Jika kalian tengok sepak terjang timnas Jepang hari ini, rasanya kok enggak susah untuk menyebut bahwa mereka adalah kekuatan Asia paling menakutkan di Piala Dunia 2026 nanti. Kalian jangan pikir pasukan Nipon hanya mampu mentok sampai babak 16 saja. Melihat perkembangan yang sekarang enggak cukup cuma 16 besar, 8 besar atau semifinal pun sepertinya layak mereka gapai. Ingat, Jepang datang ke Amerika Serikat bukan lagi sebagai pelengkap atau sekedar penggembira. Mereka datang dengan membawa sebuah
sistem sepak bola yang telah lama mereka bangun secara berkelanjutan. Di video ini kalian enggak hanya tahu soal bagaimana kehebatan Jepang semata, tapi juga rahasia di balik kekuatan yang akan membuat mereka semakin menakutkan di Piala Dunia 2026. Mimin seolah enggak percaya ketika melihat catatan performa timnas Jepang sebelum pergi ke Piala Dunia 2026. Ternyata, oh ternyata tim negeri matahari terbit ini enggak pernah kalah loh. Terutama ketika berhadapan dengan tim-tim dari Eropa sejak 2019. Kalau
enggak percaya, kalian bisa cek sendiri deh. Dari mulai Serbia, Jerman, Kroasia, Spanyol, Turki, Skotlandia hingga Inggris semuanya terbukti kesulitan untuk mengalahkan Jepang. Yang lebih salutnya lagi, tim-tim dari benua lain seperti Brazil hingga Ghana pun sudah berhasil mereka taklukkan. Catatan ini paling tidak membuktikan bahwa Jepang enggak lagi gentar hadapi gaya sepak bola tertentu. Jepang hari ini enggak hanya dikenal karena kedisiplinan dan gaya serangan baliknya. Jepang hari ini adalah tim yang juga mampu mendominasi
permainan. Lihat saat mereka menang lawan Squad Landia, Squad Mcdomany dan Kolega dipaksa kalah dalam segala segi secara statistik. Tapi pertanyaannya kemudian adalah apakah keperkasaan Jepang tersebut bisa mereka ulangi di Piala Dunia nanti? Kendati punya modal besar berupa hasil positif tadi, timnas Jepang juga harus sadar diri. Bagaimanapun, tim ini masih punya kendala psikologis berupa ketahanan mental di ajang prestisius seperti Piala Dunia. Ketidaksanggupan mereka selama ini menembus babak 8 besar jadi bukti
sahih. Itulah mengapa sang pelatih Haji Memoriasu lebih memilih untuk tetap membumi. Jauh-jauh hari ia sudah mewanti-wanti anak asuhnya soal kontrol kepercayaan diri. Menurutnya, enggak jadi jaminan keperkasaan mengalahkan tim-tim raksasa di laga persahabatan bisa terulang di Piala Dunia. Morialsu lebih senang anak asuhnya terus bekerja keras untuk berbenah daripada berpuas diri. Ia bahkan menganggap semua lawannya di Piala Dunia nanti bisa lebih mengerikan kekuatannya. Selain modal hasil positif tadi, timnas
Jepang juga menyimpan kekuatan tersendiri di Piala Dunia nanti. Salah satunya kedalaman skuad yang merata. Haji Memoria utahanya punya banyak stok pemain. Semua pemain yang dimilikinya punya kapasitas yang merata tiap diberi kesempatan. Saat hadapi Skotlandia dan Inggris, tim ini terbukti tetap perkasa meski tanpa diperkuat pemain-pemain terbaiknya seperti Takumi, Minamino, Wataru Endo hingga Take Fusakubo. Kalian lihat pemain pelapis yang jarang kesorot seperti Junyaito, Kaisusano hingga Keito
Nakamura. Mereka terbukti bisa tampil menawan. Artinya, kedalaman skuad Jepang enggak hanya slogan atau persepsi belaka, melainkan sudah teruji di laga-laga sulit. Kekuatan ini harusnya bisa buat Belanda, Swedia hingga Tunisia lawan mereka di grup F ketar-ketir. Kasarnya, Spanyol, Inggris, Brazil, dan Jerman saja bisa mereka lumpuhkan. Apalagi ini hanya sekelas Belanda, Swedia, apalagi Tunisia. Namun sebenarnya yang jauh lebih penting untuk kalian ketahui adalah kedalaman skuad Jepang ini tidak dibuat dalam semalam.
Kerangka skuad Samurai Biru ini telah dibangun selama bertahun-tahun oleh Haji Memoriasu. Bayangkan, sejak 2018 Moriasu sudah menangani tim ini. Federasi Sepak Bola Jepang tahu betul soal visi keberlanjutan dari sebuah tim. Meski bertahun-tahun mengalami beberapa kegagalan meraih trofi bersama Moriasu, Jepang tidak gegabah mengganti pelatih. Federasi sudah kadung percaya dengan Moriasu yang membangun tim ini dengan sebuah sistem. Kalau kalian lihat, sejak Moriasu menangani tim ini, sistemnya konsisten. Gaya main sepak bola yang
disiplin, kolektif, dan penuh energi tetap jadi pondasi utamanya. Mereka enggak sok-sokan menganut sistem total football. Position football atau Tikitaka. Moriasu justru mau timnya punya identitas gaya main sendiri. Jika dilihat dari segi formasi, mau gunakan empat atau tiga bek, Moriasu tidak ambil pusing. Yang terpenting baginya adalah pemain bisa nyaman dan konsisten menjalankan gaya main yang dia mau. Bayangkan sudah 8 tahun sistem seperti itu diterapkan. Hal ini otomatis membuat siapapun pemain yang dipanggil ke timnas
sudah paham betul bagaimana sistem ini harus bekerja. Beda halnya dengan suatu tim yang gemar gonta-ganti sistem dan pelatih. Hal seperti itu justru akan berpotensi menimbulkan gejolak baru. Kegagalan terakhir Moriasu di ajang besar seperti Piala Asia 2023 membuat dirinya sadar dan terus terpacu untuk mematangkan sistem ini. Lalu bagaimana caranya? Pertama, Moriasu tidak mengubah secara drastis komposisi pemain kunci. Lihatlah nama-nama seperti Ritsuudoan, Take Fusa, Kubo hingga Kaurumitoma masih
jadi kor di tim ini. Itu artinya Moriasu lebih menginginkan sebuah ritme berkelanjutan daripada sekedar bongkar pasang skuad yang berisiko. Kemudian yang kedua adalah keberaniannya mengubah strategi. SA Jepang gagal menggunakan taktik 4231 di Piala Asia 2023. Moriasu langsung menggantinya dengan pola 3421. Hasilnya lumayan. Pola ini lebih solid dari segi pertahanan. Sejak tahun lalu Jepang kerap kali berhasil ciptakan clean sheet dengan pola baru ini. Lalu yang ketiga, ia lebih peka dalam membaca
permainan dan situasi di lapangan. Perlahan Moriasu belajar bagaimana pergantian pemain di momen yang tepat bisa mengubah jalannya laga. Saat meladeni Skotlandia, Moriasu berhasil melakukannya. Ia memasukkan pemain seperti Junyaito dan Kento Siogai di babak kedua dan hasilnya berbuah satu gol kemenangan. Selain kepekahan membaca permainan, Moriasu juga perlahan bisa mematangkan mental juang anak asuhnya. Kalau kalian ingat, dulu mereka kandas di ajang Piala Asia 2023 gara-gara terkena comeback menyakitkan dari Iran.
Tapi lihatlah sekarang saat melawan Brazil, daya juang pasukan Moriasu telah berubah drastis. Hasilnya aksi comeback fantastis mereka perlihatkan saat ketinggalan dua gol dari pasukan Carlo Anceloti. Melihat beberapa kematangan Moriasu tersebut ternyata selaras juga dengan kematangan para pemainnya. Kalian bisa tengok deh materi pemain Jepang sekarang. Meski tergolong muka lama, namun performa mereka di klubnya masing-masing enggak bisa dianggap remeh. Amunisi timnas Jepang diisi oleh mereka-mereka yang enggak hanya tampil
reguler di Liga-Liga top Eropa. Keberadaan para pemain ini juga sangat berpengaruh besar dalam klubnya. Contoh paling konkret adalah striker Ayase Ueda. Ia enggak hanya pemanis di Veort, pemain 27 tahun tersebut menjelma sebagai salah satu bomber tersubur di era divisi musim ini. Belum lagi jika kalian lihat pemain tengah Jepang di Liga Inggris seperti Daichiamada, Kaurumitoma hingga Autanaka, performa mereka terbukti makin meningkat jelang Piala Dunia. Lalu jangan lupakan juga dari segi pertahanan ada back Bayern
Munchen Hirokito. Kehadirannya beberapa kali mampu menambal absennya pemain seperti Take Hiro Tomiasu maupun Ko sempat lama cedera. Well, dengan berbagai indikasi keperkasaan Jepang tersebut logis jika kita kelak melihat mereka tampil mengesankan di Piala Dunia. Keperkasaan Jepang yang kita lihat sekarang ini bukan berasal dari keberuntungan. itu sudah berakar dari sistem yang dibangun secara terstruktur. Sepak bola Jepang dibangun di atas kombinasi kecerdasan, kedisiplinan, dan pemikiran taktis. Hal ini menciptakan
tim yang enggak hanya kuat secara fisik, tetapi juga unggul dalam kemampuan membaca permainan. Jepang mungkin bukan tim yang punya superstar seperti Kilian Mbappe atau Lionel Messi, tapi mereka adalah tim yang punya kolektivitas tim yang matang. Melihat tim Jepang bermain hari ini seperti melihat tim yang sedang bertahan dan menyerang sebagai sebuah kesatuan sistem. Mereka tidak mudah goyah dengan segala bentuk perlawanan dan gaya sepak bola apapun. Iya, Jepang punya segala alasan ilmiah untuk bisa menerkam semua musuhnya di
Piala Dunia. Ingat, Jepang hadir ke Piala Dunia 2026 bukan lagi sebagai kuda hitam. Jepang kini hadir sebagai tim unggulan yang sudah sepatutnya untuk ditakuti oleh para raksasa. Yeah.

Komentar