Kenapa virus campak ini meningkat angkanya? Nah, yang pertama tuh penanganan campak itu sedikit slowd atau mundur ya, karena tenaga kesehatan itu fokusnya penanganan COVID-19. Oh, jadi kalau bisa kita tarik mundur sih ya berarti ada efek ee penanganan kebijakan kesehatan waktu COVID ya. Betul. Selain tadi faktor apa namanya rendahnya cakupan vaksin dan lain sebagainya, itu juga ada tren ee mengenai dampak global dari penyebaran ee virus ini gitu, dari campak ini ada kierus dari luar negeri gitu. kita tidak bisa
kemudian serta-merta mengatakan bahwa merebaknya atau meluasnya e wabah campa ini karena faktor individu-individu atau komunitas yang anti vaksin. Bisa jadi karena temuan-temuan e kita tadi ya, Nilsin, bahwa misalnya dalam hal kebijakan vaksinasinya, apakah tadi datanya sudah benar atau belum? Kedua, ada enggak stoknya? Gimana? Ingat enggak? Kan sejak Prabowo menjadi presiden itu kan anggaran pemerintah daerah kan dipotong tuh dipotong-potong. da transfer da versinya beberapa epidemolog dan dokter-dokter anak itu
cerita bahwa tenaga atau penyuluh apa namanya vaksinasi di daerah itu apa semangatnya sudah berkurang lah. Bahaya banget dong. Tiba-tiba lupa. Gua aja lupa nih udah divaksin cak apa belum. Lu ingat enggak? Kalau gua yakin sin udah lu sembarangan lu kan harus tabayun ngecek dulu. Gua udah kok pokoknya. Halo, jumpa lagi dengan Bocor Alus Politik bareng gua Remondusrikang Daniel Ahmad Fajri, gua Husein Abri Dongoran. Bagi pemirsa bocor alus politik untuk mendukung jurnalisme yang berkualitas, terus berlangganan Tempo Plus.
Jangan baca dan sebarkan konten bajakan karena ada hak ciptanya. Oke. Pek yang panjang si panjang. Panas atau adem? Panas dan adem. Dan ini sudah adem lah ya. Sudah dingin. Iya. Moga-moga sudah dingin gitu kan. Dan yang mau kita bahas ini juga ya sangat penting saya kira bagi ee orang tua ya Sin ya terutama mereka yang memiliki anak-anak gitu. Karena sekitar 1 bulan atau 2 pekan terakhir ini he ee wabah yang mau kita bahas ini mengkhawatirkan orang tua di banyak provinsi, di 14 provinsi. Kalau sangat mengkhawatirkan
dari Kementerian Kesehatan dan tentunya, Kang ya yang kita akan bahas hari ini itu jangan dijadikan pengalihan isu oleh pejabat pemerintah. Iya. Ya. Ya. Ya. So, kita pekan ini mau membahas soal wabah campak. P Pak Bampa hari ini tadi gua sudah ee cek juga ya e data Kementerian Kesehatan ee terakhir itu sudah ditetapkan sekitar 58 kurang lebih ya kejadian luar biasa yang tersebar di 14 provinsi gitu kan dan data ee suspek dan juga yang terkonfirmasi positif berapa yang lu kumpulin sama Mas tahun lalu tuh sekitar 63.000
Wow. Oke. Plus ya kasusnya ya. Dan tahun ini tuh sekitar data yang lu lihat ini ya. Iya. Data dilihat ini ya. Kita biar enggak omon-omon. E jadi tahun ini itu sekitar sampai minggu keet7uh ya 2026 itu ada 10.000 plus dengan suspek konfirmasinya sekitar 8.000 dengan 4 orang meninggal. Orang meninggal. Orang meninggal. Oke. Dan ini kan sangat mengkhawatirkan ya, yang mana udah tahun 2026 gitu kan, kok masih ada yang meninggal karena campak begitu. Apalagi di 2025 banyak banget tuh yang meninggal tuh.
Iya. Dan banyak orang misalnya ada menganggap tentu saja kok ee empat orang dianggap sesuatu hal yang ee luar biasa gitu. Tapi bagaimanapun juga satu nyawa pun ee gua gua kira ya Sin ya ini sangat berarti gitu kan karena menunjukkan bagaimana satu tentu saja sistem ee pelayanan kesehatan yang dibangun oleh pemerintah ya kan. Terus kemudian yang kedua, bagaimana sih pemerintah mengkomunikasikan i kan ee wabah ini bahayanya dan juga bagaimana mitigasinya, imunisasinya kepada masyarakat ya kan. Dengan
masyarakat misalnya nanti mau vaksin, imunisasi menunjukkan bagaimana ee masyarakat itu percaya atau tidak dengan ee pemerintah gitu kan. Jadiul ee angka ini jangan kemudian berhenti atau ee dianggap sebagai statistik belaka sepertiul MBG ya 0,00 enggak boleh begitu soalnya anak kecil bisa dibilang anak Anda enggak berdosa ya kan enggak tahu virusnya ada seperti apa tiba-tiba karena telat diimunisasi atau kena virus meninggal dunia begitu secara tren kan itu kenaikan itu terjadi tahun kemarin ya seperti yang lu cerita
benar benar benar benar Tapi kalau dari ee hasil wawancara kita dengan beberapa narasumber itu ee tren kenaikan itu muncul ee sekitar ee bulan Agustus ee dan akhir tahun, Kang. Iya. Jadi ee saat misalnya anak-anak sedang berlibur gitu kan, ada mobilitas ee dari luar kota ke pusat kota dan lain sebagainya itu berpengaruh ee terhadap penyebaran campak di apa di daerah-daerah termasuk di ibu kota juga. Iya. I. Nah, Nil, Kang ini gua juga ngobrol sama beberapa epidomolog termasuk dokter anak dan orang-orang
teman-teman di Komisi 9 DPR yang kesehatan ya kesehatan begitu ya. Dia mereka mengklaserisasi nih penyebab-penyebab apa namanya kenapa virus campak ini meningkat angkanya. Nah, yang pertama tuh penanganan campak itu sedikit slowd atau mundur ya karena tenaga kesehatan itu fokusnya penanganan COVID-19. Oh, jadi kalau bisa kita tarik mundur si berarti ada efek ee penanganan kebijakan kesehatan waktu Covid ya. Betul. Betul. Jadi kan 2021 ya kalau enggak salah Covid Covid itu akhirnya orang-orang kan fokusnya COVID
COVID COVID COVID kan dan pada akhirnya anak-anak yang mau dilakukan imunisasi campak itu ya terabaikan sementara istilahnya seperti itu. Lalu yang kedua sistem vaksinasinya itu yang rutin yang lemah ini apa nam nyambung juga tadi yang pertama. Lalu yang ketiga adalah informasi yang salah soal dampak campak ataupun KIPI ya. efek campak misalkan disuntik nih efeknya apa segala macam dan narasinya itu kalah oleh orang-orang yang tidak percaya campak begitu Kang. Iya. Atau vaksin atau virus ya. Tidak percaya pada vaksin
atau virus. Betul. Betul. Apalagi kan pernah menjadi itu kan menjadi materi kampanye kan ya. Sret ya. Ya. Ya. Ya. Nah, gerakan anti vaksin ini memang ee tidak bisa kita kesampingkan juga ya sini ya. meskipun ee ee tidak besar gitu, tetapi ee ada gitu komunitas-komunitas ee individu gitu kan. Bahkan kenapa ini menjadi semacam ee ee terlihat atau teridentifikasi? Karena dalam beberapa ee liputan kita gitu ketika kita menulis soal wabah Campak ini ada penjelasan ya dari narasumber-narasumber kita. Mereka
mengatakan bahwa ini kelompok-kelompok yang anti vaksin ini mereka mengonsumsi informasi dari misalnya grup WhatsApp itu broadcast-broadcast ya yang kadang atau seringki tidak disertai dengan narasumber atau informasi yang jelas kredibel dari mana apakah ini riset jurnal atau sekedar ee apa pengetahuan umum yang tidak valid misalnya dari YouTube ya konten-konten itu dari trad-amlah ee informasi-informasi yang kemudian dengan mudah disebar-sebar. kan di ee handphone kita dan kemakan tuh oleh orang tua-orang tua sehingga mereka
ya udah deh daripada ee gua khawatir seperti yang ee gua baca di media sosial ini gua memilih untuk tidak ee memvaksinasi ee anak gitu. Iya. Jadi memang kalau apa kita lihat meskipun kasus atau trennya naik ya nil e sin eh mungkin ee pertama 2026 ataupun lu tadi sebutnya 2025 tapi sebenarnya kalau kita ee wawancara dan diskusi dengan para pakar kesehatan epidomolog ya kan dokter-dokter anak mereka mengatakan bahwa ada efek yang sebenarnya yang kita rasakan hari ini yang terjadi pada hari ini itu
ee bermula dari cara kita dulu merespons COVID itu kan. Jadi tadi seperti lu ee bilang Senin bahwa ada faktor vaksinasi ya kan dan juga ee bagaimana tren atau kecenderungan dan fenomena kalau gua sebutnya ee apa komunitas-komunitas atau kelompok-kelompok individu yang masih ragu dengan ee imunisasi atau vaksinasi itu. Tapi berbicara soal tren ya, Kang ya. ee selain tadi faktor apa namanya rendahnya cakupan vaksin dan lain sebagainya itu juga ada tren ee mengenai dampak global dari penyebaran ee virus ini gitu dari
campak ini. Jadi ee para epidemiolog dan Kementerian Kesehatan ya sudah mengidentifikasi ada kier gitu, ada pembawa ee virus dari luar negeri gitu. He. Dan ee tren di beberapa negara juga ada peningkatan salah satunya di Jepang terakhir ya yang menentukan ada lebih dari 200 ee kasus di negaranya gitu. He. Jadi ini tidak lepas dari tren global ya, tren kejadian ee wabah campak tidak hanya di Indonesia sebenarnya, tetapi di ee negara-negara ee tertentu juga mengalami tren kenaikan yang sama. Dan ngomong-ngomong soal vaksin di sini
ya, salah satu penyebab ee merebaknya lagi ee wabah campak itu ee kita sempat riset juga bagaimana ee UNICEF jadi badan PBB yang ee menangani soal isu-isu anak ya kan termasuk di situ adalah kesehatan ee anak mereka sempat melakukan ee riset yang cukup serius tahun 2023 meskipun agak lama 3 tahun lalu tapi ini menunjukkan bagaimana sebenarnya angka kepercayaan ee terhadap ee vaksin itu ee mengalami penurunan secara global ini iya secara global ee di seluruh dunia gitu setelah adanya vaksinasi ee ee
pandemi Covid itu tadi gitu. Jadi ini tidak hanya terjadi di Indonesia sebenarnya, tapi secara global lagi-lagi seperti wabah campak yang ee 1 tahun ee terakhir ini terjadi ee tren terhadap atau kepercayaan ee orang tua terhadap ee apa kemanjuran ee vaksin dan bagaimana efeknya dalam memitigasi dan menangkal ee penyebaran virus atau membentuk heart immunity itu menjadi ee menurun karena pada waktu pandemi COVID itu kita juga tidak kurang-kurang tuh diserbu atau di ee apa ya di ee jejali dengan berbagai
informasi yang sebenarnya itu mengandung hoa atau muatan disinformasi soal vaksin itu. Betul. Dan ini juga terjadi di Sumenep ya. Sumenep itu di Madura kan. Nah, kalau teman-teman ingat kasus di Sumenep itu kan terjadi mulai dari meledaknya tuh ya di akhir pertengahan tahun sampai akhir tahun ya dan kasus di Indonesia ya sumen gitu kan dan itu ada sekitar 20 anak yang meninggal dunia dan kita juga sudah menugaskan wartawan ya untuk ngecek ee apa namanya soal kita di Madura kan dia bilang beberapa faktornya
itu adalah masyarakat di sana masih kurang percaya vaksin. Oke. Jadi khawatir juga anaknya itu bisa sakitnya lebih parah kalau misalkan divaksin. Jadi dia bilang adalah edukasinya di sini payah, Mas. Begitu kan. Kenapa ya tadi? Karena orang tua itu enggak percaya anaknya divaksin itu apakah bisa sembuh atau bisa mengatasi virus yang berkembang gitu. Sebagai daerah yang ee cukup parah ya terdata e sebagai ee wilayah yang ya sempat di KLB. KLB kan betul kan? Sempat ditetapkan sebagai kejadian luar biasa di di
Sumenep itu. Ee progresnya sudah sampai mana Sin? Apakah ee masih ditemukan beberapa kasus meskipun tidak setinggi e beberapa pekan lalu gitu atau ee mereka sudah masih spike tuh ee kasus-kasusnya. Oke. Jadi setelah ditetapkan KLB ya jadi sangat gencar tuh di Sumenep melakukan imunisasi. Oke. Nakes dan pemdanya ya. Nakes dan pemdanya tujuannya adalah biar anak-anak mendapatkan antibodi lah ya. Kalau misalkan apa namanya ada virus campak dan itu kan suntiknya harus dua kali kalau campak 9 bulan dan seterusnya
begitu kan. Dan ee setelah hasil wawancara status KLB-nya itu dicabut di Sumenep karena angka imunisasinya itu diklaim meningkat sampai sekitar di atas 90% begitu. Tetapi ya ini kan kasus sumenep. Setelah itu gua ngobrol lagi sama epidemolog, banyak enggak sih kasus-kasus yang terjadi serupa di kota-kota atau kabupaten yang lain begitu yang mungkin tidak terpotret sama apa namanya sama data-data Dinkes. Dia bilang pasti ada, Mas. Saya bilang karena kan anak-anak kecil segala macam yang enggak mau divaksin kan apakah
melapor dia kena campak atau tidak begitu kan Kang dan faktanya sampai saat ini kan masih ada beberapa provinsi maupun daerah yang ditetapkan sebagai KLB gitu. He gua juga dengar itu informasi yang sama yang kayak Hus. Jadi beberapa daerah yang ee terpencil gitu ya, salah satunya juga yang terdampak oleh bencana gitu ya, Kang ya. Ee mereka tidak apa mendapatkan ee vaksin gitu mengenai campak ini gitu. Jadi ee kemarin ada kepala dinas yang cerita tuh tingkat provinsi atau kabupaten? Kepala dinas
tingkat provinsi. Ya, jadi di daerah-daerah itu kan membutuhkan semacam kulkas untuk ee penyimpanan vaksin. Saat ee ada bencana itu kan ee kantong-kantong logistik itu juga otomatis ee rusak lah ya. I tidak optimal ya. Listrik juga untuk apa menjaga agar kulkas atau apa pendingin itu tetap berfungsi juga kesulitan. tantangan tersendiri bagi daerah bencana itu kan seperti persis selain daerah-daerah yang terdapat bencana sebenarnya beberapa provinsi juga sudah ee apa namanya ditetapkan sebagai KLB ya apa beberapa
daerahnya misalnya di Jawa Barat juga ya sen ya di Jawa Tengah ee dan ee kemarin juga ee gua sudah nurunin koresponden tuh Kang ee Sumatera Selatan mereka sudah menetapkan empat daerah tuh ee menjadi ee kejadian luar biasa KLB Capak ini salah satunya ibu kota ee Sumatera Selatan yaitu Palembang. I. Nah, di Palembang ini juga sebenarnya penyebabnya e mirip-miriplah dengan nasional ya, mengenai cakupan vaksinasi gitu. Jadi daerah apa orang-orang ee di Palembang ini belum sepenuhnya juga memahami ee
urgensi atau apa pentingnya vaksinasi ini. Memang ini vaksinasi bukan jaminan ya bahwa mereka tidak akan terkena campak, tapi minimal mereka ee punya antibodi punya antibodi dan maksudnya ee penyakitnya tidak terlalu parah lah kena ke mereka gitu. Nah, kita sudah cerita daerah lu tadi bilangan si terus kemudian Palembang dan juga beberapa daerah-daerah yang baru saja ee recovery dari bencana. Bagaimana dengan Jakarta ini pusat pemerintahan gitu kan yang asumsinya adalah wabah Campak ini ee bisa jadi lebih
cepat ditangani, vaksinasi lebih mudah di ee optimalkan begitu. Nah, temuan lu gimana tuh, Nil, dalam hal ee di Jakarta ini? Ya, kemarin gua sudah wawancarai Kepala Dinas e Kesehatan e DKI Jakarta ya. Dia juga cerita tuh ada e kenaikan secara signifikan setelah COVID ya, tepatnya tahun 2023. Jadi ya ee karena di waktu COVID ee apa vaksinasi itu sempat tertahan, jadi ada apa lonjakan kasus yang cukup ee tinggi gitu. Sampai pada awal tahun ini ee juga ada kenaikan secara ee lumayan signifikan ya, Kang ya. Meskipun tidak
ada kasus yang terkonfirmasi. He suspek di Jakarta itu hampir e 2000an lah ya lumayan 2000 besarah itu banyak. Jadi ee salah satu daerah yang apa ee case-nya suspek ee tinggi ya tinggi itu adalah Tambora. Tadi gua sudah ngecek langsung juga tuh. Iya ee wawancara dengan kepala puskesmasnya lah ya. Dia cerita juga bahwa memang ee vaksinasi ini masih menjadi tantangan lah ya ee apa petugas-petugas kesehatan di daerah. He. Salah satunya akses kalau di Jakarta itu karena akses gimana? Maksud gua kalau ee
membayangkan akses tuh kayak dari satu tempat ke tempat lain 3 jam membutuhkan lemari pendingin yang terus beroperasi. Nah, Jakarta kan semua jalur sudah terhubung ya. Akses dalam artian ee tenaga kesehatan ini sulit ya untuk menggapai ee orang-orang atau warga yang ingin divaksin gitu. mau divaksin ya. Yang mau divaksin. Jadi mereka ee data-datanya ada, tapi ee orang-orang yang ada di sekitar ee daerah-daerah Jakarta ini ee sering pindah-pindah. Oh, di Tambora. Pindah-pindah. Salah satunya di Tambora kan ee cakupan
vaksin di Jakarta itu lebih dari 100%. Ee tetapi itu dia masalahnya banyak ee warga yang pindah-pindah tuh, Kang. Jakarta juga kan jadi salah satu apa pusat ee mobilitas ee warga ya. Ada yang dari apa pinggiran kota Jakarta sering datang bekerja dan lain sebagainya. He Tambora pun sama kasus yang tertinggi itu dia kan ee menjadi salah satu kelurahan yang dekat dengan ee pelabuhan pelabuhan juga apa fasilitas transportasi g transportasi seperti apa stasiun kereta api dan apa banyak orang yang bekerja lalu
lalang di daerah situ gitu. He. Dan ngomong-ngomong soal ee data cakupan imunisasi atau vaksinasi itu gue jadi teringat ee dalam du 3 tahun ee kita meliput pandemi Covid. Oh iya, itu persoalan yang enggak terselesaikan. Betul. Dan berulang gitu. Contohnya soal apa? Soal data misalnya kan kita sudah pernah menulis bagaimana sebenarnya data ini menjadi salah satu poin yang krusial dalam menangani ee pandemi pada waktu itu COVID. Begituun juga seperti sekarang ee wabah campak. Jadi ketika ada kasus ee di suatu daerah e
cas-nya berapa gitu kan. Nah, itu mesti dilaporkan secara real time secara apa namanya? terpantau secara ee rutin sehingga persoalan atau pekerjaan distribusi vaksin atau misalnya pengobatan itu betul-betul bisa ee terdeliver dengan ee baik gitu loh. Kalau misalnya datanya keliru misalnya nih kasusnya 10 dilaporkan tapi ternyata di lapangan itu 100 kan masa mengirim vaksin cuma 10. Bagaimana dengan orang yang terkonfirmasi atau ee 90 lainnya misalnya begitu. Jadi data ini menjadi salah satu poin penting dalam penanganan
e pandemi. Betul. Betul. Dan ini gua ada cerita juga nih, Kang, soal campak masalah data lagi ya. Jadi ee hari Senin yang lalu kan gua wawancara Pandi Riono ya. Dia itu salah satu epidemolog dari Universitas Indonesia dan dia ikut dalam beberapa kali rapat bersama Kementerian Kesehatan. Jadi di awal April itu ada rapat evaluasi yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama para jajarannya begitu ya. Nah, yang paling menjadi isu itulah soal data. Tiba-tiba di apa namanya biasa kan kalau rapat
dipaparin data segala macam slide ya soal angka imunisasi terhadap anak supaya bisa menekan campak begitu ya. tiba-tiba Kota Depok begitu ya di tercatatnya itu lebih dari 100% lah. Nah, kemudian Pandu kan sebagai epidemologi itu kan pasti mempertanyakan. Dia bilang kan kalau 30%-nya sudah bagus, 50% itu justru sangat dipertanyakan apalagi 100% dia bilang makanya men-challenge segala macam dan akhirnya dibukalah. Ternyata tuh dari beberapa kelurahan aja tapi dicatatnya atau diklaimnya tuh lebih dari 100%. Oke.
Nah, menurut Pandor e Menteri Kesehatan itu agak marah diberikan data itu data yang bisa dibilang salah atau keliruang kurang valid begitu kan. Dan memang setelah kasus campak ini meningkat dari akhir tahun itu kan Kemenkes juga beberapa kali melakukan konferensi pers beberapa kali melakukan rapat ya dan target mereka atau cara mereka adalah untuk menekan angka campak itu adalah memperbanyak atau menggalakkan imunisasi di vaksinasi itu di sejumlah daerah tentunya targetnya adalah anak-anak dan belakangan
tenaga kesehatan begitu. Oke. Dan sebenarnya ini disklaimer juga bahwa dengan ee kita menemukan apa vaksinasi, persoalan vaksinasi, data dan lain sebagainya, kita tidak bisa kemudian serta-merta mengatakan bahwa merebaknya atau meluasnya ee wabah campa ini karena faktor individu-individu atau komunitas yang antivaksin itu ya mungkin bolehlah kita anggap ada gitu dalam arti memang fenomenanya ada tetapi bukan semata-mata Karena itu wabah ini ter ee tersebar luas. Bisa jadi karena temuan-temuan ee
kita tadi ya, Nilsin, bahwa misalnya dalam hal kebijakan vaksinasinya, apakah tadi datanya sudah benar atau belum, kedua ada enggak stoknya gitu kan. Misalnya di di Palembang itu juga e koresponden kita ya, Nil ee mendapatkan cerita bagaimana di sana itu vaksinasi juga belum terlalu optimal. Gimana tuh, Nil? Ceritain. Iya, di Sumatera Selatan di Palembang itu tadi ya yang Iya. dari Palembang yang lu bilang tadi ya, penyebab kenaikan itu ya cakupan vaksinasi yang rendah ya, Kang ya. Ee di sana memang ee banyak
kantung-kantung yang tidak terreach out gitu oleh apa tenaga-tenaga kesehatan yang di sana. Dan ee gua juga dapat informasi juga ya dari koresponden kita di sana bahwa ada sekitar empat kota kabupaten di Sumatera Selatan itu yang sudah ditetapkan sebagai wilayah ee dengan kejadian luar biasa gitu kan. Jadi memang perlu dioptimalkan tuh vaksinasi itu. Iya. Persis seperti yang bilang tadi ya. Jadi itu ee ada multifaktor lah. Salah satunya tadi permasalahan data itu ee ya Kementerian Kesehatan dan Dinas
Kesehatan ee pasti punya itu ya real time-nya ya. Mereka punya sistem tersendiri. Salah satu contohnya yang di Jakarta juga lah. Hm. Misalnya gimana itu? Di Jakarta itu mereka punya data-datanya, Kang. Jadi siapa aja yang mau vaksin dan siapa yang tidak gitu. Tetapi tantangannya saat misalnya orang tua mau vaksin, mereka tidak punya ee misalnya ibu ibu yang pengin anaknya vaksin itu mereka tidak punya otoritas. Ee jadi secara tradisional mereka harus izin dulu ke suaminya. Nah, cara anak kita boleh enggak divaksin gitu
kira-kira ya? Iya. Kira-kira seperti itulah. Boleh enggak gitu? Nah, itu kan tetap harus dapat izin dari ayahnya kan. Iya. Nah, itu ee Dinas Kesehatan mengidentifikasi tuh masalahnya. ada mereka artinya Dinkes itu ee menemukan fenomena bahwa ibu dan anak sebenarnya ingin divaksin tapi mesti persetujuan ayah ya suaminya. Salah satu untuk mengatasi itu mereka ee apa menggandeng ee ee ulama-ulama yang ada di kampung-kampung itu ya. Oh. Supaya mau divaksin. Supaya mau divaksin. Salah satunya menyelipkan di ceramah-ceramah juga. Ada
juga ee seperti memberikan surat edaran lah bahwa vaksin ini halal. Kan salah satu problem atau apa keresahan di masyarakat itu bahwa vaksin ini halal atau tidak gitu. Selain yang tadi lu bilang ya S ya, selain efek samping terhadap apa si anak waktu setelah divaksinasi atau kita menyebutnya KIPI, kejadian ikutan pasca imunisasi. He. Nah, tadi kita bicara soal pelaksanaan vaksinasi yang tentu challenging gitu kan dan ada berbagai kendala yang dihadapi oleh ee daerah, Dinas Kesehatan Daerah. Lantas ee yang tidak kalah krusialnya
dalam konteks ee menentukan penyebaran ini adalah stokin. Stok vaksin kan. Karena bagaimanapun stok vaksin ini yang kemudian akan memastikan penanganan atau pencegahan mitigasi dan ee membangun imunitas itu berjalan lancar atau enggak? Kalau lu enggak ada vaksin, enggak ada. Oh, gimana gimana? Gimana? Nah, Kang. Gua mewawancarai Profesor Domunikus Susada. Dia itu salah satu pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia. Nah, dia cerita di tempat dia berpraktik atau punya klinik begitu sempat ada fase atau waktu
kesulitan mendapatkan imunisasi atau vaksin campak. Nah, kenapa dia bilang curiganya adalah memang stok vaksinnya itu enggak ada. Dia pun sempat me-request lah ke ke pemerintah apa namanya daerah dan pusat dan barang itu atau vaksin itu lambat sekali nyampai ke tempat kliniknya dia begitu. Oke. Jadi untuk restock dia perlu ee waktu lah ya. dia adalah kalau misalkan stoknya sudah sedikit ya ditambah lagi dong supaya angka vaksinasinya atau angka imunisasinya itu bisa baguslah atau meningkat begitu Kang. Dan ada lagi
cerita yang menarik Kang enggak kan sejak Prabowo menjadi presiden itu kan anggaran pemerintah daerah kan dipotong tuh dipotong-potong transfer daerah. Oke. Ep dan dokter-dokter anak itu cerita bahwa tenaga atau penyuluh apa namanya vaksinasi di daerah itu apa semangatnya sudah berkurang lah. Istilahnya adalah kalau misalkan mau ke tempat A B C D kan perlu transportasi atau perlu honor mobilitasnya tinggi. Nah, karena dipotong dan itu hilang honor maupun tadi untuk insentifnya hilang akhirnya ya sudah mereka pasif
atau bahkan tidak mau melakukan pekerjaannya ke rumah-rumah untuk imunisasi begitu. Ini problem yang cukup luar biasa besar sih, Kang. Menurut gua ini kan ee kembali berkaca pada penanganan COVID lagi-lagi ya, bahwa ketika terjadi wabah selain ada suspek ee dan juga ee pasien adalah ee tenaga kesehatan atau tenaga medis, nakes-nakes yang ee menangani dan melayani dan merawat ee pasien ini. Mereka adalah orang-orang yang rentan, beresiko untuk terpapar juga toh. Nah, mereka ini gimana nih ee dari
penelusuran kita? Apakah mereka mendapatkan satu pelayanan atau proteksi yang ee optimal gitu misalnya ee dengan vaksinasi juga atau gimana tuh? Iya. Jadi tenaga kesehatan ini kan jadi apa garda terdepan ya yang ee berisiko ee terpapar oleh Campak ini. Ee jadi ada satu kasus di Cianjur ee beberapa waktu lalu ee di mana tenaga kesehatan ini ee apa meninggal dunia. He ya versi Kementerian Kesehatan tenaga kesehatan ini ee positif ee campak. He. Imbas dari ee kematian tenaga kesehatan ini, Kementerian Kesehatan ee meminta
kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan mengeluarkan izin juga ee kepada ee orang dewasa bahwa orang dewasa itu harus mendapatkan ee vaksinasi campak juga. Karena seperti yang kita tahu kan ee vaksinasi campak ini sebelumnya hanya diizinkan untuk ee anak-anak ya. Ee jadi akhirnya BPO mengeluarkan izin juga vaksin e campak untuk orang dewasa. Oke, Yanil setelah keluar surat apa namanya izin edar dari BPOM untuk vaksinasi dewasa itu, Kemenkes juga mengeluarkan tuh surat edaran yang meminta setiap tenaga kesehatan itu
mendapatkan vaksinasi campak. Begitu. Jadi runtutannya begitu ada kasus e baru direspon, baru direspon begitu. Nah, gua ngecek tuh surat edaran itu ke ee beberapa daerah ya bahwa ada enggak sih sebenarnya ee pendataan ulang misalnya ke tenaga kesehatan bahwa mereka sudah divaksin campak atau belum gitu ya. Persis ya beberapa daerah itu ya belum ee mereka bersandar aja pada data bahwa oh si apa tenaga kesehatan ini sudah divaksinasi sejak kecil tapi data secara konkretnya ee belum terkumpul gitu ya.
FR belum dibuat begitu ya. Jadi baru hanya lisan saja pertanyaan itu ya. Iya. Pertanyaannya secara lisan saja. Bahaya banget dong. Tiba-tiba lupa gua aja lupa nih udah divaksin cak apa belum. Lu inget enggak? Kalau gua yakin sin udah lu sembarangan lu kan harus tabayun ngecek dulu. Enggak gua udah kok pokoknya. Oke. Tapi kan ee pasti dalam bergulirnya waktu pemerintah mengevaluasi hasil ya bagaimana kebijakan-kebijakan mereka soal ee penanganan wabah campak ini. Gimana? Apakah mereka sudah melakukan
itu atau mereka menunggu karena ya sudah landai nih sekarang atau masih di sudah beberapa daerah aja sudah biarin aja nanti hilang-hilang sendiri gitu ya. beberapa pejabat pemerintah yang gua temu ya cerita bahwa memang kekhawatiran angka campak itu tinggi adalah ketika libur atau ketika lebaran kan karena kan dari Jakarta misalkan ada kierah-daerah begitu ya itu khawatir. Tapi faktanya dari data yang mereka apa namanya tampilkan ke kita di Lebaran itu angka angka campak itu enggak melonjak justru cenderung stabil
begitu yang mereka khawatirkan tidak terjadi begitu dan apa namanya dan di 1 April 2026 itu ada rapat yang dipimpin oleh ee Menkes gitu ya yang sebelum dia pergi ke Eropa intinya adalah tren tren kasus itu cenderung menurun terus angka imunisasi itu meningkat begitu Jadi meskipun angka itu relatif positif, he pemerintah atau Kementerian Kesehatan itu tetap ingin agar angka imunisasi itu digenjot terus supaya virus campaknya ini tidak menyebar lebih luas begitu, Kang. Iya. Pemerintah juga ngeluarin semacam
kebijakan namanya ori, Kang. Apa itu? Outbreak respon immunization. Nah, jadi beberapa daerah yang ee ditetapkan sebagai KLB ee menjadi ee apa? Daerah yang menjadi prioritas gitu untuk mendapatkan vaksin atau imunisasi campak. He. Tetapi pada praktiknya mereka diberikannya secara bertahap gitu. Logistiknya ada, tapi ya itu balik lagi ke daerah-daerah prioritas yang ee terdampak oleh oleh campak itu sendiri. Oke. Nah, Kang sikap tempo melihat pemerintah menangani kasus campak ini seperti apa, Kang?
Jadi ee sikap kita tentu kita mesti merujuk dan belajarlah pada cara penanganan dan penanggulangan pandemi COVID. ee beberapa tahun yang lalu pandemi selama 2 t 4 tahun itu sebenarnya memberikan banyak pelajaran kepada kita semua sebagai masyarakat dan juga pemerintah sebagai pengambil kebijakan untuk merespon dan membuat berbagai kebijakan-kebijakan dan mitigasi ee untuk merespon e menyebarnya wabah ini. Dan yang kita belajar betul adalah bagaimana sebenarnya vaksinasi atau imunisasi itu menjadi salah satu
faktor kunci untuk menekan dan memitigasi penyebaran ee wabah ini. Jadi dari mulai rantai paso kemudian memastikan stok ya kan. Kemudian yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengkomunikasikan manfaat dari imunisasi atau vaksinasi itu menjadi sangat penting ya kan sehingga ketika pemerintah daerah pusat menghadapi komunitas-komunitas individu atau kampanye-kampanye antivaksin itu ya tidak dengan mudah kemudian tergulung atau ee dikalahkan oleh-gerakan atau opini sesat atau disinformasi itu.
Jangan pemerintah kemudian mengkambing hitamkan atau menunjuk bahwa wah wabah ini menyebar karena ada gerakan atau komunitas anti vaksin. Jangan. Karena pada prinsipnya dari pandemi COVID itu kita belajar kalau penanganan penyakit atau wabah itu bermula dari bagaimana kebijakan itu dibentuk dan bagaimana penanganan ee secara cepat yang betul-betul rapi dan disiplin. Itu oke saksikan terus bocor alus politik di YouTube tempo.co dan Spotify. Sampai jumpa. ya
Komentar