Di dalam Museum of Tomoro yang megah di Rio de Janeiro, kemeriahan seketika terpancar di balik aroma ketegangan alenaatore asal Italia, Carlo Ancelotti mengumumkan 26 skuad Seleku untuk bertarung di [musik] Piala Dunia. Don Carlo tidak sekedar mencari sekumpulan bintang individu, ia mencari 26 detak jantung yang siap berdarah-darah di atas lapangan. Untuk mencapai ambisi itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Bakat-bakat potensial yang tengah bersinar harus rela jadi korban. Ya, sang juru taktik ini ibarat sedang
berjudi di kasino. Namun di balik perjudian besar itu sebenarnya Carleto sudah memegang kartu as. Di video ini kalian enggak hanya akan mengetahui bagaimana cara Anceloti menyulap Selekau jadikan kandidat [musik] juara, tapi juga cara dia membungkam mulut para peragu. Cerita heboh yang tersisa dari pengumuman skuad Brazil adalah tentang Neymar. Ratusan orang yang hadir berteriak histeris ketika nama pemain Santos itu disebut oleh Ancelotti. Mereka terlihat bahagia sekaligus terharu melihat sang mega bintang
kembali bisa menari-nari di Piala Dunia. Suasana serupa juga terpancar dari raut wajah sang pemain. Menyaksikan pengumuman tersebut dengan orang terdekat, Neymar pun tak kuasa menahan air mata. Neymar seolah tak percaya sebab desas-desusnya [musik] ia diragukan untuk dipanggil karena alasan medis dan performa. Namun di luar sana banyak pihak mengecam langkah ini [musik] sebagai perjudian buta. Kendati begitu, Anseloti tetap teguh pada pendiriannya. Bukan semata soal tenaga atau usia, Carleto memanggil Neymar
karena mampu memberikan mental, pengaruh, dan kualitas yang berbeda bagi tim ini. Masih terlintas di kepala kejadian di Piala Dunia 2022 lalu, ketika semua pemain Brazil mengalami kebuntuhan saat melawan Kroasia, Neymar mampu memecahkannya. [musik] Namun sayang gol indahnya tersebut masih gagal menolong Selekao melangkah ke semifinal. I sebegitu pentingnya pengaruh Neymar, mental, pengalaman, dan kualitasnya di fase-fase krusial memang enggak bisa bohong. Itulah yang [musik] dibutuhkan Ancelotti.
Di balik Euforia dipanggilnya Neymar, suasana berbeda terjadi di keluarga Jao Pedro saat menyaksikan pengumuman suu hanya raut wajah kesedihan dan penyesalan yang terpancar mengetahui namanya tidak masuk suu mantan penyerang Brighton itu pun kecewa. Ia frustasi berat sampai curhat di media sosial pribadinya hanya untuk menanggapi hal menyakitkan ini. Tidak dipanggilnya Ja Pedro menurut Anseloti adalah sebuah keputusan yang maha berat. Don Carlo pun sampai menaruh hormat dan meminta maaf secara pribadi kepada sang pemain. Ia
beralasan ada pemain lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan taktis timnya. Sebagai striker tengah, Jao Pedro kalah saing dengan bomber Branford Igor Thiago. Anseloti percaya penuh pada mantan kuli bangunan itu karena secara catatan gol musim ini lebih seram dari Jao Pedro. Ikhlas dan terima. Itulah sikap kesatria Jao Pedro menghadapi kenyataan pahit ini. Beda halnya apa yang dialami oleh Anthoni. Sang lord yang baru saja membawa Real Betis lolos ke Liga Champions justru diabaikan begitu saja oleh Ancelotti. [musik]
Publik pun banyak yang menyayangkan kenapa pemain yang pandai meliuk-liuk dan berputar liar seperti Gasing itu tak dipanggil. Pemain buangan MU itu justru kalah saing dengan winger muda macam Ryan. Padahal secara pencapaian musim ini sebenarnya Antoni jauh lebih dahsyat baik itu secara gol maupun asis. [musik] Keinginan Anseloti untuk menyisipkan beberapa pemain muda sebagai tujuan kombinasi suu jadi salah satu alasannya [musik] pemain 19 tahun seperti Hendrik adalah contoh kasus lainnya selain
dipanggilnya Ryan. Meski nantinya para pemain belia tersebut tak selalu dimainkan, tapi mereka akan mendapat pengalaman, mental, dan banyak ilmu di ajang sana. Semua itu semata-mata dilakukan agar regenerasi di timnas Brazil bisa berjalan mulus. Selain kebutuhan regenerasi, pemanggilan skuad [musik] ini juga didasari oleh kebutuhan taktik Anceloti. Artinya, semua pemain yang dipanggil sudah masuk dalam plan strateginya. Jika merunut pada eksperimen strategi yang dilakukan Anceloti selama menangani Brazil,
[musik] paling tidak ada tiga opsi pola. Yang pertama adalah 4231, kemudian 433, dan 442. Dari semua plan tersebut sudah pernah dicoba Anceloti untuk mengatasi beberapa tipe lawan yang berbeda. Dengan dipanggilnya Neymar, kemungkinan sang pemain akan ditempatkan sebagai pemain yang ada di belakang striker dalam format 4231. Inilah posisi yang ditempati Neymar akhir-akhir ini di Santos atau bisa jadi saat menggunakan pola 442, pemain 34 tahun tersebut akan ditempatkan sebagai tandem striker tengah. Entah itu dengan
Igor Thiago, Hendrik atau Matthus Kunya. Lalu tidak dipanggilnya Anthony membuat pos winger kanan akan ditempati oleh Raffinya. Sebagai pelapis akan ada Ryan dan Luis Henrique. Begitupun di posisi sayap kiri, apapun formasinya pasti akan ditempati oleh Vinicius Junior. Sebagai pelapisnya ada Gabriel Martinelli. Selain kedalaman lini serang yang krusial sebenarnya justru [musik] ada di lini tengah. Casemiro dan Bruno Guimares adalah sosok yang akan mengemban tugas maha berat, mengatur ritme, dan
menyeimbangkan [musik] tim. Dua gelandang bertenaga kuda ini akan jadi kunci Anceloti dalam mengontrol permainan. Lalu bagaimana dengan lini pertahanan? Selagi ada dua tembok tangguh finalis Liga Champions seperti Gabriel dan Marquinos, kiper gaik seperti Alison maupun Ederson pasti akan merasa aman. Yang jadi pertanyaan mungkin ada di backk sayap. Anceloti hanya bisa berharap pada pemain Zedit, Douglas Santos, maupun pemain AS Roma Wesley. Sisanya hanya deretan pemain gaik seperti Danilo maupun Alexandro.
Terlepas dari drama pemanggilan pemain, amunisi tersebut diharapkan mampu nyetel dengan apa yang telah dirancang oleh Don Carlo. Publik Brazil yang kadung kecewa atas sikap Anceloti pasti enggak mau tahu. Yang mereka inginkan hanyalah Anceloti bisa membawa Seleku mengatasi musuh-musuhnya di Piala Dunia. Di fase grup mereka akan langsung menghadapi Maroko. Jangan sekali-kali meremehkan semifinalis Piala Dunia 2022 ini. Jika lengah, Auman Singa Atlas akan menghancurkan mereka. Namun jika berkaca pada laga uji coba lawan tipe tim dari
benua Afrika, beberapa kali Ancelote berhasil mengatasinya seperti saat menang lawan Senegal 2-0. Tidak ada salahnya pola 442 yang dipakai saat mengalahkan Senegal kembali diterapkan saat meladeni Akraf Hakimi dan kolega. Keberhasilan pola 442 tersebut kuncinya ada pada kecepatan dua winger dan kokohnya double pivot. Beda halnya jika bertemu Haiti di laga kedua. Di sini Ancelotti harus fokus panen poin. Pola menyerang harus mutlak diterapkan. Inilah laga yang akan jadi pembuktian produktivitas lini serang yang dipilih
[musik] Anceloti. Pemain seperti Neymar, Hendrik, Ryan hingga Igor Thiago harus bisa membuktikan diri bahwa mereka layak dipanggil. Lalu berikutnya untuk menghadapi Skotlandia di laga pamungkas, Anceloti harus berpikir ulang. Tipe tim Eropa seperti Skotlandia kebiasaannya bertahan solid dan menekankan duel. Untuk itu, Anselti harus meladeninya dengan treatmen yang berbeda. Pola 433 akan jadi pilihan. Keseimbangan antara menyerang dan bertahan jadi titik fokus pola ini. Anceloti terbukti sukses mengalahkan tipe tim Eropa seperti
Kroasia dengan pola ini. [musik] Saat itu tim asuhan Zlatko daik yang bertahan dengan lima bek harus keok dengan strategi Anceloti yang satu ini. Berikutnya untuk mencapai 16 besar hingga final, Anceloti enggak cukup mengandalkan skill dan strategi. Tim ini juga butuh ketahanan mental. Faktor X biasanya sering jadi penentu di babak krusial. Entah itu gol ajaib atau keberuntungan di babak adu penalti. Well, bagaimanapun pertaruhan kini telah dimulai. Drama pelik pengorbanan pemain telah terjadi bagi Carlo Anceloti dan
fans Brazil di seluruh dunia. Kini pilihannya hanya ada dua. Meraih kejayaan abadi merengkuh bintang keenam atau membiarkan pengorbanan ini menjadi kenangan yang paling menyakitkan dalam sejarah sepak bola Brazil. Okay.

Komentar