Berita Terpopuler
Beranda / Berita Terpopuler / Pilihan Konflik Amerika Serikat & Iran: UEA Gatot Mengaajak Arab & Qatar Gabung Menyerang Iran, Taiwan Melawan Donald

Pilihan Konflik Amerika Serikat & Iran: UEA Gatot Mengaajak Arab & Qatar Gabung Menyerang Iran, Taiwan Melawan Donald

Uni Eber Arab dilaporkan gagal meyakinkan Arab Saudi dan Qatar untuk ikut menyerang Iran. Presiden Uni Emirat Arab Muhammad bin Zayed disebut gencar melakukan komunikasi intens dengan para pemimpin negara teluk. Salah satu tokoh yang diajak berdiskusi adalah putra mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman. Namun upaya Uni Emirat Arab dalam membujuk Arab Saudi dan Qatar menyerang Iran gagal. Sebuah putra mahkota Arab Saudi menolak bujukan Uni Emirat Arab untuk melakukan serangan terkoordinasi terhadap Iran. Laporan itu diterbitkan

oleh media internasional Bloomberg pada Jumat, 15 Mei waktu setempat. Uni Emirat Arab tidak berhasil menyatukan sikap militer bersama di negara teluk. Arab Saudi disebut lebih memilih berhati-hati dan cenderung mendukung upaya diplomasi. Sementara Uni Emirat Arab lebih memilih mengambil sikap yang agresif dalam menghadapi ancaman di kawasan. Taiwan mengabaikan peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan terang-terangan merekaskan statusnya sebagai negara merdeka. Kementerian Luar Negeri Taiwan

menyatakan bahwa negaranya merupakan negara demokrasi yang berdaulat dan merdeka. Taiwan juga menegaskan bahwa negaranya tidak tunduk pada Republik Rakyat Tiongkok. Adapun sebelumnya Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaan secara resmi. Peringatan keras itu disampaikan Trump setelah dirinya berkunjung ke Beijing bertemu dengan Presiden Cina, Si Chin Ping. Yang mana dalam pertemuan tersebut Si Chin Ping mengajak Trump untuk menghindari peran terkait konflik

Taiwan. Xi Jinping juga mendesak Amerika Serikat supaya nggak dukung kemerdekaan Taiwan. Setelah kunjungan itu, Trump bilang kalau dia nggak mau ada pihak yang merdeka. Trump juga bilang dia pengen Cina tenang. Beberapa jam setelah peringatan itu disampaikan, Taiwan membalas dengan menegaskan kalau negaranya memang merdeka. Tapi jaminan tahun 1982 yang diberikan Presiden Reagan bilang kalau Amerika Serikat nggak bakal konsultasi sama Cina soal penjualan senjata ke Taiwan.

Jadi kedengarannya kamu sudah konsultasi, ya? Tahun 1980 itu udah lama banget, jaraknya juga jauh, jadi udah nggak dipakai lagi. Nggak, aku nggak bilang apa-apa soal itu tapi pasti dia, kamu tahu, yang nulis itu. Dia jelas ngomongin itu ke aku. Jadi aku harus ngapain? Aku nggak mau ngomongin itu sama kamu karena aku punya kesepakatan yang ditandatangani tahun 1982. Nah, sekarang kita bahas soal penjualan senjata, terus permintaannya apa? Kita bahas Taiwan juga, kamu tahu, semua soal senjata itu sebenernya dibahas dengan detail banget.

Nih Wagub Rano Karno Melihat Kebakaran Habiskan Ratusan Rumah-Rumah di Kemayoran

Dan saya yang akan memutuskan. Tapi kamu tahu, menurut saya hal terakhir yang kita butuhkan sekarang adalah perang yang jaraknya 9.500 mil. Saya rasa kita nggak terlalu jago ngurusin hal itu. Apakah Amerika bakal bela Taiwan kalau perlu? Saya nggak mau bilang, dan juga nggak bisa bilang. Cuma satu orang yang tahu jawabannya. Kamu tahu siapa dia? Saya. Saya satu-satunya. Hari ini presiden nanya saya soal ini. Saya bilang, saya nggak tanya kamu bakal ngapain.

membuang semua barang-barang dari Cina sebelum menaiki pesawat. Sejumlah barang yang dibuang termasuk semua hadiah, lencana, barang elektronik hingga souvenir. Narasi itu diunggah oleh jurnalis koresponden New York Post untuk Gedung Putih Emily Godin melalui akun X miliknya pada Jumat 15 Mei. Dalam unggahannya, ia mengatakan bahwa semua barang yang diberikan pejabat Cina selama kunjungan kenegaraan dibuang oleh staf Amerika Serikat. Barang-barang tersebut dilarang memasuki pesawat Air Force One sebelum meninggalkan Beijing.

Tim pers Gedung Putih membenarkan laporan tersebut. Namun mereka mengklarifikasi terkait barang-barang yang dibuang itu. Tim Gedung Putih mengatakan bahwa barang-barang yang dibuang berupa kartu pers, ponsel sekali pakai yang dibagikan kepada staf gedung putih selama di Cina, serta PIN delegasi. Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Siinping terlihat ramah di depan kamera, ternyata hubungan tim pers dan tim keamanan kedua negara tersebut jauh lebih tegang. Dalam momen kunjungan

Trump di kuil surga, seorang pasang pres atau agen Secret Service dilarang memasuki area tersebut karena membawa senjata api. Padahal membawa senjata api merupakan prosedur standar di bawah protokol keamanan Presiden Amerika Serikat. Ketegangan juga sempat terjadi saat momen kedatangan Trump di China yang mana saat itu pejabat Cina melarang tim media Amerika Serikat untuk bergabung dengan iring-iringan mobil kepresidenan. Staf kepresidenan Amerika Serikat yang ikut bersama dengan rombongan pers akhirnya harus memaksa

menerobos penjagaan keamanan agar wartawan bisa lewat. Yeah.

Guru SMPN 111 Jakarta Senang dikunjungi Presiden Prabowo: “Anjay Mantap bangga!”

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *