Rupiah terus melemah, angka pengangguran masih tinggi dan gelombang PHK belum berhenti. Di tengah kondisi ini, kunjungan pemerintah ke luar negeri untuk mencari investasi mulai dipertanyakan efektivitasnya. Ekonom sekaligus koordinator BPJS Watch Timboel Siregar menilai berbagai lawatan internasional pemerintah belum memberikan dampak nyata terhadap pembukaan lapangan kerja di Indonesia. Menurutnya, masyarakat berharap investasi yang dijanjikan bisa langsung menciptakan pekerjaan baru. Namun,
hasilnya belum terasa signifikan. Saat ini jumlah pengangguran terbuka mencapai sekitar 7,4 juta orang ditambah jutaan setengah penganggur yang masih mencari pekerjaan layak. Di sisi lain, gelombang PHK juga terus meningkat. Pada 2025, jumlah pekerja terkena PHK disebut mencapai sekitar 80.000 orang. Timel juga menyeroti tingginya kebutuhan dolar AS untuk perjalanan luar negeri di tengah rupiah yang sudah mendekati Rp17.900 per AS. Ia meminta perjalanan luar negeri lebih difokuskan pada agenda yang
benar-benar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sementara itu, pemerintah menegaskan keikut serta delegasi Indonesia di forum internasional tetap penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam isu ketenagakerjaan global. Kini publik menanti apakah lawatan luar negeri benar-benar mampu mendatangkan investasi dan membuka lapangan kerja di tengah tekanan ekonomi yang terus berlanjut. Keputusan bisnis terbaik datang dari [musik] data, bukan tebakan. Mudah berlangganan bisnis insight dengan subscribe with [musik] Google.
Download aplikasi kontan [musik] sekarang di App Store atau Play Store.

Komentar