Ketegangan di Selat Hormus kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat bentrokan baru pada Kamis 7 Mei 2026. Situasi ini membuat gencata senjata yang sebelumnya terjadi sejak awal April 2026 terancam runtuh. Washington menuduk Iran lebih dulu menyerang tiga kapal perang Amerika menggunakan rudal, drone, dan kapal cepat bersenjata di jalur strategis tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat atau Sencom menyebut pasukan mereka langsung membalas serangan itu dengan menghancurkan sejumlah ancaman dan
menargetkan fasilitas militer Iran yang dianggap terlibat dalam operasi penyerangan. Menurut laporan media Amerika, serangan balasan Washington diarahkan ke lokasi peluncuran rudal, pusat komando militer hingga titik pengawasan Iran di wilayah Pulau Kesem dan Bandar Abbas. Di sisi lain, Deren membantah menjadi pihak pertama yang memulai serangan. Iran menuding militer Amerika melanggar kencata senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran serta wilayah sipil di sekitar Teluk. Markas militer Iran
menyatakan pasukan mereka hanya melakukan serangan balasan terhadap kapal perang Amerika Serikat setelah tanker Iran menjadi sasaran. Corps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGz bahkan mengeklaim telah menggunakan rudal balistik, rudal anti kapal, dan drone peledak untuk menghantam sasaran militer Amerika di wilayah tersebut. Iran juga mengeklaim serangan balasannya menyebabkan kerusakan pada kapal perang Amerika Serikat. Meskipun pernyataan itu langsung dibantah Senkong yang menyebut seluruh armadanya tetap aman dan
beroperasi normal. Pentrokan terbaru ini terjadi di tengah proses negosiasi damai yang masih berlangsung antara Washington dan Tehran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka pada Rabu, 6 Mei 2026. Namun, ia juga memperingatkan akan adanya serangan yang lebih besar jika Iran menolak usulan Amerika Serikat. Sementara itu, Pakistan sebagai mediator terus berupaya menjaga komunikasi kedua negara. Perdana Menteri Pakistan, Syekh Basyarif
bahkan berharap gencatan senjata sementara dapat berkembang menjadi perdamaian jangka panjang. Meski begitu, sebagian warga Iran mulai meragukan peluang diplomasi karena meningkatnya pengerahan kekuatan militer Amerika di kawasan Telung.

Komentar