Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. 48 negara datang membawa ambisi. Tapi hanya segelintir yang benar-benar layak bicara juara. Mereka yang layak juara bukan mereka yang paling terkenal. Mereka yang layak juara adalah mereka yang paling siap. Dan mungkin jawabannya tidak bisa kalian prediksi sepenuhnya. Ada yang datang dengan skuad bertabur bintang tapi belum pernah sekalipun mengangkat trofy. Ada juara pertahan yang mulai kehilangan tajinya. Ada juga satu nama yang kalau disebut sebagai kandidat juara, separuh orang
akan tertawa. Padahal data dan statistik mendukung nama itu melesat ke tangga teratas. Di video ini, Starting Levelist akan bedah tujuh negara paling layak untuk juara dunia. Siapkan diri kalian karena barangkali setelah ini kalian mungkin akan pindah jagoan. Brazil. Bintang lima di Dada Berasil sudah lama jadi pajangan. Sejak 2002, tim samba tak pernah benar-benar menyentuh trofi itu lagi. Generasi emas datang dan pergi. Ronaldo, Ronaldinho, Kakak semua pergi tanpa meninggalkan warisan. Yang tersisa cuma reputasi dan reputasi
tidak bisa memenangkan Piala Dunia. Tapi 2026 memberi cerita berbeda. Berhasil mendatangkan Don Carlo Anselati. Pria yang berkali-kali dianggap habis tapi selalu menolak kalau dirinya sudah tamat. Berhasil butuh bapak yang bisa menjinakan para bintang penuh ego. Anseloti adalah jawaban yang muncul tiba-tiba seperti sebuah mukjizat. Dampak kehadirannya langsung terasa. Berhasil bermain lebih disiplin dan terstruktur tidak lagi mengandalkan Gojek semata. Di kualifikasi Konmobol mereka menjadi tim tersubur ketiga dengan torehan 24
gol dari 18 laga. Vinicius rapinya dan kolega tetap menari dengan indah di atas lapangan. Tapi kali ini ada sistem di balik keindahan itu. Anselotti pernah membawa Milan menghantui seluruh Eropa. Jangan lupa masa di mana ia menang UCL dua kali bareng Madrid. Meski dianggap sudah habis dan tak punya makis. Tim samba mungkin kehilangan marwahnya selama 24 tahun. Tapi kalau ada satu orang yang bisa memulihkannya, sejarah sudah mengantar orang itu pada mereka. Argentina. Argentina saat ini sedang berdiri di
puncak. Status juara bertahan adalah bukti bahwa mental Alpis di Qatar 2022 adalah yang terbaik di dunia. Lionel Scaloni membangun tim yang tahu cara menang di momen paling menekan. Prestasinya di Qatar adalah sesuatu yang tak akan dilupakan lawan. Sad Albi Saleste sebetulnya masih berbahaya. Lautaro Martinez, Julian Alvarez, Enzo Fernandez, Nikopas nama-nama yang jadi tulang punggung klub terbaik Eropa jadi bagian tim ini. Argentina masih punya banyak bintang, tapi mereka terancam ditinggal satu
sasak yang lebih besar dari gabungan semua nama tadi, Lionel Messi. Lionel Messi. Sampai detik ini belum ada keputusan resmi apakah Lapulka akan hadir di Amerika Utara. Pertanyaannya adalah sanggupkah Argentina menulis babak baru tanpa penulis terbaiknya? Kehilangan Messi akan membuat Argentina seperti berperang tanpa tahu siapa jenderal yang memimpin mereka. Portugal. Jujur siapa yang ingin melihat Cristiano Ronaldo mengangkat trofi Piala Dunia? Barangkali ini adalah momen paling tepat Ronaldo untuk mewujudkan mimpinya.
Masih diingatan bagaimana Ronaldo mewek saat Portugal ditendang Maroko di perempat final edisi yang lalu. Kegagalan itu membuat si R7 makin meledak-ledak untuk juara. Ronaldo beruntung karena Portugal era kini adalah Portugal yang komplit di semua lini. Melihat daftar pemainnya saja, tim melawan dijamin bakal langsung ketar-ketir. Betapa tidak, skuad Portugal ini isinya adalah para pengepul trofi di tim masing-masing. Misalnya Joa Unevez dan Vitinya dari PSG, Diogo Costa dari Porto, dan Bernardo Silva dari Manchester City.
