LAUSANNE — Kurun waktu 30 tahun kerap dianggap sangat singkat dalam skala sejarah perkembangan alam. Namun, bagi populasi burung hantu serak Jawa (Tyto alba atau barn owl) yang mendiami kawasan pertanian Swiss bagian barat, jangka waktu tiga dekade tersebut ternyata cukup untuk mengubah penampilan fisik mereka secara signifikan.
Laporan riset yang dirilis mengungkap bahwa generasi burung hantu serak Jawa di wilayah tersebut kini memiliki warna bulu dada dan perut yang semakin kemerahan serta dihiasi pola bintik-bintik hitam yang jauh lebih lebat dibandingkan dengan karakteristik leluhur mereka pada tiga dekade lalu.
Analisis Sampel DNA dan Peran Genetik MC1R
Fenomena adaptasi visual ini berhasil diidentifikasi berkat pengamatan lapangan jangka panjang yang konsisten dilakukan sejak tahun 1986. Untuk membongkar rahasia di balik perubahan fisik populasi ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Tristan Cumer dari University of Lausanne mengumpulkan dan menganalisis sampel DNA dari 3.102 ekor burung hantu liar:
1. Dominasi Pengaruh Faktor Genetik
Hasil pengujian genetika membuktikan bahwa sekitar 80 persen variasi warna bulu dan pola bintik pada burung hantu tersebut diwariskan secara genetik dari induknya.
2. Peran Kunci Gen MC1R
Para peneliti menemukan bahwa transformasi warna merah pada bulu burung hantu sangat dipengaruhi oleh mutasi varian gen bernama MC1R, yakni gen utama yang memegang kendali atas produksi dan distribusi pigmen melanin pada sel-sel tubuh:
-
Pengumpulan Data Awal (1986): Varian gen MC1R pemberi pigmen merah hanya mencakup sekitar 5 persen dari total populasi.
-
Evolusi Dekade Berikutnya: Proporsi varian gen ini terus melonjak secara konstan, mengindikasikan bahwa individu yang membawa gen kemerahan memiliki keunggulan adaptif dalam bertahan hidup dan berproduksi.
Bukti Kerja Seleksi Alam (Natural Selection)
Guna memastikan apakah pergeseran sifat genetik ini murni didorong oleh seleksi alam (natural selection) atau sekadar faktor kebetulan yang dikenal sebagai hanyutan genetik (genetic drift), tim ilmuwan menjalankan 1.000 simulasi komputer:
-
Hasil Simulasi Komputer: Pemodelan acak memperlihatkan bahwa rasio peningkatan varian gen merah di lapangan terlalu tinggi untuk dikategorikan sebagai kebetulan semata.
-
Kesimpulan Peneliti: Hasil analisis menguatkan bahwa proses seleksi alam tengah bekerja aktif mendorong evolusi fisik burung hantu di kawasan tersebut.
“Temuan ini menjadi teka-teki ilmiah yang sangat menarik. Kendati riset terdahulu mencatat burung hantu berbulu merah kurang efektif berburu di malam hari yang terang oleh sinar bulan dibanding spesies berbulu putih, penyebaran gen bulu merah yang terus meningkat membuktikan adanya manfaat adaptif lain yang masih terus digali para ilmuwan,” ulas analisis sains dari Media Indonesia.
Comment