Olahraga
Beranda / Olahraga / Selesai Buat Eropa Viral!! Sayangnya 7 Klub Ini Malah Bubar di Final UCL

Selesai Buat Eropa Viral!! Sayangnya 7 Klub Ini Malah Bubar di Final UCL

Dalam sejarah final Liga Champions, kita sering lupa bahwa ada satu bab khusus yang tertulis justru dengan tinta air mata. Bab tentang mereka yang datang ke final sebagai kejutan, tapi hanya untuk melihat mimpi mereka hancur lebur di sana. Tragis dan menyakitkan, bukan? Kalian bisa bayangkan bagaimana sakitnya tim-tim tersebut. Hanya tinggal selangkah lagi mereka bisa menorehkan sejarah menggapai trofi si kuping besar. Mereka memang bukanlah klub yang punya sejarah panjang tampil di final Liga Champions. Bahkan sebelumnya kekuatan

mereka tak pernah diperhitungkan di kancah Eropa. Tapi bagaimanapun sejarah tetap akan mencatat bahwa mereka telah berhasil membuat final Liga Champions terasa lebih berwarna. Di video ini kalian enggak hanya akan disuguhi soal bagaimana perjalanan mengejutkan dari tim-tim tersebut, melainkan juga apa yang menyebabkan perjuangan mereka harus berakhir dengan luka. Di tahun 1992, kita enggak pernah membayangkan ada sebuah klub yang berasal dari kota pelabuhan kecil di Italia. Genoa berhasil membuat semua

mata dunia terpanah. Samdoria menjadi fenomena langkap mencapai partai puncak Liga Champions atau waktu itu masih bernama European Cup di Wembley saat itu. Klub berjuluk Ebuker Kiate ini enggak datang secara tiba-tiba ke final. Kalian harus tahu bahwa tim ini sudah sejak tahun 1987 dibangun oleh pelatih Yugoslavia Fujadin Boskov. Secara perlahan Boskov membangun era kejayaan Sampdoria mulai dari juara Kopa, Italia, Piala Winners hingga Scudeto. Sampdoria bisa bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya ya

gara-gara mereka menjadi kampiun di Serie YA tahun 1991. Saat itu publik sepak bola Italia dibuat kagum bagaimana bisa tim raksasa seperti Inter Juventus hingga AC Milan dibuat melongo melihat era keganasan mereka merengkuh mahkota juara. Debut di Liga Champions membuat tim yang bermarkas di Luigi Ferrari itu bermain tanpa beban. Mereka sangat enjoy menikmati lantunan anthem klasik Liga Champions itu tiap tengah pekan. Namun yang perlu diingat kerangka tim yang dimiliki Boskov saat itu juga enggak kalah saing dengan

tim-tim langganan Liga Champions lainnya. Mereka punya duet mematikan di lini serang yakni Jian Lucaviali dan Roberto Mancini. lolosnya mereka ke final berkat sumbangan masing-masing tiga gol dari dua pemain itu di fase grup. Namun tanpa si botak popai Atilio Lombardo di lini tengah yang gesit dan lincah seperti motor serangan, rasanya duet striker itu tak akan subur. Boskov juga punya tembok kokoh bernama Pietro Virchowood sebagai bek dan Jian Luca Pagliuka sebagai kiper. Dua pilar yang menjadi penopang strategi boskov sebab

Gabungan Seperti Ini Bisa Juara? Mulainya XI Timnas Belanda di Piala Internasional 2026

tim ini dibangun dengan mengutamakan pertahanan rapat dan serangan balik cepat. Strategi itulah yang terus mereka terapkan hingga di babak final melawan Barcelona. Bertemu Barcelona, Swan Johan Cru yang mengusung total football sangatlah menakutkan. Apalagi saat itu Sampdoria hanyalah klub debutan yang berstatus underdog. Lewat pertahanan yang kokoh, mereka coba berjuang mati-matian di lapangan. Terlihat sekali gempuran dari Pep Guardiola hingga Michael Ludrup berulang kali berhasil ditepis oleh tangan Pagliuka. Strategi

bertahan ala Bostov itu sebenarnya manjur. Mereka memaksa Barcelona bermain hingga perpanjangan waktu. Namun di menit 112 petaka yang tak diharapkan muncul, tangan Pagliuka akhirnya lelah. Tendangan bebas roket dari Ronald Kumen tak mampu ia tepis. Momen itulah yang membuat Samdoria akhirnya tertunduk lesu. Mimpi mereka merebut gelar Sirna di saat sudah berjuang mati-matian. Bagi Samdoria, itulah kenangan yang tersimpan di buku sejarah mereka. Karena itulah pertama dan terakhir Samdoria tampil di

