Bruno takou dalam hidup ada kalanya kita salah menilai orang. Tidak usah menyangkal pun sebagai penikmat sepak bola atau fans klub bola tertentu kita mungkin pernah menilai keliru seseorang dan boleh jadi Bruno Fernandez adalah salah satu korbannya. Dulu Bruno sosok yang egois. Banyak yang mencacinya sebagai pemain yang tidak kompeten. Bahkan para pandit yang masyur banyak yang mengatakan bahwa Bruno tidak layak mengenakan seragam [musik] setan merah. Tapi lihatlah musim ini. Bruno menulis namanya dalam sejarah
dengan tinta emas. Pertanyaannya, bagaimana Bruno mengubah penghinaan sumpah serapah hingga cacimaki [musik] menjadi sebuah prestasi? [musik] Kita akan mundur sejenak ke 6 tahun silam. Tepat pada 29 Januari 2020, Bruno Fernandez menginjakkan kaki di Theater of Dreams. Kala itu, manajer Ole Ghaner Soja sendiri yang menginginkannya. Bahkan Ole dan para stafnya memantau langsung perkembangan Bruno di Sporting CP. Ia membujuk Ed Woodward, orang yang mengurus transfer saat itu untuk mendatangkan Bruno United lalu
mengeluarkan uang total 67,6 juta pound sterling yang jika dikonversi saat rupiah melemah hari ini sekitar 1,5 triliun lebih. Kedatangan Bruno lalu disambut hangat oleh para suporter. Apalagi United saat itu memang sedang membutuhkan gelandang kreatif. Di sisi lain, Bruno berasal dari Sporting City. [musik] fans punya memori baik pada pemain Sporting. Sambutan hangat itu dijawab dengan baik oleh Bruno. Sang pemain langsung nyetel dengan skema oleh Gunner Soja. Bruno tampil impresif di lini tengah. Lihatlah statistiknya.
Bruno mencetak setidaknya 12 gol dan menyumbangkan 8 asis dari 22 pertandingan di paruh musim itu. Bruno juga memenangkan pemain terbaik Premier League bulan Februari [musik] dan bulan Juni 2020. Meskipun Bruno menulis pencapaian bersejarah dengan mencetak 28 gol di musim 2020-2021, musim penuh pertamanya di United. Tapi bulan madunya itu segera berakhir. Setelah finish di posisi ketiga musim [musik] 2019-20 dan finish di posisi runner up musim [musik] 2020-2021, Setan Merah mengalami turbulensi di
[musik] musim selanjutnya. Musim 2021-2022 menjadi salah satu musim terburuk bagi Manchester United. Pada November 2021, Ole di Depak karena hasil mengecewakan. Manajemen lalu menunjuk Michael Carrick. Tapi [musik] Kick hanya sebentar melatih. Setan Merah kemudian menunjuk Ralph Rangnik sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Rangnik [musik] sang bapak gegen pressing sejatinya disiapkan untuk masuk ke jajaran board. Tapi [musik] waktu itu ia diminta menangani tim hingga akhir musim. Sayangnya di
tangan pria yang sekarang melatih Austria itu United terpuruk. Nah, di saat United melorot, Bruno Fernandez bertingkah. Umpan-umpannya sering gagal mencapai tujuan. Selain itu, Bruno terlalu ceroboh dalam menguasai bola. Gayanya yang sering protes ke wasit berisiko tinggi. Ia sering bereaksi dramatis dan kerap mengeluh. Cap pengeluh juga sudah menempel di jidatnya. Media seperti Sky Sports sering menjadikan [musik] tingkah laku yang hobi berdebat dengan wasit sebagai topik. Hal yang kurang lebih sama juga
terjadi ketika United dilatih Eric Tenhah Bruno sering menciptakan gestur frustasi. Garyil pernah secara terbuka mengkritiknya karena itu. Bruno juga dinilai egois. [musik] Ia sering mementingkan diri sendiri. Kalian pasti ingat bagaimana Bruno dulu sering memaksakan diri untuk mencetak gol daripada memberi umpan ke rekannya. Jujur sikap egoisnya ini memang nyebelin. Di era Tenh Bruno kan sudah mulai menjadi kapten karena Harry Miguire disingkirkan. Nah, di posisi itu para pengamat mulai mempertanyakan
kelayakannya sebagai pemimpin lapangan. [musik] Mereka para pengamat itu mempertanyakan apakah Bruno memiliki kematangan emosional untuk memimpin klub. Lalu apa yang dilakukan Bruno Fernandez? Dia memilih untuk mengabaikan kebisingan dari luar, termasuk dari media sosial dan para pandit. Alih-alih demikian, Bruno lebih fokus pada kritik yang konstruktif dari rekan setim maupun staf kepelatihan. Bruno memutuskan untuk fokus saja para suporter yang hadir di dalam stadion. Karena King MU adalah klub besar dan jelas punya legenda
