JAKARTA, INDONESIA — Citra permukaan Bulan yang dikumpulkan NASA mengungkap lebih dari 10.000 struktur patahan muda yang tersebar di berbagai wilayah satelit alami Bumi tersebut. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal The Planetary Science Journal pada Oktober 2026 ini menunjukkan bahwa Bulan terus mengalami perubahan geologis ketika bagian dalamnya mendingin dan menyusut.
Penelitian yang dipimpin Thomas R. Watters, ilmuwan emeritus di National Air and Space Museum, Smithsonian Institution, menggunakan data kamera Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) untuk memetakan struktur geologi yang terbentuk akibat penyusutan kerak Bulan.
Temuan ini menjadi perhatian penting bagi perencanaan eksplorasi antariksa, khususnya misi berawak melalui program Artemis. Patahan di permukaan Bulan dapat berkaitan dengan gempa Bulan atau moonquake, yang berpotensi mengguncang permukaan, memicu longsoran, dan meningkatkan risiko bagi astronaut serta peralatan eksplorasi.
NASA Petakan Lebih dari 10.000 Patahan Muda di Permukaan Bulan
Permukaan Bulan selama ini tampak tenang dari Bumi. Namun, pengamatan menggunakan wahana antariksa menunjukkan bahwa kerak Bulan memiliki banyak struktur geologis yang terbentuk akibat tekanan dan perubahan volume bagian dalamnya.
Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan memetakan lebih dari 10.000 struktur yang berkaitan dengan penyusutan Bulan. Data tersebut mencakup lebih dari 8.900 lobate scarps dan lebih dari 2.000 punggung kecil di dataran basaltik Bulan yang dikenal sebagai mare ridges.
Lobate scarps merupakan bentukan menyerupai tebing atau undakan yang muncul ketika kerak Bulan mengalami tekanan kompresi. Tekanan tersebut menyebabkan batuan patah dan salah satu sisi patahan terdorong naik melewati sisi lainnya.
Kamera LROC Membantu Mengungkap Struktur Geologi Tersembunyi
Instrumen LROC yang berada di wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) telah mengirimkan jutaan citra permukaan Bulan sejak wahana tersebut diluncurkan pada 2009.
Melalui analisis citra beresolusi tinggi, para peneliti dapat mengidentifikasi bentukan geologis yang sulit diamati dari Bumi. Struktur tersebut membantu ilmuwan memahami bagaimana kerak Bulan berubah sepanjang sejarahnya.
Pemetaan terbaru menunjukkan bahwa patahan muda tidak hanya ditemukan di satu kawasan, tetapi tersebar di dataran tinggi dan dataran basaltik Bulan.
Sebaran yang luas ini penting karena memberikan gambaran bahwa proses geologis yang berkaitan dengan penyusutan Bulan tidak terbatas pada wilayah tertentu saja.
Radius Bulan Menyusut Sekitar 45 Meter
Berdasarkan analisis penelitian, radius Bulan diperkirakan telah berkurang sekitar 45 meter selama kurang lebih 400 hingga 800 juta tahun terakhir.
Penyusutan tersebut terjadi karena bagian dalam Bulan kehilangan panas secara bertahap. Ketika material di dalamnya mendingin, volumenya dapat berkurang dan menimbulkan tekanan yang memengaruhi kerak di atasnya.
Jika laju penyusutan tersebut relatif konsisten sepanjang periode yang diteliti, radius Bulan diperkirakan berkurang sekitar 6 hingga 11 sentimeter setiap satu juta tahun.
Perubahan ini memang sangat kecil dalam skala manusia. Namun, dalam rentang waktu geologis, proses tersebut dapat menghasilkan jaringan patahan yang luas dan memengaruhi kestabilan permukaan.
Mengapa Bulan Terus Menyusut dan Mengalami Gempa?
Penyusutan Bulan bukan fenomena yang sepenuhnya baru bagi para ilmuwan. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa bagian dalam Bulan masih menyimpan panas dan secara bertahap mengalami pendinginan.
Proses ini menghasilkan gaya tekan pada kerak yang relatif kaku. Ketika tekanan melampaui kemampuan batuan untuk menahannya, patahan dapat terbentuk atau patahan yang sudah ada dapat mengalami pergeseran.
Pendinginan Bagian Dalam Bulan Memicu Patahan
Pada tahap awal sejarahnya, Bulan terbentuk dari material panas setelah peristiwa tumbukan besar yang berkaitan dengan pembentukan sistem Bumi-Bulan.
Seiring waktu, bagian dalamnya kehilangan panas. Perubahan tersebut menyebabkan Bulan mengalami kontraksi, sedangkan kerak luarnya harus menyesuaikan diri terhadap perubahan ukuran dan tekanan.
Para peneliti mengemukakan bahwa lapisan regolit yang tebal, berpori, dan mengalami banyak rekahan pada masa awal Bulan mungkin berfungsi sebagai isolator. Kondisi ini diduga memperlambat pelepasan panas dari bagian dalam sehingga penyusutan dan pembentukan patahan secara luas baru berkembang pada tahap yang relatif lebih muda dalam sejarah Bulan.
Hipotesis tersebut membantu menjelaskan mengapa struktur patahan muda ditemukan dalam jumlah yang lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.
Gempa Bulan Dapat Terjadi di Berbagai Wilayah
Gempa Bulan atau moonquake merupakan aktivitas seismik yang terjadi di dalam satelit alami Bumi tersebut. Sebagian gempa berkaitan dengan pergeseran pada patahan, sementara mekanisme lain juga dapat berkontribusi terhadap aktivitas seismik Bulan.
Penelitian terdahulu yang melibatkan data seismometer dari misi Apollo menunjukkan adanya hubungan antara beberapa gempa Bulan dangkal dan patahan yang teridentifikasi di permukaan.
Temuan terbaru memperluas pemahaman ilmuwan mengenai distribusi struktur yang berpotensi berkaitan dengan aktivitas tersebut.
Namun, keberadaan patahan tidak berarti setiap patahan sedang bergerak atau akan segera menghasilkan gempa. Para ilmuwan masih perlu menggabungkan pemetaan geologi, data seismik, dan pemodelan untuk memahami tingkat aktivitas serta potensi bahayanya.
Bulan Berbeda dari Bumi, Membuat Risiko Gempa Lebih Sulit Diprediksi
Salah satu tantangan utama dalam memahami gempa Bulan adalah perbedaan struktur geologi antara Bulan dan Bumi.
Bumi memiliki banyak lempeng litosfer yang bergerak relatif satu sama lain. Sebagian besar aktivitas tektonik dan seismik terkonsentrasi di sekitar batas lempeng tersebut.
Sebaliknya, Bulan pada dasarnya memiliki satu lempeng besar yang membentuk lapisan luar yang relatif menyatu. Akibatnya, aktivitas pada patahan yang sudah ada atau pembentukan patahan baru tidak terbatas pada batas antarlempeng seperti di Bumi.
Tidak Ada Batas Lempeng yang Jelas untuk Memusatkan Risiko
Di Bumi, peta batas lempeng dapat membantu ilmuwan mengidentifikasi kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Meski demikian, memprediksi kapan dan di mana gempa terjadi tetap menjadi tantangan besar.
Pada Bulan, pendekatan serupa tidak dapat diterapkan secara langsung. Karena struktur keraknya berbeda, patahan yang berkaitan dengan penyusutan dapat ditemukan di berbagai wilayah.
Kondisi ini membuat penilaian risiko bagi misi antariksa memerlukan pemetaan geologi yang lebih terperinci, khususnya pada lokasi yang dipertimbangkan untuk pendaratan astronaut dan pembangunan fasilitas eksplorasi.
Temuan Patahan Bulan Menjadi Perhatian bagi Program Artemis NASA
Program Artemis dirancang untuk membawa manusia kembali ke permukaan Bulan dan memperluas kemampuan eksplorasi dalam jangka panjang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, NASA perlu memilih lokasi pendaratan yang aman sekaligus memiliki nilai ilmiah tinggi. Ketersediaan sumber daya, kondisi pencahayaan, medan permukaan, dan potensi bahaya geologis menjadi beberapa pertimbangan penting.
Patahan muda dan gempa Bulan menambah kompleksitas dalam proses pemilihan lokasi tersebut.
Gempa Bulan Berpotensi Memicu Longsoran
Pada 2024, penelitian yang didukung NASA menunjukkan bahwa sejumlah lokasi kandidat pendaratan di wilayah kutub selatan Bulan berada relatif dekat dengan perkiraan lokasi pusat gempa Bulan dangkal yang kuat.
Guncangan seismik dapat memengaruhi kestabilan lereng dan memicu longsoran regolit, yaitu lapisan material lepas yang menutupi permukaan Bulan. Dampaknya berpotensi membahayakan astronaut, kendaraan penjelajah, instrumen ilmiah, maupun infrastruktur yang ditempatkan di permukaan.
Wilayah yang memiliki lereng curam atau material permukaan yang tidak stabil membutuhkan perhatian khusus dalam perencanaan misi.
Meski begitu, kedekatan suatu lokasi dengan patahan tidak otomatis membuat lokasi tersebut tidak layak digunakan. Penilaian keselamatan harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk karakteristik patahan, topografi, dan bukti aktivitas seismik.
Wilayah dengan Kerak Lebih Tebal Berpotensi Lebih Stabil
Penelitian terbaru juga menemukan bahwa wilayah dengan kerak Bulan yang lebih tebal cenderung memiliki lebih sedikit patahan yang terpetakan.
Temuan ini menunjukkan bahwa ketebalan kerak dapat menjadi salah satu indikator yang berguna ketika ilmuwan mengevaluasi kestabilan kawasan untuk pendaratan dan operasi jangka panjang.
Namun, jumlah patahan bukan satu-satunya ukuran keselamatan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana karakteristik geologi lokal berkaitan dengan frekuensi gempa, kekuatan guncangan, dan kemungkinan longsoran.
Apa Arti Penemuan Ini bagi Masa Depan Eksplorasi Bulan?
Penemuan lebih dari 10.000 struktur patahan muda memberikan informasi baru mengenai dinamika geologi Bulan. Data tersebut juga dapat membantu perencana misi menentukan lokasi yang paling sesuai untuk aktivitas manusia.
Dalam jangka panjang, pemetaan geologi yang semakin lengkap dapat mendukung beberapa kebutuhan penting:
- Pemilihan lokasi pendaratan: membantu mengidentifikasi wilayah dengan potensi bahaya geologis yang lebih rendah.
- Perlindungan astronaut: mendukung evaluasi risiko guncangan dan longsoran di sekitar lokasi operasi.
- Pembangunan habitat Bulan: memberikan informasi tentang kestabilan tanah untuk penempatan fasilitas dan peralatan.
- Pengembangan sistem pemantauan: membantu menentukan lokasi strategis untuk instrumen seismik yang mengamati aktivitas Bulan.
Penelitian ini tidak berarti misi Artemis harus dihentikan. Sebaliknya, temuan tersebut memberikan informasi ilmiah yang dapat digunakan untuk meningkatkan perencanaan keselamatan dan pemilihan lokasi eksplorasi.
Kesimpulan
Pemetaan citra NASA mengungkap lebih dari 10.000 struktur patahan muda di Bulan, memperkuat bukti bahwa satelit alami Bumi tersebut masih mengalami perubahan geologis ketika bagian dalamnya mendingin dan menyusut.
Penelitian memperkirakan radius Bulan telah berkurang sekitar 45 meter dalam rentang 400 hingga 800 juta tahun terakhir. Proses tersebut berkaitan dengan terbentuknya patahan yang berpotensi mengalami pergeseran dan memicu gempa Bulan.
Bagi NASA, temuan ini menjadi pengingat bahwa eksplorasi manusia di Bulan memerlukan pemahaman geologi yang mendalam. Dengan memetakan patahan, menilai kestabilan permukaan, dan menggabungkan data seismik, ilmuwan dapat membantu mengurangi risiko bagi astronaut serta mendukung keberhasilan misi Artemis pada masa mendatang.
Comment