Program POV Times kali ini mengupas tuntas dua isu nasional yang tengah menjadi pusat perhatian publik. Topik pertama menyoroti jalannya pidato tertutup Presiden Prabowo Subianto di hadapan ribuan akademisi, sementara topik kedua membahas evaluasi kritis dan kontroversi di balik pelatihan fisik calon manajer koperasi sipil.
Dibalik Pidato Tertutup 3,5 Jam Presiden Prabowo di KSTI 2026
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato panjang dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC). Acara ini dihadiri oleh sekitar 2.600 peserta yang terdiri dari rektor, dekan, dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Alasan Sterilisasi Media dari Ruang Pidato
Salah satu momen yang menarik perhatian publik adalah keputusan Presiden yang meminta para wartawan untuk keluar dari ruangan saat sesi pidatonya dimulai. Menanggapi hal ini, Editor-in-Chief IDN Times, Uni Lubis, menilai bahwa langkah tersebut sengaja diambil sebagai strategi komunikasi. Tujuannya adalah untuk menghindari kegaduhan publik atau dampak negatif terhadap pasar keuangan akibat pernyataan-pernyataan improvisasi Presiden yang kerap kali blak-blakan.
Bedah Isi Pidato: Dari Deep State hingga Pujian untuk Menteri Warisan Jokowi
Dalam sesi tertutup yang berlangsung selama 3,5 jam tersebut, Presiden Prabowo mengulas sejumlah konsep geopolitik dan ekonomi:
-
Teori Bernegara: Membahas konsep deep state, state craft, serta aliran realisme dalam bernegara demi kelangsungan hidup bangsa. Ia menegaskan penolakannya terhadap doktrin bahwa negara kuat pasti akan bertindak semena-mena kepada negara lemah.
-
Kedaulatan Ekonomi: Menekankan urgensi hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan pembentukan dana antara untuk mengelola ekspor satu pintu, agar keuntungan ekonomi sepenuhnya berputar di dalam negeri.
-
Apresiasi Kabinet: Presiden secara terbuka memuji kinerja sejumlah menteri warisan dari kabinet Presiden Jokowi—seperti Airlangga Hartarto, Bahlil Lahadalia, dan Sakti Wahyu Trenggono—yang dinilainya memiliki loyalitas tinggi kepada Merah Putih.
Kontroversi Diklat Calon Manajer Koperasi: IDN Times Tolak Pola Militeristik Sipil
Topik kedua yang dibahas secara tajam oleh POV Times adalah pelaksanaan latihan dasar bagi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa, Kelurahan, dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Temuan Mengejutkan: Korban Jiwa hingga Peserta Melahirkan
IDN Times menyoroti keprihatinan yang mendalam atas jalannya diklat tersebut setelah ditemukannya fakta jatuhnya korban jiwa di kalangan peserta. Selain itu, investigasi juga menemukan adanya kasus peserta yang tetap mengikuti kegiatan dalam kondisi hamil hingga melahirkan.
Jiwa Korsa Tidak Harus Dibentuk Melalui Fisik Militer
Uni Lubis secara tegas menyatakan posisi redaksi IDN Times yang menolak keras penerapan pola pelatihan ala militer untuk posisi-posisi sipil. Menurutnya, untuk membangun jiwa korsa, integritas, dan rasa patriotisme seorang manajer koperasi, tidak diperlukan latihan fisik militeristik yang ekstrem. Metode tersebut dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan peserta dan tidak relevan dengan kompetensi manajerial yang dibutuhkan.
Kritik Atas Pemborosan Anggaran Ditengah Seruan Efisiensi
Sorotan tajam juga diarahkan pada aspek finansial program ini. Pelatihan ala militer dinilai membebani anggaran negara untuk pengadaan atribut-atribut yang tidak perlu. Redaksi menilai ada inkonsistensi yang nyata antara pesan efisiensi anggaran yang sering digelorakan oleh Presiden Prabowo, dengan praktik di lapangan yang justru menambah pos biaya baru melalui kegiatan pelatihan yang tidak relevan dengan kebutuhan operasional koperasi.
Komentar