Berita Terpopuler
Beranda / Berita Terpopuler / “Arus Terjal” Amerika Serikat Keluar Perang: Iran Susah Diketahui, Trump Disabotase Israel-Republik

“Arus Terjal” Amerika Serikat Keluar Perang: Iran Susah Diketahui, Trump Disabotase Israel-Republik

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut kesepakatan dengan Iran kini sudah tinggal di depan mata. Namun sebenarnya hal itu bukanlah perkara yang mudah. Kondisinya sekarang ibarat sudah mendekati pintu keluar. Tiba-tiba ada tembok penghalang besar yang menutup rapat arah pandang sang presiden. Trump kini dijegal oleh Israel dan partainya sendiri di dalam negeri. Para skoto dan mitrat menilai kesepakatan damai tersebut malah akan sangat merugikan Amerika Serikat. Ketika kritik deras berdatangan, Iran justru tetap berdiri

kokoh pada posisinya dan siap menghadapi apapun keputusan yang diambil oleh gedung putih. Sialnya bagi AS, Iran yang kini dipimpin oleh generasi baru justru semakin sulit diprediksi sehingga membuat Trump berada dalam kebuntuhan langkah. Lantas apa yang sebenarnya terjadi di balik layar perundingan damai ini? Mengapa Trump harus menghadapi perlawanan sengit dari lingkar dalam kekuasaannya sendiri? Simak selengkapnya dalam video berikut. Sahabat Kompas.com, coba perhatikan foto yang diunggah juru bicara Kementerian

Luar Negeri Iran, Ismail Bagai di akun X pribadinya, Minggu 24 Mei 2026. Ini adalah gambar relief kuno yang menunjukkan kaisar Romawi berlutut di hadapan Raja Sasania dari Persia. Dan isi pesan bagai seakan memberi sinyal jelas tidak ada kekuatan besar dunia yang abadi. Ia mencontohkan bagaimana kekaisaran Persia pernah memaksa Romawi berdamai di atas syarat-syarat Persia. Pesan itu dinilai sebagai sindra langsung kepada Washington bahwa Iran yakin mampu bertahan dan memaksa Amerika berkompromi.

Iran seakan mulai menyiapkan narasi kemenangan strategis dalam konflik melawan Amerika Serikat. Narasi kemenangan Iran muncul setelah posisi politik presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut berubah drastis. Sebelumnya Trump berkali-kali menuntut agar Iran menyerah tanpa syarat. Namun kini Amerika Serikat justru lebih melunak dan bersedia terlibat negosiasi intensif untuk mencari jalan keluar diplomatik. Laporan media internasional menyebut draf kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran berfokus pada pembukaan

kembali selat hormus dan perpanjangan gencatan senjata. Dalam rancangan itu, Iran juga disebut siap membahas masalah uranium yang diperkaya. Meski demikian, banyak isu besar yang justru belum disentuh. Misalnya tidak ada pembatasan terkait rudal balistik Iran atau pembubaran jaringan milisi pro Iran di Timur Tengah. Padahal itulah target besar Amerika Serikat dan Israel sejak awal konflik. Meski demikian, tidak semua pihak sepakat soal kemenangan Iran. Misalnya Ali Faes dari International Crisis Group

Nih Wagub Rano Karno Melihat Kebakaran Habiskan Ratusan Rumah-Rumah di Kemayoran

yang skeptis bahwa kedua negara bisa melangkah ke fase negosiasi substansial berikutnya. Menurutnya, konflik sudah berubah menjadi dinamika loslose atau sama-sama rugi di mana tidak ada pihak yang benar-benar keluar sebagai pemenang sejati. Tak cuma mendapat tekanan dari Iran, Trump kini dijegal dan ditekan habis-habisan oleh partainya sendiri. Para pendukung kebijakan garis keras di Partai Republik khawatir jika Trump terlalu tergesa-gesa untuk mengakhiri perang dan memilih menyerah pada syarat

