Presiden Amerika Serikat Donald Trump kehabisan cara hadapi Iran di tengah kebuntuhan geopolitik Timur Tengah. CNN menggambarkan setiap kali sang presiden berucap soal Teheran yang terjadi justru sebuah blunder. Bahkan dalam fantasi besar yang ia bangun sekalipun, Trump dinilai telah melakukan kekeliruan strategis yang permalukan wibawa sang adidaya. Fantasi itu merupakan ambisi Trump untuk mendikte negara-negara teluk untuk menormalisasi hubungan diplomatik mereka dengan Israel. Trump bahkan terang-terangan mengancam
Oman jika berani menjelin hubungan dan membahas sistem tarif Selat Hormus bersama Iran. Paksaan dan ancaman ini justru membingungkan para negosiator yang sedang berusaha keras mencari jalur damai serta berpotensi memicu ketegangan baru di kawasan Teluk. Sementara di sisi seberang, Iran melihat seluruh sumber sang presiden sebagai titik lemah yang terekspos dengan sendirinya. Teheran kini menganggap kualitas militer Amerika Serikat dan Israel telah melemah sehingga peluang untuk mulai kampanye perang berkelanjutan sangat kecil.
Lantas bagaimana fantasi normalisasi Trump berakhir pada gagalan diplomatik yang nyata? Simak selengkapnya dalam video berikut. Amerika Serikat hingga video ini dibuat masih belum dapat mencari jalan keluar dari perang Iran. Tapi bukannya fokus terhadap hal itu, Presiden Donald Trump malah menambah tujuan baru yang mengancam dan merumit politik Timur Tengah. Mengutip CNN pendekatan militer yang gagal serta blokade perang ekonomi yang kurang mempan. Maksatran berfantasi dengan mengajak negara-negara teluk
untuk segera bergabung dalam perjanjian Abraham alias Abraham Accord. Pada Senin, 25 Mei 2026 lalu, Trump meminta Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania untuk masuk ke dalam warisan masa jabatan pertamanya itu. Bahkan Trump juga memberi sinyal kalau Iran akan bergabung dalam kesepakatan tersebut. Tetapi fantasi Trump ini mengingungkan peran negosiator di lapangan. Karena situasi politik kawasan tidak memungkinkan normalisasi tersebut. Analis militer CNN KCK Lon menyebut rencana sang presiden sebagai sebuah
angan-angan belaka. Salah satu alasan utama mengapa fantasi Trump ini mustahil terwujud adalah sikap tegas dari negara negara Arab terutama Arab Saudi. Saudi sejak awal sudah menegaskan normalisasi dengan Israel hanya akan terjadi jika ada jalan untuk menentukan negara Palestina. Kondisi ini jelas semakin jauh dari realitas. Usai tewasnya puluhan ribu warga sipil di Gasa akibat operasi Israel serta kekerasan pemukim ekstremis di tepi barat. Seorang berti senior di International Institute for Strategic Studies, Hasan
Alhan menyebut banyak persepsi regional soal Israel sama sekali tidak menyenangkan. Ditambah reputasi Perdana Menteri Israel benyamin Netanyahu dicap buruk di mata internasional plus tidak populer di kalangan rakyatnya sendiri. Gagalnya Amerika Serikat dalam menundukkan Iran serta memaksakan normalisasi hubungan menambah daftar kecacatan kebijakan luar negeri Washington. Ini bisa jadi kasus lain di mana Washington menganut posisi yang tampak logis dari pulahan bumi barat tapi kemudian runtuh saat berhadapan
dengan Timur Tengah. Timur Tengah seolah menjadi antitesis dari kedikdayaan Washington. Sebab gagalnya S di sini tidak cuma saat pemerintahan Trump, tapi telah menjadi kelemahan kebijakan AS selama sebagian besar abad ke-21 termasuk di Irak dan Afghanistan. Ketidakpraktisan strategi tersebut tercermin dalam dimasukkannya Pakistan dalam daftar Trump. Bergabung dengan kesepakatan Abraham akan membutuhkan perubahan besar di negara muslim itu dengan kondisi politik yang sudah bergejolak. Meskipun Islamabah telah
berusaha untuk mendekati Trump, mereka belum pernah secara resmi mengakui Israel dan tidak punya rencana publik untuk melakukannya. Trum mengakui bahwa sejumlah negara dalam daftarnya mungkin punya alasan untuk tidak bergabung. Sementara itu dari kacamata Iran, aliansi militer Amerika Serikat dan Israel mereka sebut sudah melemah. Seorang pejabat tinggi korps revolusi Islam Iran atau RJC menilai bahwa kemungkinan terjadinya perang terbuka susulan dengan Amerika Serikat saat ini tergolong sangat kecil.
Pernyataan itu dilontarkan oleh Wakil Kepala Politik Angkatan Laut RJC Muhammad Akbar Sadeh atas penilaiannya yang menganggap kekuatan Ais dan Israel telah melemah. Kendati begitu yang menegaskan bahwa serangan militer Iran tetap berada dalam status siaga satu untuk menghadapi dan matahkan serangan apapun yang datang dari luar. Lebih lanjut, ia menegaskan Iran tidak akan segan untuk mengambil tindakan militer yang masif dan mematikan. Tak sampai di sana, Tehan juga melancarkan rayuan diplomasi kepada Oman.
Teheran mengajak Oman untuk bekerja sama dalam mengelola sistem biaya lainan bagi kapal tanker yang melintasi selot Hormus. Adapun Oman awalnya menolak kemitraan bersama dengan Iran di selat tersebut, tetapi sekarang dilaporkan sedang berdiskusi tentang pembagian pendapatan menurut laporan dari dua pejabat Iran. Di saat yang sama, pemer tinggi Iran Mustaba Kamene melancarkan seruan persatuan negara muslim guna menyaingi proyek perluasan Abraham Accords Mil Trump. Mustaba mengajak negara kawasan
untuk membentuk tatanan baru yang sepenuhnya bebas dari campur tangan militer Amerika Serikat. Strategi perluasan Abraham Accords yang dibangun oleh Donald Trump hanyalah sebuah fantasis semu yang tak sejalan dengan kenyataan geopolitik kawasan. Ancaman militer dan blokade ekonomi yang kian keropos gagal memaksa negara-negara Arab untuk mengikuti keinginan sepihak gedung putih. Permintaan Trump agar negara teluk menerima normalisasi hubungan dengan Israel justru dianggap membingungkan proses negosiasi dan memicu ketegangan
baru. Sementara itu, Tehan berhasil memanfaatkan kelonggaran sikap Washington guna melancarkan upaya diplomasi yang lebih berdekari. Saksikan kabar lainnya hanya di kanal YouTube Kompas.com.

Komentar