Beranda / Dunia / Gawat NATO? Inggris-Perancis Ujikan “Perencanaan Hidup” Tanpa AS Imbas Trump yang Tantrum

Gawat NATO? Inggris-Perancis Ujikan “Perencanaan Hidup” Tanpa AS Imbas Trump yang Tantrum

Kegagalan Amerika Serikat menghadapi Iran seakan mengungkap tabir yang lebih menganga, yakni keretakan dalam NATO. Di saat Amerika Serikat tengah kerepotan melancarkan [musik] blokade di Selat Hurmus, sekutu NATOnya yakni Inggris dan Prancis justru melangkah ke arah yang berbeda. Seakan gerak dengan sikap linka Serikat Donald Trump, Prancis dan Inggris justru mengajak 40 negara untuk berkoalisi dan membahas cara membuka Selat Hurmus tanpa melibatkan Washington. Aksi Inggris dan Perancis

ini seolah jadi sinyal bahwa NATO sedang mencari jalan lain dan mempersiapkan diri kalau-kalau Amerika Serikat benar-benar hengkang dari aliansi militer itu. Lantas seperti apa rencana Prancis dan Inggris dan bagaimana NATO menyikapi suasana hati Trump yang tak bisa ditebak? Pada Jumat, 17 April 2026, Paris menjadi tuan rumah sebuah pertemuan yang lebih besar dari sekadar agenda diplomatik biasa. Inggris dan Prancis mengundang sekitar 40 negara tanpa Amerika Serikat dan Iran. [musik] Puluhan negara itu

duduk bersama untuk membahas satu pertanyaan besar, yakni bagaimana cara membuka kembali Selat Hurmus. Pertemuan Paris ini lahir dari keengganan Inggris, Prancis, dan negara Eropa lainnya untuk bergabung dalam blokade Amerika Serikat di Selat Hormus. Bagi mereka bergabung dalam blokade sama artinya dengan ikut masuk ke dalam perang itu [musik] dan itu bukan pilihan yang ingin mereka ambil. Itulah kenapa pertemuan di Paris ini seolah jadi manuver yang mengisyaratkan bahwa Eropa yakin ada cara lain untuk menyelesaikan masalah di

Selat Hormus selain dengan memblokade Iran. Lantas apa yang sebenarnya dibahas? Berdasarkan dokumen yang dibagikan kepada negara-negara undangan, setidaknya [musik] ada tiga fokus utama dalam pertemuan ini. Pertama, negara-negara Eropa menegaskan dukungan diplomatik penuh terhadap kebebasan navigasi di Selat Hurmus dan penghormatan terhadap hukum internasional. Kedua, membahas dampak ekonomi nyata yang sudah dirasakan industri pelayaran global. Dan ketiga, mengkaji pembentukan misi militer multinasional yang bersifat defensif.

Misi militer itu dibentuk untuk menjamin keamanan jalur pelayeran. Seorang pejabat senior Prancis menyebut misi itu mencakup operasi intelijen, pembersihan ranjau, pengawalan, sampai mekanisme pertukaran informasi antar negara di kawasan. [musik] Pertemuan di Paris sudah mengindikasikan dengan jelas bahwa NATO dan Amerika Serikat bisa jadi tak lagi sejalan. Trump pun berulang kali mengutarakan ancamannya akan menarik Amerika Serikat keluar dari NATO. Trump bahkan pernah menyebut sekutu Eropanya di NATO sebagai

Surat Prabowo Subianto Kepada Tutupnya Retreat Ketua DPRD di Magelang

pengecut dan macan kertas. Semua bermula sejak Trump mengutarakan niatnya ingin merebut Greenland dari Denmark sesama anggota NATO. Secara hukum, Trump perlu melalui berbagai persetujuan kongres untuk menarik Amerika Serikat keluar dari NATO. Tapi sebagai panglima tertinggi, Trump bisa saja menarik pasukan atau memangkas dukungan militer Amerika Serikat di Eropa tanpa persetujuan siapapun. [musik] Itulah kenapa NATO mulai menyusun rencana cadangan untuk menghadapi kalau kalau Trump beneran mau keluar dari aliansi

itu. Rencana itu bernama NATO Eropa, sebuah [musik] konsep yang bertujuan memperkuat peran negara-negara Eropa dalam struktur aliansi militer itu. Konsep itu sebenarnya sudah digagas dari tahun lalu pada 2025. Tapi kini konsep itu dipercepat dan perubahan paling menentukan justru datang dari Jerman, negara yang selama ini menolak konsep itu. Selama puluhan tahun, Jerman menolak dorongan Prancis untuk memperkuat kedaulatan pertahanan Eropa. Mereka lebih memilih bergantung pada payung keamanan Amerika Serikat.

Tapi kini di bawah kanselir Fredriich MER, pandangan itu mulai berubah. MERS disebut khawatir terhadap inkonsistensi kebijakan Amerika Serikat. terutama setelah menilai Trump berpotensi meninggalkan Ukraina dan tak lagi berpegang pada nilai yang jelas di dalam NATO. [musik] Tapi strategi konsep baru ini harus lebih halus. Caranya dengan memperbesar peran Eropa tanpa memicu mundurnya Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius mengatakan negara-negara Eropa harus lebih bertanggung jawab pada alians ini. NATO

harus [musik] jadi lebih Eropa supaya tetap transatlantik. Langkah Jerman ini membuka jalan bagi terbentuknya koalisi sukarela di dalam NATO yang mengganding Inggris, Prancis, Polandia, negara-negara Nordik sampai Kanada. Swedia dan Finlandia juga sudah bergerak. Duta besar Swedia untuk Jerman, Veronica Juan Danielson menyebut negaranya sudah ambil langkah antisipasi dan melakukan pembicaraan informal dengan sekutu yang sepemikiran. Inti pembicaraannya, mereka siap mengisi kekosongan di dalam NATO. Sementara

Presiden Finlandia, Alexander Stuk bahkan menyebut lebih tegas bahwa perpindahan bebas [musik] dari Amerika Serikat ke Eropa sedang terjadi dan akan terus berlanjut. [musik] Tekad sudah ada, koalisi sudah terbentuk, tapi antara niat dan kenyataan, ada jurang yang tak bisa ditutupi hanya dengan pernyataan bersama. Sejak NATO berdiri, Amerika Serikat telah menjadi tulang punggung aliansi itu. Logistik, intelijen, komando militer tertinggi sampai sistem peringatan rudal semuanya dibangun atas asumsi bahwa Washington akan selalu ada

Iran Menuju AS: Kamu Tidak Akan Mengakhiri Lagi, Saya yang Bisa Mengakhiri Perang

di balik layar. Sekarang para pejabat Eropa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti, siapa yang akan mengelola pertahanan udara dan sistem rudal NATO? Siapa yang menjamin jalur penguatan ke Polandia dan negara-negara Baltik? Siapa pula yang menanggung jaringan logistik dan memimpin latihan militer besar? Kemampuan Eropa di sejumlah sektor krusial seperti perang anti kapal selam, ruang angkasa dan pengintaian, pengisian bahan bakar di udara sampai mobilitas di udara masih tertinggal dari Amerika

Serikat. Tak ada yang bisa menggantikan peran Amerika Serikat dalam waktu singkat. Meski demikian, di tengah semua tantangan itu, ada tanda-tanda pergeseran sedang terjadi. [musik] Kini semakin banyak posisi komando penting dalam struktur NATO yang dipegang oleh pejabat Eropa. Sejumlah latihan militer besar pun mulai dipimpin oleh negara-negara Eropa. Prancis dan Inggris juga didorong untuk memperluas peran mereka, termasuk kemungkinan menggantikan payung nuklir Amerika Serikat. Karena dari banyak negara Eropa

anggota NATO, hanya dua negara itu yang punya senjata nuklir. [musik] Prancis dan Jerman bahkan sudah mulai membuka pembicaraan soal perluasan perlindungan nuklir Prancis ke negara Eropa lain. Intinya, negara-negara NATO saat ini tidak sedang membangun NATO dari awal, melainkan sedang belajar menjalankan apa yang sudah ada tanpa tergantung pada satu tangan yang selama ini memegang kendali yakni Amerika Serikat. Pertemuan pari soal Selat Hormus, percepatan rencana NATO Eropa sampai diskusi soal kemandirian negara Eropa

semuanya adalah potongan satu gambar besar yang sama. Sebuah momen di mana Eropa sedang belajar berdiri tegak sendiri karena tak ada lagi jaminan Amerika Serikat akan selalu ada di belakang mereka. Para anggota NATO dari Eropa tampaknya mulai tak percaya lagi untuk menggantungkan nasib mereka pada presiden yang plin-pelan dan suka tantrum. Pertanyaannya, apakah NATO Eropa ini benar-benar bisa berdiri tanpa Amerika Serikat? Apakah mereka bisa mematahkan ejekan macan kertas dan pengecut dari Trump? Pantau terus

perkembangannya hanya di channel kanal YouTube Kompas.com. He [lonceng]

Masyarakat Israel Ada Luka Karena Kena Pecahan Roket Hizbullah

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *