Halo, saya Jatiharma. Rupiah melemah. Inilah yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Sempat ada naik, ada juga turunnya. Dan tentunya ini menjadi kekhawatiran bagi banyak orang terkait dengan nilai tukar rupiah yang kayaknya tidak kuat melawan dolar Amerika Serikat. Ada sejumlah prediksi yang mengatakan bahwasanya rupiah akan semakin melemah. Tapi ada juga yang optimistis. rupiah ini bisa kembali menguat nantinya. Nah, tentunya yang menjadi pertanyaan adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah? Solusi apa
yang ditawarkan dan solusi apa yang sudah dijalankan sejauh ini? Nah, inilah bahasan di liputan AMTS pada kali ini. Tentunya saya tidak sendiri, saya sudah bersama dua narasumber yang hadir dan untuk membahas yang pertama adalah Mas Fitra Faisal, tenaga ahli utama Badan Komunikasi Pemerintah yang sudah hadir di studio. Terima kasih, Mas, sudah selamat sudah datang bersama kami di sini. Iya, sama-sama. Terima kasih diundang. Saya datang dengan selamat ya. Datang dengan selamat. Dan kemudian ada satu
narasumber lagi e melalui sambungan Zoom ada Mas Rizal Taufikur Rahman, mohon maaf ini Econom of Economic and Finance. Mas Rizal, sedianya bisa bergabung, namun ada sedikit insiden ya, Mas Rizal ya. Semoga nanti next time kita bisa bertiga ngobrol di studio nih. Oke, kita bicara ya kita bicara soal melemahnya nilai tukar rupiah. Sebelum kita bicara soal apa solusi yang sudah dilakukan dan juga ditawarkan oleh pemerintah, pertama ingin saya tanyakan kepada Mas Fitra. Mas, seperti apa sih yang ada di pikiran
pemerintah ketika melihat rupiah melemah? Ya, jadi ee kita melihat dari sisi data ya. Jadi dalam konteks data science itu ada yang disebut dalam ekonometrika itu variance decomposition. Kita mendekomposisi variabel-variabelnya apa saja. Yang pertama adalah US treasure yield. Nah, dia kan sudah hovering di antara 4,5 4,6. Itu terlalu tinggi memang ya. Dan secara tarikan gravitasi itu akan memicu eh capital outflow dari emerging markets. Nah, kenapa sih dia tinggi? Karena faktor geopolitik ya. Faktor geopolitik itu meninggalkan
meninggalkan risiko ya dan risiko itu residunya adalah ya yeld-nya meningkat di sana. Nah, itu yang pertama dan itu nilainya adalah 225 basis poin. Yang kedua adalah indikator risiko global VX. Meskipun VX ini volatilitasnya tidak separah eh dibanding dengan periode misalnya dulu global financial crisis atau kemudian COVID, tetapi ini tetap menjadi perhatian. Nah, itu nilainya 117 basis poin. Jadi, yang ketiga adalah eh satu indikator oil price. Nah, oil price ini kan juga kan merupakan subjek tuh ya
dari negosiasi ya. ee sempat di atas 100 dolar US dollar per barrel, tapi sekarang sempat ee juga anjelok ya karena memang ada negosiasi yang ee lebih baik gitu antara Iran dengan Amerika Serikat. Tetapi tetap saja ini e sumbangannya 180 basis poin. Yang keempat adalah faktor dari MSCI ya, MSI dan juga lembaga rating. Nah, ini ada compounding effect-nya. Jadi dari MSCI di bulan eh Mei ini menuju ke Juni itu juga ada periode rebalancing dan itu memicu capital outflow. ada beberapa ee overweight, ada beberapa saham-saham
yang ee sifatnya itu memang besar sekali weight-nya itu di MSI, tapi dikeluarkan karena high shareholder concentration, tapi ini bagian dari reform, enggak masalah ini short term eh pain untuk long term gain. Dan berikut juga ada sebenarnya ada e eh konsiderasi dari lembaga rating ya eh SNP dan segala macam terkait dengan eh fiscal credibility. Meskipun dalam konteks itu fiscal credibility kita bulan April itu eh defisitnya sudah berkurang ya 0,6% atau 164 triliun dibandingkan dengan posisinya di bulan Maret ya. Bulan Maret
itu 240 triliun. Artinya dalam kondisi ini harusnya lebih kredibel ya dalam konteks itu. Tetapi tetap saja ini sumbangannya compounding effect-nya 171 basis poin. Yang kelima adalah faktor musiman dividend repatriation. E market itu biasanya di disebut atau ada dium yang berkembang yaitu sell inway. and coming back again in September and St. Langers Day. E orang-orang ya para fund manager itu memang sengaja meng-cash in ya dividennya dan memang ini ada periode-periode dividen repetriation di bulan Mei. Eh dan itu juga memicu
capital outflow ya karena di sepanjang liburan gitu ya. Ee itu sumbangannya eh 150 basis poin. Dan yang keenam itu ada musim haji. Musim haji permintaan dolar meningkat ya. Jadi ini 54 basis poin ya. Jadi kalau tadi kita tambahkan semuanya 225 + 117 kemudian 180 ditambah juga 171 + 54 dan juga 150 basis poin itu all in all 897 basis poin kita bulatkan jadi 900 basis poin dengan nilai rupiah itu seharusnya sekarang secara fundamental 16.700 nah ditambah faktor itu jadi 17.600 nah apa yang menjadikannya
sekarang 17.700 atau 17.800 800 itu adalah faktor FOMO ya, faktor orang-orang ada firma ngering dari para influencer bilang bahwa ini rupiah ini akan menuju nilai sekian, nilai sekian, dan nilai sekian. Akhirnya orang mengejar rupiah dan itu nilainya ee lumayan besar ya, 150 sampai 200 basis poin. Sehingga kalau kita lihat ini ya, jadi kenapa sekarang mitigasi dari sisi pemerintah adalah memitigasi sektor faktor seasonal, memitigasi faktor geopolitik yang mana itu sekarang sedang dikerjakan ya dan juga memitigasi
narasi-narasi terlalu negatif. Kalau terlalu negatif orang-orang terlalu ya ada self fulfilling expectation nantinya kan ketika mereka menduga bahwa rupiah akan segera ke arah sana dan akhirnya e secara ekspektasi juga membawa kita ke arah sana dan itu yang sekarang kita coba mitigasi begitu tadi dari semua e komponen-komponen tadi paling paling dominan tadi apa Mas? 225 basis poin ini adalah karena tarikan dari US Treaser Real. Oh dari ee ini ya eksternal berarti ya. Nah, jika dilihat tadi tadi ada beberapa
komponen, apakah ini artinya bisa dikatakan bahwa pemerintah melihatnya ya hal yang normal ya. Ini sebagaimana yang disampaikan juga Bank Indonesia ya, Pak Purbaya berapa kali ya. Jadi ini nanti seharusnya di bulan Juni atau bulan Juli ini akan kembali lagi ya rebound meskipun sebenarnya kalau secara trajectory ee bagaimana pemerintah juga melalui pengumuman kemarin di Presiden juga menyampaikan asumsi makro untuk tahun 2027 rupiah itu akan berada di rentang antara 16.800 17.500. ini kita melihat bahwa memang ke
depannya rupiah akan terus melemah karena apa? Pertama k kita bicara sekarang ini faktor seasonal. Faktor seasonal ketika bisa dimitigasi sekalipun itu pasti akan ada tekanan lebih lanjut. Tekanan dari sisi apa? Struktur ekonomi. Karena apa? Jadi pemerintah menyadari dan kalau kita bandingkan ya setiap tahun ya ee selalu setiap asumsi makro untuk tahun berikutnya, tahun berikutnya asumsi makro rupiah selalu melemah. Kenapa? karena basis industrinya atau struktur ekonominya itu rapuh, fragile. Makanya ada stacita nomor 5. Tujuan apa?
Industrialisasi. Meningkatkan struktur produktif dari ee apa ee fondasi ekonomi kita sehingga pada akhirnya itu bisa menopang rupiah. Dan ini bukan omon-omen ya, karena memang kita bicara mengenal landasan empirisnya seperti itu. Saya juga telah mempublikasi beberapa eh artikel akademik ya, real change rate eh dan industrialization in Indonesia. Exchange rate itu terpuruk. Kenapa? Karena ada deindustrialisasi. Makanya harus ada perubahan struktur ekonomi. Makanya kemarin kita juga mengeluarkan ee apa e semacam peraturan
mengenai BMN ekspor. Salah satunya adalah memperbaiki struktur ekonomi. Struktur ekonomi apa yang kita kehilangan? Ya tadi DHI-nya kita hilang, kemudian ada kekayaan negara yang tidak tercatat dengan baik, ada kekayaan negara yang under invoicing dan seterusnya. Itu adalah bagian dari struktur ekonomi yang coba kita benahi. Nah, tetapi kembali lagi ke ke bulan-bulan ini harusnya itu menguat ya. Makanya, Pak Purbaya juga sempat berapa kali menyatakan bahwa ya 17.800 itu udah udah sebenarnya out of range itu sudah
kelebihan itu akan sampai stres, Pak Burbaya katanya. Sebenarnya sih beliau itu bercanda aja kan ditanya stres tes ya sekarang sekali lagi stres sebenarnya enggak juga karena ini sebenarnya suatu hal yang secara teknis bisa kita kendalikan ya dan bulan Juni, Juli ee dan September harusnya itu periode-periode yang menguat lagi begitu kan. I. Jadi kalau teman-teman yang sekarang punya ya e ya karena nanti pada akhirnya juga akan e akan turun juga akan turun juga meskipun di tahun depan proyeksinya juga ya bisa jadi e kalau
konteks rupiah melemah juga bisa melemah juga. Oke Mas Rizal bagaimana tanggapan Anda dengan apa yang dinyatakan oleh ee Mas Fit tadi? Iya. Saya kira ee yang perlu kita perhatikan itu adalah ee terkait dengan kenapa enggak turun-turun gitu ya. Tentu dilaku apa namanya sudah dilakukan oleh pemerintah begitu ya upaya keras. Terus juga Bank Indonesia dengan menaikkan BI red katakanlah di 50 BPS ya memang tidak akan langsung ya memperkuat rupiah ya karena apa? Transmisi kebijakan moneter ini kan tidak bekerja secara instan ya.
Tadi juga Mas Fitra menyampaikan ee ada hal yang saya kira ee menjadi penting ya, erat kaitan dengan masalah struktur ekonomi ya. dan juga ee tentu kenaikan suku bunga yang biasanya baru efektif itu jika mampu katakanlah mengubah ekspektasi market kemudian juga ee menarik kembali ee apa namanya kapital inflow ya terkait dengan portofolio ya dan juga menahan ee permintaan valuta asing. Nah, masalahnya adalah ee memang tekanan rupiah saat ini terjadi ee saat dolar masih kuat gitu ya. tadi juga disampaikan ee yel dari US ee trasernya
juga tinggi ya meskipun kita masih ee katakanlah tadi 4,5 gitu ya ee apa USy-nya tapi bond kita juga di untuk 10 tahun di angka sekitar 7,5 gitu ya. Jadi masih cuma di managing market sih masih oke gitu ya, masih kompetitif gitu. Jadi kisarannya kan sekitar ya 300 ee atau 3 kom 5an lah begitu ya 3,5% atau juga 300 ee BPS gitu ya. Tapi tentu ee ini juga memang agak agak apa namanya riskan terkait dengan tadi ee misalnya ketidakpastian geopolitik yang kian meningkat ya karena itu faktor eksternal. Nah, untuk itu eh apa
kenaikan Bedate ini justru lebih berfungsi pada sinyal stabilitas ya agar depresiasi tidak semakin dalam dan bukan sebagai instrumen yang langsung membalikkan rupiah dalam hitungan hari. meskipun pada saat ee apa diumumkan gitu ya oleh Bank Indonesia, rupiah kan menguat gitu ya, tetapi ternyata tidak sekuat ee apa tekanan yang lebih besar gitu ya, terutama dari ee apa suku bunga The Fed gitu ya. Dan eh BI sendiri dengan menaikkan suku bunga acuan ini juga sebagai respon ya terhadap tekanan rupiah yang resiko terhadap imported
inflation itu. Nah, tentu saja ya ee kenaikan ini juga ee apa namanya ee ketika The Fed e mempertahankan suku bunga tinggi bahkan jauh lebih eh tinggi higher eh for launer eh kemudian juga spread eh imbal hasil antara Indonesia dan US juga menjadi kurang menarik gitu ya. Maka tentu ini juga akan ee memberikan akibat terhadap eh apa namanya eh respon dari market gitu. Nah, meskipun tentu ee Bank Indonesia sudah menargetkan gitu ya kebijakan ee melalui pengetatan ya, investor global juga masih cenderung menempatkan dana di aset
eh safe happen seperti tadi US Tresor dan ini ee tentu ee apa lebih banyak ya para investor itu tertarik di situ ya. Tadi juga disampaikan Mas Fitra itu ya memang tidak ee apa tidak mudah gitu dalam situasi seperti ini gitu ya. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana perbaikan struktur ee terkait dengan ee karena kan gini ya ee e kurs kita itu kan dipengaruhi tidak hanya oleh sektor keuangan gitu ya atau sektor moneter. Tapi di in theory gitu ya ee kalau kita lihat dari sisi pengeluaran kurs itu kan disebabkan oleh arus barang
ekspor impor. Nah, ini juga tentu harus didukung eh oleh e tadi disampaikan ya Mas Fitra itu apa? Deindustrialisasi gitu ya atau ee industri atau hilirisasi yang erat kaitan dengan ee apa orientasi ekspor dan ini tentu bisa ee menarik gitu ya jumlah ee ee apa namanya US lower masuk ke dalam negeri kan gitu yang kemudian bisa apa memperkuat devisa negara. Nah, inilah yang kemudian juga ee apa namanya ee menjadi ee salah satu ee yang harus dilakukan. Makanya kemudian pemerintah muncullah kemudian
ee kebijakan pada saat kemarin diumumkan ada DSI meskipun memang tidak serta-merta langsung begitu ya kan butuh ee apa namanya ada time gitu ya untuk efisiensi dan efektivitas dari DSI ini. Nah, tentu yang paling penting adalah bagaimana ya melihat situasi sekarang ini untuk memperkuat ee nilai tukar rupiah kita begitu ya. tidak dari aspek-aspek ee ee apa namanya? suku bunga semata, tetapi tadi ya kebijakan fiskal, kemudian kredibilitas dari fiskal, kepercayaan market terhadap pengelolaan fiskal,
termasuk juga di dalam perbaikan-perbaikan struktur ekonomi khususnya erat kaitan dengan ee apa namanya ee industrialisasi atau helirisasi yang bisa memperkuat ee apa namanya ee ekspor kita gitu. Saya kira itu Mas Rizal tadi dikatakan bahwasanya sebenarnya BR sudah dinaikkan ya e 50 basis poin kemudian eh ternyata rupiah belum juga menguat. Apakah ini artinya BI telat melakukan tindakan atau begitu kuatnya sebenarnya hantaman yang ada dari luar? Iya. Saya kira ee karena gini, faktor-faktornya kan banyak begitu ya.
Jadi ee selain dari memang ee apa suku bunga ini sudah dilakukan ya upaya sebelumnya akan dinaikkan tetapi kan baru di bulan Mei gitu ya dinaikkan ee bukan berarti Bed ini tidak kuat sebenarnya ya tetapi efektivitasnya itu memang terbatas ketika tekanan yang berasal dari faktor globalnya yang sangat besar. Jadi saat ini Bank Indonesia nampaknya sudah ee mencoba menaikkan suku bunga di angka 5,25% ini ya untuk melakukan intervensi di market ee valuta asing ya dan kemudian juga menerbitkan SRBI dan juga kemudian
ee indikator-indikator yang lain termasuk juga katakanlah ee apa namanya ee percepatan likuiditas gitu ya di sektor perbankan ya melalui ee dorongan ya terhadap ee makroprudensialnya gitu ya. Ee tentu harapannya kan ini untuk ee apa menarik aliran ee modal asing ya. Tetapi lagi-lagi pasar global masih didominasi oleh penguatan ee US Dollar karena tadi tingginya eh US e di e US apa trasynya. Kemudian juga perpindahan dana investor ke eh heaven ya akibat ketidakpastian ee geopolitik dan juga ee ekonomi global. Jadi persoalannya kalau
menurut saya ya ee bukan dari BI tidak melakukan atau ee apa-apa gitu ya, tapi tekanan eksternalnya ini yang jauh lebih agresif dibanding dengan daya tahan instrumen ee moneter domestik. Nah, selain itu ee apa namanya? Bahkan ee banyak ya mata uang emerging market ini juga yang mengalami tekanan serupa ya di dalam kondisi seperti ini. Jadi kenaikan suku bunga juga lebih berfungsi pada menjaga stabilitas dan meredam volatilitas agar apa? Rupiah melemah tidak terlalu dalam ya dan semakin dalam ya bukan langsung memang memperkuat
rupiah secara cepat apalagi dalam eeun waktu yang sangat instan. toh nanti juga akan kembali kepada keseimbangannya sendiri meskipun tentu perlu ada ee apa namanya ee dorongan ya dari faktor selain ee moneter gitu ya selain suku bunga tadi yang saya sampaikan kredibilitas fiskal, kebutuhan pembiayaan APBN, prospek subsidi energinya, arus modal asingnya ya, hingga persepsi ee market ya terhadap kebijakan ekonomi nasional ini. Jadi ee apa namanya stabilitas rupiah ini tidak bisa hanya di ee apa dikontrol
hanya oleh BED ya. Ben tapi banyak komponen lain ya, kebajakan moneter fiskal ya, penguatan ekspor ya, optimalisasi DH DHE sumber daya alam dan juga peningkatan kepercayaan investor. Nah, tadi menarik ee terkait dengan penguatan ekspor Mas Fitra ini apakah ada kaitannya juga dengan kemarin ee sebuah aturan baru tata kelola untuk SDA, ekspor SDA ini yang dikeluarkan oleh pemerintah? Apakah ini juga salah satu tindakan untuk penguatan rupiah ini atau sebenarnya dua hal yang terpisah? Ya, itu bagian dari satu ekosistem ya
yang tidak yang saling terhubung ya. Karena ee kalau kita lihat ya dari sisi trade surplus kita sudah 71 kali berturut-turut trade surplus. Tetapi itu belum tercermin di angka eh foreign reserve kita. Foreignance reserve kita sekarang 146 billion US dollar. memang masih tinggi standarnya, tetapi di sisi yang lain ya hitung-hitungannya kalau misalnya dengan ee apa ee trade surplus besar itu harusnya itu ee minimal itu sudah 170 billion US dolar. Artinya kan memang ada potensi kekayaan negara, ada
potensi reserve yang memang tidak ada di tidak bisa diambil gitu ya. Dalam konteks ini ada undericing, ada undercting, dan juga kemudian ada transfer pricing. Dan kalau kita hitung-hitung ya dari tahun 91 sampai 2024 itu potensi kehilangannya Rp15.400 triliun. Dan kalau kita bandingkan dengan e PDB kita tahun 2025 yang hampir 24.000 triliun itu artinya 64% ya ee e potensinya itu setara dengan hampir setara dengan ee PDB kita gitu. Jadi artinya apa? Artinya seharusnya kalau misalnya kita mampu untuk menatal
laksanakan ekspor kita dengan baik itu harusnya kita sudah jadi negara maju, sudah jadi high in countries gitu. Nah, tapi ya sudah ee tidak ada kata terlambat ya. Kita bisa memulainya sekarang dan dengan konsolidasi ini harapannya memang ada beberapa hal yang bisa kita capai sekaligus. Yang pertama ya dari sisi hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi ya dalam ee hitungan saya itu setidak-tidaknya kita mendapatkan dalam konteks base lainnya ada tambahan 0,8% dari pertumbuhan ekonomi kita. Jadi kalau misalnya kita lihat kemarin
pertumbuhan ekonomi kuartal 1 5,61%. Nah, itu dengan tambah 0,8% artinya ya kita harusnya 6% itu gampang sekali ya pertumbuhan ekonomi mencapai 6%. Itu yang pertama dari sisi pertumbuhan ekonomi. Yang kedua dari sisi cadangan devisa ya ada ee yang skenario base lainnya itu ada pertambahan 14 billion US dolar di tahun ini sampai tahun depan. Terus kemudian ada yang skenario yang lebih agresifnya menjadi 44 billion US dollar. Artinya harusnya sekarang cadangan devisa kita bisa jadi tahun ini sampai tahun depan itu harus mendekat
sudah mulai mendekati 200 bilion US dolar atau 196 bilun US dolar. Nah, makanya dari sisi itu bisa e berpotensi untuk ee menjadi fondasi penguatan rupiah. Karena dengan kondisi-kondisi seperti itu, maka rupiah itu bisa ya ee menguat dalam setahun sampai 2 tahun ke depan antara 132 basis poin sampai 900 basis poin ya dalam waktu 2 tahun. Itu cuma kita insulasi dari efek itu aja. Belum nanti kalau kita memperhatikan faktor musimannya kita perbaiki, faktor teknisnya kita perbaiki. Jadi ee sampai tahun misalnya sampai tahun 2027 bisa
jadi kondisi rupiah kita akan dip 16.000 bukan ke 17.000 gitu ya. Kalau misalnya kita mampu untuk memperbaiki itu dengan baik. Perbaikannya tentunya punya tujuan yang baik dan juga tadi dikalkulasi hasilnya akan menarik dan juga bisa memperkuat rupiah dan juga secara ekonomi keseluruhan Indonesia. Tapi kalau kita tahu juga sebenarnya ada sentimen negatif nih dengan adanya ee aturan yang baru ini. Itu gimana antisipasi dari pemerintah? Ya, ini kan masalah komunikasi ya. Dan kalau dalam konteks komunikasi itu kita
bicara mengenai masa transisi dan masa fine tuning begitu ya. Dan karena kalau misalnya kita bicara mengenai potensi distortifnya apa sih yang menjadi konsern para emiten, para pengusaha ya? Salah satunya adalah oh nanti ini ee akan dibeli dengan harga yang ee tidak kompetitif gitu ya. Padahal kan BMN ini tujuannya adalah mengurangi undervoicing. Artinya ini dibeli dengan harga pasar, harga internasional tanpa mengurangi margin dari perusahaan itu. Berarti tidak ada potensi return on equity yang berkurang. Itu pertama. Yang
kedua adalah apakah ada em ee e usaha untuk memonopoli. Nah, sebenarnya kalau kita bicara perusahaan monopoli itu atau monopsoni apa sih gitu kan? Apa atributnya? Salah satu atributnya adalah dia price maker, dia pembuat harga. Padahal enggak. ini BMN ini adalah BMN yang tujuannya adalah ya sesuai dengan harga pasar berarti dia price taker tidak ada deatw loss ekonomi di situ. Sehingga pada akhirnya ini tidak bisa disebut sebagai perusahaan monopoli karena ya harganya sesuai dengan harga pasar gitu kan. Tujuannya adalah apa?
untuk mengkonsolidasikan ekspor tersebut, meminimalisir under inin voicing, kita catat semuanya dan harusnya itu tidak menjadi masalah ya buat perusahaan-perusahaan ini. Dan juga kalau kita bicara menjadi koncern ini kontrak-kontrak jangka panjang gimana itu tetap dihormati ya, ada masa transisi dan seterusnya sehingga kita bisa melihat nih 3 bulan masa transisi pencatatan 3 bulan masa hibrid yang full pl-nya itu baru tahun depan. ini kan seharusnya menjadi ee hal yang tidak ee apa ya bisa didiskusikan bersama-sama
lah. Jadi ini bukan hal yang saklek, ini bisa terus berubah ya sesuai dengan nanti aspirasi dari pengusaha sehingga pada akhirnya tujuan utamanya apa? Tujuan utamanya adalah kemakmuran ekonomi dan akhirnya kembali lagi kepada rakyat kekayaan negara begitu. Oke. Oke. Kita balik lagi kalau ngomongin soal rupiah yang ee lagi melemah ini. Salah satu yang jadi kekhawatiran adalah masalah soal fiskal. banyak mengatakan bahwasanya sebenarnya secara fiskal Indonesia ini masih cukup kuat ekonomi. Tapi dengan pelemahan yang
terus-terus terjadi tentunya ruang geraknya makin sempit. Mas Fitra melihatnya seperti apa? Sudah sampai titik mana nanti akhirnya kita tuh benar-benar kayak oke nampaknya kalau kalau tadi saya melihat ya nampaknya optimistis nih pemerintah masih optimistis. Akan sampai titik mana alarm itu akan mulai dinyalakan oleh pemerintah terkait dengan ruang gerak fiskal? Insyaallah fiskal kita masih kuat ya. pertama ya ee kalau kita lihat kuartal 1 ya fiskal itu ee telah terbukti memberikan efek leverage ya bagaimana
pertumbuhan ee dari sisi government spending 21,81% itu juga mampu terspill over ke beberapa variabel sekaligus pertama variabel e konsumsi dia tumbuh 5,52% tahun lalu cuma tumbuh 4,96% artinya dari sisi fiskal itu mampu untuk kemudian meningkatkan ya potensi konsumsi dan ini ee proporsi paling besar 54,36% Yang kedua, dari sisi fiskal juga mampu untuk menstimulasi apa? Menstimulasi investasi atau yang di dalam statistik disebut pembentukan modal tetap bruto. Tumbuhnya berapa? 5,96% dibandingkan
dengan kuartal 1 tahun lalu 2025 cuma 2,12%. Artinya ada efek spill over juga. Terus secara overall 5,61% ada efek leverage pertama. Jadi bukan pengeluaran fiskal yang tidak produktif, tapi itu terbukti meningkatkan potensi ekonomi sehingga seharusnya itu ee bisa kelihatan tuh fiscal credibility-nya. Dan yang kedua, ya kalau kita bandingkan posisinya terakhir di bulan Maret memang fiscal deficit kita 0,93% atau Rp240 triliun. Jadi konsern kenapa? Karena kuarter 1 di tahun 2025 itu cuma Rp104 triliun atau
0,4%. Tetapi ya kalau kita lihat di bulan April-nya di bulan April justru turun. ini jarang begitu ya. Jadi setelah bulan bulan Maret eh 0,9% 240 triliun di bulan Aprilnya justru fiscal deficit kita R4 triliun atau 0,6% malah turun begitu. Dari sisi trajektorynya sebenarnya ini sehat ya, jadi memberikan efek leverage perekonomian tapi di sisi yang lain juga tetap maintaining fiscal discipline gitu. Jadi masih aman kalau dari pemerintah ya. Mas Rizal, Anda sepakat dengan hal itu. Apakah ruang ruang gerak fiskal
kita masih aman? Saya kira gini ya, kalau kita lihat aman enggak aman ya memang ini ruangnya itu makin kuat, makin ketat gitu ya. Jadi ee pemerintah memang masih punya ruang gitu ya karena dilihat dari beberapa indikator misalnya rasio utang terhadap PDB Indonesia juga masih moderat dibanding dengan banyak negara gitu ya. Kemudian juga dari sisi defisit juga masih di bawah 3% ya. bahkan di per bulan Mei kan semakin ee tidak apa semakin kecil lagi gitu ya. Ee kemudian dan pasar memang tidak ee meskipun tidak
hanya melihat utang ya, melainkan yang paling penting adalah bagaimana kualitas belanja. Ini saya kira ya kualitas belanja kemudian sustainabil apa sustainability deficitnya dan juga konsistensi dari kebijakan. Tetapi yang paling harus kita lihat lagi adalah bagaimana trust investor ini terhadap sustainability yang ditentukan oleh ee apa namanya? Kemampuan pemerintah di dalam menjaga kredibilitas APBN ya. E tentu disiplin fiskal ya. Salah satunya tentu saja ee program-program stimulus yang produktif ya yang meng-create ee
ekonomi dan juga nilai tambah yang real. penyerapan jumlah tenaga kerja yang cukup ee apa namanya produktif terutama apa namanya tenaga kerja yang formil gitu ya dan juga memberikan kepastian ee arah kebijakan ekonomi ke depan. Nah ee tentu landscape fiskal inilah yang menjadi ee penting sebagai ee modal kepercayaan dari market tentu saja. Tapi tentu ee trust investor ini tidak hanya ditentukan oleh indikator-indikator itu saja. gitu ya. Tadi defisit kemudian sustainabilitas, tapi yang paling penting adalah bagaimana ee kredibilitas
pembiayaan dan juga resiko subsidi subsidi yang dilakukan selama ini karena misalnya subsidi energi ya ee kemudian konsistensi tadi arah kebijakan yang tentu ini juga akan dibaca oleh pasar ee apa namanya hal penting yang itu juga mempengaruhi terhadap ee ee apa namanya moneter. Nah, jika pasar membaca kemudian ee terjadi pelebaran beban subsidi katakanlah kemudian juga tekanan pembiayaan atau kebijakan yang ee katakanlah tidak konsisten, maka premi risiko ini ya akan semakin naik dan tekanan ke rupiah juga bisa berlanjut.
Jadi, kuncinya bukan hanya dari fiscal space-nya, tetapi fiscal credibility-nya yang harus menjadi ee ee acuan gitu ya. Nah, untuk itu ee hal yang paling ee penting lagi adalah ee jika pemerintah kemudian menjaga ee apa mampu menjaga kredibilitas ya dari ee fiskalnya ee dan juga menjaga konsistensi ee kebijakan ya, memperkuat daya saing ekspornya bahkan memperbesar DHS sumber daya alamnya serta menjaga defisit ya tetap terkendali. maka ya lambat laun ya ee kepercayaan investor atau investor trust juga terhadap rupiah kemudian
terhadap aset domestik juga akan kembali menguat ya ee tidak hanya jangka menengah tetapi saya kira jangka pendek juga akan bisa kelihatan nah inilah yang saya kira menjadi ee hal penting gitu. Apakah Anda melihat pasar ee masih mempertanyakan soal kredibilitas pemerintah dalam mengelola fiskalnya? Iya. Saya kira siapa yang ee bisa mengendalikan pasar, Mas? Ya. Jadi pasar itu kan tidak bisa dikendalikan ya karena ee market kan tentu ee apa namanya? Sangat sensitif terhadap itu. Kalau bicara apakah pasar ini masih
mempertahankan posisi defensif terhadap emerging market misalnya termasuk Indonesia, maka tentu kalau kita lihat ya eh trennya investor global itu cenderung masih white ini ya. Karena mereka melihat tadi suku bunga ya eh US Dollar juga the Fed masih eh higher for longer gitu ya. Bahkan US story-nya juga masih menarik ya. Termasuk juga risiko global yang masih belum reda nih. Jadi meskipun katakanlah dengan ee stimulus katakanlah Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga tetapi ee pasar masih belum agresif kembali ke aset
rupiah, maka ini menjadi indikatornya, Mas. Jadi investor saat sekarang ini tidak hanya melihat selisih suku bunga, tapi mempertimbangkan risiko-resiko fiskal itu, Mas. Jadi stabilitas politiknya, prospek pertumbuhannya ya hingga arah kebijakan ekonomi ke depan. Jadi ketika ketidak pastian global tinggi ya investor biasanya kan memilih parkir dana di aset yang dianggap paling aman Mas ya. Jadi misalnya dolar atau US eh Treasury gitu ya. Nah, karena tekanan rupiah ini juga lebih mencerminkan tingginya ris aversion global dibanding
semata-mata lemahnya dari ee apa respon terhadap kebijakan-kebijakan yang ada gitu ya, maka tentu ini menjadi sinyalnya. Oke, saya kira itu, Mas Fitra ini kan juga menarik ya untuk memperkuat nilai rupiah ini adalah salah satunya gimana caranya kita bisa segera menarik investor untuk masuk biar membanjiri ee apa dana ke dalam negeri kita sehingga akhirnya menguatkan rupiah itu. Apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk menarik investor ini biar segera gitu? Karena kayaknya kalau nunggu-nunggu aja nanti bahaya juga nih
kan lama-lama gitu. Iya. Yang pertama eh kita melihat ada dari sisi portofolio investment ya dan juga dari sisi foreign direct investment ya. Kalau dalam konteks portofolio investment ya, jadi setelah periode rebalancing MSI seharusnya e ada potensi rebound ya setelah memang reform itu dilakukan oleh regulator ya. Ada satu hal yang juga menjadi konsiderasi para eh investor adalah return on equity. Nah, potensi return on equity itu dasarnya apa sih? Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi gitu ya. Nah, ketika
pertumbuhan ekonomi kita sudah di atas konsensus ya kalau kita lihat lembaga-lembaga internasional kan bahkan kemarin World Bank cuma 4,8% di tahun ini ya. Dan dengan kondisi kita yang Q1 5,6% berarti target pemerintah di tahun ini yang secara formal ya di APBN asumsi makro tahun lalu 2025 tahun ini adalah 202 5,4% itu sebenarnya tidak sulit untuk dicapai. Karena ketika ada ee potensi growth yang jauh melebihi ekspektasi, maka itu sendiri adalah suatu tarikan ya buat para investor. Yang kedua adalah pemerintah juga
berusaha ya dalam hal ini juga mulai bulan Juni akan ada e schedule untuk menerbitkan panda eh bonds misalnya ya. Nah, ini suatu hal yang menarik juga. Ini adalah bagian dari diversifikasi mengurangi ketergantungan kita terhadap US dollar ya. dan juga untuk menarik uang-uang yang memang sekarang bukannya kurang ya, tetapi memang kita ee ee tidak mampu untuk kemudian mengklasterisasinya dengan baik saja selama beberapa tahun terakhir. Nah, sekarang kita sudah melihat potensi uang berikutnya adalah berasal dari China.
China ini mereka tidak kekurangan uang ya. Karena kalau kita bandingkan misalnya tahun 2018 ya, kalau kita lihat melihat kepemilikan obligasi mereka untuk Amerika Serikat ya eh US Treasuries kepemilikan mereka tahun 2018 1,4 triliun US dollar. He. Eh, danahun ini tahun 2026 itu tinggal 600 bilion US dolar. Apa yang mereka lakukan? Mereka menjual eh Treasur-nya. Kenapa? Memang karena ada tekanan dari Amerika Serikat sehingga mereka ingin mengurangi ketergantungan dari Amerika Serikat. Itu yang pertama. Tapi di sisi
yang lain ketika mereka memiliki cash mereka kan harus mendiversifikasinya ke aset-aset yang menguntungkan gitu kan. Mereka masuk ke properti, masuk ke mana, masuk ke mana. Tapi kan ee selain menguntungkan harus ee ee ini apa namanya? Fix ya. dan sustainable. Nah, ketika kita mengeluarkan pand ini maka potensi-potensi cash itu bisa masuk ke sini dan kita bisa serap. Itu adalah masuk dalam konteks diversifikasi juga mengurangi keturunan kita terhadap US dollar dan juga meningkatkan potensi penguatan rupiah. Jadi, hal-hal itu yang
sekarang sedang dikerjakan juga pemerintah. Selain juga tadi secara struktural kita ingin memperkuat pondasinya ya lewat tadi konsolidasi ekspor dan juga bagaimana menguatkan industri. Yang ini butuh waktu memang setahun, 2 tahun mungkin kurang ya sampai 3 tahun baru kita bisa ngelihat ee ee pembalikannya, tren pembalikannya. Tetapi ya ini adalah hal-hal yang sekarang sedang dilakukan dan on progress dilakukan oleh pemerintah begitu. Oke, semua sudah dilakukan. Mas Rizal ini gimana kalau Mas Rizal kita judulnya
rupiah melemah. Adakah solusi kalau dari Mas Rizal seperti apa solusi yang harusnya dilakukan segera oleh pemerintah? Iya. Jadi selain apa yang tadi disampaikan gitu ya, maka untuk menarik kembali investor katakanlah atau juga penguatan rupiah ya, maka yang paling penting adalah apa? Ee pemerintah memang ee tidak cukup hanya mengandalkan stabilitas moneter gitu ya, tetapi harus memperbaiki persepsi terhadap fundamental ekonomi secara keseluruhan. Saat investor global sangat sensitif terhadap kredibilitas kebijakan, maka
konsistensi regulasi dan arah fiskal jangka menengah katakanlah ini juga menjadi penting. Dan yang paling penting juga gitu ya, sinyal bahwa Indonesia tetap memiliki disiplin fiskal, kepastian usaha ya, arah kebijakan yang prediktable. Ini menjadi penting. Contoh misalnya yang pertama, pemerintah juga perlu melakukan ee ada atau perlu terus menjaga kredibilitas APBN ya. dengan memastikan ee defisit yang tetap terkendali, subsidi energi yang tetap terjaga, ya, kemudian juga pembiayaan utang yang tidak semakin menekan ya
kepada pasar keuangan. Yang kedua, katakanlah pemerintah juga ee harus memperkuat ya pasukan devisa domestik secara natural melalui ekspor ya. Tentu di sini kan hilirisasi, industrialisasi dan juga optimalisasi DHS sumber daya alam juga menjadi penting ya. bukan hanya mengandalkan hot jangka pendek ya, tetapi juga tentu ee ketergantungan ee yang berlebihan terhadap inflow portofolio juga menjadi sangat rentan gitu ya terhadap kapital outbard globalnya. Ketiga juga kepastian regulasi dan juga iklim usaha harus
dijaga. Saya kira investor sangat sensitif ya terhadap perubahan kebijakan yang mendadak ya termasuk juga misalnya ya ee terkait tata kelola ekspor perpajakan maupun sektor keuangan. Dan yang terakhir saya kira ee pemerintah ee meskipun sudah melakukan upaya yang sangat serius ya dan juga terukur, tapi perlu juga ya menjaga pertumbuhan ekonomi itu ee harus berkualitas ya dan ditopang oleh sektoril. Nah, investor akan lebih dan juga akan lebih percaya begitu dan terus percaya ya jika melihat konsumsi domestiknya terjaga di dan
tentu ee konsumsi domestik terjaga ini kan dicreate dari apa? ya realisasi investasi kan untuk menumbuhkan ee apa namanya penyerapan tenaga kerja melalui perbaikan upah, produktivitas gitu ya. Dan juga tentu akan tumbuh di situ industri ekspor dan juga inflasi akan terkendali. Yang paling penting lagi adalah bagaimana proyek-proyek ee hilirisasi ini juga menghasilkan nilai tambah nyata yang kemudian berdampak terhadap tadi realisasi dari ee upah yang semakin baik. Nah, untuk itu maka ee dari keempat hal tadi ya, daya tarik
investor juga tidak hanya ditentukan oleh ee apa namanya ee indikator-indikator moneter saja, tetapi juga indikatorindikator fiskal ini juga menjadi sangat penting bagaimana dua kebijakan ini sebenarnya harus harus ee bersama-sama untuk saling memperkuat dan sisi stabilitas, sisi kualitas gitu ya, dan juga kuantitas dari ee pertumbuhan ekonomi ke depan sehingga ya kita berharap ya ee keyakinan investor itu akan melihat gitu ya ee Indonesia tetap stabil, profitable, kemudian juga memiliki arah pembangunan ekonomi yang
semakin kuat ya, semakin jelas dan juga tentu ee prospek mungkin itu Mas. Baik, Mas Fitra. Yang terakhir Mas terkait dengan ini solusi yang tadi sudah disampaikan banyak sekali solusi dan banyak sekali langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi yang paling menurut Mas Fitra ini yang harus terus dilakukan dan yang lainnya mungkin bisa agak kedor tapi yang ini kudu kencang. Iya. Ee jadi tadi faktor geopolitik dan seasonal sudah saya sampaikan semua ya. Tetapi yang faktor yang lebih struktural, nah itu yang memang harus
lebih dipush ya. tadi bagaimana ee kita melakukan konsolidasi ekspor salah satunya adalah untuk memperbaiki struktur ekonomi. Terus kembali lagi ya roadmap kita apa sih di Asta Cita nomor 5 itu industrialisasi Mas. Industrialisasi danisasi tujuannya apa? Membangkitkan produktif eh activities ya dari ee menjadi fondasi ekonomi kita. Tapi itu tidak tidak hanya itu. Butuh juga eh ee compatible ya dengan dengan input produksi. Salah satu input produksinya apa yang paling utama? Yaitu human. Nah, makanya di aset kita nomor 3
dan nomor 4 terutama itu investasi di sumber daya manusia. Lapangan kerja terbuka, tetapi investasi sumber daya manusia supaya skill set-nya kompatibel. Nah, sehingga yang akan kita kejar ke depan bukan hanya ekonomi yang tumbuh tinggi, tetapi ekonomi yang inklusif ya. Bagaimana bisa kemudian menyertakan juga bagian-bagian dari masyarakat Indonesia belum menjadi partisipan dari itu semua, ya. Jadi, jangan sampai mereka menjadi organ-organ yang terpinggirkan, tapi menjadi bagian dari ee proyek stimulasi
ya pertumbuhan ekonomi itu juga. Begitu, Mas. Oke. Kita bicara soal rupiah. Tapi kita melihat bahwa rupiah ini melemah bukan cuma sekedar karena rupiahnya tidak kuat melawan tekanan yang ada dari luar maupun dari dalam. Tapi ini adalah terkait dengan ekonomi secara keseluruhan di Indonesia. Semoga apa yang dilakukan oleh Mas ee pemerintah yang sudah dilakukan sejak awal dan juga tadi ada masukan-masukan dari Mas Rizal bisa terus digenjot dan terus tentunya bisa memperbaiki ekonomi Indonesia ke depan menjadi lebih baik. Terima kasih
Mas Piter, terima kasih Mas Riza sudah bergabung bersama liputan Talks untuk membicarakan solusi penguatan nilai rupiah. Semoga ini bisa segera berampak dan tentunya jangan sampai mengulang apa yang pernah terjadi di masa lampau ketika ekonomi kita jatuh terpuruk. Sampai di sini liputanan Talks kali ini. Saya Jatiarma. Salam SC TV. Yeah.

Komentar