Jangan lupa nama-nama lain macam Cristiano Ronaldo, Bruno Fernandez, Jooo Felix atau Gonzalo Ramos yang bisa jadi pembeda. Secara materi pasukan Roberto Martinez seolah memang ditakdirkan juara. Rasanya ini adalah momen yang paling tepat buat Ronaldo mengangkat Piala Dunia pertamanya. Inggris Football’s coming Home. Terdengar familiar. Kedengarannya seperti sebuah teriakan optimis dari masyarakat dan fans timnas Inggris. Namun fakta justru memperlihatkan kalau istilah itu terdengar seperti rintian putus asa dari
para pendukung tiga singa. Betapa tidak, negara yang akunya negara besar ini tak pernah lagi menang Piala Dunia sejak 1966. Media Inggris tak pernah kehabisan bahan untuk sesumbar menyanjung talenta-talenta milik mereka setinggi langit. Pemain-pemain itu juga selalu dibantrol dengan harga yang menguras kantong siapapun peminatnya. Di atas kertas materi pemain Inggris mengerikan, tapi juara tak bisa hanya mengandalkan statistik di atas kertas. Namun tahun ini Inggris membawa sosok yang dulu tidak mereka punya. Sosok itu
adalah Thomas Tuhall. Sebagai orang yang pernah membawa dua klub berbeda ke final UCL dan memenangkan satu si kuping lebar. Tuhel tahu caranya membangun tim juara. Tuhel juga bukan pelatih yang mengandalkan bintang, tapi membuat bintang itu mengandalkan sistem. Kenellingham, Saka, dan Palmer adalah pemain-pemain dengan bakat potensial. Toel juga menjadikan Inggris sebagai imam negara-negara Eropa ke Piala Dunia 2026. Tapi bukannya Inggris memang selalu jago di babak kualifikasi? Jangan salah, bisa jadi dengan kehadiran
Toh alur ceritanya akan berbeda kali ini. Prancis dua final beruntun bukan kebetulan. Itu adalah pernyataan Prancis bukan tim yang beruntung sampai di sana. Mereka adalah tim yang tahu cara mematikan lawan di momen yang paling menentukan. Tahun ini mereka datang dengan wajah lebih segar tapi dengan aura yang sama-sama mengerikan. Buka saja daftar pemainnya dan kalian akan paham kenapa pelatih lawan susah tidur melihat skuad Prancis. Sad Prancis tidak diisi pemain-pemain yang sedang berkembang. Sad ini berisi banyak bintang yang ada
di puncak. Para pemain Leblu yang juga menjadi tulang punggung di klub-klab terbaik Eropa dan sedang berada dalam performa terbaiknya. Mpin gol paling konsisten di La Liga dengan 24 gol. Michael Olise duduk di jajaran teratas pencata gol Bundesliga. Lalu Osmane Dembele sang perai balon dior 2025 masih jadi pemain tersubur PSG musim ini. Ketiganya hanya secuil bukti ngerinya skuad Prancis tahun ini. Satu lagi ini adalah musim terakhir diar Desam sebagai pelatih L blue. Ia bilang sendiri tidak ada perpisahan yang lebih
sempurna dari trofi Piala Dunia. Kalimat itu bukan sekedar retorika. Itu adalah deklarasi kalau Desam siap bertempur habis-habisan untuk memperjuangkan Piala Dunia keduanya. Spanyol sebagai juara Euro 2024. Nama timnas Spanyol jelas tak bisa diabaikan dari daftar ini. Tim besutan Luis Dela membuat satu Eropa terkaget-kaget. Secara permainan, Spanyol era sekarang adalah Spanyol yang jauh berbeda. Mereka lebih direct, lebih klinis, dan lebih tajam. Tapi perbedaan inilah yang membuat mereka mengerikan. Satu yang
perlu diwaspadai dari Laar Roha adalah skuad mereka dipenuhi oleh darah muda. Sebut saja Pedri, Nico Williams, sampai si Starboy Lamin Yama. Setiap kali tampil di atas lapangan, Spanyol membawa gairah sesuai julukan mereka. membarang dan siap membakar siapa saja yang menjadi lawan. Ah, kemarin aja mereka kalah lawan Portugal di final UEFA Nation League. Jangan salah. Terlepas dari kekalahan itu, Spanyol tetap menyimpan kekuatan menakutkan. Di fase kualifikasi, Laroha berhasil menjaga kolom kekalahan mereka tetap
rawan. Spanyol mengemas 16 poin dan mencetak 21 gol tersubur di antara peserta lain di grup E. Dua edisi terakhir Spanyol selalu angkat koper lebih awal. Tapi tahun ini bisa dipastikan kalau mereka tak akan mengulang catatan serupa. Pemain sudah berganti, pelatih juga tak lagi sama seperti edisi sebelumnya. Luis Davente kini dalam misi mengawinkan gelar Piala Eropa 2024 dengan Piala Dunia 2026. Spanyol sudah, Portugal sudah. Prancis juga sudah. Dari tadi kalian pasti bertanya-tanya kan siapa nih nomor
satunya? Jawabannya adalah Norwegia. Hah? Enggak salah nih Norwegia ya? Kalian tidak salah dengar? Mungkin kalian merasa ingin tertawa. Tapi sebaiknya simpan dulu tawa itu setelah menyaksikan statistik tim satu ini. Di bawah kualifikasi Norwegia tergabung ke dalam grup I bersama juara dunia empat kali Italia. Namun tepak apa yang dilakukan Norwegia di grup ini. Mereka jadi tukang jagal buat para kontestan lainnya. Bahkan Italia saja sampai dibikin ngibrit sama anak Asus Telbakan ini. Statistik sudah cukup memberi bukti
betapa menakutkannya tim yang bermarkas di kota Oslo ini. 8 laga 8 menang, 37 gol. Sungguh catatan yang gila untuk tim yang sudah tak pernah berkompetisi di Piala Dunia sejak tahun 1998. Wajar apabila setelah terkonfirmasi lolos puluhan ribu masyarakat per pesta bersama di pusat kota Oslo. Norwegia sendiri tak pernah melaju lebih jauh dari babak 16 besar. Kedengarannya mustahil bagi mereka untuk bisa sampai final bukan? Tapi tidak pernah ada yang mustahil dalam sepak bola. Maruko saja bisa sampai semifinal. Kroasia bahkan
bisa maju ke partai pamungkas. Tahun ini bukan tak mungkin kalau tiba-tiba Norwegia tampil kejutkan dunia. Itu tadi tujuh kandidat paling layak juara Piala Dunia 2026. Sekarang silakan kalian yang menilai dari tujuh nama ini siapa yang paling layak mengangkat trofi di Amerika. tulis di kolom komentar. Terima kasih dan sampai jumpa.

Komentar