Sains
Home / Sains / Ilmuwan Stanford Temukan Cara Pulihkan Karang Memutih dalam Tujuh Minggu, Ini Rahasianya

Ilmuwan Stanford Temukan Cara Pulihkan Karang Memutih dalam Tujuh Minggu, Ini Rahasianya

A large patch of severely bleached elkhorn coral in Biscayne National Park, Florida. © Pete Wintersteen / National Parks Service
A large patch of severely bleached elkhorn coral in Biscayne National Park, Florida. © Pete Wintersteen / National Parks Service

JAKARTA, INDONESIA — Para ilmuwan dari Stanford University menemukan metode yang berpotensi mempercepat pemulihan terumbu karang yang memutih dengan memanfaatkan kontak langsung antara karang yang sakit dan karang sehat. Dalam percobaan laboratorium, fragmen karang yang memutih berhasil pulih dalam sekitar tujuh hingga delapan minggu setelah bersentuhan dengan fragmen sehat yang memiliki susunan genetik identik.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada Oktober 2026 ini membuka peluang baru bagi upaya restorasi terumbu karang di tengah meningkatnya suhu laut dan gelombang panas laut. Peneliti menemukan bahwa kontak fisik dapat memungkinkan alga simbion dan nutrisi berpindah dari karang sehat ke karang yang kehilangan alga akibat pemutihan.

Meski hasil awalnya menjanjikan, metode tersebut belum siap diterapkan secara luas di lautan. Percobaan menunjukkan bahwa pemulihan melalui kontak ini bergantung pada kesamaan genetik karang, sehingga penerapannya pada ekosistem alami masih menghadapi tantangan besar.

Bagaimana Karang yang Memutih Bisa Pulih?

Pemutihan karang atau coral bleaching terjadi ketika karang mengalami tekanan lingkungan, terutama akibat suhu air laut yang terlalu tinggi. Dalam kondisi tersebut, karang dapat mengeluarkan alga mikroskopis yang hidup di dalam jaringannya dan memasok sebagian besar kebutuhan energinya.

Alga simbion tersebut dikenal sebagai Symbiodiniaceae. Selain membantu menyediakan energi melalui fotosintesis, organisme ini juga berperan penting dalam memberikan warna pada karang.

Ekonomi & Kebijakan Publik: Dorong Inklusi Keuangan 99 Persen, Pemerintah Siapkan Program Rekening Gratis Bersaldo Awal Rp50 Ribu untuk 25 Juta Warga

Ketika alga hilang, jaringan karang menjadi pucat atau tampak putih. Karang yang memutih belum tentu langsung mati, tetapi kehilangan sumber energi utamanya membuatnya lebih rentan terhadap kelaparan, penyakit, dan kematian apabila tekanan lingkungan terus berlangsung.

Kontak dengan karang sehat membantu mengembalikan alga

Penemuan tim Stanford berawal dari pengamatan tidak sengaja oleh Stephen Palumbi di laboratorium pada 2025. Ia melihat fragmen karang sehat yang bersentuhan dengan fragmen karang memutih, kemudian menemukan bahwa bagian yang bersentuhan mulai menunjukkan tanda pemulihan.

Pengamatan tersebut mendorong Danny Collins, mahasiswa doktoral yang meneliti penyebaran penyakit pada karang, untuk menguji apakah kontak fisik juga dapat membantu memindahkan organisme yang bermanfaat.

Tim kemudian menyusun sepuluh pasangan fragmen karang dari spesies Pocillopora damicornis. Setiap pasangan terdiri atas satu fragmen sehat dan satu fragmen yang memutih.

Lima pasangan ditempatkan dalam kontak langsung, sedangkan lima pasangan lainnya dipisahkan dengan jarak beberapa milimeter sebagai kelompok pembanding.

Pasar Modal & Investasi: Aksi Danantara Borong Saham BUMN Jadi Katalis Positif, IHSG Berhasil Rebound dari Tekanan Sentimen MSCI

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang mencolok. Karang memutih yang bersentuhan dengan fragmen sehat pulih dalam sekitar tujuh hingga delapan minggu. Sementara itu, fragmen yang dipisahkan tidak menunjukkan pemulihan serupa dan akhirnya mati selama periode pengamatan.

Jembatan Jaringan Memungkinkan Alga dan Nutrisi Berpindah

Untuk mengetahui mekanisme di balik pemulihan tersebut, para peneliti menggunakan peralatan pencitraan mikroskopis di Hopkins Marine Station milik Stanford.

Pengamatan memperlihatkan bahwa jaringan dari dua fragmen karang yang cocok secara genetik dapat menyatu dan membentuk semacam jembatan jaringan. Struktur tersebut memungkinkan alga simbion dan nutrisi berpindah dari karang sehat menuju karang yang memutih.

Alga berkembang cepat setelah memasuki karang yang memutih

Setelah alga simbion memasuki jaringan karang yang kehilangan alga, populasinya mulai bertambah dengan cepat. Dalam penelitian tersebut, populasi alga dilaporkan meningkat pesat selama fase awal pemulihan.

Perpindahan alga dapat mulai terdeteksi dalam beberapa hari setelah kontak. Setelah menerima cukup banyak alga, fragmen karang yang memutih dapat melanjutkan proses pemulihannya meskipun kemudian dipisahkan dari karang sehat.

Ekonomi & Perbankan: Kredit Korporasi Tembus Rp700 Triliun, Bank Mandiri Perkuat Komitmen Pembiayaan Ekosistem Usaha Produktif dan UMKM

Temuan ini penting karena pemulihan alami setelah pemutihan dapat berlangsung lambat dan tidak selalu berhasil. Dengan membantu karang mendapatkan kembali alga simbionnya, para peneliti berharap proses pemulihan dapat dipercepat.

Namun, pemulihan warna saja tidak selalu membuktikan bahwa seluruh fungsi biologis karang telah kembali normal. Penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk menilai kesehatan jangka panjang, ketahanan terhadap panas, dan kemampuan karang bertahan di lingkungan laut terbuka.

Mengapa Kesamaan Genetik Menjadi Syarat Penting?

Salah satu keterbatasan utama metode ini adalah kebutuhan akan kesamaan genetik. Jaringan karang hanya dapat menyatu secara efektif dalam percobaan ketika fragmen yang bersentuhan berasal dari individu yang secara genetik identik.

Fragmen dari koloni berbeda, meskipun berasal dari spesies yang sama, tidak menunjukkan proses penyatuan jaringan yang sama dalam pengujian tersebut.

Tantangan menerapkan metode ini di terumbu karang alami

Di laboratorium, peneliti dapat memilih dan memasangkan fragmen karang yang sesuai. Di terumbu karang alami, situasinya jauh lebih rumit.

Karang yang memutih mungkin berada jauh dari koloni sehat dengan susunan genetik yang cocok. Mengidentifikasi pasangan yang tepat, mengumpulkan fragmen, serta mempertahankan kontak fisik di lingkungan laut dapat membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar.

Karena itu, metode ini belum dapat dianggap sebagai solusi universal untuk menyelamatkan terumbu karang. Peneliti masih perlu mencari cara untuk memindahkan alga yang bermanfaat tanpa harus menyatukan jaringan dari karang yang identik secara genetik.

Krisis Pemutihan Karang Makin Mendesak akibat Pemanasan Laut

Penemuan Stanford hadir ketika terumbu karang dunia menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim. Gelombang panas laut yang semakin sering dan intens dapat membuat karang mengalami pemutihan berulang sebelum sempat pulih sepenuhnya.

Laporan yang dikutip Gizmodo menyebutkan bahwa sekitar 84,4 persen terumbu karang dunia mengalami tekanan panas pada tingkat yang dapat memicu pemutihan selama periode gelombang panas laut global dari Januari 2023 hingga September 2025.

Angka tersebut menunjukkan luasnya wilayah yang terdampak tekanan panas, tetapi tidak berarti seluruh terumbu yang terpapar telah mati. Tingkat kerusakan dan peluang pemulihan dapat berbeda menurut lokasi, spesies karang, intensitas panas, dan kondisi ekosistem.

Mengapa terumbu karang penting bagi manusia?

Terumbu karang menyediakan habitat bagi beragam kehidupan laut dan mendukung rantai makanan di lautan. Ekosistem ini juga membantu melindungi garis pantai dari gelombang dan badai, mendukung perikanan, serta menjadi sumber pendapatan melalui pariwisata.

Kerusakan terumbu karang dapat memengaruhi keanekaragaman hayati sekaligus mata pencaharian masyarakat pesisir. Karena itu, pemulihan karang tidak hanya menjadi persoalan konservasi, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan, perlindungan pantai, dan ekonomi lokal.

Apakah Penemuan Stanford Bisa Menyelamatkan Terumbu Karang Indonesia?

Indonesia merupakan bagian dari kawasan Segitiga Terumbu Karang, salah satu pusat keanekaragaman hayati laut paling penting di dunia. Terumbu karang di kawasan ini mendukung perikanan, pariwisata bahari, dan kehidupan banyak komunitas pesisir.

Metode pemulihan melalui kontak karang berpotensi menjadi salah satu pendekatan tambahan bagi program restorasi di Indonesia. Namun, hasil penelitian laboratorium di Stanford belum membuktikan bahwa teknik yang sama akan berhasil dengan tingkat keberhasilan serupa pada semua spesies dan kondisi perairan Indonesia.

Restorasi harus disesuaikan dengan kondisi setempat

Sebelum diterapkan secara luas, metode ini perlu diuji pada spesies karang lokal dan dalam kondisi lingkungan yang lebih mendekati terumbu alami. Peneliti juga perlu memastikan bahwa fragmen yang digunakan cocok secara genetik dan tidak menimbulkan dampak ekologis yang tidak diinginkan.

Program restorasi juga perlu mempertimbangkan kualitas air, tekanan penangkapan ikan, kerusakan habitat, serta kenaikan suhu laut. Tanpa mengurangi penyebab utama stres pada karang, upaya pemulihan dapat kembali gagal ketika gelombang panas berikutnya terjadi.

Pendekatan ini paling tepat dipandang sebagai calon alat tambahan bagi konservasi, bukan pengganti perlindungan ekosistem dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Pemulihan Karang Bukan Pengganti Upaya Mengatasi Perubahan Iklim

Para peneliti menegaskan bahwa metode kontak langsung membantu karang pulih setelah mengalami pemutihan, tetapi tidak mencegah gelombang panas laut terjadi.

Jika suhu laut terus meningkat, karang yang berhasil dipulihkan tetap dapat mengalami stres panas dan memutih kembali. Karena itu, upaya restorasi perlu berjalan bersama perlindungan habitat, pengendalian pencemaran, pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, dan pengurangan emisi penyebab pemanasan global.

Penelitian ini memberikan harapan baru dengan menunjukkan bahwa sebagian karang yang memutih masih memiliki peluang untuk pulih lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Kesimpulan: Tim Stanford menunjukkan bahwa kontak dengan karang sehat yang identik secara genetik dapat membantu karang memutih pulih dalam sekitar tujuh hingga delapan minggu di laboratorium. Penemuan tersebut menawarkan pendekatan baru untuk restorasi terumbu karang, tetapi penerapan di alam masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Perlindungan jangka panjang tetap bergantung pada penanganan pemanasan laut dan berbagai tekanan lain yang merusak ekosistem karang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *