Upaya membatasi kewenangan perang Presiden Donald Trump terhadap Iran gagal di DPR Amerika Serikat. Pemungutan suara berlangsung ketat. Hasilnya 213 anggota mendukung dan 214 menolak resolusi tersebut. Ini menunjukkan perbedaan tipis di antara anggota parlemen. Partai Demokrat terlihat semakin solid. Mereka menilai Presiden telah melampaui kewenangan konstitusionalnya. Beberapa anggota yang sebelumnya menolak kini berbalik mendukung. Dari Partai Republik hanya Thomas Mai yang mendukung resolusi. Sementara satu demokrat Jaret
Golden justru menolak. Ada juga anggota yang memilih tidak mengambil sikap. Sebagian lainnya bahkan tidak memberikan suara. Sehari sebelumnya resolusi serupa juga gagal di Senat Amerika Serikat. Situasi ini menegaskan kehati-hatian Partai Republik dalam membatasi kekuasaan Presiden terkait perang. Sementara itu, konflik dengan Iran masih berlangsung. Negosiasi gencatan senjata permanen kini sedang diupayakan setelah perundingan sebelumnya gagal. Ketegangan kembali meningkat di wilayah utara Palestina yang diduduki. Media Israel
melaporkan sekitar 15 roket diluncurkan dari Lebanon menuju Naharia dan Karmiel. Ledakan terdengar di Naharia disertai Siren peringatan saat beberapa roket dilaporkan jatuh di dalam kota. Media Isra menyebutkan adanya korban luka termasuk beberapa dalam kondisi serius. Sementara di Karmiel dilaporkan terdapat korban jiwa dan sejumlah warga terluka. Pemadaman listrik juga terjadi di beberapa area. Di saat yang sama, laporan menyebutkan roket dan drone melintas menuju wilayah tersebut. Sir terdengar di sejumlah pemukiman di
Galat. Situasi ini terjadi menjelang rencana gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Kenjatan senjata disebut akan mulai berlaku pada Jumat, 17 April 2026 tengah malam selama 10 hari. Seorang anggota Parlemen Lebanon menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan hasil upaya Iran. Amerika Serikat disebut akan menyampaikan keputusan ini kepada pihak Israel dan Lebanon. Namun, reaksi keras muncul dari pemukiman di wilayah utara. Mereka menyebut perjanjian ini sebagai bentuk pengkhianatan. Presiden Amerika Serikat
Donald Trump mengatakan bahwa Washington sangat dekat mencapai kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan ini terkait konflik yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya di gedung putih telah menegaskan tujuan utama kesepakatan ini adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut Iran telah menyetujui hampir semua poin penting. Tr mengklaim Teheran siap menyerahkan persediaan uranium yang telah diperkaya yang disebutnya sebagai debu nuklir. Namun ia tidak merinci bagaimana mekanisme kesepakatan
tersebut. Belum ada konfirmasi resmi dari Iran mengenai klaim Trump tersebut. Diketahui pengayaan uranium masih menjadi hambatan utama. Amerika Serikat mengusulkan penghentian program selama 20 tahun. Sementara Iran hanya bersedia menghentikan selama 5 tahun. Iran tetap bersi keras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, bukan untuk senjata mematikan. Saat ini negosiasi masih berlangsung untuk mencapai titik temu yang ditengahi oleh Pakistan. Trump juga membuka kemungkinan akan berkunjung ke Pakistan jika kesepakatan tercapai.
Muhsin Rizai, mantan komandan Garda Revolusi Iran buka suara soal rencana invasi darat Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa kemungkinan invasi darat Amerika Serikat justru menguntungkan bagi Iran. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormus setelah adanya blokade militer oleh Amerika Serikat di kawasan tersebut. Rezai juga mengejek Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia mengatakan Iran siap mengambil ribuan Sandra jika invasi benar-benar terjadi. Menurutnya, setiap Sandra bahkan bisa
menjadi nilai tawar besar bagi Teheran dengan harga mencapai miliaran per orang. Ia juga membantah klaim Amerika Serikat yang menyebut kekuatan laut Iran telah hancur sepenuhnya. Rezai mempertanyakan mengapa Amerika Serikat tidak berani menyeberangi Sulat Hormus. Dalam pernyataan yang sama, ia memperingatkan bahwa kapal perang Amerika Serikat berada dalam jangkauan rudal Iran. Situasi ini menambah ketegangan di kawasan strategis tersebut dan memicu kekhawatiran konflik yang lebih luas. Ini adalah Amerika sudah kalah. Kenapa
sudah kalah? Bayangkan sebuah negara super power tidak bisa mencapai tujuan perang. Yang pertama adalah menumbangkan rezim. Kan itu yang pertama. Gagal. Yang kedua, melumpuhkan kekuatan militer Iran seperti kata Trump dan Netanyahu. Itu pun gagal. Bahkan negara super power seperti Amerika tidak berani membuka paksa Selat Hormus. Kan negara super power kan artinya Amerika punya angkatan laut yang kuat. Ternyata mah enggak berani sendirian minta bantuan juga tidak dibantu oleh sekutunya. Terus kemudian juga ee Amerika ini juga mulai
ditinggalkan sekutunya. Jadi dalam perang ini kan ketika dia minta bantuan kepada negara-negara Eropa, NATO, ternyata mereka tidak mau membantu membantu Amerika membuka paksa Selat Kharmus. Nah, itu yang sangat apa yang menurut saya faktor bahwa Amerika bisa dikatakan kalah dalam perang ini. Karena dia kan statusnya sebagai negara super power di dunia. tidak bisa menumbangkan rezim dari sebuah negara yang sudah berusaha mereka lemahkan sejak 1979 melalui sanksi ekonomi dan militer. Nah, sebaliknya
Iran bisa dianggap menang dalam perang ini. Kenapa? Mampu meladeni keroyokan dua negara super power. Amerika adik kuasa di dunia, Israel adidaya di Timur Tengah. Itu kan buat negara seperti Iran mampu itu, itu adalah sebuah kemenangan. Bayangkan sudah 40 hari lebih mereka bisa bertahan. Terus yang kedua, Iran ini sekarang bisa dikatakan menang. Kenapa? [mendengus] Selama ini Amerika bisa mendikte negara-negara lain. Ini dalam konteks negara muslim ya. Negara muslim kita lihat ee masuk dalam dewan
perdamaian. Itu kan salah satu bentuk dikte Amerika untuk kepentingan Israel. Karena kan dewan perdamaian ini kan ee punya organ pasukan stabilasi stabilisasi internasional yang tujuannya melecuti senjata Hamas, melenyapkan semua kelompok pejuang di jalur Gaza. Nah, Iran tidak mau ikut dalam itu. Dan sekarang kita lihat Iran juga sedang mendikte Amerika. Jadi dengan menutup Selat Hormus akhirnya memaksa Trump mau tidak mau dia harus kalau buat saya sih ee sebutannya ya Trump kadang ser sedang mengemis. untuk gencatan senjata untuk
perang segera diakhiri. Karena kan tekanan di dalam negeri sudah kuat, harga minyak ee harga BBM bensin di Amerika sudah naik. Tadinya sekitar 2 dolar per galon. Sekarang sudah 4 sampai 5 dolar per galon. Itu kan sebuah tekanan buat RAM. Nah, terus selain itu juga tingkat kepuasan masyarakat setahu saya ya survei terakhir yang saya baca itu sekarang cuma 26% yang merasa puas terhadap kinerja Trump. He. Mereka tidak puas karena faktor ekonomi tadi. Terus perang Iran yang menurut mereka malah merugikan Amerika. Terus
survei dari Newsweek sendiri bilang bahwa 77% rakyat Amerika ingin kongres segera memecat RAM, menggelar sidang untuk melengserkan Trump, memberhentikan Trump. Terus survei dari Puis 60% orang dewasa di Amerika sudah tidak suka sama Israel. Jadi ee ini bedanya ketika perang yang dilancarkan Trump maupun Netanyahu terhadap Iran tidak mendapat dukungan rakyat. Itu tadi berdasarkan survei. Di Israel pun juga ada demo tiap hari. Sedangkan di Iran sebaliknya rakyat Iran turun ke jalan tapi bukan buat
menumbangkan rezim seperti hasutan Trump dan Netanyaho di hari pertama perang. Tapi dia mereka turun ke jalan untuk menyatakan kesedihan karena pemimpin mereka, petinggi-petinggi mereka pada terbunuh. terutama anak-anak SD perempuan pada meninggal karena di hari pertama. Selain itu mereka juga marah dan minta apa? Rezim yang berkuasa untuk membalas agresi Amerika maupun Israel. Jadi itu bedanya ee kalau di Iran mulai elit sampai elit satu suara dalam perang ini. Sedangkan Amerika maupun Israel hanya elitnya lah. Itu pun elitnya pun
terpecah di Amerika. Sejumlah roket dilaporkan ditembakkan dari Lebanon ke wilayah utara Israel pada Kamis 16 April 2026 malam. Target serangan meliputi kawasan Naharia dan Karmiel dengan sirine peringatan berbunyi di beberapa wilayah. Ledakan terdengar di sekitar Naharia dan beberapa roket dilaporkan jatuh di area pemukiman. Media setempat menyebutkan adanya korban luka termasuk beberapa dalam kondisi serius. Sementara di Karmiel serangan ini dilaporkan menimbulkan korban jiwa. Tim medis digerahkan untuk menangani para korban
di tengah gangguan listrik di sejumlah wilayah. Di waktu yang sama, laporan juga menyebut adanya roket dan drone yang melintas ke wilayah tersebut. Hal ini memicu kepanikan warga di Galilea Barat. Peristiwa ini terjadi menjelang rencana gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel yang disebut akan mulai berlaku tengah malam. Sejumlah pihak menyebut kesepakatan ini merupakan hasil upaya diplomasi termasuk peran Iran dan Amerika Serikat dalam mendorong penghentian konflik. Namun kesepakatan tersebut menuai reaksi keras
dari sebagian warga di wilayah utara Israel. Mereka menilai gencatan senjata sebagai bentuk pengkhianatan. Yeah.
Komentar