[musik] yang disegani, Bruno mendatangi para legenda United. Ia pun mendapat nasihat dari legenda MU, salah satunya Wayne Rooney untuk mengatasi tekanan. Bruno kemudian sanggup mengelola tekanan itu. Raganya tangguh, batinnya tak rapuh. Namun ketika United mendepak Eric Tenh dan menggantinya dengan Ruben Amorim, [musik] cobaan baru mendatangi Bruno. Ruben Amorim punya taktik yang jauh berbeda dari Tenh maupun oleh Ganor Sogja. Kita sudah mafhum bahwa Amorim taklid buta pada mazhab tiga bek. Nah,
dalam skema Amorim, Bruno memang tidak menggantikan Onana sebagai kiper, melainkan tetap ditaruh di tengah. Akan tetapi secara peran berbeda [musik] selama dilatih oleh maupun Tenhk, Bruno bermain sebagai gelandang serang atau bahasa taktiknya pemain nomor 10. Namun Amori memberinya peran sebagai gelandang box to box. Apa bedanya kalau gelandang serang fokusnya ke area pertahanan lawan menciptakan peluang? Tugasnya kalau gelandang box to box sesuai namanya dari kotak ke kotak. Maksudnya dari kotak
penalti sendiri ke kotak penalti lawan. Perannya tidak hanya menciptakan peluang, tapi juga mesti gesit dalam bertahan. Peran ini membutuhkan tenaga ekstra, makannya sering juga disebut sebagai gelandang [musik] pengangkut air. Bruno Legowo menerima peran ini. Ia tetap memberikan yang terbaik buat [musik] United. Tapi banyak yang bilang penampilan Bruno di peran ini kurang menggigit. Bruno pun kembali mendapat kritik. [musik] Tapi kali ini bukan karena dirinya sebagai individu, melainkan peran yang
ia mainkan. [musik] Penampilannya masih konsisten di Manchester United. Terbukti dari catatan vot mob, Bruno mencetak 19 gol dan 18 asis musim 2024-2025. Tapi penampilan apiknya tak cukup mengantarkan MU meraih hasil maksimal termasuk gagal di final Liga Eropa dan tak main di kompetisi Eropa manapun musim ini. Isu bahwa Bruno kecewa pada United pun menguat. Bahkan rumornya Bruno segera angkat kaki. Klub-klub Arab Saudi macam Al-Hilal bersedia menampungnya. Tapi apa yang terjadi [musik] kemudian? Bruno Fernandez yang
tampaknya sudah kebacut Tresno sama Manchester United menyatakan komitmennya untuk bertahan. Tentu saja keputusan ini disambut senyum dari para fans. Apa yang terjadi selanjutnya? [musik] Hanya tim bodoh yang mempertahankan pelatih yang nyaris membawa tim terdegradasi. Maka MU pun memecat Ruben Amorim di pertengahan musim 2025-2026. Karena Kashar tadi masih menangani PSMS Medan waktu itu, Manchester United akhirnya menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih interim. Carrick pun mengubah lagi atau lebih tepatnya
mengembalikan skema tradisional Manchester United. King MU kembali memakai skema 4 bek. Bruno juga dikembalikan ke perannya yang semula, yakni sebagai gelandang serang atau pemain nomor 10. Bermain di belakang striker membuat Bruno seakan menemukan nyawanya lagi. Peran ini mendorongnya kerap beroperasi di sepertiga akhir pertahanan lawan. Di [musik] sinilah Bruno bisa mendistribusikan umpan-umpan manja dan penuh pesona ke rekan-rekannya. Tidak cuma itu, Bruno juga ditunjuk sebagai eksekutor tetap
bola mati. Karena [musik] Kick tidak mungkin menunjuk Tyrel Malaysia. Inilah yang membuat kita semakin sering disuguhkan umpan-umpan paripurna dari seorang Bruno Fernandez. Ditambah pemain-pemain MU macam Matius Kunya, Brian Bumo, Benjamin Sesco, bahkan Casemiro [musik] klinis dalam menyambut umpan Bruno. Khusus nama yang terakhir ini menarik karena Casemiro ternyata sudah mencetak enam gol dari en asmkan [musik] Bruno. Selain menunjukkan betapa hebatnya Bruno, angka ini juga menunjukkan betapa bahagianya MU punya
gelandang yang bukan cuman doyan jagal, tapi nyeta gol macam Casemiro. [musik] Puncaknya terjadi pada musim 2025-2026. Bruno Fernandez sang Portugis magnifico, mencetak 20 asis di Premier League. Angka ini menyamai Tiare Ongri di musim 2002-2003 dan Kevin de Broy di musim 2019-20. Namun karena tersisa satu pertandingan lagi, Bruno Fernandez punya kesempatan untuk menjadi pencetak asis terbanyak dalam satu musim Premier League sepanjang masa. Ya, begitulah Bruno. Meski sempat dicaci maki, dianggap tidak
layak memakai ban kapten, tapi akhirnya dia membungkam semua omongan itu. Bruno tidak hanya akan mendapatkan trofi asist terbanyak Liga Inggris musim ini, tapi juga layak. Bahkan sangat pantas untuk mendapatkan satu SPPG. Yeah.

Komentar