JAKARTA — Tim gabungan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai berhasil membongkar laboratorium rahasia (clandestine lab) pembuat narkotika terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Pidie, Aceh. Operasi joint operation ini berhasil menyita 1,2 ton sabu kualitas super (blue ice) dan mengamankan 11 orang tersangka.
Laporan dari detikNews mengonfirmasi bahwa laboratorium gelap yang disamarkan di deretan rumah toko (ruko) kawasan Mutiara Timur, Pidie, tersebut dikendalikan oleh jaringan narkoba internasional yang melibatkan pelaku asal Tiongkok, Malaysia, dan Indonesia.
Kronologi Penggerebekan Ruko dan Pembekukan Para Pelaku
1. Pengepungan dan Pendobrakan Paksa
Aksi penggerebekan berlangsung pada Rabu (21/10/2026) siang. Petugas gabungan yang tiba di lokasi langsung mengepung bagian depan dan belakang ruko yang dalam kondisi terkunci gembok rapat. Karena tidak mendapatkan respons dari penghuni di dalam, tim penyidik mengambil tindakan tegas dengan mendobrak pintu belakang bangunan.
2. Penangkapan Tersangka di Dalam Ruko
Di tengah kondisi ruangan yang gelap dan dipenuhi barang berserakan, petugas mendapati para pelaku berusaha bersembunyi di balik tumpukan kardus. Tim gabungan berhasil membekuk 6 orang di lokasi ruko, yakni LJ, XM, F, MY, AK, dan AY. Pada saat bersamaan, tim di lokasi terpisah mengamankan 5 tersangka lain yang terafiliasi, yaitu RY, RM, RZ, MN, dan B.
Modus Operandi Produksi Sabu Blue Ice dan Barang Bukti Kimia
Ruko tiga lantai tersebut telah disulap sedemikian rupa menjadi fasilitas pabrikasi bertingkat untuk setiap tahapan sintesis bahan kimia:
1. Peralatan Pabrikasi Khusus
Di dalam laboratorium, petugas mengamankan persediaan sabu cair serta instrumen produksi lengkap, antara lain:
-
60 kaleng bahan kimia Titan Pro,
-
4 unit kompor 2 tungku dan 7 tabung gas 12 kg,
-
3 unit mesin cuci yang difungsikan khusus untuk proses pengkristalan (crystallization),
-
Alat penyinaran, mesin pendingin, timbangan digital, dan wadah bersuhu stabil.
2. Penegasan Kapolri dan Pemburuan DPO Internasional
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto yang memimpin langsung konferensi pers di Pidie, Aceh, menegaskan bahwa produksi di lokasi ini tergolong sangat sistematis dan dikendalikan oleh ahli kimia profesional.
“Sabu yang dihasilkan merupakan kualitas terbaik atau dikenal sebagai blue ice. Pengungkapan ini menyelamatkan jutaan anak bangsa dari ancaman kehancuran masa depan. Kami terus berkoordinasi dengan Komisi Pengawasan Narkotika Nasional (NNCC) Tiongkok untuk mengejar aktor utama berinisial LX,” tegas Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.
Selain itu, penyidik Polri juga menetapkan 6 orang sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, S, dan S.
Comment