Isu campak kembali menjadi perhatian [musik] publik setelah dilaporkan adanya tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat penyakit ini. Nah, ini sebuah pengingat bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan pada [musik] anak, tapi infeksi virus yang sangat menular dan juga berpotensi memicu komplikasi serius. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara termasuk Indonesia menghadapi tantangan berupa munculnya kembali kasus campak seiring dengan penurunan cakupan imunisasi dan terganggunya layanan kesehatan selama
[musik] pandemi. Lalu, apakah kita cukup waspada terhadap penyakit menular lama yang ternyata tetap relevan [musik] di tengah dinamika kesehatan global saat ini? Inside akan membahasnya bersama saya Desi Anwar. [musik] [musik] Campak merupakan penyakit saluran pernapasan yang kian menjadi isu kesehatan dunia. Menurut data WHO yang dirilis Februari 2026 lalu, Indonesia merupakan negara dengan kasus campak terbanyak ketiga [musik] setelah India dan Angola. Sementara per 23 Februari 2026, Kementerian Kesehatan sudah
mencatat 8.224 kasus suspek campak serta empat kasus [musik] kematian. Umumnya penderita Campak mengalami penyebaran ruam pada tubuhnya. [musik] Namun penderita campak juga seringki mengalami gejala berupa 3C, yaitu COV atau batuk. [musik] Kiza atau pilek serta kencang the virus atau mata merah. Walau sering dianggap sebagai penyakit anak, semua orang berisiko mengalami infeksi virus ini. Oleh karena itu, pelaksanaan imunisasi terhadap penyakit ini sangat penting. Tidak hanya bagi anak, namun juga bagi
dewasa, terutama bagi tenaga kerja kesehatan. Campak di Kena memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dengan gejala awal yang kerap disalah artikan sebagai flu biasa seperti demam, batuk, pilek, dan mata merah sebelum berkembang menjadi ruam khas di seluruh tubuh. Namun di balik gejala yang tampak umum tersebut, sampak dapat berkembang menjadi komplikasi berat seperti pneumonia, diare berat hingga radang otak. terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan imunitas yang rendah.
Kasus pada tenaga kesehatan juga menyoroti resiko paparan tinggi di fasilitas lain and medis. Sekaligus pentingnya perlindungan optimal bagi mereka yang berada di garda terdepan. Nah, lalu apa sebenarnya kunci utama yang perlu diperhatikan untuk menanggulangi penyakit campak ini? Di studio sudah bersama saya Prof. Candra Yoga Aditama, seorang pakar kesehatan masyarakat yang juga merupakan direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara untuk tahun 2018 hingga 2020. Kita akan membahas ya, Prof. Apa kabar?
Baik. Kabar gimana, Mbak? Baik, terima kasih. Kita semoga sehat selalu juga Prof. Dan kita sering sekali waktu itu mengundang Prof. Ketika pandemi Covid ini seolah-olah ini sudah lama ya. [tertawa] dulu sempat menjadi direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara ini pas ketitu makanya pas saat COVID makanya sering kita undang [berdehem] tapi sekarang apa kegiatannya Prof? Masih sibuk menangani kasus-kasus sekarang ee resminya jadi direktur pasar sajana di Universitas Jarsi. Jadi ada beberapa program studi sel dan saya
ketua ee Majelis Kehormatan Phimpunan Dokter PAR Indonesia. Jadi ada beberapa kegiatan jadi masih sibuk ya. Iya insyaallah. [tertawa] Alhamdulillah. Tapi ini kita kan waktu itu banyak sekali berbicara mengenai pandemi Covid-19 dan juga jenis-jenis ee penyakit yang baru lah istilahnya dan belum kita kenal. Tapi sekarang muncul lagi yang namanya campak. Campak ini seolah-olah ini kan penyakit yang biasa ya sering apalagi dialami ketika kita masih kecil gitu. Tapi mungkin perlu diingatkan kembali ya
campak itu virusnya tuh seperti apa dan bagaimana profile-nya dan kenapa kok sekarang ini menjadi perbincangan lagi Prof. Bukannya ini istilahnya harusnya sudah lewat lah. Oke. Jadi karena kita ngomong baru dan lama saya mau tarik ke masa purba, ya. Jadi saya sudah cek data 10 penyakit masa perubahan ancient time yang menjadi epidemi waktu itu istilahnya bukan pandemi. Salah satu di antara 10 itu adalah missiles dan itu adalah abad keetuuh atau abad keesemb. Nah, jadi ini sudah ada sejak masa lalu
dan menimbulkan masalah pada waktu itu. Kalau bergeser ke sini sedikit maka pada waktu perang dunia pertama itu jadi penyebab kematian penting si pneemonia akibat campak itu pada ee ee apa prajurit Amerika. Jadi itu masalah yang sudah lama dari dari pada tahun 1960-an kemudian ketemulah vaksinnya. Dengan ada vaksin kemudian memang ada perbaikan yang sangat nyata begitu. Dalam 25 tahun terakhir ada sekitar 50 juta kematian yang bisa dicegah gara-gara vaksin diberikan. Jadi vaksinnya memang sangat bermanfaat untuk
mencegah. Hanya saja sayangnya vaksin itu tidak cukup baik cakupannya. Sehingga kalau kita lihat data dari WHO tahun 2024 masih ada 95.000 Ibu anak di dunia yang meninggal setahunnya sepanjang tahun karena campak karena ee vaksinasinya tidak tidak memadai begitu. Nah, itu soal riwayat katakanlah begitu ya. Nah, sekarang soal penyakitnya dulu. Jadi, ini adalah penyakit coronavirus tadi sebelum ee acara kita mulai tentang penyakit menular dan penyakit tidak menular gitu ya. Jadi, penyakit menular
itu sebabnya ada empat, bakteri, virus, jamur, dan parasit. Mesti salah satu di antara pati tidak mungkin ee di luar itu ya pada dasarnya empat inilah. Nah, bakteri itu misalnya pneumonia karena bakteri atau tuberkulosis. Nah, virus itu misalnya COVID-19 atau HIV atau si campak ini itu adalah yang yang virus. Jadi, campak itu virus bukan bakteri. Bukan bakteri, bukan juga parasit. Parasit misalnya malaria. Nah, kalau jamur banyaklah orang yang dari mulai panuan atau jamur yang berat. Jadi ini adalah virus. Nah, virus itu
sudah dikenal amat saya tadi sudah kita bahas 1757 kalau saya tidak salah. diidentifikasilah eh virus itu dan kemudian 1960-an ada vaksinnya dan ee tadi sudah kita disinggung sedikit soal gejala gitu ya. Gejala itu dia punya masa inkubasi ini gara-gara COVID kan semua orang mengerti masa inkubasi ya. Masa inkubasi adalah masuknya bakteri atau virus sampai gejala timbul. Itu masa inkubasinya sekitar 10 sampai 14 hari. Baru kemudian timbul gejalanya. Ee gejalanya itu demam. Nah, ini ada tiga 3C sebenarnya cuman karena sama Mbak
Risi saya agak khawatir bahasa Inggris saya kacau begitu ya. 3C itu kafaiza, koriza atau coriza dan konjungtivitis. Artinya batuk, ada pilek dan juga ada merah di mata. Kenapa itu penting? Karena kalau kita hanya berpegang pada merah di kulit, banyak penyakit demam yang ada merahnya. Jadi tidak semata-mata. Jadi kalau demam ada merahnya plus koreza sebenarnya ada satu lagi yaitu bercak koplik di di dalam bibir tapi kan itu sulit ya di dalam mulut maksudnya. Jadi itu dinyatakan sebagai suspek ee ee campak dan kemudian
kalau mau bisa lakukan pemeriksaan lebih lanjut ya. Itu itu jadi ada ada tiga ya gejal ini kan batuk ya. Jadi ini batuk terus mata merah dan juga pil pilak itu ya plus demam dan merah. Plus demam dan merah. Nah, ini timbul gejala ini setelah dua 10 sampai 14 hari inkubasi atau dalam rentang waktu 2 minggu itu enggak. 10 14 hari itu biasanya akan timbul si demam dulu. Demam batuk si merahnya justru timbul 3 atau 4 hari kemudian dan itu akan hilang dalam waktu seminggu. Jadi kalau kasusnya ringan dia
akan hilang dalam waktu seminggu tapi memang dimulai dengan demam dan kemudian ada merah dan kemudian ee bisa menyembuh atau bisa ada komplikasi seperti itu. Iya. Nah, ini virus ya berarti kan proses penularannya. beda ya kan mirip-mirip enggak dengan kalau kita kan COVID kan ee apa ada istilahnya kontak atau udara atau bersin-bersin dan lain sebagainya dan bahkan ee ya yang penting kita cuci [tertawa] tangan kalau sudah menjaga jarak kalau dulu ini kira-kira proses penularannya itu seperti apa dan
kira-kira bentuk virusnya sehingga apa yang terjadi dalam tubuh kita ketika virus itu menyerang kalau kita pakai balik lagi yang WHO karena saya kan e tadi kan saya di coach sebagai pernah kerja di WHO He ini heeh. Jadi even more paling menular salah satu bahkan lebih menular dari COVID. Karena satu orang campak bisa menulari 12 sampai 18 orang yang lainnya. Itu satu. Aw. Yang kedua yang yang dalam tanda kutip agak mengkhawatirkan adalah dia menular melalui udara seperti ini. Dan jadi kalau kita satu ruangan ee kalau
satu ruangan okelah tapi sesudah pasiennya keluar itu masih ada ruangan itu ya masih ada. Jadi masih bisa menular di situ sampai 2 jam sesudah orang campak itu keluar. Jadi penularannya memang memang tinggi gitu ya. Karena itu kalau saya mau pindah sedikit topik yang agak beda sedikit kan sebenarnya ada tiga pemicu e acara CNN hari ini. Nomor satu memang dokter yang meninggal. Yang kedua ada e peningkatan KLB. Yang ketiga kita ada kasus dua orang di Australia, satu di Puls, satu di Sydney yang pesawatnya dari Jakarta
dan dia kena dan dia kena kirim ke sana sampai sana dia positif. Yang ingin saya sampaikan adalah begitu mereka sampai positif, si pemerintah Australia membuat membuat data sangat lengkap. Jam 10.30 sampai 11.30 dia di conveyor belt nomor sekian. Jam 11.30 sampai dia nunggu taksi. Kenapa itu dia sebut? supaya orang yang pada jam yang sama berada di tempat sama jadi waspada itu menunjukkan bagaimana apa kewaspadaan yang tinggi ya tinggas i apalagi kita setelah pengalaman COVID kan kita harus trace [tertawa]
kita harus bisa mengikuti jejak lah istilahnya dari mana ke mana dan lain sebagainya kita istirahat sebentar ee Prof. secara ini menarik sekali dan sangat penting apalagi kalau sekarang sudah menjadi KLB [musik] ya kasus yang luar biasa di Indonesia tapi jangan juga kita sampai menularkannya ke negara lain kan Anwar akan segera kembali tetaplah bersama [musik] kami. Anda masih bersamain saya Anwar di studio saya ditemani Profesor Chandra Yoga Aditama, pakar kesehatan masyarakat dan pernah menjadi direktur penyakit
menular WHU Asia Tenggara tahun 18 hingga 2020 kita membahas mengenai campak yang kini isunya kembali menghangat ya Prof. Dan ternyata ini merupakan virus atau penyakit yang usianya itu sudah sangat lama ya, abad keet7uh itu sudah ada dan ternyata sekarang muncul lagi padahal sudah ada vaksinnya yang ditemukan sejak tahun 1960 dan sudah sukses untuk menekan jumlah campak ini penyakit yang sangat menular ini. Tapi biasanya kan di penyakit ini mezles ya identik dengan anak-anak ini bagaimana ceritanya Pak
sebelum sampai ke situ saya ingin ngomong soal vaksin dulu sedikit. 196. Jadi vaksin itu ee proteksinya perlindungannya 97%. 97%. Jadi tinggi sekali kalau kita bandingkan COVID, COVID itu 50 60% sebenarnya seperti itu. Ini 97%. Jadi kalau orang divaksinasi lengkap dua kali sebenarnya dia betul-betul praktis terlindung begitu. Nah, seumur hidup kan. Nah, seumur hidup nanti cerita nomor dua. [tertawa] Cerita nomor dua tadinya mang kita pikir seumur hidup tapi kemudian ada yang namanya winning immunity. imunitas
menurun sehingga akhirnya pada dewasa perlu kita vaksin dan itu nanti kita bahas. Tapi saya ingin tegaskan bahwa vaksinasinya ee efektivasnya tinggi sampai 97%. Oke. Tapi ini sori kalau mengenai vaksinnya idealnya di usia berapa vaksin itu dilakukan dan berapa kali? Ya, jadi dua kali ya. Artinya untuk kita bahkan di Indonesia dikerjakan tiga kali pada 9 bulan, 18 bulan dan pada masuk sekolah namanya masuk dalam program bias bulan imunisasi anak sekolah. Maksudnya supaya yang lewat-lewat sini bisa
dikerjain di sini. Tapi dua dua kali ini inilah minimal karena sudah kamu ngomong vaksin dewasa sekalian aja ya. Jadi tadinya kita pikir seperti itu. Tapi belakangan terjadilah kasus pada dewasa bukan hanya di Indonesia tapi di berbagai negara sehingga beberapa negara sudah memikir menganjurkan tambahan vaksinasi pada dewasa. Ee yang detail sekali membuat caranya memilih vaksinnya bagaimana, kapan siapa yang harus diberikan satu kali atau dua kali itu Amerika Serikat. Jadi, Center of Dusis Control and Prevention CDC punya
algoritm. Tadi kita barusan ngobrol, saya barusan webinar dan saya sampaikan algoritm itu kepada teman-teman Kementerian Kesehatan kalau itu mau dipakai. Jadi memang ada algoritm pemberian vaksin campak pada dewasa. Tapi ini masih berupa saran, belum diwajibkanlah istilahnya. Jadi yang pertama kalau yang anak yang 9 bulan 18 bulan itu sudah jadi program nasional wajib dalam pengertian gratis. yang dewasa pemerintah belum paling tidak pada ee ee ee ee webinar hari ini sudah merencanakan akan memberikan itu
bagian pada program kesehatan kepada tenaga kesehatan belum. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama mereka mau berikan itu dan dan bisa dipakai algoritma itu sebagai patokan begitu ya. Karena antara lain karena kasus yang meninggal ee teman sejawat dokter yang di Cimacan itu kan dia terkena campak dan tidak dan akhirnya meninggal dunia tidak terlindungi dengan tapi kalau misalnya saya atau Prof mau vaksin campak itu bisa kita kita ke mana saja ke klinik itu bisa mendapatkan cuma harus bayar ya
betul sekali jadi sekarang vaksin mandiri namanya Mas vaksin mandiri ya itu sudah banyak enggak orang sekarang sudah mulai melakukan tang saja belum terlalu banyak tapi gara-gara peningkatan kasus ini orang jadi term ter termotivasi begitu Ya, kalau mau saya agak human inter apa namanya? Anak saya barusan ke dokter, dokternya bilang, “Vaksinlah capak.” Gitu karena itu ada. Jadi sekarang gara-gara ini jadi mulai banyak vaksinyaapak. Jadi [mendengus] kalau kalau mau diberikan dua kali pada dewasa jaraknya 28 hari,
artinya sebulan pertama dan kedua sebulan. Sebenarnya ada kriteria lainnya apakah vaksin awal sekali apa dua kali atau kita ragu? Kalau ragu baiknya diberikan dua kali. Kalau vaksin masih kecilnya itu lengkap, berikan sekali cukupnya. Makanya ada algoritma itu yang tinggal diikuti. Bagaimana jadi salah satu rekomendasi acara kita mudah-mudahan pemerintah segera merealisasi program vaksinasi pada dewasa di Indonesia. E mula-mula pada tenaga kesehatan it’s oke. Tapi kalau bisa diperluas akan lebih baik. Kalau di
Amerika tentu kita tidak bisa copy paste dari Amerika ya. Nomor satu dia tenaga kesehatan. Nomor dua orang Amerika yang akan pergi ke daerah yang ada KLB-nya. di kita ada KLB di sekian provinsi ya. Jadi, jadi mungkin selain tenaga kesehatan perlu juga tambahan orang lain kemudian ada kriteria lain. Tapi setidaknya kalau sudah mulai di tenaga kesehatan saya kira sudah sangat baik karena itu melindungi melindungi ya teman-teman yang ada di garda terdepan. Jadi saya tekankan sekali lagi kalau bisa
ya ini penting ya home apa take home message ya take home dari acara ini tolonglah vaksinasi dewasa diberik. Nah kembali mengenai meeles atau campak ini sebagai penyakit anak kecil ini kan. Nah, ada apa kira-kira dampaknya kalau campaki itu kita kenanya waktu masih kecil dan kenanya ketika sudah dewasa dan ketika waktu kita masih kecil ini dari derajat memang menularnya itu sangat cepat tapi dari derajat ke istilahnya the severity of the illness ya seberapa fatalnya atau beratnya dampak dari virus ini terhadap
anak-anak i jadi memang sebagian besar kasusnya ringan tapi kalau pakai data satu dari 1000 bisa jadi meninggal dunia. Itu data dari di buku dan itu nyambung dengan data kita. Data kita tahun 2025 itu ada 60.000 kasus di Indonesia ini dan yang meninggal 60 jadi satu dari 1000 memang kan. Tapi apa faktor yang membuat ee iya daya tahan tubuh turun, imunitas jelek dan sebagian terlambat penanganan dan sebagainya. Kalau kita dulu COVID itu komorbit [tertawa] dan karena sudah ngomong 60.000 Ibu, saya mau ingatkan bahwa ini sekarang
acara kita kan hari tahun 2026 sebenarnya kalau kita lihat tahun 2024 itu kasusnya 25.000 seIndonesia. Tahun 2025 naik jadi 60.000. Ini sebenarnya naik 147%. Ini apa penyebab e utamanya? K penyab utama adalah penurunan cakupan imunisasi. Jadi sudah ada laporan dari Kementerian Kesehatan sendiri bahwa tadinya kan imunisasi dua kali ya. He. Imunisasi yang pertama yang dia yang saya pernah baca laporannya tadinya hampir 100%. Tahun berikutnya turun jadi 95%. Tahun berikut kita turun dari 92% di tahun 2025 turun jadi 80%.
Jadi trennya semakin lama semakin menurun. Apa? Karena kekurangan komunikasi penyuluhan atau kekurangan vaksin atau kekurangan tenaga medis atau mungkin meningkatnya orang yang sudah mulai ini gara-gara COVID ya menjadi anti vaksin yang seperti kita lihat di Eropa dan di Amerika misalnya. Jadi vaksin resistensi orang yang menar vaksin mau tidak mau diakui makin lama makin besar ya dan itu justru jadi masalah. sebelum COVID bahkan dan sekarang juga jadi masalah. Ee dan ini hal yang sangat perlu untuk kita
tenggolongi supaya jangan sampai ini terjadi dengan kasihan anak-anak kalau tidak divaksin karena vaksin eksistensi itu. Jadi itu salah satu faktor yang utama. Saya kira soal logistik tidak terlalu jadi masalah tapi faktor ekistensi ini yang yang menyebabkan cakupan imunisasi itu turun dari waktu khususnya di mana-mana saja. Kalau di ada datanya saya tidak ingat persisnya ada datanya ee provinsi mana yang rendah. Tapi rata-rata kan tetap 80%. Sementara targetnya 90 sampai 90%. Wow. Tapi turunnya cukup signifikan ya.
Apalagi kalau satu orang bisa menularkan e penyakit ini ke 18 orang ini. Ini kalau sekolah-sekolah ini kan kalau anak-anak ini masih enggak e Prof mewajibkan atau melakukan e vaksinasi di sekolah. Itu yang tadi saya bilang sebagai namanya bias. Jadi ee diberikan pada 9 bulan, 18 bulan, Pak. maksudnya anak usia 9 bulan, anak usia 9 bulan plus pada waktu masuk sekolah namanya bulan imunisasi anak sekolah bias itu diberikan di di sekolah-sekolah ee berbagai jenis vaksin termasuk juga vaksin MR ini. Jadi
harusnya itu dilakukan dan ee ya tapi pada kenyataannya toh begitu. Cuman kita juga mesti fair ya karena kalau kita lihat laporan WHO di dunia juga angkanya turun. Maksud saya cakupan misalnya juga turun dari 86 menjadi 86 tahun 2019 tahun 2024 saya kira 84. Jadi memang turun. Jadi vaksin resistensi itu bukan hanya masalah kita. Mbak Desi tadi ngomong Eropa itu memang jadi masalah dunia dan kita perlu tapi apa Prof. sendiri melihat penyebabnya itu seperti apa? Kalau kita lihat algoritme sehingga membuat tren
penurunan ini apa yang menjadi faktor yang kalau WHO lagi kalau tadi TIG 3C itu kafiza sama konjungtivitas gejala dia pakai 3 C juga yang ini yang pertama soal confidence jadi orang banyak bukan banyak ada orang yang enggak yakin ini vaksin benar apa enggak berbahaya apa enggak menyembuhkan apa enggak is isinya kan tiga. Nomor satu, apakah aman apa tidak yang selalu disebut-sebut. Yang kedua, kok ada yang sudah divaksin masih juga sakit. Jadi, dia masih dan tidak ada vaksin yang 100% bagaimanapun juga. Itu yang kedua. Dan
yang ketiga ada isu ya ini jangan-jangan dagang, ini jangan-jangan pemerintah begini isu seperti itu. Jadi kayak ada conspiracy theornya ini justru untuk membuat apa? Iya. Begitu. Itu yang yang kedua soal kompasensi. Jadi sebagian orang berat, “Ah, ini pasien ini kan se tadi kita bahas, ah ini kan sudah enggak penting lagi kita bisa sembuh dengan sendiri. Enggak usahlah divaksin-vaksin untuk apa tambah masalah.” Itu yang kedua. Yang ketiga memang walaupun mudah-mudahan di Indonesia tidak ada soal convenience,
mudah enggak orang mendapatkan vaksin itu? Nah, itu itu hal yang penting. Saya kira kalau di kota besar pasti tidak ada masalah. Mudah-mudahan juga di daerah-daerah terpencil 3T itu juga tidak jadi masalah. Jadi kalau PH menggambarkannya tiga walaupun tiga itu itunya apa namanya? Uraiannya bisa panjang sekali ya. B macam-macam juga tergantung dengan budaya dan demografi masing-masing daerah dan masing-masing negara itu sendiri. Tapi kalau dilihat dari segi Indonesia sendiri ini bukan satu vaksin yang langka kan sebenarnya.
Tidak ya kita produksi sendiri enggak? Saya enggak tahu produksi saya kira ada produksi sendiri tapi tapi maksudnya bukan sesuatu yang bukan bukan vaksinnya tidak ada berbeda dari vaksin COVID. Vaksin Covid kan memang tidak ada karena orang ini vaksin yang tersedia sudah lama dan tersedia di mana-mana tapi memang sebagian orang tidak mau divaksin dengan berbagai alasan tadi. Iya. Tapi dari segi harga juga terjangkau ya harusnya kan gratis waktunya anak-anak gratis kalau misalnya kita mandiri lah.
Kalau mandiri ya ada tapi tidak terlalu mahal lah istilahnya. Baik kita istirahat lagi e tapi kita akan lanjutkan setelah yang berikut [musik] ini. Tetaplah bersama Inside Desi Anwar. [musik] [musik] Kembali bersama Insan Desi Anwar di studio saya ditemani Prof. Chandra Yoga Aditama, pakar kesehatan masyarakat. Kita bicara mengenai campak yang sekarang penyakit ini seolah-olah naik daun ya. Tapi semoga ee dalam program ini kita juga bisa memberikan informasi yang akurat dan ee betapa pentingnya
juga untuk mencegahnya dan kalau kena campak itu sendiri ini jangan dianggap sepele ya karena kita melihat ee kasus tenaga medis yang ternyata meninggal karena campak. Nah, itu kita tadi bicara mengenai anak-anak yang kena campak ya. Kalau misalnya tadi dewasa seperti tenaga medis itu apakah dia itu setahu Prof ini kasusnya pernah divaksin dan akhirnya kena atau tidak pernah divaksin dan kemudian kena dan apakah ada perbedaan dalam reaksi ketika seorang dewasa itu tertular campak? Yang pasti kalau dokter ini dokter ini tentu saja
kita eh sedih ya karena apalagi kan kebetulan saya lulusan FKWI, dokter ini juga lulusan FKWI baru jadi betul-betul ee menyedihkan begitu. Dokter ini menangani kasus campak pada pada saat hari-hari sebelum beliau meninggal dunia. Jadi saya kira penularannya jelas begitu. Saya tidak tahu persis apakah campaknya lengkap atau tidak lengkap. Dulu yang jelas sekarang dia belum diministrasi campak. Jadi kita sampaikan kalau bisa dewasa diberikan untuk kasus ini belum imunis campak. maksudnya dia belum diimunisasi ulang
ulang ulang ulang itu satu. Yang kedua tadi kan saya sampaikan satu dari 1000 ee anak itu anak ini itu bisa berat dan bisa meninggal dunia. Untuk dewasa angka yang pasti tidak ada karena jumlahnya memang tidak terlalu banyak tapi kemungkinan efek samping memang lebih besar. Maksud saya sori kemungkinan komplikasi lebih besar. Ada data dari WHO mengatakan 10 sampai 20% mungkin menjadi berat dan 30% di antaranya pneemoni. Jadi kemungkinan menjadi berat itu lebih besar pada dewasa. Karena itu dewasa perlu waspada, makanya keluarlah
anjuran untuk mendapatkan vaksinasi campak pada dewasa. Itu ini ee ee soal kejadian pada dewasa. Jadi memang ee ee tadinya kita berkonsentrasi pada masalah pada anak, sekarang, maaf sekarang kita harus berpikir dewasa. Nah, tadi kan saya cerita ada orang yang ke Australia itu ya. I dua itu, satu 19 tahun, satu 9 tahun. Jadi, satu dewasa, satu anak-anak. dia dengan campak ke sana walaupun kasus ee mereka sembuh di sana tapi bagaimanapun kan dia membawa ya campak dari sini ke sana dan itu jadi ada yang dewasa ada
yang anak itu itu yang perlu jadi perhatian kita semua e bukan semata-mata pada anak pada dewasa juga jadi kemungkinan juga reaksinya pada dewasa bisa lebih banyak ya komplikasinya dibanding dengan anak-anak ya biasanya virus ini seperti apa kalau kita kan dulu belajar wak kalau COVID dia ada masa inkubasi kemudian nanti setelah [tertawa] setelah berapa hari kemudian itu kan bisa hilang sendiri, mati sendirilah istilahnya virusnya ini. Nah, ini ini bagaimana perjalanannya dan apa efeknya kalau misalnya tidak tidak
direat atau tidak di ee misalnya diobati ya bicara tidak direat memang virus ini akan sembur dengan sendirinya tanpa pengat. Jadi tidak ada antivirus spesifik buat mengatasi virus dampak. Kalau toh dia masuk rumah sakit makanya ditangani cuman bukan cuman ya pemberian yang namanya disebut-sebut sebagai terapi suportif. Kalau sesek dikasih oksigen, kalau ee kurang cairan dikasih cairan kadang-kadang diberikan vitamin A kecuali kalau nanti jadi pneumoni. Itu lain lagi ceritanya. Nah, jadi tidak ada
spesifik dan kita juga mesti fair mengatakan ee bahwa sebagian besar kasusnya itu dalam waktu seminggu sesudah e restnya ee ee muncul dia akan sembuh. Jadi cukup lebih banyak orang yang sembuh walaupun tentu saja satu dua yang meninggal satu du tambah berat itu sangat menyedikan tapi sebagian besar akan sembuh tanpa pengobatan. spesifik. Jadi tidak ada antivirus yang spesifik untuk virus nyampak ini. Pasienya akan sembuh dalam waktu sekitar seminggu sesudah restnya muncul. Kalau dia jadi pnemonia karena kasus yang dokter ini
kan pneumonia itu ada dua kemungkinan. Bisa pneumonia gara-gara virusnya bisa juga karena dia campak berat bakteri apa namanya commonal bakteri yang tadinya ada di dalam tubuhnya bangkit. Jadi bisa pneumonia gara-gara bakteri. Dan kalau pneumonia gara-gara bakteri terjadi pada orang dewasa yang campak maka obatnya tentu antibiotika. Kalau peneman pada virus tentu obatnya bukan antibiotika. Antivirus kalau mau diberikan. Walaupun secara umum tidak ada. Walaupun ada beberapa penelitian mencoba antivirus tertentu tapi obatnya
adalah ee ee ee anti ee penanganan pneumoni itu itu hal yang berbeda dari campaknya itself. Pancak campaknya sendiri kalau tidak terlalu berat bisa membaik. Jadi ini kalau e disebut correlation atau causation yang mana kalau dengan pneumonia ini e itu komplikasi namanya. Iya namanya komplikasi. Jadi ee campak yang disebabkan oleh campak virus campak itu sendiri. Tapi ada faktor kena bakterinya juga. Iya. Jadi kalau pneumonia dua kemungkinan bisa si virusnya sendiri menimbulkan pneumonia atau karena
ee campaknya berat, daya tahan tubuhnya turun, kemudian bakteri yang tadi tidur di dalam paru-parunya bangkit begitu men. Tapi diagnosanya adalah meninggal karena komplikasi campak begitu. Iya, betul ya. Jadi memang ini bisa mematikan. Oh, bisa memang bisa. Makanya tadi saya sampaikan anak aja dari 1001 yang meninggal begitu ya. Dan tadi tahun 2025 dari 60.000 kasus yang dilaporkan di Indonesia nih bukan kata teori lagi ada 60 yang meninggal tahun 2026 ini saya punya data sampai Februari itu ada
mungkin sekian belas 18.000 Ibu apa meninggal ada empat orang. Jadi memang ada yang meninggal tentu saja ya. Ini paling besar resikonya untuk menjadi fatal itu apa? Ini kan biasanya kalau lamsia anak-anak ee ibu hamil atau ini bagaimana dari segi faktor resikonya? Itu kan juga pertanyaan khas waktu COVID kan siapa yang [tertawa] siapain yang harus ya. Jadi tentu saja memang daya tahan tubuh itu penting, tetapi karena peran besar dari vaksinasi maka orang yang tidak divaksinasi menjadi faktor risiko
yang sangat tinggi gitu. Nah, seperti saya sampaikan tadi kalau ada risiko tertular jadi petugas kesehatan yang memang bertugas dengan petugas ee sori dengan pasien pasien menulari campak itu juga orang yang jadinya jadi orang yang berisiko. Tapi sekali lagi kita perlu menekankan berulang kali bahwa peran vaksinasi sangat besar sih. Mudah-mudahan ini bisa ditinggal. Jadi ide heard immunity ini khusus untuk campak berlaku enggak? Berlaku. Tapi kan immunity itu kan kalau cakupan 95%. Heeh. Untuk untuk sebagai berbagai jenis
infeksi virus kalau cakupan 95% heart immunity di kelompok itu dan ini kan 80% di mana-mana ya. Jadi memang heart immunity belum terjadi pada waktu dengan campak sekarang ini. N. Nah, misalnya kalau sudah kena campak dan sembuh itu masih perlu divaksinasi enggak [tertawa] atau ini sudah menjadi bagian dari sistem imunitas di tubuhnya, Prof? Ada ada tiga kemungkinan. Nomor satu pertanyaan adalah kalau dia sudah dicampak imunisasi dua kali, he masih perlu divaksinasi apa enggak? Tadinya karena sudah diimunisasi dua
kali proteksi 97%. Tapi dari pengalaman pengetahuan lebih lanjut seperti K1 ada kemungkinan weining immunity jadi harus diulang. Itu satu. Yang kedua kalau dia sakit. Nah, itu juga sama. sakit itu punya daya tahan tubuh gitu ya. Tapi pada kenyataannya memang ada juga immunity sehingga kemungkinan perlunya campak ee vaksinasi berikutnya itu tetap diperlukan terutama pada orang yang ya kalau kita mau ambil ee prioritas ya minimal petugas kesehatan. Tapi orang yang ada dalam kerumunan seperti tadi
kita bahas sedikit orang Amerika kalau dia pergi ke daerah KLB outbreak ya bahasa dia maka dia menganjurkan orang Amerika vaksinasi campak. Jadi kalau sementara kita jelas ada outbreak di di cukup banyak provinsi. Jadi memang memang itu ada penurunan imunitas. Karena itulah sekarang mulai ada anjuran untuk memberikan vaksinasi campak pada dewasa. I kalau misalnya ada enggak sekarang anjuran dari Australia? Kalau ke Indonesia hati-hati [tertawa] kalau bisa harus imunisasi. Saya belum baca Austral seperti kita
dulu misalnya k Afrika begitu harus harus yellow fever atau ada buku atau misalnya kan Pak Prof ini kan ada daftar. Iya. daftar vaksinasi yang harus dijalankan ya ee ya perlu enggak sekarang khusus untuk camp memang belum saat ini belum ada belum keluar secara hitam putih dari Australia saya kira dari Amerika juga belum keluar tapi memang dia menganjurkan secara umum kan Amerika itu CDC itu bahkan kadang-kadang dia keluar country by country ya tapi sepanjangnya setahu belum keluar country by country untuk
Indonesia tapi kalau di WHO sendiri bagaimana memandang campak ini khususnya di Indonesia penanganannya dan juga anjurannya dan apakah ada semacam inilah Ini tadi kan sekarang kita kasus yang nomor dua ya di negara yang paling banyak mengalami campak ini ini menjadi close of concern enggak Prof? Nomor pertama sekarang jadi berubah jadi nomor tiga ya. Nomor tiga ya dan itu bukan campaknya. Jadi dia menghitung jumlah pasien pada waktu outbreak itu yang nomor tiga. Jadi habis India Angola Indonesia jumlah
pasien pada waktu break bukan jumlah pasien pada keadaan dalam tanda kutip bukan outbreak. Jadi nah tentu saja itu jadi konsern. Nah, tetapi bukan tetapi dan orang dengan relatif mudah menghubungkan dengan cakupan imunisasi yang rendah. Jadi memang sepanjang cakupan imunisasi kita masih rendah ini enggak akan selesai-selesai. Plus memang kalau sudah terjadi KLB ada dua yang bisa dikerjakan. Satu yang namanya outbreak response immunization, satu yang namanya catch up. Jadi itu itu secara teknis kesehatan masyarakat itu
yang mesti dilakukan. Jadi kalau ada KLB dilakukan eh outbreak respon immunization, semua anak diberikan eh vaksinasi di daerah itu. Ketsup itu untuk anak-anak yang belum divaksinasi diberikan vaksinasi. Dan berita baiknya adalah berita baiknya adalah pada waktu awal 2026 kasus kita cukup tinggi. Beber kan surveilance ee penyakit itu di semua negara dilaporkan week by week, minggu by minggu. Kita juga melakukan hal yang sama. Saya kira dalam 3 minggu terakhir atau 2 3 minggu terakhir ini angkanya
sudah turun. Jadi ada penurunan yang sangat nyata. Jadi ori dan itu bekerja ya. Ini ini penting ya kenapanya dan juga mungkin lesson learn-nya yang kita dapatkan ya dari kasus ini kenapa meningkat tapi tiba-tiba kenapa mulai menurun. Nah, tetaplah bersama kami Inside with Desi Anwar akan [musik] segera kembali. Kembali bersama Desi Anwar. Topik kita kali ini mengenai campak. Saya ditemani Profesor Chandra Yoga Aditama pakar kesehatan masyarakat dan juga dulu pernah menjabat sebagai direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara untuk
tahun 2018 sampai tahun 2020. ini penting ya karena harus ada semacam guideline yang namanya penyakit itu tidak kenal ee border dan juga ee pasti gampang sekali ee menular dan juga mudah sekali bagi kita untuk belajar bukan saja dari kesalahan masa lalu tapi dari negara-negara lain yang paling ee sukses menangani kasus ini. Nah, di Indonesia ini ya ada resistensi tadi untuk ee melakukan vaksinasi paling mengurang ya idealnya 99% itu sudah bagus ya. Kita pernah kan mencapai ee untuk vaksinasi yang pertama pernah
mencapai tapi yang ee pertama tapi sekarang makin lama makin menurun tapi ada kabar baik tahun 2026 ini ada sedikit penurunan dari kasusnya. Coba mungkin melihat tren ini lebih ke faktor apa? Masyarakat yang mendapatkan ee informasi ataupun dikomunikasikan tentu sosialisasi yang baik mengenai penyakit ini atau karena memang ada proaktivitaslah dari pemerintah untuk menyebarluaskan ataupun memberikan vaksinasi. Jadi ini ada dua hal yang berbeda ya. Nomor satu adalah vaksinasi pada semua anak umur 9 sampai umur 9 sakit enggak
sakit ada KLB at enggak KLB semua harus dicover dan inilah yang angkanya terakhir 2025 masih 80% kita maunya 90% itu satu poin karena ada penurunan 1980 80 maka kemudian terjadi KLB kejadian luar biasa ada kriterianya jumlah kasus meningkat sekian kalau sudah terjadi KLB ada lagi imunisasi yang berbeda ini daripada yang ini. Kalau sudah terjadi KLB ada tindakan khusus itu yang tadi kita bahas di yang terakhir. dua hal itu. Yang satu namanya outbreak response immunization, yang satu namanya catch up immunization.
Nah, jadi kalau sudah ada KLB ini mesti dilakukan eh outbreak responnya dan K. Tapi kalau nanti KB sudah itu yang vaksin tetap harus jalan begitu. Nah, penurunan dari di tahun 2016 ini dari awal Januari sampai sekarang itu karena ininya berjalan kuat. Eh, ori outbreak respon simulation dan cat berjalan cukup kuat karena itu ada penurunan walaupun belum belum belum ee katakanlah belum maksimal begitu ya. Kalau bisa ini diperkuat sehingga betul-betul KLB itu bisa tertanggulangi. Tapi ingat ini ini adalah penanganan
sesaat. Ini mesti jalan terus. Imunisasi atau vaksinasi pada anak plus sekarang dewasa ini harus jalan dengan coverage 90% kalau bisa 90% lebih bagus supaya jangan terjadi KLB lagi. Karena kalau jadi KLB lagi balik lagi cerita yang ini. Jadi apa kalau yang bagian ee wajibnya lah yang harus jalan, apa yang harus lebih ee banyak dilakukan oleh pemerintah khususnya dari Kementerian Kesehatan? Sebenarnya ini yang kedua ini mungkin orang agak mau karena kan sudah lihat banyak yang sakit begitu ya. Jadi karena
itu dia ada sense of urgency. Iya. Dia lihat walaupun di beberapa daerah katanya ini masih juga ada yang menolak tapi kalau yang ini ini kan orang enggak ngelihat sakitnya anak masih sehat anak ee cucu, anak sehat-sehat kenapa mesti divaksin. Itu yang jadi masalah. Karena itu memang harus ada upaya sistematis untuk menangani vaksin resistensi karena vaksinnya ada ee tersedia, harganya gratis dan aman. Dan aman. Masalah keamanan ini kan penting. Vaksin itu ada dua selalu. Nomor satu sebelum dia diberikan dia sudah dijamin
aman. Sesudah dia dijamin aman baru kemudian dijamin efektif. Jadi tidak ada vaksin yang tidak aman yang diberikan pada manusia. Apapun jenis vaksinnya pasti dia aman tapi kemudian dia efektif. dan efektif itu untuk yang yang campaknya 97%. Nah, sekarang bagaimana kita ee pemerintah, masyarakat, kita juga di CNN menjelaskan kepada masyarakat menjelaskan bahwa ini adalah vaksin yang aman, vaksin yang efektif dan vaksin yang perlu diberikan pada anak-anak kita. Itu itu yang perlu dan katanya ada tiga secara teoritis ilmu komunikasi ya,
Mbak Desi lebih jago saya ilmu komunikasi yang pertama messengernya. Kemudian bagaimana cara cara penyampaiannya, orangnya siapa? Kemudian cara penyampaiannya ada yang bilang mesti empati segala macam. Dan yang ketiga kontennya begitu. Nah, nah kebetulan di bulan April ini itu hari kesehatan sedunia tanggal 7 April. Tanggal 7 April itu hari Kesehatan Sedunia. Karena tanggal 7 April 1948 itu WHO berdiri. Jadi tanggal 7 April ini hari kesatan SI. Kenapa saya bicara itu? Karena temanya saat ini adalah together
for health, stand with science. Oke, stand with science. Nah, stand sini yang penting supaya informasi yang beredar saya HP kita simpan sih ya di WhatsApp itu kita berdasarkan hoa i berdasarkan tidak ada bukti ilmiahnya J karena kita maunya stand with kenapa salah eh WHO mengambil standwi sign karena itu untuk bukan memang tidak spesifik untuk vaksin ya supaya semua keputusan itu didasarkan kepada sains. ang semata-mata berdasarkan hoa dan ya media sosial. Ya, mungkin salah satu faktor kenapa turun juga ya kepercayaan orang itu
adalah karena prevalensinya media sosial yang memuat e mungkin informasi ataupun pengalaman-pengalaman yang membuat orang takut ya. He. Jadi, wah kenapa harus takut misalnya dari segi keamanan dan lain sebagainya. Jadi, pada intinya perlu dan aman dan sudah terbukti dan ini bukan sesuatu yang baru kan. Kalau COVID kan masih bolehlah waktu itu dipertanyakan karena ini hal yang baru ya faktanya. Nah, soal takut ini penting karena di media sosial ini dalam tanda kutip begitu jahatnya begitu dalam tanda kutip
ya karena dia mengeluarkan bukti seakan-akan ilmiah mengatakan ini berbahaya tapi dari pengalaman pribadi. Padahal bukti ilmiah yang beneran itu jelas bukan seperti itu. Jadi seakan-akan ini bukti ilmiah juga ada orang begini autism dan segala macam itu padahal itu tidak benar. bukti ilmiah yang ada mengatakan sekian puluh juta anak e berhasil dicegah dengan imunisasi ini. Begitu. Baik. Kalau khusus untuk dewasa ini kan pasti ada cara komunikasi yang baru dan apalagi untuk mendorong orang eh kalau
tenaga medis menurut ee Prof harus diwajibkan gitu. H ee imunisasi campak ya. Ini sudah ada ini enggak kesadaran dari tenaga medis sendiri ya. Kebetulan di rumah saya ada saya istri saya, anak saya, mantu saya dokter semua gitu ya. Jadi [tertawa] kita kita jadi vaksinasi campak gara-gara ini kan begitu ya. Jadi kita vaksinasi campak memang gara-gara ini. Nah ee masalahnya bukan hanya kesadaran petugas kesehatan, tapi juga saya gimana ngomong tanggung jawab pemerintah untuk melindungi tenaga kesehatan. Kan kasihan
kalau seperti dokter ini sampai sakit. Apalagi kalau memang bersentuhan dengan penyakit campak itu sendiri. Iya. Kalau ada KL kasusnya meningkat. Kalau ada kasus meningkat dia pasti bersentuhan. Tolonglah lindungi teman-teman. Tapi para sudah e ini sudah mulai karena belum jadi program nasional. Kalau pertanyaan Mbak Ris sudah mulai, saya percaya sudah mulai tapi coverage-nya saya kira belum terlalu besar. Dan jadi kalau program nasional berarti kan harus diberikan secara gratis dan harus diwajibkan lah istilahnya. Nah,
kalau dari segi gejala yang apalagi khususnya dewasa ya, apa yang harus diperhatikan dan juga kira-kira bagaimana untuk ee bisa membandingkan dengan penyakit-penyakit yang lain? Kan tadi ada demam, ada pileknya, ada batuknya, dan ada ruamnya. I kurang lebih gejalanya sama sebenarnya dewasa ee dengan anak-anak itu ya. Ada demam, ada merah. Tapi untuk mendiagnosanya sampai Oh, kalau di spastik ada dua cara. Tentu saja dengan PCR atau dengan tes antibodi itu diagnosis pasti. Tetapi secara klinis kita bisa mendiagnosis arti ada
demam, ada merah, orang sudah masti curiga. Apalagi kalau tenaga kesehatan bilang kemarin pasien saya memang campak. Jadi kemungkinan dia sakit besar, kemungkinan dia tertular besar. Maksudnya kalau ada gejala-gejala seperti itu dan harusnya memang ee segera diistirahatkan. Kalau kita baca, saya tidak mengikuti secara kalau kita baca berita di media kan kasus teman yang meninggal ini ada keluhan besoknya masih bekerja, besok masih bekerja begitu ya. Saya saya enggak tahu persis seperti apa dan mungkin menularkan kan ini kalau
sakit bisa masih iya ya kan seperti saya sampaikan 4 hari sebelum ee restnya timbul dan 4 hari sudah restnya meletus itu dia menularkan itu menularkan jadi menularkan juga iya tapi kan kita lagi bicara soal bagaimana perlindungan kepada orang dewasa ini supaya penyakitnya jangan jadi berat tentu saja kalau pneumoni ada beberapa kriteria misalnya kalau napasnya jadi berat ee sesek napas kemudian bam bisa tambah tinggi maka dia mesti waspada jangan-jangan terjadi pneemoni pada dirinya segera memeriksakan diri tentu
ee kita bisa lakukan pemeriksaan foto ronsen dan melakukan pengobatan sesuai dengan yang tadi apakah dia pneumonia virus atau penimaan bakteri dan pasiennya mesti masuk ke rumah sakit. Nah, dalam ee tenaga ini kesehatan yang ee akhirnya meninggal ya karena campak ini diagnosanya bahwa ini campak itu pada stage kapan do? Karena kan kalau orang misalnya aduh saya pilek terus kasih kasih obat inilah anti radang dan lain sebagainya. supaya langsung ditangani dan juga bisa di ini kalau dulu kita diisolasi di karantina
misalnya kalau soal karantina sih memang karantina ya karantina karena karena dia menular karantina karantina cuman kalau kasus yang dewasa ini juga anak-anak sebenarnya perburukan yang jadi faktor jadi kalau si anak arota orang dewasa mengalami perburukan tadi seperti saya bilang batu k berat sesek napas nyaman member berat begitu nah itu mesti waspada jangan-jangan ada sesuatu ini segera memeriksa diri untuk mengetahui apakah ada sesuatu atau tidak jadi faktor perburukan itu yang jadi faktor tidak ada bukan tidak ada itu yang
kemudian membuat alertness makin meningkat untuk segera mencari pertolongan gitu. kami mencegahnya selain ee tentu saja imunisasi, apa-apa saja yang perlu dilakukan sama dengan nanti kalau saya bilang kita mengulang ya artinya tetap sama masker, cuci tangan dan sebagainya karena dia penularan airborne ya penularan airborne. Cuman saya ingin menggaris bawahi di segmen ini yang tadi saya sampaikan Australia membuat informasi begitu jelas minute by minute orang itu ada di mana supaya yang lain juga waspada. Jadi
kalau kita bisa seperti itu tentu akan lebih baik contact tracing. I [tertawa] [terkesiap] kita masih ada satu segmen lagi Prof. Tapi kita akan lanjutkan setelah yang berikut [musik] ini. Tetaplah bersama Inside with Desi Anwar. Kembali bersama Ins with DC Anwar. Topik kita kali ini mengenai campak dan ini juga berkaitan dengan hari kesehatan dunia ya. Pada tanggal 7 April saya ditemani Profesor Candra Yoga Aditama. Kita berbicara mengenai campak yang ternyata kalau dari segi penularannya ternyata jauh lebih menular ketimbang
COVID ya. Kita kita sudah mulai melupakan [tertawa] COVID ya. Tapi ini penyakit ini kalau tidak ditangani dengan baik itu bisa menjadi bukan pandemi satu lagi epidemi atau bagaimana Pak? E yang yang pertama saya mau garis bawah dulu COVID jangan dilupakan ya karena COVID itu tidak hilang. Oh, itu yang ditang yang yang ada yang tertanggul lagi adalah situasi pandeminya. Tertanggul lagi tapi COVIDnya masih ada yang sakit masih ada yang meninggal juga masih ada. Bukan hanya di kepustakaan, tapi di sehari-hari masih ada. Jadi
kalau ada kecurigaan ke arah COVID tetap tetap harus ditanggulangi. Jadi jangan dianggap bahwa COVID itu sudah tidak ada. Ee dan kalau bicara pandemi orang kan sudah tidak ini PCR lagi atau cek-cek. Nah, kalau bicara pandemi sebelum masuk ke pandemi campak, maka kita kita perlu tanpa bermaksud menakut-nakuti, kita perlu menyadari bahwa pandemi itu akan berulang. Kita hanya belum tahu kapan akan berulang dan penyakit apa yang menjadi penyebabnya. Itu salah satu yang mungkin selain influenza adalah corona. Corona jenis
baru. Kita tahu dulu corona yang sebelum COVID ini adalah corona yang SARS COV 1 ya. Kemudian ada SARSCOV 2 yang yang COVID-19. kita tidak tahu di masa datangnya. Jadi kita tetap kuas badan harus tetap tinggi karena pandemi yang akan datang itu pasti akan ada. It’s not if it is when ya dan penyakitnya jenis penyakitnya apa itu ya. Itu itu satu soal itu. Nah, kalau soal apakah si campak ini akan jadi pandemi mestinya sih tidak ya. Kenapa mestinya tidak? Karena perlindungan dari dari vaksinasinya tinggi sekali. Tadi kita
sudah bahas 97%. Sementara si COVID itu kan 50 60 mungkin ada yang 70 sekarang. Tapi ini perlindungan terhadap terhadap terhadap e pencegahannya tinggi sekali dan kita sudah punya pengalaman di mana campak itu bisa turun. Jadi yang terjadi adalah KLB atau outbreak dari waktu ke waktu. Ee ee kalau mau ambil Amerika lah walaupun saya enggak Amerika tadi sudah eliminasi tapi sekarang dia ada lagi kasusnya karena juga cakup karena penolakannya. [tertawa] Iya ya penolakan terhadap imunisasi cukup tinggi di sana.
Iya. Plus ada orang masuk dari luar memang ya. Jadi memang dia masih akan ada dari waktu ke waktu. Tapi okelah kalau kita bicara dunia kita bicara yang kita aja ya. Yang kita tolonglah kita jaga, kita yakinkan bahwa vaksinasi yang diharuskan pada anak kita bukan hanya campak sebenarnya ada sederetan tujuh atau delan ee ee vaksinasi yang perlu diberikan itu di dipatuhi dalam tanda kutip. Jadi dalam kesehatan masyarakat tu ada yang namanya PD3I, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Salah
satu di antaranya campak, ada hepatitis segala macam. dan itu ada programnya semua dan mumpung program itu ada dan gratis, tolong itu dimanfaatkan kita vaksinasi anak kita sesuai dengan program yang ada. Dan sekali lagi pasti vaksin apapun yang dipilih itu adalah vaksin yang aman dan dia efektif. Jadi vaksinasi harus diberikan pada anak termasuk campak ini tentu iya mungkin dalam ee kaitan ini ya ini karena salah satu kenapa ada terjadinya KLB ini adalah karena penurunan ya imunisasi atau tingkat vaksinasi yang
dilakukan. Apa kira-kira pesan bukan saja untuk orang tua, tapi untuk orang dewasa juga dalam menghadapi campak ini. Kita tidak tentu saja tidak ingin menakut-nakuti dan lain sebagainya, tapi lebih pencegahan itu jauh lebih baik, lebih murah, dan lebih efektif daripada kita menyembuhkan. Kanul apa yang harus nomor satu kita mesti sadar kejadian sekarang ini menunjukkan bahwa campak itu masih ada dan kadang-kadang bisa menimbulkan KLB. Itu kenyataan terjadi di negara kita, terjadi juga di negara
lain itu dan bisa fatal satu. itu satu dan si si KLB ini bukan tidak mungkin menjadi fatal dan kita sudah punya beberapa contoh itu satu dan yang kedua memang ini adalah PD3i penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi jadi tolong vaksinasi diberikan pada anak dan pada acara ini kita merekomendasikan agar vaksinasi pada dewasa juga diberikan pada ee minimal pada petugas kesehatan kalau bisa lebih banyak lebih bagus lagi. Itu yang kedua. Yang ketiga, kalau ada keluhan belum tentu campak memang ada demam atau segala macam.
Kalau kita tidak bisa terulangi segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diketahui apakah ini campak atau yang lain. Itu untuk orang ya untuk maksud saya untuk pasien. Untuk petugas kesehatan itu juga penting. Artinya dia harus punya alertness. Kok tiba, kok tiba-tiba saya sehari-hari menangani 50 pasien di PISMAS. Hari pasiennya keluarnya seperti kok tiba-tiba hari ini pasiennya naik jadi 60 70 dan sebagian besar merah dan dan demam. Bukan tidak mungkin itu ada sesuatu terjadi di pus daerah itu. Jadi
alertness dari petugas juga sama pentingnya dengan dengan alertas dari dari masyarakat. Jadi nomor satu kita sadar, yang kedua bisa diimunisasi, dan yang ketiga ee kalau memang ada keluhan segera berobat kepada dari pemerintah itu sendiri khususnya di pemerintah daerah lah dan di level-level sampai puskesmas ataupun posandu lah istilahnya yang penting dilakukan supaya ee resistensi untuk imunisasi ini itu dikurangi ya. Jadi saya kira selain kita kalau yang sudah KLB kita tangani dengan dua hal, ori dengan catup immunization.
Kemudian untuk yang belum belum vaksin kita vaksin. Tapi memang harus ada program terstruktur begitu apa namanya kalau zaman sekarang istilahnya masif strukturstruktur untuk menangani ee orang yang menolak divaksin. Ini bukan masalah sederhana dan sekali lagi ini bukan masalah Indonesia saja. Saya mesti ada sistem yang jelas untuk menangani itu. Nah, itu bagaimana dengan kita belajar juga dari kasus COVID itu kan kita membuat struktur dan sistem yang terpaduah sehingga semua orang juga paham bahwa wah ini sesuatu yang memang
penting dan harus dilakukan. Iya. Tapi tapi COVID itu juga salah satunya orang juga cukup banyak yang menolak vaksin pada waktu itu ya. Nah, karena itu kalau kalau mau pakai pendekatan yang si si WO tadi yang pertama soal confidence confidence orang itu mesti ditegaskan bahwa ini memang aman dan efektif versus orang yang punya bukti yang lain yang yang palsu begitu fake evidence yang mengatakan dan menggunakan media sosial bias untuk menyelaskan. Dan yang kedua, incompensi yang artinya orang merasa ini penyakit
sudah enggak jadi masalah. itu mesti mesti ditanggulangi. Karena ngomong media sosial, balik lagi messenger-nya siapa, caranya bagaimana message-nya media sosial atau apapun juga dan kontennya itu mesti mesti mungkin ada badan khusus begitu di Indonesia ini yang menangani untuk bagaimana menanggulangi ee ee vaksin resistensi bukan hanya buat campak sekaligus kita manfaatkan dalam tandip momentum ini supaya ada program yang jelas vaksin bagaimana ditangani dari waktu ke waktu baik di tingkat pusat seperti yang Mbak
Desi bilang juga di bawah pemerintah ataupun Kementerian Kesehatan menurut Prof kurang ya atau tidak ada? ini bukannya di bisa memberi saran ya, Prof. Nah, ini dalam seminar-seminar kita berikan saran di sini karena memang orang masih berkonsentrasi pada kalau ada KLB berikan dua tadi itu ori atau yang ini enggak reaktif meningkatkan cakupan tapi cakupan itu enggak naik gara-gara gara-gara histensi ini yang mesti diberikan porsi perhatian yang lebih besar lagi. Dicari faktornya apa dan bukan tidak mungkin faktornya
itu beda dari satu tempat ke tempat lain. Jadi mungkin ada faktor budaya juga, faktor budayaor ya. Dan tadi kita sampaikan messengernya juga beda. Mungkin di fak di daerah sini yang bicara harusnya lurah, di sini yang bicara harusnya siapa, sini harus bicara. Jadi dibuatlah program yang jelas bagaimana vaksin ini bisa kita tanggulangi di di Indonesia sekali lagi untuk semua jenis PD3i bukan hanya dampak. Iya. Nah, kalau misalnya kita kena lah sebagai dewasa ataupun anak-anak ini harus dilakukan itu apa? Setelah divonis
istilahnya W ini kena campak. Jadi karena dia menular maka memang isolasi ya jangan kontak dengan yang lain. Tapi tentu yang paling bukan paling mudah yang paling segera mesti dilakukan kalau kita kena atau kita curiga kena tadi kita sudah bahas segera berobat ke fases kesehatan apalagi sedang ada KLB seperti ini. Jadi bukan tidak mungkin angkanya meningkat segera berobat ke fasilitas kesehatan untuk mengetahui apakah ini campak atau tidak. Ya, ada beberapa kriterianya walaupun pemeriksaan lab mungkin tidak terlalu mudah tapi ada
beberapa knya. Nah, kalau dia sudah kena tentu saja dia istirahat ya, jangan kontak dengan orang lain dan dan seperti saya sudah sampaikan sebenarnya dari ruam itu seminggu kemudian kalau situasinya baik dia akan membaik gitu ya. Jadi itu bisa bisa tertanggulangi tapi ee kesadaran untuk segera memeriksa diri itu hal penting. Enggak boleh dianggap enteng ah saya cuman merah-merah kecil ah cuman demam gitu. Itu enggak bisa seperti itu. Yang penting juga harus menjaga kesehatan ya karena aspek imunitasnya
penting untuk menjaga keda daya tahanan itu kalau mau kesimpulan itu sebenarnya. He. Karena karena ilmu kesehatan itu bukan hanya mengobati orang sakit, bagaimana menjaga yang sehat itu tetap sehat. Itu jauh lebih penting ketimbang kalau sudah sakit mesti diobati dengan segala caranya. Marilah kita menjaga sehat tetap sehat. Antara lain saya dulu pakai waktu saya kerja di Kemenkes pakai cerdik, cek kesehatan secara berkala, enya asap rokok dan polisi udara, rajin aktivitas fisik dan olahraga, diet yang
bergizi dan seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stres. Ini harus jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari supaya cerdik cerdik dan kalau sakit jangan jangan ke sekolah atau jangan ngantor ya, jangan menularkan [tertawa] ke orang lain ya. Apalagi karena campak ini memang ternyata sangat-sangat menular menular ya. Ee Prof. sekarang kan sering memberi masukan ya kepada siapa-siapa saja ini Prof melakukan khusus mengenai kesehatan dan juga bicara di berbagai tempat ee baik di tingkat yang pusat
begitu maupun juga sampai di Puskesmas ya artinya dan saya kadang-kadang bukan kadang-kadang seringkiali yang bicara depan ibu-ibu kader itu saya tertarik ya kenapa karena ibu-ibu kader itu kan semangatnya tinggi sekali dan mereka praktis tidak dibayar ya dan ini cerita di Jakarta saya enggak cerita di daerah praktis tidak dibayar mungkin ada sebagian dapat bayar tapi mereka semangat datang datang dan antusiasme warga kota Jakarta nih, maaf kita bicara soal Jakarta itu saya kira modal modal besar untuk kita mewujudkan kesehatan
warga. Dia kadang-kadang mengeluh, “Wah, Dok, itu kita ke rumah itu yang keluar anjingnya.” Kita mau mau bilangin misalnya demam demam denggi ya, kita mau bilangin nyamuk yang keluar anjingnya yang tuan rumah enggak keluar tapi dia tetap bersemangat. Jadi saya kira peran besar kader kesehatan di Jakarta dan juga di daerah lain itu sangat penting yang perlu kita kita terus tingkatkan begitu. Heeh. Nah, ini mungkin sebagai penutup ya, karena kalau kita melihat ini jumlah atau deretan dari penyakit virus ataupun dari bakteri
yang ada di Indonesia yang kita sebut penyakit menular ini, ini kalau kita daftar itu yang paling prevalent itu apa-apa saja dan kira-kira dari segi ininya lah penanganannya itu seperti apa dan ini bisa untuk topik kita berikutnya juga kan misalnya kan kita masih sekarang ada penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup itu udah itu satu kolom sendiri ya tapi yang masih istilahnya penyakit tropis ini ya jadi yang jadi kita bagi dua penyakit tidak menular yang gaya hidup tadi dan penyakit yang menular
penyakit menular ini menular dalam tanda kutip ya penyakit menular biasa yang sudah sering kita dengar bisa juga yang emerging infectious disease yang baru ee dan bisa juga yang tadi yang ee bahasa saya maaf saya lupa bahasa Indonesia tapi namanya neglected tropical disease. Misalnya saja lepra. Lepra tuh Indonesia masih nomor tiga di dunia loh. Oh iya. Dan ini sepertinya kan penyakit yang udah udah tapi zaman dulu gitu tapi ternyata masih ada penyakit yang namanya sistosomiasis demam keong yang di banyak negara sudah
tidak ada. Di kita masih ada dan hanya di beberapa kabupaten di Sulawesi. Jadi masih ada yang neglect tropical disis neglectropical disease ini jumlahnya tidak banyak tapi tidak hilang-hilang. Tapi yang penyakit infeksi saluran napas, ISPA, batuk tadi kita bahas sedikit tentang tuberkulosis. Berkosis kita masih nomor dua di dunia. Saya kira masih nomor dua di dunia. Nah, itu berkosis ini tadinya yang kita harapkan waktu saya pertama-tama sekolah adalah komitmen politis. Pada waktu Presiden Jokowi ada perpres 67 tahun
2021. Baru sekali itu ada Perpres tentang tuberculosis. Begitu Presiden Prabowo dia masukkan tuberkulosis ini sebagai salah satu quick win astatita. Jadi sebenarnya dari atas itu ada political will. Iya. Jadi tinggal bagaimana mengimplementasikan di bawah supaya betul-betul tuberkuloses dit. Makanya tadi saya usul kalau bisa saya nanti next kita mungkin bicara mengenai e TB karena ini seolah-olah ini kayak penyakit dunia ketiga sekali ya istilahnya harusnya Indonesia kita sudah bisalah mengatasi penyakit
dan lagi ingat Indonesia emas loh gimana bagaimana ma emas jadi kita TB makan oh nomor dua kalau tadi Campak nomor tiga ya campak KLB nomor lepra nomor tig lepra nomor tig kemudian apaagi yang bisa menjadi penyakit menular itu iya kita masih punya masih punya banyak ee infeksi Cerna kan ada diare, taifid dan sebagainya. Hepat denggi kan juga ya. Nah, dengki juga ya. Cuman dengki ini memang agak agak tricky ya. Karena negara seperti Singapura juga enggak selesai menangani dengki. Kita tahu salah satu yang mereka lakukan adalah
dengan nyamuk ber wallbug ya itu. Tapi kan toks Singapura masih juga menghadapi masalah denggi. Denggi ini satu masalah besar juga buat kita tentu saja. Tapi kalau tibi itu mestinya bisa karena memang obat TB itu sudah ketemu 1882. Obatnya sudah ada, teknologinya sudah ada. tinggal Mbak Desi Anwar bikin acara. [tertawa] [terkesiap] Jadi masih banyak sekali penyakit-penyakit yang betulnya harus kita bahas ya. Dan dengan ilmu sekarang dengan sains ini sebenarnya kan sudah banyak sekali vaksin dan cara-cara
pencegahannya dan terima kasih banyak ini Prof. sangat informatif dan insight-nya sangat bagus. Dan kita harapkan juga program-program seperti yang kita lakukan ini juga bisa membantu ya memberikan informasi yang jelas yang berdasarkan ilmiah. Stand with science. Stand with science. Ya, sekali lagi terima kasih Prof. Demikian insight [musik] with Desi Anwar kali ini. Terima kasih juga atas perhatian Anda dan jangan lupa Anda dapat menyaksikan tangan ini di cnindonesia.com [musik] dan juga di YouTube CNNI Indonesia
Inside with Daisy Anwar. Sampai jumpa. Stay safe, stay healthy. Bye bye. [musik]
Komentar