Dunia
Home / Dunia / Internasional & Hukum Global: Di Tengah Tekanan Sanksi AS, Parlemen Eropa Anugerahi Mahkamah Pidana Internasional Penghargaan HAM Sakharov Prize

Internasional & Hukum Global: Di Tengah Tekanan Sanksi AS, Parlemen Eropa Anugerahi Mahkamah Pidana Internasional Penghargaan HAM Sakharov Prize

The International Criminal Court in The Hague last month.Credit...Remko De Waal/Anp, via Agence France-Presse — Getty Images
The International Criminal Court in The Hague last month.Credit...Remko De Waal/Anp, via Agence France-Presse — Getty Images

STRASBOURG — Parlemen Eropa secara resmi menganugerahi penghargaan hak asasi manusia (HAM) bergengsi, Sakharov Prize, kepada Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court / ICC). Langkah ini menjadi bentuk dukungan politik terbuka dari Uni Eropa terhadap independensi lembaga peradilan global tersebut di tengah upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menghambat operasinya.

Laporan dari The New York Times mencatat bahwa lembaga legislatif Uni Eropa menegaskan peran krusial ICC sebagai aktor utama dalam menghentikan praktik kekebalan hukum (impunity) di panggung internasional.

Pernyataan Resmi Uni Eropa dan Penegakan Hukum Internasional

1. Komitmen Terhadap Multilateralisme

Presiden Parlemen Eropa, Roberta Metsola, menyampaikan bahwa penganugerahan ini mencerminkan komitmen mendasar Uni Eropa terhadap tata hukum dunia:

“Uni Eropa dibangun atas dasar penghormatan terhadap multilateralisme dan institusi internasional. Penghargaan ini menegaskan kerja penting Mahkamah Pidana Internasional dalam menegakkan hukum dan keadilan internasional,” tegas Roberta Metsola saat memimpin sidang di Strasbourg, Prancis.

Pengumuman kemenangan ICC tersebut disambut dengan standing ovation oleh para anggota parlemen Uni Eropa.

Internasional & Geopolitik: Jelang Pemilu Nasional, PM Netanyahu Perintahkan Penutupan Tepi Barat dan Pengepungan Kota Hebron

2. Tanggapan Resmi Mahkamah Pidana Internasional (ICC)

Lembaga peradilan berbasis di Den Haag, Belanda, yang berdiri sejak tahun 2002 ini menginvestigasi dan mengadili kejahatan genosida, kejahatan perang, serta kejahatan kemanusiaan. Pihak ICC menyambut baik penghargaan ini sebagai pengakuan atas peran hukum internasional sebagai fondasi perdamaian abadi.

Eskalasi Ketegangan dan Sanksi Finansial dari Pemerintahan AS

Pemberian penghargaan ini secara langsung menyoroti friksi geopolitik antara Uni Eropa dan Amerika Serikat terkait yurisdiksi peradilan global:

  • Perintah Eksekutif Donald Trump: Pada awal masa jabatan keduanya, Presiden Trump menerbitkan Perintah Eksekutif yang menginstruksikan pengenaan sanksi kepada ICC, dengan tuduhan bahwa lembaga tersebut merusak keamanan nasional AS serta merugikan sekutu utamanya, khususnya Israel.

  • Sanksi Keuangan: Pemerintah AS memberlakukan sanksi finansial yang berpotensi membatasi kemampuan operasional dan pendanaan ICC.

  • Status Statuta Roma: Dari hampir 200 negara di dunia, sebanyak 125 negara telah meratifikasi Statuta Roma. Amerika Serikat dan Israel termasuk di antara negara yang tidak meratifikasi perjanjian tersebut sehingga menolak terikat oleh keputusan ICC.

Tentang Sakharov Prize dan Rencana Seremoni Penganugerahan

Penghargaan yang mengambil nama dari pembangkang Uni Soviet, Andrei Sakharov, ini diberikan setiap tahun kepada individu atau kelompok yang secara konsisten membela hak asasi manusia dan kebebasan mendasar:

Internasional & Geopolitik Asia Selatan: Kegagalan Mediasi Diplomatik Global, Konflik Pakistan dan Taliban Afghanistan Kian Memanas Lewat Perang Proxy

  • Sikap Tegas Uni Eropa: Parlemen Eropa secara eksplisit mencatat keprihatinan mendalam atas ancaman dan gelombang sanksi yang dijatuhkan terhadap ICC, terutama oleh pihak Amerika Serikat.

  • Jadwal Seremoni: Upacara penyerahan resmi Sakharov Prize dijadwalkan akan berlangsung pada bulan Desember mendatang di Strasbourg, Prancis.

“Penganugerahan Sakharov Prize kepada ICC menegaskan posisi tegas Uni Eropa dalam mempertahankan tatanan hukum berbasis aturan di tengah meningkatnya tekanan unilateralisme,” ulas analisis hukum internasional dari The New York Times.

Internasional & Politik Global: Jelang Pemilu Serbia, Aleksandar Vucic Eksploitasi Sentimen Nasionalisme dan Sosok Jenderal Ratko Mladic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *