CAMBRIDGE — Studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience dan dilaporkan oleh Phys.org mengungkapkan bahwa laju penyusutan es laut Arktik (Arctic sea ice) pada musim dingin telah disepakati terlalu rendah (underestimated) dalam model-model iklim global selama ini.
Berdasarkan jejak data iklim purba dari periode hangat Arktik sekitar 6.000 tahun yang lalu, para peneliti dari Universitas Cambridge memperkirakan bahwa tutupan es laut Arktik di musim dingin di masa depan berpotensi menyusut hingga 1 juta kilometer persegi lebih luas dibandingkan estimasi sebelumnya.
Petunjuk Purba dari Periode Hangat 6.000 Tahun Lalu
Menganalisis Isotope dan Catatan Sedimen
Untuk menguji keakuratan model simulasi iklim masa kini, tim peneliti merekonstruksi kondisi tutupan es Arktik pada era Holosen Tengah (sekitar 6.000 tahun lalu)—sebuah periode dalam sejarah bumi ketika Arktik mengalami suhu yang lebih hangat akibat variasi orbit bumi.
Melalui analisis Inti Es (ice cores) dan sampel sedimen laut, ilmuwan mengidentifikasi bahwa wilayah yang terbebas dari tutupan es pada musim dingin di masa lalu jauh lebih luas dibandingkan apa yang diprediksikan oleh simulasi komputer standar.
Koreksi Besar pada Model Komputer Iklim
Hasil evaluasi ulang ini menunjukkan bahwa sebagian besar model iklim saat ini terlalu optimistis dalam memproyeksikan ketahanan es laut Kutub Utara selama musim dingin. Ketika data geologi purba diintegrasikan, proyeksi mencatat potensi kehilangan lapisan es tambahan seluas hampir 1 juta kilometer persegi (sekitar 386.000 mil persegi).
Dampak Besar Bagi Ekosistem Global dan Cuaca Dunia
Penyusutan es laut pada musim dingin—masa ketika es seharusnya pulih dan menebal—membawa dampak sistemik bagi kestabilan iklim global:
-
Penyusunan Es yang Semakin Tipis dan Rentan: Es laut yang gagal menebal pada musim dingin akan berumur lebih muda dan rapuh, sehingga mempercepat proses pencairan total saat memasuki musim panas berikutnya.
-
Gangguan Pola Arus Gelombang Jet (Jet Stream): Berkurangnya tutupan es kutub secara dramatis mengganggu kestabilan sirkulasi udara global, yang berpotensi memicu gelombang cuaca ekstrem, seperti badai salju tak biasa maupun gelombang panas di belahan bumi utara.
-
Ancaman Bagi Spesies Endemik dan Masyarakat Lokal: Menipisnya es laut mengancam habitat beruang kutub, anjing laut, dan keanekaragaman hayati Arktik, sekaligus merusak ruang hidup komunitas adat setempat.
Urgensi Revisi Proyeksi Iklim Global
Para peneliti mendesak agar hasil riset ini dijadikan acuan baru bagi pembuat kebijakan internasional dalam merancang strategi mitigasi krisis iklim. Penyesuaian proyeksi ini menjadi alarm bahwa ambang batas perubahan iklim di Kutub Utara bergerak lebih cepat dan ekstrem dari kalkulasi sebelumnya.
Comment