Berita Utama
Beranda / Berita Utama / Perhatian Dunia Gempa Kembar Porak-porandakan Venezuela, Sempat Pernah Melanda Indonesia

Perhatian Dunia Gempa Kembar Porak-porandakan Venezuela, Sempat Pernah Melanda Indonesia

Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela pada Rabu, 24 Juni 2026 dikonfirmasi oleh para ahli sebagai fenomena gempa doblet atau gempa kembar. Karakteristik langka dari bencana ini memicu perhatian dunia karena dua guncangan besar terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan sehingga melipatgandakan skala kerusakan. Gempa bermagnitudo 7,2 mengguncang Venezuela pada Rabu pukul 18.00 waktu setempat. Hanya 39 detik kemudian, wilayah yang sama kembali diguncang gempa dengan magnitudo 7,5.

Hingga Kamis, 25 Juni pukul 19.00 waktu setempat, Menteri Kesehatan Venezuela, Carlos Alvorado melaporkan bencana alam itu menewaskan sedikitnya 235 orang dan melukai 4.300 orang. Besarnya dampak bencana tidak hanya dipengaruhi kekuatan gempa dan kerentanan bangunan, tapi juga mekanisme gempa doblet yang membuat wilayah terdampak diguncang dua kali gempa besar. Fenomena serupa ternyata pernah terjadi di Indonesia.

Secara fungsional, gempa doblet atau gempa kembar memiliki karakteristik yang berbeda dengan gempa susulan biasa. Pada fenomena ini, kedua guncangan yang terjadi sama-sama berstatus sebagai gempa utama dengan kekuatan magnitudo hampir sama. Berdasarkan riset dari Colorado School of Mines yang dipublikasikan di Jurnal Nature Geoscience, mekanisme ini dipicu oleh perpindahan tegangan batuan atau Coulomb stress transfer. Guncangan gempa pertama tidak hanya melepaskan energi tektonik, namun juga memindahkan beban tekanan ke segmen sesar tetangga yang sudah berada di kondisi kritis atau di ambang patah.

Akibatnya, sesar kedua yang telah menyimpan energi selama puluhan hingga ratusan tahun mendapat dorongan terakhir untuk ikut pecah sehingga melepaskan guncangan baru dengan akumulasi energi yang sama besarnya. Fenomena geologis ini bekerja layaknya efek domino yang runtuh berurutan dalam hitungan detik. Ketimpangan waktu ini membuat gempa doblet memiliki daya rusak yang jauh lebih masif dibandingkan gempa tunggal. Gempa kedua melipatgandakan ancaman bencana sekunder seperti tanah longsor, likuifaksi, serta membahayakan keselamatan tim penyelamat di lapangan.

Interaksi tektonik ini membentuk patahan Bokono, sebuah sistem sesar aktif utama sepanjang 500 km yang membentang di pegunungan Andes, Venezuela. Pakar seismologi Christin Golet menggarisbawahi bahwa karakteristik patahan Bokono sangat identik dengan patahan San Andreas di California, AS. Keduanya merupakan tipe patahan geser di mana blok batuan bergerak secara horizontal dan saling berpapasan.

Perbincangan Kontroversi Sensus Soal Ekonomi, Pengamat Sosial Ingatkan Etika Pembicaraan dengan Publik

Fenomena gempa kembar ini bukan hal baru bagi Indonesia yang berada di titik pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Pakar gempa bumi dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono mengungkapkan salah satu contoh di tanah air adalah gempa bumi di Bengkulu pada September 2007. Kala itu, guncangan pertama bermagnitudo 7,9 mengguncang lepas Pantai Bengkulu. Lalu tak sampai 24 jam, gempa kedua dengan kekuatan serupa kembali mengguncang kawasan Kepulauan Mentawai. Menurut Daryono, gempa kembar juga pernah melanda Aceh Barat pada April 2012 dengan kekuatan magnitudo 8,6 dan 8,1. Pada 2018, Lombok juga diguncang lima kali gempa besar berurutan dalam waktu kurang dari 1 bulan.

Bagi Indonesia, manifestasi gempa doblet menjadi peringatan keras bahwa ancaman tektonik tidak serta-merta berakhir setelah guncangan besar pertama selesai. Karakteristik wilayah Indonesia yang kaya akan sistem sesar aktif dan zona subduksi membuat antar segmen patahan saling terhubung satu sama lain. Potensi risiko kegagalan struktural ini tersebar di sejumlah titik rawan nasional meliputi sepanjang zona subduksi Sumatera, kawasan Megathrust Selatan Jawa, wilayah Banda hingga alur sistem sesar aktif utama seperti Sesar Sumatera, Palukoro, Sorong, dan Flores Back Arc.

Oleh karena itu, para ahli kebencanaan mengingatkan agar masyarakat luas tidak langsung berasumsi situasi telah sepenuhnya aman sesaat setelah guncangan gempa utama mereda. Selama otoritas berwenang belum menyatakan kondisi aman, masyarakat tetap harus berada di ruang terbuka dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa kuat berikutnya, baik gempa susulan maupun gempa kembar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *