di tangan Iraola atau tidak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *