Dunia
Home / Dunia / Internasional & Geopolitik Asia Selatan: Kegagalan Mediasi Diplomatik Global, Konflik Pakistan dan Taliban Afghanistan Kian Memanas Lewat Perang Proxy

Internasional & Geopolitik Asia Selatan: Kegagalan Mediasi Diplomatik Global, Konflik Pakistan dan Taliban Afghanistan Kian Memanas Lewat Perang Proxy

A house hit in June by Pakistani airstrikes in Paktia Province, Afghanistan, near the border with Pakistan, as seen in August.Credit...Tomas Munita for The New York Times
A house hit in June by Pakistani airstrikes in Paktia Province, Afghanistan, near the border with Pakistan, as seen in August.Credit...Tomas Munita for The New York Times

ISLAMABAD — Berbagai upaya mediasi yang diprakarsai oleh Tiongkok, Rusia, Turki, Arab Saudi, hingga Qatar menemui jalan buntu. Konflik militer antara Pakistan dan otoritas Taliban di Afghanistan kini menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang kian berbahaya, di mana kedua belah pihak secara terbuka meninggalkan jalur diplomasi dan mulai mengandalkan jaringan kelompok perang proxy.

Laporan dari The New York Times menguraikan bahwa bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan yang porous (mudah ditembus) terus memakan korban jiwa dari pihak militer maupun warga sipil.

Klaim Kontak Senjata Perbatasan dan Penggunaan Kelompok Proxy

1. Bentrokan di Perbatasan dan Silang Sengketa Korban

Dalam pertempuran terbaru di sepanjang perbatasan, pihak militer Pakistan mengklaim telah menghancurkan kamp militer dan menewaskan sejumlah tentara Afghanistan. Namun, juru bicara militer lokal Afghanistan membantah klaim tersebut dan balik menyatakan bahwa pihak Taliban berhasil menewaskan 13 prajurit Pakistan.

2. Pemanfaatan Jaringan Oposisi Bersenjata

Pakar analisis Afghanistan dari International Crisis Group, Ibraheem Bahiss, memeringatkan bahwa krisis ini kian tidak menentu seiring berkembangnya perang proxy:

  • Tudingan Terhadap Taliban: Otoritas Afghanistan dituduh membiarkan kelompok milisi melintasi perbatasan untuk melancarkan serangan melintasi batas negara ke wilayah Pakistan.

  • Langkah Balasan Pakistan: Pejabat intelijen dan militer Pakistan dilaporkan telah menggelar pertemuan dengan para pemimpin kelompok oposisi bersenjata anti-Taliban untuk menjajaki potensi pemberian bantuan militer.

Kebuntuan Mediasi Diplomatik Tiongkok dan Rusia

Sejak Pakistan mendeklarasikan situasi perang terbuka pada akhir Februari, rentetan pertempuran telah menewaskan atau melukai sedikitnya 1.100 sipil Afghanistan serta menyebabkan lebih dari 730 warga sipil tewas di Pakistan akibat serangan milisi sepanjang tahun ini.

Internasional & Geopolitik: Jelang Pemilu Nasional, PM Netanyahu Perintahkan Penutupan Tepi Barat dan Pengepungan Kota Hebron

Upaya diplomatik dari negara-negara kekuatan kawasan gagal mencapai kesepakatan damai:

  • Negosiasi di Tiongkok: Pembicaraan damai yang difasilitasi Beijing pada bulan April tidak membuahkan hasil.

  • KTT Keamanan Moskow: Pertemuan 10 negara kawasan di Moskow pada 5 Oktober gagal menerbitkan pernyataan bersama akibat perdebatan sengit antara delegasi Pakistan dan Afghanistan.

“Kedua pihak begitu keras mempertahankan posisi dan pembenarannya masing-masing, sehingga tidak ada negara—bahkan Tiongkok sekalipun—yang mampu menekan mereka untuk berdamai,” ulas Ibraheem Bahiss.

Akar Permasalahan: Milisi Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP)

Sumbu utama dari perselisihan berdarah ini bermuara pada dukungan dan pembiaran terhadap kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atau Taliban Pakistan:

Internasional & Politik Global: Jelang Pemilu Serbia, Aleksandar Vucic Eksploitasi Sentimen Nasionalisme dan Sosok Jenderal Ratko Mladic

  • Intensitas Serangan Harian: Data dari Pak Institute of Peace Studies mencatat terjadi rata-rata lebih dari satu serangan milisi per hari terhadap aparat keamanan Pakistan sepanjang tahun ini.

  • Sikap Taliban Afghanistan: Pihak Taliban di Kabul membantah memberikan perlindungan maupun bantuan teknis terhadap aksi-aksi perlawanan bersenjata yang menyasar wilayah Pakistan.

“Konflik ini bergeser dari konfrontasi skala kecil menjadi perang terbuka berkepanjangan yang berpotensi lepas kendali di Asia Selatan,” ulas Amira Jadoon, pakar keamanan dari Clemson University.

Internasional & Hukum Global: Di Tengah Tekanan Sanksi AS, Parlemen Eropa Anugerahi Mahkamah Pidana Internasional Penghargaan HAM Sakharov Prize

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *