Berita Terpopuler
Beranda / Berita Terpopuler / Iran Tidak Main Catur AS: Memiliki “Senjata” Sehebat Nuklir, China Kini Harapan Terakhir Donald?

Iran Tidak Main Catur AS: Memiliki “Senjata” Sehebat Nuklir, China Kini Harapan Terakhir Donald?

Presiden Amerika Serik Donald Trump terbang ke Cina pada 13 Mei 2026 membawa ambisi besar sebagai pemimpin dunia yang ingin mengukir sejarah. Tapi di balik gembar-gembor kunjungannya itu, sejumlah media Barat justru menggambarkan gambaran yang jauh berbeda. Iran disebut sudah benar-benar mencoreng wajah Trump tepat sebelum ia duduk berhadapan dengan si Jimping. Presiden yang selalu bicara tentang kartu, kartu kekuatan, kartu tekanan, kartu perang, kini disebut tak lagi memiliki kartu yang mumpuni. Dan

ironinya, kartu terakhir yang tersisa justru ada di tangan si jimping rivalnya. Di depan kamera, sang adidaya tampil menggeretak. Tapi di depan Selat Humus, Trump termangu, bingung dan kelimpungan menimbang langkah apalagi yang harus diambil. Dan di Atlantic bahkan sampai menyebut slot Humus kini sudah jadi senjata Iran yang lebih berbahaya dari senjata nuklir. Bagaimana Iran bisa membalik meja? Selama bertahun-tahun, dunia terutama Amerika Serikat khawatir pada satu ancaman dari Iran, yaitu senjata nuklir.

Tapi peneliti senior Brookings Institution, Robert Kagan mengungkapkan perspektifnya yang berbeda di di The Atlantic. Kegan menyebut Iran telah menggenggam senjata yang jauh lebih kuat dan efektif dari Bomb of Tom, yaitu selatu rumus. Karena dunia pun telah merasakan dampak dari melonjaknya harga minyak mentah akibat blokade Selatu Rumus oleh Iran. Inilah yang dimaksud kagen, senjata sekuat nuklir. Bukan karena Iran punya hulu ledak nuklir, tapi karena Iran punya kendali atas lat itu dan memiliki kemampuan menyandera

pasar energi global kapanpun mereka mau. Kagan bahkan menulis kalau krisis ini selesai, Satorumus tidak akan kembali seperti dulu. Iran tidak akan tertarik kembali ke status quo karena mereka sudah tahu apa yang mereka pegang. Lalu apa yang bisa dilakukan Trump? Trump sudah mencoba semuanya. Amerika Serikat dan Israel sudah membombardir Iran selama 37 hari. Sebagian besar pemimpin Iran terbunuh. Ada infrastruktur militer yang hancur, tapi rezim Iran tetap utuh. Kemudian Trump pun mencoba blokade pelabuhan Iran di

selatu rumus. Tapi hasilnya nih begituun dengan misi project freedom buatan Trump yang bubar di hari pertama operasi berjalan. Itulah kenapa menyebut situasi ini dengan satu kata yaitu skakmat. Trump tidak bisa maju dan tidak bisa mundur dengan bermartabat. Dalam situasi skakmat itulah Trump kini terbang ke Cina. Kunjungan ini secara resmi dirancang sebagai pertemuan puncak dua kekuatan terbesar di dunia. Tapi sejumlah analis membacanya berbeda. Trump datang bukan dengan posisi kuat melainkan tengah mencari kemenangan.

Nih Wagub Rano Karno Melihat Kebakaran Habiskan Ratusan Rumah-Rumah di Kemayoran

Profesor kebijakan luar negeri dari University of Hong Kong, Alejandro Reis menyebut situasinya kini sudah berbalik. Trump mungkin lebih membutuhkan Cina daripada Cina membutuhkan dirinya. Setahun lalu, Trump datang ke Cina dengan yakin tarif dagang akan menundukkan Beijing. Tapi kali ini agenda yang dibawa berbanding terbalik. Ra membawa penawaran penjualan poe kedelai daging sapi, dan pembentukan dewan investasi serta perdagangan bersama. Dan yang terpenting adalah permintaan besar terkait bantu akhiri

perang Iran. Dan secara terbesar yang kemungkinan diminta Cina untuk mengabulkan permohonan Washington mungkin persoalan Taiwan. Kalau mau dibantu, Amerika Serikat harus berkomitmen tidak akan ikut campur urusan Cina soal Taiwan dan menentang kemerdekaan Taipi. Cina bisa saja menuntut itu karena tahu Amerika Serikat saat ini sudah krisis amunisi dan aset militernya di Asia sudah ditarik ke Timur Tengah. Jadi rasanya mustahil jika Amerika Serikat masih bisa melindungi Taiwan di momen seperti ini dan Cina

tahu betul soal itu. Itulah kenapa penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayat menyebut, “Jangan harap Trump bisa datang ke Cina dengan membawa kemenangan atas Iran.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Bakai pun menyatakan bahwa kini Cina telah memahami bahwa Iranlah pihak yang dipaksakan untuk berperang bukan Amerika Serikat. Jadi rasanya tak mungkin Cina akan bersimpati pada Amerika Serikat. Iran bahkan menyebut Cina akan menggunakan momentum ini untuk memperingatkan Amerika Serikat agar

tidak mengambil tindakan yang melanggar hukum internasional. Itulah kenapa para analis sepakat mengatakan jangan terlalu berarah pertemuan Trump dan si ini akan menghasilkan terobosan besar pada perang Iran. Di Satra mencari jalan keluar lewat diplomasi di Washington situasinya justru semakin memanas. Trump dilaporkan semakin frustrasi. Iran bergeming. Selat Hurumus tertutup dan negosiasi nuklir yang diharapkan membuahkan konsesi nyatanya tidak menghasilkan apapun. Orang-orang dekat menyebutkan sang

presiden kini mempertimbangkan secara serius untuk melanjutkan serangan ke Iran. Bukan serangan biasa, tapi operasi tempur besar-besaran lebih intens dari minggu-minggu sebelumnya. Pemicunya jelas penutupan Selatus yang terus berlanjut. Tapi di sinilah masalah baru muncul dan kali ini dari dalam rumahnya sendiri. Internal pemerintahan Trump terpecah. Sebagian pejabat termasuk dari Kementerian Pertahanan mendesak pendekatan lebih agresif untuk memperlemah posisi Iran. Tapi vaksi lain masih bersi keras mengupayakan jalur

Guru SMPN 111 Jakarta Senang dikunjungi Presiden Prabowo: “Anjay Mantap bangga!”

diplomasi sebagai kesempatan terakhir sebelum peluru berikutnya ditembak. Ada pula soal Pakistan yang selama ini berperan sebagai mediator. Lingkaran dalam curam mempertanyakan apakah Islam Abad benar-benar menyampaikan pesan Washington secara tegas kepada Iran atau justru kerap membagikan versi posisi Iran yang jauh lebih positif daripada kenyataan di lapangan. Trump ingin keluar dari perang ini, tapi tidak tahu caranya. Menyerang lagi berisiko bencana ekonomi global. Mundur berarti mengakui kekalahan. Menunggu rezim Iran runtuh

bukan strategi. Itu hanya harapan. Lebih dari 60% warga Amerika Serikat sendiri tidak setuju dengan perang yang dipicu Trump ini. Sementara pemilihan paru waktu November sudah di depan mata dan jam terus berdetak. Tapi Trump belum juga duduk di posisi ideal. Iran tidak perlu nuklir untuk memojokkan Amerika Serikat. Cukup dengan menutup selat dan memegang teguh tekat untuk tidak mundur. Ram kini terbang ke Cina dengan harapan si Jimping bisa jadi jalan keluarnya. Tapi Cina pun membuka tangan dengan kalkulasi sendiri.

Pertanyaannya, seberapa mahal harga yang harus dibayar Washington hanya untuk bisa keluar dari masalah yang mereka buat sendiri? Pantau terus perkembangannya hanya di kanal YouTube Kompas.com.

 

Iran Kasih Persiapan Petaka, 5 “Kehancuran Semua” Hantui Amerik Serikat Jika Perang Ronde Kedua Nih Bos

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *