Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Presiden Cina si Jin Ping. Untuk membahasnya pagi hari ini kita sudah tersambung dengan narasumber Airlangga Pribadi Kusman selaku Kepala Pasarjana Ilmu Politik UNER. Selamat pagi, Pak Erlanggaap. Bapak bisa Anda sampaikan menurut pandangan Anda bagaimana pertemuan antara Trump dan juga si Jinping ini, Pak? Silakan. Ee baik, makasih, Mas. Jadi, pertama-tama kalau kita lihat bahwa pesan dari Presidensi Jinping adalah kita membutuhkan adanya kerja sama dan
kooperasi daripada persaingan ataupun ketidakstabilan akibat konflik ee politik. Ini sebetulnya adalah bagian bagaimana si Jinping mengingatkan Presiden Amerika Donald Trump. Karena dari berbagai macam proses-proses dan peristiwa yang berlangsung itu terlihat bahwa Amerika Serikat sendiri yang melakukan tekanan ekonomi, tekanan politik ee kepada negara-negara yang lain dan termasuk akhirnya kita bisa melihat juga ee tekanan dalam ee dalam bentuk agresi terhadap Iran. Hal ini adalah poin penting yang diingatkan oleh
si Jinping pentingnya kerja sama dan kolaborasi. Hal itu sangat ditentukan oleh Amerika Serikat sendiri adalah ee tendensinya adalah dia adalah kekuatan yang berusaha memaksakan unit lateral. Sementara China sendiri adalah satu kekuatan ee ekonomi baru yang hendak bergerak menuju multilateralisme. Nah, kemudian juga dalam konteks ini apabila kita kaitkan pertemuan tersebut dengan apa yang sedang berlangsung di Teluk di Asia Barat ee itu kita bisa melihat bahwa ee ada kehendak dari ee Presiden China sendiri dari si
Jinping untuk menyelesaikan persoalan ini secara damai. Sementara di sisi yang lain ee Donald Trump itu menyodorkan agenda-agenda terkait dengan ee apa yang sedang berlangsung di Asia Barat. Meskipun satu sisi dia mengutarakan bahwa dia tidak membutuhkan China, Amerika tidak membutuhkan China untuk mengakhiri ee perang tersebut. Tapi jelas bahwa Amerika Serikat sendiri melihat dia sudah kewalahan ditekan oleh kekuatan politik yang menolak untuk tunduk terhadap Amerika Serikat. dan dia tahu bahwa dia harus bertemu dengan China
terkait dengan persoalan ini. Poin yang penting sebetulnya yang perlu digaris bawahi adalah ketika Amerika Serikat menekankan terkait dengan Iran, maka si Jinping juga kemudian menekankan terkait dengan persoalan Taiwan. Dia mengutarakan bahwa hubungan ee antar negara China dan Amerika Serikat sangat ditentukan terkait dengan stabilitas dalam kaitan dengan Taiwan. Kita tahu bahwa Amerika Serikat sendiri meskipun ee menganut kebijakan eh One China policy, tapi kita bisa melihat bahwa dukungan dan support terkait dengan
pertahanan, terkait dengan hubungan-hubungan yang begitu kuat pada Taiwan. Nah, inilah kemudian kita bisa melihat bahwa ee Amerika Serikat ketika the Presiden Donald Trump ketika ditanya oleh wartawan terkait dengan isu Taiwan, dia hanya mengutarakan China is beautiful tapi tidak memberikan respon karena memang di sini kita bisa melihat China ini sedang melakukan tekanan secara halus kepada Amerika Serikat untuk tidak ee terlalu kemudian interfens, tidak terlalu kuat kemudian memberikan dukungan
kepada Taiwan. Sementara pada sisi yang lain sedang terhadir persoalan ee konflik atau tekanan antara Beijing dan Taiwan. Nah, ini adalah satu hal yang perlu digaris bawahi ya, Pak Erlangka. Kita tahu bahwa dari poin-poin sementara pertemuan ini, Cina mensetujui untuk beli pesawat dari Amerika Serikat 200 unit Boeing dan juga beli minyak dari Amerika Serikat dan akan memperluas pasar ekonomi Amerika Serikat masuk ke dalam Cina. Ini apa kaitannya dengan konflik Timur Tengah? Kalau Anda melihat saat ini?