Liga Champions. Berikutnya ada Valencia. Tim ini lebih tragis dari Sampdoria. Jika ada definisi dari patah hati yang berulang, itulah gambaran yang tepat bagi nasib Valencia di Liga Champions. Bayangin aja, kok bisa kelelawar Mestaya ini 2 tahun berturut-turut mencapai final Liga Champions tapi gagal juara. Tahun 2000 mereka dihancurkan Real Madrid. Lalu di tahun 2001 mereka kalah menyakitkan lewat adup penalti melawan Bayern Munchan. Fenomena itu mungkin hanyalah catatan kelam. Tapi yang kalian juga

harus tahu bahwa Valencia menciptakan sejarah tersebut dengan sebuah perjuangan keras. Embrio kejayaan Valencia ini sebenarnya sudah dibentuk sejak tahun 1998 oleh Claudio Ranieri. Pemain seperti Santiago Kanizares, Gitka Mendita hingga Claudio Lopez sudah jadi kerangka tim ini. Namun di tahun 1999 disempurnakan lagi oleh pelatih baru asal Argentina Hector Koper. Pemain dari Argentina seperti Mauricio Pellegrino hingga Kili Gonzalez berhasil kuper datangkan sebagai amunisi pelengkap. Penambahan amunisi pemain tersebut lalu

membuat dimensi permainan Valencia menjadi lebih atraktif. Mereka enggak hanya pandai bertahan seperti di era Ranieri, namun juga makin ganas dalam menyerang. Hal itu terlihat sekali dari cara mereka mengalahkan musuhnya. Di tahun 2000, mereka menumpas lawan kuat seperti Lazio dan Barcelona di babak knockout dengan agregat yang enggak main-main 5-3. Namun permainan atraktif Valencia itu akhirnya dikasih pelajaran oleh tim berpengalaman seperti Real Madrid di laga final di State the France. Strategi menyerang Cooper itu

Pasti Sulit TERTANDINGI?! Mulainya XI Prancis di Piala Internasional 2026

dihukum oleh Raul Gonzalez dan kawan-kawan tiga gol tanpa balas. Hektor Cooper pun berbenah di musim berikutnya. Ia mulai sadar bahwa solidnya pertahanan juga harus diperhatikan jika ingin meraih gelar. Nah, salah satu kunci sukses Cooper mengubah lini pertahanannya tambah solid adalah menghadirkan sosok bek tangguh Roberto Ayala dari AC Milan. Kekokohan tersebut membuat Valencia enggak mudah dibobol. Mereka hanya kebobolan 5 gol saja di Liga Champions 2000-2001. Lebih sedikit daripada lawan mereka di

final Bayern Munchen yang bobol 8 gol. Berkat pertahanan yang solid itu, kelelawar Mestaya berhasil melangkah ke final Liga Champions untuk kedua kalinya. Valencia yang di final sebelumnya dibantai, kini mereka berhasil membuat tim raksasa seperti Munchen harus bermain hingga babak tost-tosan. Kendati begitu, takdir berkata lain, Dewi Fortuna sepertinya tidak pernah mau menaungi tim asuhan Hektor Cooper. Valencia takluk oleh kehebatan Oliver KH yang tampil bagaikan singa. Dan dunia pun kembali menangis

menyaksikan Valencia kembali kanda secara tragis di final. Berikutnya ada fenomena menarik ketika Bayern Leverkusen melangkah dengan gagah ke final Liga Champions 2002. Ingat, tim ini belum pernah mencapai babak ini sebelumnya. Tahun itu menjadi tahun keemasan di worksh. Mereka bahkan berpeluang meraih tribel winners. Lalu apa yang membuat mereka bisa jadi sehebat itu? Tim ini dibangun oleh tangan dingin pelatih Klaus Top Moller. Pelatih yang baru saja mereka datangkan menggantikan Berty Fox. Hebatnya, skuad

warisan Fox enggak banyak diubah oleh Top Moller. Ia sadar bahwa kerangka yang dibangun Fox sudah bagus. Pemain seperti Lucio, Michael Balak hingga Dimitar Berbatov tinggal ia matangkan saja. Salah satu kekuatan utama di worksh di bawah top Moller adalah jiwa petarung yang tak kenalah di lapangan. Mental mereka benar-benar diasah tajam. Mereka jadi tim yang tak gentar hadapi lawan sekuat apapun. Mental baja itu terbukti kala menumpas tim raksasa seperti Liverpool hingga Manchester United untuk melaju ke final. Final yang dihelat di

Hamden Park melawan Real Madrid bertajuk David versus Goliat. Kalian bisa bayangkan betapa mengerikannya skuad los Galacticos asuhan Vicente Del Bosque kala itu. Kendati begitu bukan Leverkusen namanya kalau menyerah begitu saja perlawanan sengit mereka berikan. Gol Raul Gonzalez langsung dibalas oleh Lucio di babak pertama. Namun sayang keberuntungan dan mental juara ternyata belum dimiliki mereka. Satu gol tendangan volly ikonik Zinedin Zidan berhasil mengakhiri dongeng mereka. The Workself pun menyerah pada sang raja

Pasti Diolok Bukan Orang Punya Dan bangkrut Kenyataan Banyak Uang! Barcelona Marah borong Pemain Top

UCL. Menariknya, momen kegagalan di Hamden Park tersebut sekaligus mengakhiri rentetan kegagalan mereka meraih trable winner. Tragis, mereka kehilangan semua gelar. Sejak saat itulah julukan Neverkusen lahir sebagai luka abadi mereka. Selain Leverkusen, siapa yang menyangka ada AS Monaco yang tampil di final Liga Champions? Klub ini diarsiteki oleh kapten Prancis Didi di Deong. Deong membangun tim ini bukan semalam. Sudah sejak 2001 ia membangun tim ini secara berdarah-darah mulai dari kehilangan

beberapa pemain pilar hingga inkonsistensi performa. Musim 2003-2004 jadi musim yang matang bagi skuad bentukan Desong. Pemain yang dididiknya sejak lama seperti Patris Evra, Ludovic, Giuli hingga Dado Praso makin gacor. Apalagi ditambah kedatangan striker asal Real Madrid, Fernando Morientes. Menariknya, di saat tim ini makin matang, mereka justru dilanda krisis keuangan. Kris ini lalu membuat pemain mereka dipreteli dan presiden mereka diganti di akhir musim. Tapi hebatnya, meski hidup dalam krisis, tim ini

berhasil mengejutkan dunia. Mencapai final Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang sejarah adalah prestasi yang di luar dugaan. Apalagi nih mereka menuju final melewati rintangan yang sangat terjal. Bayangin aja deh klub berjuluk Lok ini mengalahkan tim-tim kuat seperti Real Madrid hingga Chelsea. Lalu apa dong resepnya hingga mereka tampil trengginas seperti itu? Jawabannya ada pada strategi gaya main Deong yang menyerang dan menghibur. Trio striker Ludovic Giuli, Dado Priso, dan Fernando

Morientes benar-benar menggila. Mereka ciptakan total 19 gol sejak Baba Grup, Monaco sering banget ngebantai lawan-lawannya. AEK Atena mereka bantai 4-0 hingga Deporti Vola Corona dengan 8-3. Produktivitas mereka juga enggak terbendung di fase knockout. Lihatlah saat melawan Real Madrid, mereka bisa loh ciptakan total lima gol untuk bisa lolos. Begituun saat menjungkalkan Chelsea. Gila enggak kendati begitu di final mereka justru anti klimaks. De Shong tidak berhitung jika lawan yang mereka hadapi adalah FC Porto asuhan

Jose Mourinho yang bermain sangat pragmatis. Benar saja strategi menyerang De Shong itu bagai buah. Mereka dihukum oleh The Spial one gol tanpa balas. Bagi Monaco, malam di Gson Kirchen itu bukan sekedar kehilangan trofy, tapi juga kehilangan masa depan gara-gara krisis keuangan yang membuat mereka jadi berantakan. Selanjutnya ada Arsenal, tim Inggris yang berhasil tampil di final Liga Champions untuk pertama kalinya pada tahun 2006. Jika kalian masih ingat, skuad Meriam London di era itu adalah

skuad terbaik yang pernah mereka miliki. Sebagian besar merupakan sisa Invincible tahun 2004. Masih ada Soul Campbell, Freddy Lunberg hingga Tier Ongri. Bedanya ada beberapa amunisi segar seperti Alexander Hulk. Wajah kekuatan Arsenal di Liga Champions musim itu terletak pada solidnya pertahanan. Quartet Colotore, Soul Campell, Ashley Cole, dan Emmanuel Ebowe sulit dibobol. Kalian tahu enggak? Hanya dua gol saja loh yang bersarang ke gawang James Lemon hingga menuju final. Itu pun terjadi di babak fase grup. Di babak knockout

melawan Real Madrid, Juventus hingga Via Real, gawang mereka perawan. Di final melawan Barcelona sebenarnya mereka kembali menunjukkan tajinya. Sempat kehilangan kiper yang di kartu merah, tapi Arsenal justru unggul. duluan lewat sundulan back soul cambell. Tapi kegigihan mereka dalam mempertahankan keunggulan itu pupus hanya berjarak 14 menit dari waktu normal. Dua gol Barcelona berhasil menghancurkan benteng kokoh itu. Bayangkan betapa sakitnya Arsenal saat itu. Mimpi indah mereka seketika berubah menjadi mimpi buruk

hanya dalam sekejap. DNA mental juara emang gak bisa bohong sih. While laga final ini bagaimanapun akan tetap dikenang sebagai momen indah sekaligus memori luka kolektif bagi para fans Arsenal hingga sekarang. Berikutnya ada tim asal Spanyol Atletico Madrid. Tim ini tragi seperti apa yang pernah dialami Valencia. Dua kali masuk final tapi zongelar. Bagaimana bisa ini terjadi? Los Colconeros bisa tangguh di kancah Eropa berkat pondasi yang dibangun oleh Diego Simone. Sejak kedatangannya ke Vicente Calderon,

Elcholo membentuk karakter gaya main Atletico yang khas, yakni bertahan dan pragmatis. Di 2014 dan 2016, tim ini masih sama mengandalkan pola Compact Defense 442 dengan mode rigit. Bertahan rapat, keras, dan mengandalkan serangan balik. Diego Godin, Filipe Luis, Gebi hingga Koke jadi kor bertahan dari tim ini. Ya, kegagalan mereka di dua final tersebut bisa dibilang apes. Mereka sudah berjuang hingga detik-detik akhir. Kegagalannya mereka juga sama tragisnya. Di 2014 mereka kena comeback menyakitkan

yang berawal dari sundulan Sergio Ramos di menit 9248. 2 tahun kemudian mereka kalah lagi dari musuh yang sama lewat adu penalti. Bagi Atletico, mungkin final Liga Champions bukan sekedar turnamen atau pencapaian sejarah bagi mereka, tapi juga sebuah kutukan yang terus menghantui. Lalu di 2019, klub tetangga Arsenal Tottenham Hotsara mengejutkan Mentas di partai puncak Liga Champions, ayam sayur dengan gagahnya menumpas musuh-musuhnya saat itu. Mereka tak terlihat seperti tim yang lama puasa gelar. Jika kalian

mengikuti perjalanan The Lily Whitees pada saat itu sebenarnya penuh dengan keajaiban. Sad yang dibesut Mauricio Pochetino itu sama sekali tak menunjukkan sebagai calon finalis. Enggak banyak pembelian pemain yang dilakukan. Kerangka skuad mereka juga tak banyak mengalami perubahan sejak dibangun Pocetino tahun 2014. Kerangka tim mereka masih ada Yugo Loris, Ian Fertonghen, Christian Eriksen hingga Harry Kane. Nah, pada musim 201819 para pemain tersebut sedang pada puncak performa mereka. Tapi yang unik dari

perjuangan Spaat itu adalah kegigihan mereka yang membuat dunia tercengang. Lihat apa yang terjadi di perempat final melawan City. Drama yang membara di Etihat itu membuat Spers unggul agresivitas gol tandang. Begitu pula apa yang terjadi di semifinal melawan Ajax. Amsterdam Arena jadi saksi keajaiban besar terjadi ketika mereka berhasil comeback lewat Lukas Moura di menit 90 plus 6. Semua itu takkan pernah terjadi jika mereka mudah menyerah. Tapi tampaknya keajaiban itu tidak selamanya menaungi mereka. Di laga final melawan

Liverpool, keajaiban itu menghilang tanpa jejak. Ayam sayur tak berdaya digeprek the dua gol tanpa balas di Madrid. Well, dari kisah mereka ini kita melihat bagaimana sebuah keberanian berusaha menantang kemustahilan. Mereka mungkin tidak memiliki nama di trofi itu, tapi mereka memiliki tempat abadi di hati para fans. Karena terkadang yang paling indah itu bukan tentang siapa yang mengangkat piala, tapi tentang mereka yang berani bermimpi meski akhirnya harus terluka. Ah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *