Jakarta, Indonesia — Antrean panjang yang terjadi di berbagai SPBU dipastikan bukan disebabkan oleh kelangkaan stok BBM di depot, melainkan dipicu oleh pergeseran perilaku konsumen dan maraknya penyalahgunaan BBM bersubsidi oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Pergeseran Perilaku Konsumen (Shifting)
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama antrean panjang adalah fenomena shifting atau pergeseran perilaku konsumen. Banyak pemilik kendaraan yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi dengan spesifikasi tinggi kini beralih menggunakan BBM bersubsidi. Hal ini menyebabkan lonjakan permintaan yang tidak sebanding dengan ketersediaan di SPBU tertentu.
Maraknya Modus “Truk Helikopter” dan Penyalahgunaan QR Code
Di sisi lain, Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengungkap adanya siasat nakal yang memperkeruh kondisi lapangan, yakni:
- Modus “Helikopter”: Praktik kendaraan yang keluar-masuk SPBU secara berulang untuk menimbun BBM bersubsidi.
- Manipulasi Digital: Temuan lapangan menunjukkan adanya oknum yang menggunakan lebih dari satu QR Code dalam satu ponsel, yang kemudian langsung ditindak tegas dengan pemblokiran oleh BPH Migas.
Langkah Strategis Normalisasi Distribusi
Untuk mengurai antrean tersebut, Komisi XII DPR RI telah meminta Pertamina Patra Niaga untuk melakukan langkah-langkah cepat:
- Optimalisasi Pelayanan: Menambah jam operasional SPBU guna melayani masyarakat lebih lama.
- Penambahan Armada: Meningkatkan jumlah armada transportasi BBM untuk mempercepat distribusi ke wilayah-wilayah yang terdampak.
- Pengawasan Ketat: BPH Migas terus melakukan operasi pengawasan di lapangan, termasuk melibatkan aparat hukum untuk menindak praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi secara langsung.
Komentar