JAKARTA, INDONESIA — Permintaan vaksin herpes zoster atau shingles dilaporkan meningkat di Inggris. Selain untuk mencegah penyakit yang menimbulkan ruam dan nyeri, sebagian masyarakat kini tertarik mendapatkan vaksin tersebut setelah sejumlah penelitian mengindikasikan kemungkinan adanya hubungan dengan penurunan risiko demensia.
Meski hasil penelitian awal dinilai menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan vaksin herpes zoster dapat secara langsung mencegah demensia. Vaksin ini tetap digunakan untuk tujuan utamanya, yakni membantu melindungi seseorang dari herpes zoster.
Permintaan Vaksin Shingles Meningkat di Inggris
Laporan sejumlah apotek di Inggris menunjukkan kenaikan pemesanan vaksin herpes zoster. Boots melaporkan jumlah pemesanan layanan vaksinasinya meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, setelah sebelumnya naik sekitar 30%. Sementara itu, Superdrug mencatat kenaikan pemesanan sebesar 41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh kekhawatiran terhadap demensia. Banyak orang tetap mendapatkan vaksin untuk menghindari herpes zoster. Namun, potensi manfaat terhadap kesehatan otak mulai menjadi pertimbangan tambahan bagi sebagian calon penerima vaksin.
Sebagian Orang Bersedia Membayar Secara Mandiri
Di Inggris, vaksin herpes zoster tersedia secara gratis melalui National Health Service (NHS) bagi kelompok yang memenuhi persyaratan. Sementara itu, orang yang belum memenuhi kriteria layanan publik dapat memilih jalur vaksinasi swasta dengan biaya yang dilaporkan mencapai sekitar £450 untuk dua dosis.
Pengalaman merawat anggota keluarga dengan demensia menjadi salah satu alasan yang mendorong sebagian orang mempertimbangkan vaksinasi. Mereka berharap dapat mengurangi risiko penyakit tersebut, meskipun manfaat perlindungan terhadap demensia belum dipastikan secara klinis.
Apa Hubungan Vaksin Herpes Zoster dengan Demensia?
Herpes zoster terjadi ketika virus varicella-zoster, penyebab cacar air, kembali aktif setelah bertahun-tahun berada dalam keadaan tidak aktif di dalam tubuh. Kondisi ini dapat menimbulkan ruam yang menyakitkan dan komplikasi, termasuk nyeri berkepanjangan.
Para peneliti menduga virus tersebut mungkin berkontribusi terhadap peradangan dan kerusakan sel saraf. Proses peradangan di otak juga menjadi salah satu aspek yang sedang diteliti dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer dan bentuk demensia lainnya.
Namun, dugaan mengenai hubungan antara virus, respons kekebalan tubuh, dan demensia masih terus diuji. Mekanisme biologis yang dapat menjelaskan kemungkinan manfaat vaksin terhadap kesehatan otak belum diketahui secara pasti.
Sejumlah Studi Menemukan Penurunan Risiko
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2025 menganalisis program vaksinasi herpes zoster di Wales. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok perempuan yang memenuhi syarat vaksinasi mengalami angka diagnosis demensia sekitar 8,5% lebih rendah selama tujuh tahun. Setelah memperhitungkan tingkat penerimaan vaksin, para peneliti memperkirakan penurunan risiko yang berkaitan dengan vaksinasi dapat mendekati 20%.
Studi lain dari tim peneliti Universitas Oxford membandingkan catatan kesehatan lebih dari 200.000 warga Amerika Serikat yang menerima vaksin Zostavax atau Shingrix. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerima Shingrix memiliki kasus demensia sekitar 17% lebih rendah dibandingkan penerima vaksin yang lebih lama, Zostavax. Perbedaan yang terlihat dalam penelitian itu lebih besar pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Meski demikian, hasil tersebut berasal dari analisis data kesehatan dan tidak otomatis membuktikan bahwa vaksin menjadi penyebab langsung penurunan risiko. Penelitian observasional dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perbedaan kondisi kesehatan dan kebiasaan hidup para peserta.
Tidak Semua Penelitian Menemukan Hubungan yang Sama
Bukti ilmiah mengenai manfaat vaksin herpes zoster untuk mencegah demensia belum sepenuhnya konsisten. Penelitian yang melibatkan catatan rumah sakit di Inggris, misalnya, tidak menemukan bukti bahwa vaksin Zostavax memberikan perlindungan terhadap demensia.
Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh jenis data, metode analisis, karakteristik peserta, atau perbedaan antara vaksin yang diteliti. Karena itu, para ilmuwan masih perlu menguji temuan tersebut melalui penelitian yang dirancang khusus untuk menjawab hubungan sebab-akibat.
Shingrix dan Peran Sistem Kekebalan Tubuh
Shingrix merupakan vaksin herpes zoster yang lebih baru dan telah menggantikan Zostavax di sejumlah layanan kesehatan. Berbeda dari Zostavax yang menggunakan virus hidup yang dilemahkan, Shingrix menggunakan protein virus dan bahan tambahan yang dirancang untuk memperkuat respons kekebalan tubuh.
Salah satu hipotesis yang sedang dipelajari adalah apakah respons kekebalan yang lebih kuat dapat membantu mengurangi peradangan atau mendukung proses pembersihan sisa-sisa sel yang rusak di otak. Para peneliti juga menelaah apakah bahan tambahan dalam Shingrix memiliki peran dalam temuan yang berkaitan dengan demensia.
Sampai saat ini, penjelasan tersebut masih berupa hipotesis ilmiah, bukan mekanisme perlindungan yang telah dipastikan.
Uji Klinis Masih Berlangsung
Dua uji klinis besar di Finlandia dan Denmark sedang dilakukan untuk menilai apakah Shingrix benar-benar dapat mengurangi risiko demensia. Hasilnya diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa tahun.
Penelitian lanjutan ini penting untuk membedakan hubungan statistik yang ditemukan dalam data kesehatan dari efek perlindungan yang benar-benar disebabkan oleh vaksin. Hasil uji klinis juga dapat membantu menjelaskan kelompok mana yang mungkin memperoleh manfaat dan seberapa besar manfaat tersebut.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Masyarakat?
Para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap vaksin herpes zoster sebagai metode pencegahan demensia yang sudah terbukti. Alzheimer’s Research UK, misalnya, menyatakan bukti saat ini belum cukup untuk menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Untuk saat ini, masyarakat sebaiknya mengikuti rekomendasi vaksinasi yang berlaku sesuai usia dan kondisi kesehatan masing-masing. Orang yang ingin mengetahui apakah vaksin herpes zoster sesuai untuk dirinya dapat berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Menjaga kesehatan otak juga perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih luas, termasuk aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, dan kegiatan yang merangsang kemampuan berpikir. Langkah-langkah tersebut tidak menjamin demensia dapat dicegah, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Kesimpulan
Meningkatnya permintaan vaksin herpes zoster menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap upaya mengurangi risiko demensia. Sejumlah penelitian memberikan petunjuk bahwa vaksin, khususnya Shingrix, mungkin memiliki manfaat tambahan bagi kesehatan otak.
Namun, bukti ilmiah masih berkembang dan hasil penelitian belum sepenuhnya konsisten. Sampai uji klinis memberikan jawaban yang lebih kuat, vaksin herpes zoster sebaiknya dipahami sebagai vaksin untuk mencegah herpes zoster, bukan sebagai obat atau perlindungan demensia yang telah terbukti.
Comment