Iran. Semuanya dimulai pada Jumat, 22 Mei 2026 saat ketua komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Waker secara terbuka menuduh Trump telah mengambil langkah yang keliru. Keesokan harinya, bersamaan dengan munculnya berita bahwa kesepakatan mungkin akan segera tercapai, kepanikan pun makin menyerua ke permukaan. Senator Insigraham mengatakan, membiarkan presiden yang memungkinkan Iran mengendalikan Selat Hormus dan mengancam infrastruktur minyak negara-negara tetangganya akan menjadi pergeseran besar keseimbangan kekuatan

di Timur Tengah. Seiring waktu, hal ini disebutnya akan menjadi mimpi buruk bagi Israel. Senator Ted Cruz dari Texas menyebut ia sangat prihatin dengan apa yang didengarnya dan bahwa ia berdoa agar laporan tersebut salah. Sementara Wicker mengatakan kesepakatan yang diusulkan itu akan berarti segala sesuatu yang telah dicapai oleh operasi Epic Fury akan sia-sia. Bahkan sejumlah pejabat penting pemerintahan dari masa jabatan pertama Trump pun ikut terlibat. Ek penaset kampan nasional Trump John Bolton menyindir bahwa para ayah tolak

tampaknya akan meraih kemenangan yang signifikan. 3 bulan setelah perang dimulai antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Washington memang terlihat unggul di medan tempur. Reuters menggambarkan situasi paradoks. Tak ada satuun tujuan awal Trump melancarkan perang yang tercapai. Mulai dari tujuan denuklirisasi, penghancuran rudal-rudal Iran hingga pelemahan proxi. Semuanya tak ada yang terwujud hingga saat ini. Tapi sekarang muncul pertanyaan yang mulai ramai dibahas para analis dunia. Apakah Donald Trump sebenarnya sedang

kalah dalam perang melawan Iran? Memang Iran terpukul secara militer, namun negara itu ternyata masih mampu bertahan. Perang yang awalnya diperkirakan berlangsung singkat justru berubah menjadi konflik panjang yang mulai mempersulit Trump sendiri. Teheran justru mengambil langkah yang membuat dunia khawatir yaitu memperketat pengaruhnya di Selat Hormos. Akibatnya harga energi global sempat melonjak dan negara-negara di kawasan Teluk ikut merasakan tekanan besar. Satu langkah ini saja sudah membuyarkan

Guru SMPN 111 Jakarta Senang dikunjungi Presiden Prabowo: “Anjay Mantap bangga!”

rangkaian awal tujuan Amerika di awal perang. Dampak perang ini juga mulai terasa terhadap hubungan Amerika dengan negara lain. Hubungan AS dengan beberapa sekutu tradisionalnya pun mulai mengalami ketegangan. Sejumlah negara Eropa disebut kecewa karena merasa tidak benar-benar diajak berdiskusi sebelum perang dimulai. Di lain sisi, Cina dan Rusia justru mempelajari konflik ini dengan serius. Mereka melihat bagaimana Iran meski jauh lebih lemah seram militer dibanding Amerika, ternyata mampu membuat AS

kesulitan lewat strategi asimetris. Banyak analis menilai perang ini membuka kelemahan baru Amerika di mata dunia. Pada akhirnya upaya keluar dari perang Timur Tengah menjadi jalan terjal bagi pemerintahan Donald Trump. Retorika penyerang tanpa syarat yang dulu disumpahkan oleh Washington kini harus meleleh di hadapan keteguhan strategis Republik Islam Iran. Penjegalan dan kritik keras dari kelompok loyalis Partai Republik serta Israel membuat setiap langkah diplomasi Trump terlihat sebagai sebuah kelemahan. Kegagalan

Amerika Serikat untuk mencapai tujuan denuklisasi dan pelemahan proxi menunjukkan bahwa kemenangan militer taktis tidak selalu berubah menjadi kemenangan geopolitik. Dengan persepsi kemenangan yang kian bergeser ke pihak ayat tolak, Amerika Serikat kini harus menerima kenyataan bahwa era di mana mereka bisa mendikte Timur Tengah telah berakhir. Saksikan kabar lainnya hanya di kanal YouTube Kompas.com.

 

Iran Kasih Persiapan Petaka, 5 “Kehancuran Semua” Hantui Amerik Serikat Jika Perang Ronde Kedua Nih Bos

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *