Dunia
Beranda / Dunia / Iran-AS Saling Hajar di Selat Hormuz, Genjotan Peperangan di Ambang Kehancuran

Iran-AS Saling Hajar di Selat Hormuz, Genjotan Peperangan di Ambang Kehancuran

Genjatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat kini berada di ambang keruntuhan. Usai kedua negara dilaporkan saling melancarkan aksi militer di Selat Hormus pada Senin, 4 Mei 2026. Situasi kian memanas setelah Uni Emirat Arab melaporkan serangan untuk pertama kalinya sejak kesepakatan damai diketok hampir 1 bulan lalu. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengeluarkan ancaman keras dengan menyatakan Iran akan dihapus dari muka bumi jika berani menyerang kapal-kapal Amerika. Ancaman itu disampaikan Trump hanya

sehari setelah Washington mengumumkan operasi militer untuk mengawal kapal dagang di jalur strategis tersebut. Di sisi lain, Teheran menegaskan akan tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormus jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu. Di lain sisi, konflik mulai meluas ke negara kawasan. Uni Emirat Arap melaporkan adanya serangan rudal dan dron yang diduga diluncurkan dari Iran. Serangan tersebut menargetkan fasilitas

energi di Fuairah dan melukai tiga warga negara India. Sementara di Oman, dua orang dilaporkan terluka setelah sebuah bangunan tempat tinggal di wilayah pesisir buka terdampak serangan. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab menyebut serangan ini sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan. Militer Uni Emirat Arab juga mengungkap Iran meluncurkan empat rudal jelajah dengan tiga di antaranya berhasil dicegat. Selain itu, drone Iran juga dilaporkan menyasar kapal tanker yang terafiliasi

dengan perusahaan energi nasional Abu Dhabi National Oil Company. Namun, militer senior Iran membantah serangan tersebut. Di lain sisi, ia menyebut insiden itu sebagai konsekuensi dari kehadiran militer AS di kawasan. Teheran menilai operasi Amerika sebagai upaya membuka jalur pelayaran secara [musik] ilegal di Selat Hormos. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arasyi menegaskan bahwa konflik ini tidak memiliki solusi militer. Ia bahkan menyindir operasi AS yang dinamakan Project Freedom itu sebagai project deadlock atau Jalan

buntu. Operasi Project Freedom sendiri diumumkan Trump pada Minggu 3 Mei 2026 sebagai misi kemanusiaan untuk mengawal kapal-kapal netral keluar [musik] dari teluk. Komando Pusat AS mengeklaim dua kapal dagang berbendera Amerika telah berhasil melintas sela dengan pengawalan kapal [musik] perang. Namun klaim itu dibantah oleh Garda Revolusi Iran yang menyatakan tidak ada satuun kapal komersial atau tanker [musik] minyak yang melintas dalam beberapa jam terakhir. Di saat yang sama, Korea Selatan melaporkan salah satu kapalnya

Terbaru Nih Harga BBM Pertamina Versi Per 1 Juni 2026 Di Semua Seluruh Ri

mengalami ledakan dan kebakaran di kawasan tersebut. Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi antara Iran, Amerika Serikat justru mengalami kebuntuan. Upaya perundingan antara Washington dan Teheran terhenti, termasuk pembatalan rencana dialog di Pakistan. Situasi di Selat Horbus pun kian pelik di mana data menunjukkan lebih dari 900 kapal komersial masih tertahan di kawasan Teluk hingga akhir April. Di lain sisi, harga minyak terus melonjak tajam yang berdampak langsung pada ekonomi global.

[lonceng]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *