Hal yang paling penting tanpa membicarakan soal Iran, mereka tidak boleh punya senjata nuklir. Saya nggak mikirin situasi keuangan Amerika. Saya nggak mikirin siapa pun. Saya cuma mikirin satu hal. Kamu nggak boleh biarin Iran punya senjata nuklir. Itu aja. 13 Mei 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akhirnya sampai di Beijing, China yang juga jadi kunjungan pertama presiden AS ke China sejak 2017 atau 9 tahun lalu. Sebagai info, kunjungan ini sempat ditunda karena perang Iran dan menandai kesediaan Trump.
datang langsung ke ibu kota China untuk bernegosiasi dengan Presiden Shinping. Bagi banyak pengamat, langkah ini mencerminkan jika AS lah yang butuh China atau tunduk. Dalam arti Trump rela meninggalkan Washington dan datang ke Beijing demi mencari kesepakatan ekonomi dan diplomatik di tengah tekanan domestik. Trump sendiri menyebut ia mengharapkan big fat haw dari Shinping. Ia bahkan membawa rombongan CEO besar seperti Elon Max Tesla dan Cook Apple untuk membahas kesepakatan bisnis konkret. Selain tentu saja pembahasan
soal Iran. Dan inilah update terbaru ketika semua mata dunia mengarah ke Beijing. Di mana dua kekuatan super power akan menentukan arah dunia ke depannya termasuk soal Iran. Di tengah perang Iran yang telah menjadi beban berat bagi Trump, Presiden AS tersebut terpaksa menyesuaikan prioritas diplomasinya. Konflik yang meletu sejak akhir Februari 2026 ini tidak hanya menimbulkan ketidakpastian geopolitik, tetapi juga tekanan ekonomi domestik yang semakin mendesak. Di AS sendiri, perang Iran telah mendorong harga bensin
naik signifikan mencapai level di atas 4 dolar per galon di banyak wilayah. Bahkan ada yang mencapai lebih dari 5 dolar per galonnya. Di mana jelas dampak ini dirasakan langsung oleh rakyat AS yang mengalami inflasi tertinggi. Terbaru, inflasi CPI AS naik ke level tertinggi dalam 3 tahun. di mana Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga konsumen atau CPI naik menjadi 3,8% melampaui perkiraan konsensus sebesar 3,7%. Ya, bagi para ekonom AS inflasi sedang meledak dan orang-orang di mana-mana sedang membayar
harganya. sama angka CPI mereka dan oh, angka CPI baru aja keluar di Amerika Serikat dan ini bakal bikin kamu kaget. Tapi aku punya datanya di sini. Lihat ini. 3% maaf, 3,8% per tahun di bulan April di Amerika Serikat. 3,8%. Ingat, mereka biasanya berusaha jaga apa yang disebut tingkat inflasi sekitar 2% per tahun, kan? Itu semacam angka ajaib. Jaga di sekitar 2% dan semuanya bakal oke. Nah, sekarang 3,8%, hampir dua kali lipat. Harga-harga jadi gila.
Ya, dalam situasi di mana Trump mendapatkan tekanan yang besar dari dalam negeri inilah Trump mau tak mau harus segera menjalankan pertemuan dengan China. Di mana pada 13 Mei 2026, Trump terbang ke Beijing untuk melakukan kunjungan kenegaraan pertama seorang Presiden AS ke China sejak 2017. Ya, ada beberapa alasan kenapa Trump harus ke China dan harus bisa mencapai kesepakatan bagus jika ia ingin menyelamatkan karir politiknya di dalam negeri. Pertama, mencari wins ekonomi di tengah krisis energi. Trump membutuhkan
komitmen pembelian besar dari China terhadap produk AS seperti kedelai, daging sapi, dan pesawat Boeing. Kesepakatan dagang ini bisa membantu meredakan tekanan inflasi dan memberi narasi sukses menjelang pemilu midterm. Dan untuk mendapatkannya, ia membawa rombongan CEO besar AS seperti Elon Musk, Tim Cook, dan lain-lain untuk ditawarkan pada China dan memberikan dorongan bisnis konkret. Kedua, meminta China membantu AS menghentikan Iran. Seperti kita tahu, China adalah pembeli minyak Iran terbesar. Trump ingin SHI
menggunakan pengaruhnya untuk membantu membuka Selat Hormus dan mendorong kesepakatan damai dengan Iran. Meski Trump bilang saya tidak butuh bantuan SHI gedung putih tetap menjadikan isu ini agenda utama karena AS kesulitan menyelesaikan konflik sendirian. Dan ketiga, Trump ingin stabilitas hubungan super power. Dalam hal ini, Trump berharap kedua negara bisa hindari eskalasi perang dagang baru di tengah krisis global. Karena kalau China memilih untuk melanjutkan perang dagang, hal itu akan semakin menghancurkan
ekonomi AS yang baru-baru ini mengalami inflasi hingga 3,8%. Padahal Angga Heaven atau surganya hanya 2%. I think more than anything else says we have relationship with the twoers. We’re the strongest nation on second. Menurut laporan V4, ada beberapa hal yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut yang mencakup isu trade atau deals bus Iran, Taiwan, teknologi atau AI, dan rare earth minerals. Dalam analisis disebutkan bahwa AS datang dengan posisi butuh wins cepat karena dampak perang Iran telah membuat inflasi
dengan harga minyak tinggi dengan China berada di posisi tawar lebih kuat. Prioritas China sendiri adalah stabilitas dan predictability tarif atau kemajuan soal Taiwan. Di mana China akan meminta AS kurangi penjualan senjata dan dukungan militer dan mengeluarkan pernyataan yang lebih netral soal Taiwan Independence. Selanjutnya, China juga ingin AS kurangi hambatan investasi China di wilayah AS dan hapus sanksi terhadap perusahaan China. Ya, sekali lagi China ingin gunakan pertemuan ini untuk proyeksikan diri sebagai super
power setara yang mengatur agenda sambil manage Trump. agar tidak terlalu agresif. Seluruh dunia memperhatikan pertemuan ini. Seperti headline CNBC dari Singapura sampai Brussels, seluruh pemimpin dunia memperhatikan pertemuan Trump dan Shei. Tentu ini bukan hal yang berlebihan. Jika mengingat ini bukan sekedar pertemuan bilateral biasa, melainkan salah satu pertemuan paling penting bagi stabilitas global saat ini. Sebagai info, AS dan China bersama menguasai lebih dari 40% ekonomi dunia, perdagangan global, rantai pasok
teknologi, dan pengaruh geopolitik. Keputusan mereka berdampak langsung ke hampir semua negara, termasuk Indonesia. Keputusan mereka berdampak langsung ke hampir semua negara, termasuk Indonesia. Dan pertemuan ini terjadi di tengah perang Iran yang mengganggu Selat Hormus jalur 20% minyak dunia sehingga hasilnya bisa menentukan apakah dunia masuk era stabilitas atau eskalasi lebih lanjut. Analisis dari CNBC, CSIS, CFR, dan Atlantic Council menyebut pertemuan ini sebagai risk management summit yang bisa
menentukan arah ekonomi global seperti harga minyak, inflasi, perdagangan, lalu mempengaruhi keamanan regional seperti di Taiwan dan Timur Tengah, serta mempengaruhi rantai pasok teknologi dan mineral kritis. Banyak penilaian menyebut jika gagal maka akan muncul resiko perang dagang baru, gangguan supply chain, dan ketegangan militer meningkat. Namun jika sukses meski kecil bisa meredakan tekanan dan memberi predictability. China di sisi Iran. China sendiri dipastikan akan tetap mempertahankan kepentingan Iran agar tak
dirugikan di pertemuan ini. Hal ini dikonfirmasi saat Menteri Luar Negeri Iran terbang ke China sebelum Trump tiba di summit kali ini. Sebagai info, China memang mendukung Iran. Dalam hal ekonomi, China adalah pembeli minyak Iran terbesar di mana sekitar 90% ekspor minyak Iran sebelum perang dikirim ke China. Meski ada sanksi dan blokade Selat Hormus, China juga tetap membeli minyak Iran melalui TPOT refineries dan menolak patuh sanksi AS. Beijing bahkan mengaktifkan anti sanctions law untuk melindungi perusahaan China yang
berbisnis dengan Iran. Sedangkan dalam hal diplomatik, dukungan China ke Iran meliputi mengusulkan four point peace plan yang didukung Iran, yakni penghormatan kedaulatan, penghentian permusuhan, dan lain-lain. China juga sempat memveto resolusi PBB yang mendukung AS atau Golf State soal Hormos dan secara rutin mengutuk serangan AS Israel terhadap Iran dan menekankan hak Iran membela diri. Sedangkan dalam hal militer, China memberikan komponen dual use untuk rudal, drone, propand Iran lalu memberikan bantuan intelijen atau
Satelit dan suplai suku cadang drone dan rudal sebelum dan selama perang. China ngasih dukungan komponen tertentu buat pembuatan rudal. Tapi aku nggak bisa bilang lebih dari itu. Apakah itu ganggu kamu? Aku sih nggak suka. Tapi aku pikir, kalau China mikirin kepentingannya, apa mereka beneran punya Iran? Ya, intinya secara strategis Iran itu mitra penting dalam poros perlawanan dan jalur Belt and Road buat China. Dukungan ini menyeimbangkan pengaruh AS di Timur.
Tengah. AS yang dipermalukan di Selat Hormos. Di tengah kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing, seorang analis terkemuka dari Amerika Serikat justru menilai bahwa bukan China, melainkan Amerika Serikat yang sedang dipermalukan di Selat Hormos. Gregory Pouling, direktur dan peneliti senior di Center of Strategic and International Studies atau CSIS, lembaga Think Tank berbasis di Washington DC memberikan pandangan tajam dalam wawancara dengan Aljazirah mengenai posisi Trump saat bertemu Shijin Ping. Ketika ditanya apakah Trump
akan menghadapi pertemuan tersebut dari posisi yang kuat, Gregory Polling menjawab tegas, “Saya rasa tidak. Menurutnya, hasil sengketa pandangan selama setahun terakhir telah membuat Beijing semakin percaya diri. China kini menyadari bahwa mereka memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Akibatnya, Beijing merasa tidak perlu memberikan konsesi struktural besar kepada Amerika Serikat. Selanjutnya ketika ditanya apakah China menginginkan kerja sama terkait Iran sebanyak yang diinginkan
AS, Poling bilang jelas jawabannya nggak. Dia nyimpulin dengan nunjukin kalau meskipun Beijing pengen jalur perairan itu dibuka lagi, tapi yang malu di selat itu bukan China, melainkan AS. Iya, AS emang malu karena nggak bisa buka Selat Hormos. Lihat aja jawaban Jenderal Pentagon waktu ditanya soal kenapa nggak bisa buka Selat Hormos sama parlemen AS. Jelasin ke rakyat Amerika gimana dengan investasi cepat yang udah kita lakuin di pertahanan nasional dan militer, gimana aku…
yang pernah diserang oleh kita masih mampu menghentikan lalu lintas di Selat MOS kita? Ya, tentu saja, ini situasi yang rumit di luar sana dengan banyak perahu kecil dan kemampuan lainnya. Hmm, saya pikir pertanyaannya adalah saat kita bicara soal anggaran militer yang nilainya triliunan dollar, kenapa anggaran yang sangat kecil malah menahan gerakan kita. Pada akhirnya dunia sekarang menahan napas. Di Beijing, dua raksasa dunia sedang menulis babak baru sejarah. Pertemuan
Trumsi bukan sekedar kunjungan kenegaraan biasa. Ini adalah momen di mana Amerika Serikat super power yang selama puluhan tahun mendominasi dunia harus datang ke kandang China untuk meminta kesepakatan dengan inflasi yang melonjak, harga minyak yang tak terkendali, dan Selat Hormos yang masih menjadi saksi permaluan militer AS. Trump datang bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai pemimpin yang tertekan. Ia membutuhkan wins, baik ekonomi maupun diplomatik untuk menyelamatkan citra dan karir politiknya
di dalam negeri. Sementara itu, Shin Ping berdiri tegar. China tidak datang sebagai pihak yang meminta. Beijing datang sebagai tuan rumah yang memegang banyak kartu. Pembeli minyak Iran terbesar, penguasa rare Earth, dan kekuatan ekonomi yang kini mampu menentukan arah stabilitas global. Dukungan China terhadap Iran baik ekonomi, diplomatik maupun teknis membuat SH memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat daripada yang diharapkan Washington. Gregory Polling dari CSIS sudah mengatakannya dengan gamblang.
Bukan China yang dipermalukan di Selat Hormos, melainkan Amerika Serikat. Apakah Trump akan pulang dengan big fat haw dan kesepakatan yang ia banggakan atau justru Shinping yang berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa China adalah super power baru yang tak lagi bisa didikte. Yap, sekarang semua mata tertuju ke Beijing. I will be the one that H Yeah.

Komentar