RIYADH — Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah milisi Houthi yang disokong Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke objek vital di Arab Saudi. Serangan yang menghantam Bandara Internasional King Fahd di Dammam serta fasilitas minyak modal negara Saudi Aramco menyebabkan korban jiwa berjatuhan dan memicu kepanikan di pasar energi global.
Laporan dari The New York Times mengonfirmasi bahwa akibat intensitas serangan yang meningkat, Pemerintah Amerika Serikat telah menginstruksikan pemulangan staf diplomatik non-darurat dari wilayah kerajaan tersebut.
Rincian Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur Vital Arab Saudi
1. Serangan di Bandara Internasional Dammam
Otoritas Kerajaan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa serangan rudal yang menerjang Bandara Internasional King Fahd di Dammam pada Rabu malam mengakibatkan dua orang tewas (seorang warga negara Saudi dan seorang warga negara India) serta melukai delapan orang lainnya. Kota Dammam di Provinsi Timur merupakan markas utama raksasa minyak Saudi Aramco.
2. Penyadapan Drone di Kilang Minyak Shaybah
Dalam insiden terpisah pada hari yang sama, puing-puing drone yang berhasil dicegat di atas kilang minyak Shaybah menimpa kendaraan kontraktor hingga memicu kebakaran hebat. Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi dua pekerja (warga negara Filipina dan Nepal) tewas dalam kejadian tersebut.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, mengklaim bertanggung jawab atas rangkaian serangan ke Dammam, fasilitas Aramco di Yanbu, Kementerian Pertahanan di Riyadh, serta bandara di kota Abha.
Lonjakan Harga Minyak Global dan Perintah Evakuasi Staf AS
Gempuran beruntun terhadap fasilitas penerbangan dan energi Arab Saudi menekan pasar keuangan internasional secara signifikan:
-
Lonjakan Harga Minyak Mentah: Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Kamis, mendorong patokan harga global melampaui US$112 per barel—level tertinggi sejak pertengahan Mei.
-
Evakuasi Staf Aramco: Manajemen Saudi Aramco menginstruksikan para karyawan di markas besar Dhahran untuk mengosongkan gedung dan bekerja secara jarak jauh (remote work).
-
Perintah Pemulangan Diplomat AS: Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengonfirmasi bahwa Washington telah memerintahkan seluruh staf pemerintah non-darurat beserta keluarga mereka untuk segera meninggalkan Arab Saudi demi keselamatan jiwa.
Eskalasi Perang Saudara Yaman dan Tekanan Jalur Pelayaran Laut Merah
Rangkaian serangan luar wilayah ini merupakan bagian dari eskalasi perang saudara di Yaman yang kembali meletus pasca-berakhirnya kesepakatan gencatan senjata:
1. Pertempuran Darat dan Krisis Kemanusiaan
Sejak Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah pada September, pasukan pemerintah Yaman yang didukung jet tempur Arab Saudi melancarkan serangan balasan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.574 orang tewas dan 260.000 warga terpaksa mengungsi sejak Agustus.
2. Penutupan Selat Hormuz dan Jalur Ekspor Minyak
Ancaman terhadap pasokan energi kian kompleks setelah Iran menutup Selat Hormuz pasca-konflik militer dengan AS dan Israel. Penutupan terusan utama Teluk Persia tersebut memaksa Arab Saudi mengalihkan jalur ekspor minyak ke Laut Merah—yang kini juga rentan terhadap gempuran armada drone Houthi.
“Serangan beruntun ke fasilitas minyak dan jalur pelayaran Laut Merah meningkatkan potensi krisis energi global di tengah upaya mediator kawasan menghentikan ketegangan militer,” ulas analisis геоpolitik dari The New York Times.
Comment