Dunia
Home / Dunia / Demonstrasi Besar Pelajar di Paris, Mélenchon Sebut Bastille Telah Direbut Kembali

Demonstrasi Besar Pelajar di Paris, Mélenchon Sebut Bastille Telah Direbut Kembali

Copyright Aurelien Morissard/Copyright 2026 The AP. All rights reserved
Copyright Aurelien Morissard/Copyright 2026 The AP. All rights reserved

JAKARTA, INDONESIA — Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis semakin meluas setelah puluhan ribu orang berkumpul di Place de la Bastille, Paris, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Aksi tersebut digelar untuk menuntut perbaikan kondisi pendidikan, mengatasi kekurangan tenaga pengajar, serta meningkatkan kualitas fasilitas sekolah.

Pemimpin partai sayap kiri France Unbowed, Jean-Luc Mélenchon, menyambut aksi tersebut dengan menyatakan bahwa Bastille telah “direbut kembali”. Pernyataan itu merujuk pada simbol sejarah Revolusi Prancis yang kini kembali menjadi pusat mobilisasi massa.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 71.500 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah negara tersebut, termasuk 24.500 orang di Paris. Aksi yang dipimpin pelajar ini mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan terhadap kondisi sekolah dan respons pemerintah terhadap tuntutan pendidikan.

Pelajar Prancis Turun ke Jalan Menuntut Perbaikan Pendidikan

Demonstrasi pelajar bermula di kawasan pinggiran Paris pada September 2026 sebelum berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Para peserta menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari ruang kelas yang terlalu padat hingga kurangnya guru pengganti dan kondisi bangunan sekolah yang dinilai tidak memadai.

Banyak pelajar menilai bahwa persoalan tersebut telah berlangsung terlalu lama tanpa penyelesaian yang memuaskan. Mereka menuntut pemerintah mengambil langkah konkret untuk memastikan proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

Ekonomi & Kebijakan Publik: Dorong Inklusi Keuangan 99 Persen, Pemerintah Siapkan Program Rekening Gratis Bersaldo Awal Rp50 Ribu untuk 25 Juta Warga

Kekurangan Guru dan Ruang Kelas Padat Menjadi Sorotan

Kekurangan tenaga pengajar menjadi salah satu isu utama dalam demonstrasi. Ketika guru tidak hadir dan tidak tersedia pengganti, siswa berisiko kehilangan waktu belajar serta menghadapi gangguan dalam mengikuti pelajaran.

Selain itu, ruang kelas yang terlalu padat dan fasilitas sekolah yang membutuhkan perbaikan turut memperbesar kekhawatiran siswa, guru, dan orang tua.

Menteri Pendidikan Prancis, Édouard Geffray, mengumumkan rencana pengerahan 3.000 guru pengganti untuk sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar serius. Pemerintah juga menghadapi tuntutan agar kebijakan pendidikan disusun dengan melibatkan suara pelajar secara lebih luas.

Jean-Luc Mélenchon Sebut Bastille Telah Direbut Kembali

Jean-Luc Mélenchon menyampaikan dukungannya terhadap demonstrasi melalui media sosial. Ia memuji partisipasi kaum muda dan menyerukan agar tuntutan mereka mendapatkan perhatian serius.

Pernyataan mengenai Bastille memiliki makna simbolis dalam sejarah politik Prancis. Penyerbuan Bastille pada 14 Juli 1789 menjadi salah satu peristiwa penting Revolusi Prancis dan kemudian melambangkan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan monarki.

Pasar Modal & Investasi: Aksi Danantara Borong Saham BUMN Jadi Katalis Positif, IHSG Berhasil Rebound dari Tekanan Sentimen MSCI

Mengapa Place de la Bastille Menjadi Simbol Demonstrasi?

Place de la Bastille merupakan lokasi bersejarah di Paris yang kerap digunakan sebagai tempat berkumpulnya massa untuk menyuarakan tuntutan politik dan sosial.

Penggunaan simbol Bastille dalam demonstrasi kali ini menggambarkan upaya para pendukung gerakan menghubungkan tuntutan pendidikan modern dengan tradisi perjuangan rakyat Prancis.

Namun, dukungan Mélenchon juga memunculkan perdebatan politik. Para pengkritiknya menuduh kelompok politiknya berusaha memanfaatkan keresahan pelajar untuk kepentingan politik. Mélenchon membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa gerakan itu dimulai secara independen oleh para siswa.

Demonstrasi Berlangsung di Tengah Ketegangan dengan Polisi

Aksi di Place de la Bastille awalnya berlangsung damai, tetapi bentrokan kemudian terjadi antara sebagian demonstran dan aparat kepolisian. Polisi dilaporkan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.

Situasi tersebut menambah perhatian terhadap cara aparat menangani demonstrasi pelajar, terutama karena sebagian besar peserta gerakan merupakan anak muda.

Ekonomi & Perbankan: Kredit Korporasi Tembus Rp700 Triliun, Bank Mandiri Perkuat Komitmen Pembiayaan Ekosistem Usaha Produktif dan UMKM

Pemerintah Hadapi Tekanan untuk Menanggapi Tuntutan Pelajar

Pemerintah Prancis menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan keamanan publik dengan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Pada saat yang sama, pemerintah perlu menjelaskan bagaimana kekurangan guru dan persoalan fasilitas sekolah akan ditangani.

Kementerian Pendidikan juga menyampaikan bahwa konsultasi daring yang diluncurkan untuk menghimpun pendapat siswa telah menerima lebih dari 40.000 tanggapan dalam beberapa hari pertama.

Meski demikian, sebagian pelajar dan organisasi siswa masih mempertanyakan apakah langkah tersebut akan menghasilkan perubahan nyata di sekolah.

Puluhan Ribu Orang Ikuti Demonstrasi di Berbagai Wilayah Prancis

Data Kementerian Dalam Negeri Prancis menunjukkan bahwa demonstrasi pada 8 Oktober melibatkan sekitar 71.500 orang di seluruh negeri, dengan 24.500 peserta di Paris.

Selain demonstrasi di jalanan, sekitar 55.000 orang diperkirakan terlibat dalam aksi di luar sekolah. Kementerian Pendidikan menyebut 375 sekolah ditutup seluruhnya atau sebagian pada hari tersebut.

Aksi Lanjutan Dijadwalkan pada Oktober

Koalisi organisasi pelajar dan serikat pekerja menyerukan aksi demonstrasi dan mogok lanjutan pada 13 Oktober 2026. Mobilisasi yang lebih besar juga direncanakan pada 17 Oktober.

Rencana tersebut menunjukkan bahwa gerakan pelajar belum berakhir dan masih berupaya mendorong pemerintah memberikan tanggapan yang lebih konkret terhadap tuntutan mereka.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons pemerintah, pelaksanaan kebijakan penambahan guru pengganti, serta kemampuan pihak terkait untuk membuka dialog dengan perwakilan siswa.

Masa Depan Pendidikan Prancis Menjadi Perhatian Nasional

Demonstrasi besar di Paris memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan telah berkembang menjadi isu sosial dan politik yang lebih luas di Prancis. Kekurangan tenaga pengajar, kepadatan ruang kelas, dan kondisi fasilitas sekolah menjadi perhatian pelajar maupun tenaga pendidik.

Pernyataan Mélenchon tentang Bastille menambah dimensi simbolis pada gerakan tersebut, tetapi penyelesaian persoalan pendidikan tetap bergantung pada kebijakan konkret dan implementasi pemerintah.

Dengan rencana demonstrasi lanjutan pada Oktober, tekanan terhadap pemerintah Prancis diperkirakan tetap menjadi bagian penting dari perdebatan publik mengenai kualitas pendidikan dan masa depan generasi muda.

Sumber berita: Euronews, Reuters, dan Kementerian Dalam Negeri Prancis.

Catatan: Angka peserta demonstrasi merupakan data yang dilaporkan otoritas Prancis. Informasi mengenai aksi lanjutan dan kebijakan pemerintah perlu diperbarui jika terdapat perkembangan baru.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *