untuk semua teman-teman yang memberikan support dan ee memberikan ee kue juga untuk Talia Tania ini ee sebagai bentuk rasa di mana [musik] anak-anakku juga bisa menjadi e anak-anakku juga menjadi bagian sebagai keluarganya Bronis. Air mata lu habis ya? Doa harapan. Hah? [musik] [musik] [musik] Kalau undangan itu memang dari ibunya. Ibunya memberikan undangan gitu. Cuman memang ya gimana ya situasi gua gua harus bekerja gitu. Gue situasi bekerja gua lagi memulihkan, lagi mengembalikan semuanya lagi kembali dari nol. Kamu
udah sempat chat ke e Tania? T udah sempat ngucap. Udah aku mau tanya ee sama Talya itu kapan ee ayah ini e kadonya mau dianterin kado dari ayah sama Onyo gitu. Cuman kan ee bisa ke rumah atau enggak Cici ada acara di sana katanya Bunda udah udah hubungin Ayah. Iya. Tapi jamnya jam bronis. Gimana cara ngejelasinnya? Ya nanti ngejelasin lagi sangk kita enggak punya waktu untuk anak. Tapi situasi yang gua sekarang ini ya gua perlu uang, gua perlu bekerja untuk semuanya yang bisa gue ee kembalikan secara pulih gitu. Dan banyak
ya banyak yang harus gua selesaikan gitu dari malam ngelewati jam 12.00 malam gua ingat banget Talia lahir jam berapa, Tania jam berapa. Gua ingat gue melewati di jam-jam itu dan gue cuman bisa menyampaikan doanya lewat salat aja gitu. Disampaikan [musik] ini adalah ingin bertemunya gitu. ingin bertemunya saya dengan anak saya gitu. Dan jika dalam waktu 6 bulan itu adalah sebuah kesalahan besar karena tidak memberikan nafkah, saya cuma bilang, “Coba diperhatikan lagi dengan baik-baik. Apa sih yang diminta?” gitu
ya. Bertemu dengan anak dan bermain gitu. Udah itu aja. Rasa kangennya itu pasti pasti ada pasti. Dan saya hanya bisa sampaikan itu ya lewat doa, salat gitu. Kangen dah. Mau menyampaikan kangennya semana aja sampai enggak berani gitu. Enggak berani menyampaikan rasa kangennya semana juga enggak berani gitu. Untuk orang-orang yang tidak ada berkepentingannya itu udah dulu gitu. Jangan terus akhirnya menyudutkan terus ee memberikan kata-kata yang kurang pantas. I karena akhirnya saya harus jadi berpikir
bagaimana anak saya jika dibesarkan dengan lingkungan yang seperti itu? Ya, saya cuman bilang, “Ya, tadinya saya enggak berpikir yang lain, tapi sekarang saya jadi berpikir, sabar, Talia, Tania, sabar dulu, sabar, sabar dulu. Semuanya perlu waktu. Jadi, jangan digiring saya cemburu. Demi Allah, enggak ada saya cemburu. Tapi saya ingin memeluk anak saya, gitu. sampaikan ini adalah ingin bertemunya gitu, ingin bertemunya saya dengan anak saya gitu. Dan jika dalam waktu 6 bulan itu adalah sebuah kesalahan besar karena tidak
memberikan nafkah, saya cuma bilang, “Coba diperhatikan lagi dengan baik-baik. Apa sih yang diminta?” gitu ya. Bertemu dengan anak dan bermain gitu. Udah itu aja [musik] sampaikan. Ini adalah ingin bertemunya gitu. Ingin bertemunya saya dengan anak saya gitu. Dan jika dalam waktu 6 bulan itu adalah sebuah kesalahan besar karena tidak memberikan nafkah, saya cuma bilang, “Coba diperhatikan lagi dengan baik-baik. Apa sih yang diminta gitu ya? Bertemu dengan anak dan bermain gitu. Udah itu aja.
Kalau memang ee nafkahnya enggak enggak dinafkahin terus jadi enggak dibolehin ketemu, ya udah tahu kan siapa yang salah. Tapi kalau misalnya apa namanya? nafkahnya dibiayain, dikirimin terus tapi enggak dibolehin ketemu kan sudah tahu juga siapa yang salah. Jadi kan kayaknya orang gede sudah sama-sama tahu harus bersikap seperti apa.

Komentar