Negara-negara teluk yang luput dari perlindungan Amerika Serikat karena penurunan kemampuan Washington kini kian tertekan. Mitra Amerika Serikat di kawasan Teluk itu disebut mulai jadi sasaran gerak senyap Iran lewat jaringan sabotase yang perlahan mulai terendus. Kuwait, Bahrain, [musik] Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi satu persatu menangkap orang-orang yang diduga agen rahasia Iran. Tapi penangkapan demi penangkapan itu tidak lantas meredakan rasa was-was. Sebab di saat bersamaan Amerika Serikat sendiri tengah dilanda
kepanikan akan dugaan bahwa Iran kian dekat dengan penciptaan senjata nuklir. [musik] [musik] Amerika Serikat yang belum menemukan jalan keluar dari perangnya dengan Iran kini tengah dikejar waktu dan kepanikan. Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright bersaksi di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Rabu, 13 Mei 2026. Ia mengatakan bahwa Iran hanya butuh beberapa minggu lagi untuk memperkaya uranium mereka menjadi uranium tingkat senjata. Iran saat ini diketahui memiliki sekitar 1 ton uranium yang sudah diperkaya
hingga 60%. Ditambah 11 ton uranium lain dengan tingkat pengayaan yang lebih rendah sekitar 20%. Kedengarannya masih jauh dari angka 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir. Tapi para ahli nuklir mengingatkan lompatan dari 0 ke 60% jauh lebih berat secara teknis dibanding dari 60 ke 90%. [musik] Artinya Iran sudah melewati bagian tersulit. Utusan khusus Amerika Serikat Stevekov bahkan secara terbuka menyebut bahwa Iran mengeklaim stok uranium 60% mereka cukup untuk membuat 11 bom nuklir jika diperkaya lebih
lanjut. Lalu apa yang akan dilakukan Trump? Ia bersi keras Washington akan mendapatkan uranium Iran dengan cara apapun. Para negosiator Amerika Serikat bahkan dikabarkan mendorong Iran untuk melepaskan seluruh material nuklirnya. Di Sat Wasoshington bergulat dengan tudingan ancaman nuklir Iran, negara-negara teluk menghadapi ancaman yang lebih dekat dan lebih senyap. Pada Rabu, 13 Mei 2026, para Menteri Dalam Negeri, negara-negara Dewan Kerjasama Teluk menggelar pertemuan darurat di Riyad. Ini bukan pertemuan biasa.
Pertemuan ini adalah respons langsung atas serangkaian penangkapan yang mengungkap jaringan sel IRGC di jantung kawasan Teluk. Kasusnya tidak sedikit. Kuwait menangkap empat orang yang diduga anggota IRGC yang berusaha menyusup ke pulau terbesar mereka menggunakan perahu. Bahrain menjatuhkan penjara seumur hidup kepada dua pria atas tuduhan mempersiapkan aksi terorisme atas nama Iran. Uni Emirat Arab menangkap 27 orang yang diklaim sebagai anggota sel teror terkait Iran. [musik] Katar dan Arab Saudi juga melaporkan
penangkapan serupa. Dalam banyak kasus, para tersangka kedapatan membawa senjata api, drone, hingga bahan peledak. Namun yang menarik, Iran tidak tinggal diam. [musik] Iran mengecam penangkapan yang dilakukan Kuwait dan mengeklaim keempat warganya hanya sedang melakukan patroli maritim rutin ketika masuk ke perairan Kuwait akibat gangguan navigasi. Para pejabat Iran juga berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak menargetkan fasilitas negara teluh hanya pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
[musik] Tapi para analis tidak begitu saja percaya. Dan memang pertemuan darurat di Riyad itu menghasilkan satu pesan tegas. Mereka menyimpulkan kapanan kawasan Teluk tidak bisa dipisah-pisahkan. Ancaman terhadap satu negara adalah ancaman terhadap satu kawasan teluk. Uniemat Arab bahkan secara eksplisit menentang segala rencana Iran yang bertujuan menggoyahkan stabilitas kawasan. [musik] Trump bilang akan ambil uranium Iran dengan cara apapun. Tapi sebelum sampai ke sana, ada satu masalah besar yang
harus dihadapi Washington. Iran tidak selumpuh yang dikira. Penilaian intelijen Amerika Serikat yang dilaporkan The Telegraph mengungkap fakta yang menampar klaim resmi Washington. Iran telah memulihkan akses operasional ke-30 dari 33 lokasi rudal strategis di sekitar Selat Hurmus dan stok rudal serta peluncur bergerak mereka masih tersisa sekitar 70%. The New York Times bahkan melaporkan sekitar 90% fasilitas penyimpanan bawah tanah dan lokasi pelencuran rudal Iran kini dianggap sebagian atau sepenuhnya
siap tempur. Ini bertolak belakang dengan apa yang selama ini diklaim Trump. Bulan lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pit Hexeth bahkan sesumber operasi Epic Fury telah membuat Iran tidak efektif untuk bertempur selama bertahun-tahun ke depan. Tapi kenyataannya Iran memindahkan persenjataannya ke lokasi lain sebelum sempat dihancurkan. Dan sementara Amerika Serikat menguras stok amunisinya yang butuh waktu bertahun-tahun untuk diisi ulang, Iran justru bergerak memperluas pengaruhnya. Iran kini secara
sepihak memperluas definisi Selat Hormus. Jika sebelumnya Selat ini hanya mencakup wilayah terbatas di sekitar Pulau Hormus dan Hengam, kini Iran mengeklaim selat itu membentang ratusan mil dari pantai jaz di timur hingga pulau Greyer Tumbi di barat. Iran bahkan membentuk badan khusus untuk mengatur lalu lintas di selat tersebut. Kapal-kapal yang ingin melintas kini wajib meminta izin dan membayar tol kepada Iran. Rincian kepemilikan kapal, asuransi awak hingga rute harus diserahkan lebih dulu. Sementara kapal
dari negara-negara musuh terancam dilarang melintas sama sekali. Tiga ancaman satu aktor. Iran diduga mengincar senjata nuklir, menyusupkan jaringan sabotase ke jantung kawasan teluk dan mengunci selat hormus dengan aturan mainnya sendiri. Sementara Amerika Serikat dan Aliansi Arabia berlomba merespon Iran terus bergerak. Tapi siapa yang akan bergerak lebih cepat? Pantau terus perkembangannya hanya di kanal YouTube Kompas.com. [lonceng] H

Komentar