Ya, dalam konteks ini kepentingan China tentu adalah kepentingan dagang. artinya dalam konteks ekonomi maka kemudian ee Cina akan membuka ruang tersebut. Nah, terkait dengan konteks ee apa yang sedang berlangsung di Timur Tengah di Asia Barat terkait dengan perang, maka ini sebetulnya adalah bagian dari proses kerja sama ekonomi yang biasa yang untuk membuka mengurai stabilitas. Nah, kita tahu bahwa tekanan-tekanan pressure ekonomi secara kondisional itu begitu kuat. ini ee untuk menjaga agar kondisi ekonomi
sendiri kemudian berjalan dengan baik dan kondusif. Tapi dalam konteks ini bahwa hal ini tidak kemudian membuat misalnya Cina melakukan perubahan rotasi posisi. Tidak sama sekali tidak. Tapi kemudian dilihat bahwa bagaimana peran China dalam apa yang sedang berlangsung di Asia Barat itu sudah disadari oleh Amerika begitu kuat. Nah, di sini adalah bagaimana tetap menjaga berhubungan dengan apa yang sedang berlangsung ee di Teluk itu adalah bagaimana menjaga agar proses perdamaian berjalan dengan baik dan
tidak ada yang dirugikan, tidak ada kemudian dipressure dan ditekan sehingga kemudian perdamaian dunia itu bisa berjalan dengan lebih baik dan tidak ee melakukan pressure terhadap kekuatan-kekuatan yang pada saat ini memang sedang menghadapi agresi ya. Artinya Anda melihat Cina ini tidak akan melunak, Pak, untuk ee dalam konteks dukungan Cina kepada Iran atau seperti apa? Saya pikir kalau dalam konteks dukungan ee China terhadap Iran itu masih kuat. Dan terkait dengan persoalan ini sebetulnya kita bisa melihat banyak
sekali negara yang melihat apa yang sedang berlangsung di Timur Tengah, di Asia Barat itu adalah ilegal agresi. Baik. Jadi bukan hanya Cina tapi juga berbagai macam negara termasuk Uni Eropa yang sebetulnya adalah aliansi dari Amerika Serikat dan banyak negara Rasia dan negara-negara yang lain itu mengutarakan bahwa ini ilegal war. Sehingga sebetulnya posisinya mereka tetap melihat bahwa ee apa yang sedang berlangsung dan dilakukan oleh Amerika Serikat adalah suatu tindakan yang tidak adil. Yang menjadi konsern bersama
adalah bagaimana menyelesaikan perang tersebut tanpa kemudian juga menambah memperdalam ketidakadilan yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Baik, Pak Erlangga. Apakah dalam hal ini kebutuhan Trump lebih besar atau kebutuhan Cina justru yang sebenarnya juga memiliki kebutuhan yang mendesak dalam perundingan ini? Tapi ditahan dulu, Pak, jawaban Anda karena Breaking News One akan kembali sesaat lagi usai pariwara berikut ini. Tetaplah bersama kami. Terima kasih Anda masih bersama kami pemirsa. Untuk melanjutkan dialog
ee kami sudah tersambung dengan narasumber Airlangga Pribadi Kusman, Kepala Pasasarjana Ilmu Politik UNER. Pak Erlangga, kita tahu di poin-poin sementara saat ini belum ada pembahasan mengenai proposal damai Iran yang sebelumnya ditolak oleh Amerika Serikat. Anda melihatnya seperti apa, Pak? Apakah pembahasan pertemuan ini nanti juga akan membahas hal tersebut atau memang fokus antara kerja sama bilateral antara Amerika dan juga Cina? Silakan. Ya. Ya. Kalau kita lihat bahwa ini adalah baru awalan terkait dengan
hubungan kerja sama Amerika Serikat dan China. Dan kalau kita lihat prosesnya ke belakang itu bisa kita lihat bahwa pada awalnya ketegangan ini menguat ketika ee Amerika Serikat itu memberikan tekanan terkait dengan tarif pada China dan oleh China sendiri kemudian ee direspon dengan ee dengan tingkat yang ee lebih setara dan tentunya dalam konteks yang sedang berlangsung terutama saat ini perjanjian ini juga didukung juga ee di dikondisikan dengan bagaimana Amerika Serikat sendiri itu berada dalam kondisi
yang ee tidak baik, yang terjepit ketika berhadapan dengan tekanan politik ya di internal ataupun kegagalan terkait dengan agresi di Iran dan juga dengan beberapa persoalan-persoalan yang ada. Sehingga dalam konteks ini sebetulnya kita bisa melihat posisi Amerika sangat membutuhkan China dalam perjanjian ini daripada China membutuhkan Amerika Serikat. Karena kemudian kita bisa melihat bahwa China menjadi bagian dari sesuatu yang harus di ee ditemui, harus diselesaikan terkait dengan berbagai macam krisis yang sedang berlangsung
oleh Amerika Serikat. Nah, inilah ee poin yang ee pertama hendak di apa menjadi bagian dari persoalan yang mau dijawab ee terutama terkait dengan kepentingan Amerika Serikat. Nah, dalam konteks ini maka tadi sudah saya utarakan China pun kemudian merespon dalam kondisi ketegangan atau bagaimana yang berlangsung di Asia sendiri. Maka dalam tanda petik ee China memberikan teguran terhadap Amerika Serikat yang terlihat bahwa ee terlalu engage, terlalu terlibat terutama dalam kaitan dengan problem Taiwan, gitu. Nah, di
sinilah ee kita bisa melihat ee komunikasi bergerak pada posisi itu. Tapi tadi sayautarakan terkait dengan perang yang sedang berlangsung di Asia Barat ee bahwa perjanjian ini dan komunikasi ini tidak mengarah pada misalnya perubahan-perubahan ee dukungan dari China terhadap Iran. Yeah.

Komentar