Berita Terpopuler
Beranda / Berita Terpopuler / Sebenarnya Bagaimana Dan Mengapa Pengurangan Distribusi MBG Bukan Pasfti Efisien

Sebenarnya Bagaimana Dan Mengapa Pengurangan Distribusi MBG Bukan Pasfti Efisien

Badan Gizi Nasional atau BGN mulai melakukan efisiensi pada program makan bergizi gratis [musik] atau MBG dengan menerapkan dua langkah. Pertama, menghentikan distribusi pada hari libur atau tanggal merah. Kedua, mengurangi frekuensi distribusi untuk sekolah yang hanya belajar 5 hari dalam sepekan. Untuk sekolah yang menerapkan belajar mengajar selama 6 hari, distribusi [musik] tetap berjalan. Pengurangan juga tidak berlaku untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T [musik] serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui,

dan anak balita. Kepala BGN Daden Hindayana mengklaim perubahan pola distribusi itu diperkirakan bisa menghemat hingga Rp400 miliar per hari. Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya dalam keterangan tertulis mengatakan sebelum skema baru itu diterapkan, siswa tetap menerima jatah MBG pada hari libur melalui paket [musik] makanan yang dibawa pulang. Jika sekolah libur pada Rabu dan Kamis misalnya, makanan untuk dua hari itu dibagikan lebih awal pada hari Selasa. Dengan skema tersebut,

negara memang tidak lagi menanggung biaya bahan pangan, pengemasan, dan distribusi tambahan pada hari ketika siswa tidak berada di sekolah. BGN menekankan skema baru ini diterapkan agar distribusi lebih efektif dan kualitas makanan tetap terjaga ketika diterima siswa. Program MBG kini berkembang menjadi sistem logistik pangan berskala nasional [musik] antara melaporkan setiap dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 47 orang untuk kegiatan operasional harian. Dengan

sekitar 21.000 SPPG yang telah beroperasi. Program MBG diperkirakan menyerap sekitar 987.000 tenaga kerja. [musik] Selain melibatkan pekerja dapur, setiap SPPG disebut melibatkan sekitar 15 pemasok bahan pangan, di antaranya produsen tahu, tempe, telur asin, dan sayuran. Data terbaru BGN pada Mei 2026 menunjukkan jumlah SPPG mencapai 29.225 unit dengan tenaga kerja langsung sekitar 1,28 juta orang. Program tersebut juga melibatkan lebih dari 142.000 pemasuk bahan pangan dan jasa pendukung lain. Skala operasi itu

membuat klaim efisiensi [musik] BGN mulai dipersoalkan. Anggota MBG Watch Isnawati Hidayah menilai kebijakan BGN yang memangkas distribusi paket MBG pada hari libur sekolah [musik] serta mengurangi distribusi dari 6 hari menjadi 5 hari belum cukup menghasilkan penghematan besar. Menurut Isnawati, pemangkasan distribusi makanan tidak otomatis menghasilkan penghematan besar karena struktur biaya operasional MBG tetap berjalan. [musik] Isnawati menyoroti keberadaan SPPG yang sudah terlanjur beroperasi dan memiliki

Kerasnya Melihat Hasto PDIP Ungkit Periode Kedua Di Era Presiden Jokowi Dodo

berbagai biaya tetap atau fixed cost. [musik] Isnawati menilai biaya seperti tenaga kerja dan pengoperasian dapur tetap [musik] harus dibayar meskipun distribusi makanan dikurangi pada hari tertentu. Ia juga menyoroti adanya insentif operasional sebesar Rp6 juta untuk SPPG yang tetap dibayarkan meskipun distribusi tidak berjalan penuh. [musik]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *