Prof Yon menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendekatan antara Presiden Trump dan Netanyahu dalam memandang konflik ini. Pendekatan Netanyahu bersifat sangat ideologis dengan fokus pada perang dan konflik, sementara Trump lebih mengedepankan pendekatan transaksional. Trump berupaya untuk mendamaikan perang dan menciptakan stabilitas di Timur Tengah demi mendapatkan keuntungan politik dan dukungan publik Amerika yang menginginkan perdamaian, bukan peperangan yang tidak terjustifikasi.
Terkait rencana penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Juni di Swiss, Mbak Fausia menilai hal ini sebagai langkah positif yang diterima secara global. Strategi perang asimetris Iran yang menggunakan “cost imposition” menyebabkan dampak perang dirasakan oleh seluruh dunia, sehingga perdamaian ini sangat dinantikan. Pemindahan lokasi perundingan ke Jenewa juga dianggap sebagai simbol legitimasi global yang melibatkan PBB, guna memenuhi keinginan Iran untuk mencapai perdamaian yang lebih permanen daripada sekadar gencatan senjata.
Dalam proses negosiasi, terdapat tarik-menarik terkait isu nuklir. Trump sempat menyebut Iran tidak akan memproduksi nuklir, namun dibantah oleh Iran yang ingin tetap mempertahankan posisinya. Terkait pengayaan uranium, Amerika mulai melunak dengan kemungkinan pemindahan uranium ke negara ketiga. Iran dianggap mendapatkan keuntungan besar karena dananya yang dibekukan akan dicairkan dan sanksi ekonomi akan dikurangi secara bertahap, sebuah kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum perang.
Israel dilaporkan menunjukkan kekhawatiran dan kekecewaan karena tujuan utama perang untuk menghancurkan rezim Iran tidak tercapai. Sebaliknya, Iran justru mendapatkan kesempatan untuk memperkuat diri dan membangun ekonomi. Di dalam negeri Iran sendiri, terdapat friksi dari kelompok “hardliners” yang melakukan demonstrasi, bukan karena tidak setuju dengan isi kesepakatan, tetapi karena khawatir kesepakatan ini akan melegitimasi pemerintahan yang berkuasa saat ini.
Selain itu, langkah Trump yang secara eksplisit menyebut “Republik Islam Iran” dianggap sebagai “saving face strategy” yang memberikan legitimasi tambahan bagi pemerintah Iran. Situasi ini juga memengaruhi konstelasi geopolitik di Timur Tengah, di mana negara-negara seperti Arab Saudi mulai mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan militer pada Amerika Serikat. Terakhir, mengenai Selat Hormuz, Iran menyatakan bahwa pembukaannya kembali tidak akan seperti status sebelum gencatan senjata, melainkan akan tetap memberikan kendali dan keuntungan ekonomi bagi Iran sebagai bagian dari kedaulatan wilayahnya.

Komentar