Apakah senja sengaja tidak turun sehingga Arsenal tidak diizinkan berbuka puasa gelar Eropa? Bahkan ketika trofi itu sudah berada di depan mata, ia seakan enggan disentuh, dicium, apalagi dipeluk oleh Arsenal. Entahlah ini puasa atau tarekat lain yang hanya suku bernama Arsenal yang tahu. Runner up memang telah menjadi nama tengah Arsenal, tapi khusus kali ini rasanya menyakitkan. Mereka tidak kalah sebagai tim yang buruk. Bahkan di pertandingan melawan PSG kemarin, Arsenal berhasil mendikte raksasa Prancis itu agar tunduk
di hadapan permainan mereka. Namun pada akhirnya Arsenal lah yang tunduk. Ironisnya lagi, kekalahan ini bukan semata-mata soal gagal juara Liga Champions, tapi juga sebuah yang menyeret Arsenal ke dalam daftar yang sama sekali tidak ingin mereka masuki. Daftar aib sepak bola Inggris sepanjang hayat. Begitu Daniel Sbert meniup Peluid kickoff, PSG mengambil inisiatif untuk mengontrol permainan yang membuat Arsenal memberi tekanan. Tekanan mereka cukup tinggi, mungkin lebih tinggi dari harga emas. Sampai-sampai Arsenal
berhasil menciptakan peluang duluan yang uniknya justru berasal dari serangan balasan. Adalah Kai Har yang memanfaatkan kelengahan pemain PSG untuk trackback. Ia lari hingga berhadapan dengan Matvei Savonov. Mungkin karena lupa minum Hemaviton Jerreng, kiper PSG gagal membendung tendangan Harard. Arsenal unggul 1-0. Sampai sini kita mengerti alasan Michel Arteta memasang Harard di 11 pertama. Pengalamannya mencetak gol di final Liga Champions ia tunjukkan kemarin. Begitu tenang dan klinis. Lalu setelah unggul apa yang
dilakukan Arsenal? Permainan Arsenal berubah 180 derajat. Mereka tidak lagi melakukan pressing tinggi. Bahkan para pemain The Gunners tidak terpancing saat PSG mencoba build up dari bawah. Mereka cuma ngendon di pertahanan sendiri. Hal yang membuat penonton muak, apaan main di final Liga Champions kok cuma di pertahanan sendiri aja. Namun langkah ini jitu bikin PSG mati kutu. Leparizen boleh menguasai bola tapi teritori Arsenal yang pegangkan Dali. Pertahanan The Gunner sangat rapat di tengah rumah
orang kaya bahkan kalah rapatnya sama pertahanan mereka. Jangankan merangsek ke kotak penalti, masuk ke sepertiga akhir saja sudah untung buat PSG karena mereka benar-benar dipaksa main melebar. Punya Kavarat Skelia dan Desi Redowe hal itu tak masalah sebetulnya buat PSG. Namun ruang half space yang biasanya jadi taman bermain Fara dan Dowe ditutup oleh Arsenal. Alhasil beberapa kali keduanya tak bisa melakukan penetrasi sekalipun keduanya sering bertukar posisi. Tak cuma Fara dan Dow, Fabian Ruis dan Nuno Mendz juga bertukar peran
dan posisi. Mendes bergerak ke tengah. Ruis menyamping. Namun siasat itu tetap tak membuahkan hasil. Sementara perai Balondor hampir tak kelihatan batang hidungnya. Dembele sulit membidik gawang David Raya. Mungkin jika PSG punya targetman, mereka bisa mainkan meta crossing. Sayangnya Dembele bukan targetman, dia seorang false ntama PSG pun tak sanggup membobol gawang Arsenal. Hasilnya mereka pun frustasi. Rasa frustasi ini dimanfaatkan Arsenal untuk memancing emosi pemain PSG. Para pemain seperti Mendes dan Akraf Hakimi
pun beberapa kali tak berhasil menusuk. Beberapa kali dua pemain ini juga kehilangan bola. Fitnya juga bingung mau ngirim bola ke mana. Arsenal benar-benar main parkir pesawat tapi tak sembarang pesawat melainkan pesawat Hercules. Ini tidak boleh dibiarkan. Luis Enrique mesti mencari siasat untuk membongkar pertahanan Arsenal. Jeda turun minum pun dimanfaatkan. Entah apa persisnya yang dikatakan Enrique di ruang ganti. Namun seperti yang dia bilang usai laga bahwa keinginan juara berturut-turut menjadi
motivasinya. Ia mengingatkan ke pemain bahwa mengulang kesuksesan Liga Champions adalah motivasi yang lebih besar dari keinginan Arsenal untuk memenangkan gelar pertama mereka. Enrique salurkan motivasi itu ke pemain juga menuntut agar para pemainnya meningkatkan intensitas permainan. Enrique menolak untuk mengubah strateginya. Ia tetap pada prinsipnya menyerang. Mantan pelatih Ace Roma itu ingin menguji sekuat apa sih pertahanan Arsenal. Nyatanya PSG pun masih kesulitan di babak kedua. Namun di situ
Enrique menunjukkan bahwa ia sosok pelatih yang pandai berhitung. PSG tidak hanya menyerang, tapi juga berhasil mengontrol tempo permainan. Di 15 menit babak kedua, PSG terus menguasai momentum. Di sisi lain, para pemain Arsenal mulai kelelahan. Pertahanan mereka keos karena serangan 7 hari 7 malam dari PSG. Puncaknya, Moskera menaikel Fara di kotak terlarang. Ketenangan Dembele mengeksekusi penalti membuahkan hasil. Skor berubah 1-1. Tapi lucunya Arsenal masih tetap memainkan sepak bola bertahan dengan memasukkan
Victor Giokowi eh Giokeres. Arteta sepertinya ingin main bola-bola direct. Enrique yang jelas punya pengalaman lebih banyak di final kompetisi Eropa, sukses membuat timnya menangkal serangan-serangan direct Arsenal dengan tak memberi sedikit pun kesempatan mereka untuk menyerang. Walhasil, Arsenal tak memiliki satuun peluang besar di babak kedua. Hal yang sama juga terjadi di babak tambahan. Dikutip dari Fotmob, hingga babak tambahan waktu Arsenal cuma menciptakan satu peluang besar dan satu tembakan tepat sasaran
yang memang berbuah gol. Berbanding terbalik dengan PSG, anak Luis Enrique menciptakan tiga peluang besar dan empat tembakan tepat sasaran. Nilai expected goals mereka juga tinggi. Ini memperlihatkan betapa PSG lebih berambisi mencetak gol ketimbang Arsenal. Jelaslah sudah bahwa Arteta ingin mencari peruntungan di babak adu penalti. Sungguh naif sekali dan kenaifan Arteta justru membawa petaka buat Arsenal. Di babak kadu penalti PSG tanpa bintang-bintang utamanya. Namun justru merekalah yang menguasai keadaan.
Kecuali Nuno Mend para eksekutor PSG termasuk Lukas Beraldo yang pengalaman menendang penaltinya cuma di sesi latihan cukup tenang. Mereka mengeksekusi penalti dengan sangat baik. Yang menggemaskan, Savonov tidak menunjukkan gestur serius kala menghadapi penendang penalti Arsenal. Ia seolah mafhum lawannya Arsenal semata. Terbukti tanpa bergerak ke arah yang tepat pun. Alih-alih masuk gawang, tendangan penalti E mengenai logo Pepsi. Pun bola tendangan penalti Gabriel hari ini sudah sampai Duren Sawet. PSG
akhirnya back to back menjuarai Liga Champions. Leparizi menyamai rekor Real Madrid pada musim 2016-17. Tidak cuma itu, sejak Real Madrid di final 2014, tidak ada lagi tim yang kebobolan duluan memenangkan gelar Liga Champions sebelum muncul PSG yang mengalahkan tim paling pik bernama Arsenal. Kamu tahu enggak dari 2006 hingga 2025 tidak pernah ada tim yang tak terkalahkan sepanjang turnamen Liga Champions tapi gagal juara. Barcelona di 2006 tak terkalahkan lalu juara. MU di 2008, Bayern München di 2020, Manchester City
di 2023 dan Real Madrid di 2024. Lalu muncul anomali bernama Arsenal. Mereka tak terkalahkan tapi tak mengangkat si kuping besar. Kalau ada yang tanya, “Loh, kan ada Juventus di musim 2016-17.” Benar, tapi Juve kalah di final dalam 90 menit. Sedangkan Arsenal bahkan meraih hasil seri tanpa adu penalti. Si memalukan bukan? Tidak cuma itu, Arsenal juga sah menjadi aib Inggris. Betapa tidak, Inggris mengirim tiga wakilnya di final kompetisi Eropa musim ini. Tapi cuma Arsenal yang tidak juara. Pantas
kalau Arsenal akhirnya jadi bahan banter di media sosial. Tim-tim Inggris termasuk yang baru saja juara Eropa, Crystal Palace ikut mengejek Arsenal. Banyak tim Inggris pamer trofi Eropa usai kekalahan Arsenal. Bahkan Arsenal juga kena banter Atletic Bilbao yang pamer karena jadi satu-satunya tim yang tidak dijebol PSG di Liga Champions musim ini. Duh, kasihan sekali Arsenal ini. Tapi tenang, King MU enggak ikut-ikutan kok. Foto Charlton memegang trofi UCL pertama yang diposting itu 2 hari sebelum Arsenal kalah.
Satu pesan buat Arsenal dan ini serius. Lain waktu coba deh bikin kompetisi Eropa sendiri dan pilih lawannya sendiri. Namun ingat, jangan main bertahan terus. Situ kle bola bukan WNI. Yeah.

Komentar