Hanya butuh waktu kurang dari 24 jam bagi realitas perang di Iran untuk meruntuhkan ambisi besar Gedung Putih. Misi projek freedom atau proyek kebebasan yang dipromosikan para petinggi Washington diklaim akan memecah blokade Iran di Selat Hormus dan menstabilkan harga energi global. Namun apa yang terjadi justru berbanding terbalik. Saat menteri-menterinya sibuk meyakinkan publik, Donald Trump tiba-tiba menarik rem darurat untuk mengoreksi misi tersebut. Benarkah bayang-bayang kekuatan Iran memaksa Washington putar balik?
Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS muncul di ruang persedung putih menjadi sebuah pemandangan yang jarang terjadi. Menurut laporan dari The Telegraf, Rubio menghabiskan hampir 1 jam menjelaskan fase baru perang Amerika dengan Iran. Ia menyatakan bahwa operasi Epic Fury telah berakhir dan kini fokus beralih ke Project Freedom. Misinya pun terdengar mulia. Operasi pertahanan untuk membebaskan tanker-tanker yang terjubak dan meringankan penderitaan ekonomi dunia. Tak jauh dari sana di Pentagon, Menteri
Pertahanan Pit Hexet bersikap agresif. Melansir sumber The Guardian, Heksek bersi keras bahwa kapal perusak AS yang memandu kapal komersial adalah upaya kemanusiaan. Meski Iran terus menghujani dengan rudal, Hexet dengan tenang mengeklaim bahwa gencatan senjata masih berlaku. Namun, di balik pernyataan bahwa AS tidak mencari pertempuran adalah ketidaktulusan yang tercium. Sementara itu, keraguan mulai muncul ketika kenyataan di lapangan berkata lain. Dari ratusan kapal yang terperangkap, hanya dua kapal tanker yang berhasil
lewat. Sisanya masih terjebak dalam ketakutan. Perusahaan pelayaran raksasa seperti Hepek Lloyd bahkan menyatakan lewat di slide itu tetap mustahil bagi mereka. Di balik semua janji manis Rubio dan Hexet, ada kenyataan pahit yang mereka sembunyikan dari publik. Bayang-bayang kekuatan militer Iran benar-benar melumpuhkan operasi ini sejak jam pertama. Melansir The Telegraf, seorang sumber militer AS mengakui Iran melakukan eskalasi horizontal langsung terhadap Project Freedom. Artinya Iran tidak
hanya diam, mereka meningkatkan tekanan sedemikian rupa hingga membuat operasi AS terlihat sangat rapuh. Washington sudah mengerahkan kapal perusak, jet tempur, helikopter hingga drone tercanggih. Namun, Iran justru menunjukkan bahwa mereka tetap memegang kendali penuh atas selat tersebut. Muhammad Bagir Galibav, kepala negosiator Iran bahkan melontarkan sindiran tajam dengan menyebut Iran bahkan belum memulai apapun. Namun AS sudah tampak tidak berdaya menghadapi kebuntuhan yang ada. Ketakutan akan serangan rudal Iran yang
bisa meledakkan tangki kapan saja membuat premi asuransi tetap menjek. Inilah yang disebut bayang-bayang Iran. Sebuah kekuatan yang tidak harus menghancurkan seluruh armada AS untuk menang. Cukup dengan menunjukkan mereka bisa membuat biaya perang Amerika menjadi tak terkendali dalam semalam. Puncaknya terjadi ketika pengumuman Trump di Truth Social, Selasa, 5 Mei 2026 malam. Alih-alih kemenangan, Trump justru mengaku bayang-bayang Iran terlalu besar untuk dihadapi saat ini. Orang nomor 1 AS itu lebih memilih menghentikan
operasi daripada harus menanggung malu jika kapal perang AS benar-benar tenggelam atau terjebak dalam perang besar. Kegagalan ini turut mencerminkan kebijakan luar negeri AS dianggap tak punya arah dan konsisten. Kesan kuat yang muncul pun bukanlah sebuah kemenangan. melainkan tanda bahwa AS mulai kehabisan opsi untuk mengakhiri perang. Pentagon sendiri juga dikabarkan kehabisan ide menghadapi konflik berlarut-larut ini. Washington berupaya mati-matian untuk mencari jalan keluar dari perang yang tak sanggup mereka
selesaikan. Ada faktor besar lain di balik mundurnya Trump, yakni KTT dengan si Jinping di Beijing yang tinggal menghitung hari. Berdasarkan analisis The Telegraf, Trump sangat putus asa untuk meredakan ketegangan dengan Iran sebelum bertemu Presiden Cina. Ia tidak ingin tiba di Beijing dengan beban perang yang belum selesai yang bisa melemahkan pengaruhnya terhadap si Jin Ping. Ironisnya, draf kesepakatan 14 poin yang sedang diupayakan sekarang justru sangat mirip dengan kesepakatan nuklir era
Barack Obama. Hal yang dulu sangat dibenci Trump. Iran mungkin terpukul secara ekonomi, tetapi menurut The Telegraph, rezim mereka tetap utuh dan bahkan lebih berani. Mereka telah berhasil membuktikan bahwa Project Freedom hanyalah proyek yang rapuh melalui eskalasi langsung di laut. Kini Trump berdiri dengan pilihan yang semuanya buruk. Di dalam negeri, harga bensin yang melewati 4,5 dolar per galon menjadi bom waktu menjelang pemilihan paruh waktu. Sementara itu, proyek kebebasan yang digadang-gadang menjadi
penyelamat justru berakhir menjadi simbol kebingungan strategi Amerika di bawah bayang-bayang kekuatan Iran. Apakah ini akan menjadi akhir dominasi Amerika di Selat Hormus? Pantau perkembangan konflik Iran AS di kawasan Timur Tengah. hanya di YouTube Kompas.com.

Komentar