PARIS — Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, mendatangi SMA Paul Eluard di kawasan Saint-Denis, pinggiran kota Paris, untuk bergabung langsung dengan gelombang aksi demonstrasi pelajar Prancis.
Aksi nasional yang diikuti puluhan ribu siswa dan mahasiswa ini digelar guna menuntut perbaikan fasilitas sekolah, penambahan tenaga pengajar, serta penghentian tindakan represif dari aparat kepolisian.
Alasan Greta Thunberg Mendukung Gelombang Aksi Pelajar Prancis
Menyuarakan Hak Generasi Muda
Saat berbicara di tengah kerumunan pelajar yang melakukan pemblokiran di pintu masuk sekolah, Thunberg menekankan pentingnya mendengarkan suara kaum muda dalam penentuan kebijakan publik.
“Anak-anak muda tidak diikutsertakan dalam diskusi. Masa depan kami sedang dirampas dari kami,” ujar Greta Thunberg kepada media di lokasi demonstrasi.
Eskalasi Gerakan Demonstrasi di Berbagai Kota
Gerakan protes ini telah berlangsung sejak akhir bulan lalu dan terus membesar. Para siswa memblokir akses ke ratusan sekolah di seluruh Prancis menggunakan tumpukan tempat sampah dan barikade keamanan. Selain di Paris, gelombang demonstrasi besar juga meluas ke kota-kota lain seperti Toulouse, Bordeaux, dan Lyon.
Tuntutan Utama Pelajar dan Respons Pemerintah Prancis
Krisis Fasilitas Pendidikan dan Kekurangan Guru
Para pelajar menyuarakan keprihatinan atas buruknya kondisi fisik bangunan sekolah, jadwal pelajaran yang terlalu padat, serta krisis kekurangan guru yang parah. Serikat mahasiswa dan pelajar (l’Union) menegaskan bahwa aksi ini akan terus berlanjut hingga pemerintah memberikan solusi nyata.
Eskalasi Tindakan Represif Kepolisian
Situasi di lapangan memanas menyusul laporan tindakan kekerasan oleh pihak kepolisian. Lebih dari 6.800 orang—sebagian besar merupakan anak di bawah umur—telah diamankan polisi sejak gerakan ini dimulai.
Guna melindungi para siswa dari potensi kekerasan aparat, puluhan pengacara berjubah resmi bahkan membentuk barikade manusia (human chain) di sekitar barisan pendemo. Pihak berwenang mengonfirmasi sedang menyelidiki sedikitnya 24 dugaan pelanggaran kekerasan oleh petugas.
Imbauan dari Presiden Emmanuel Macron
Menanggapi gelombang penolakan ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri dan mengutamakan dialog. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Prancis melaporkan sekitar 200 sekolah terpaksa ditutup sementara guna menghindari kerusakan fasilitas.
Comment