Saudara, Anda menyaksikan Kompas bisnis bersama saya Nanda Aprilia. Bank Indonesia melaporkan data cadangan devisa perakhir Mei 2026. Cadangan devisa kembali turun kini ke level terendah dalam hampir 2 tahun. BI mengumumkan cadangan devisa Indonesia untuk posisi Mei ada di 144,9 miliar dollar Amerika Serikat turun 1,3 miliar dolar atau setara Rp23,5 triliun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sepanjang tahun ini cadangan devisa terus menyusut setiap bulannya. Kini cadangan devisa tanah air sudah mencapai
titik terendah sejak Juni 2024 atau nyaris 2 tahun terakhir. Secara keseluruhan, Saudara, posisi cadangan devisa pada akhir Mei setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Dalam rilis resmi Bank Indonesia, Ramdan Deni Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengatakan, “Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta
penerimaan pajak dan juga jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik. Cadangan devisa RI menyusut 1,3 miliar dolar Amerika Serikat dibandingkan akhir April yang masih berada di 146,2 miliar dolar Amerika Serikat. Bahkan jika dibandingkan akhir Januari cadangan devisa menyusut 9,7 miliar dolar Amerika Serikat dengan kurs 18.000. artinya
setara dengan Rp174,6 triliun. Meski demikian, Bank Indonesia meyakini, Saudara, ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan juga imbal hasil investasi yang tetap menarik. Sementara data dari GISdor Bank Indonesia terpantau pada penutupan perdagangan Senin kemarin, rupiah melemah berada di level 18.171 per Amerika Serikat. Padahal pada Selasa
pekan lalu rupiah masih berada di angka 17.863 tertekan ke 17.931 keesokan harinya dan menembus level psikologis di atas 18.000 R000 per dolar Amerika Serikat pada 4 Juni 2026. Tak jauh berbeda dengan rupiah, IHSG juga terus rontok dalam 4 hari perdagangan tak henti berada di zona merah. Pada penutupan perdagangan Senin, IHSG ambles 4,52% ke level 5,5.342 dengan 661 saham terkoreksi, 78 naik, dan 78 saham lainnya pun stagnan. Sementara dalam sepekan terakhir ini IHSG terjun di 12,82%. [musik] [musik]
Saudara, kembali lagi di Kopas Bisnis berbicara resiko yang membayangi akibat cadangan devisa yang terus menyusut setiap bulannya. Bahkan kini sudah mencapai titik terendah sejak Juni 2024 atau nyaris 2 tahun terakhir. Kita bahas bersama dengan Kepala Ekonom Bank Permatang Yoshua Pardede yang sudah tergabung bersama kami melalui sambungan daring. Selamat pagi Mas Yosua. Apa kabar? Selamat pagi, Nanda. Kabar baik? Oke, kabar baik alhamdulillah Mas. Kalau kita berbicara mengenai cadangan devisa kembali menyusut. Kondisi ini
memperpanjang tren penurunan selama 5 bulan terakhir yang mencapai 11,57 miliar dolar Amerika Serikat. Sebenarnya BI sudah bilang posisi ini masih tergolong kuat. Tapi kalau dari sudut pandang Mas Yoshua melihat penyusutan cadangan devisa terus-terusan terjadi, apa resikonya Mas? Ya, kembali lagi kalau saya melihat memang ini penyusutan dari Charif ini kan memang sudah dari awal tahun ya eh hampir 11 bilion lebih, 11 miliar US dollar lebih dan ini tentunya ee kalau kita melihat memang ini belum bisa kita
simpulkan bahwa ini sebagai indikasi ataupun sinyal bahwa ketahanan eksternal kita ini sudah lemah gitu ya. Karena tadi juga sudah disampaikan bahwa dalam hal level ee dari sisi ee kondisi posisi carif kita ini kan sudah masih relatif kuat ya. sekalipun tadi disampaikan terendah dalam 2 tahun terakhir ini, tapi ee masih mampu untuk membiayai misalkan lebih dari 5 bulan impor dan juga pembayaran utang lagi pemerintah. Dan ini juga jauh di atas ee batas kecukupan internasional ya, 3 bulan impor. Namun memang masalahnya bukan
hanya seberapa cepat ee cadangan divisa itu turun, tapi juga yang mungkin harus kita concern adalah bagaimana apakah penurunan dari CADEV ini berhasil ataupun bisa menstabilkan rupiah ya. Karena jika kalau CADEV itu turun tapi rupiahnya masih melemah dan juga investor asing tetap tetap keluar ya khusi dari pasar saham dan juga pasar SB artinya memang pasar membacanya bahwa ee cost untuk mempertahankan stabilitas rupiah masih mahal. Artinya adalah kalau kita bisa tafsirkan adalah B ini semacam pemadam kebakarannya gitu ya. Artinya
kita perlu harus identifikasi sumber kebakarannya ini dari mana. Yang yang saya duga adalah bukan dari moneter gitu ya. sehingga kalaupun ee BI berupaya untuk memadamkan kebakaran ee apa dari koreksi di pasar saham dan juga obligasi dengan menstabilkan rupiah, tapi isu permasalahan utamanya tidak di tidak disolve ya, tidak di tidak di apa, tidak diselesaikan. Sepertinya ee apa namanya? penurunan cadang ini cadang devisa ini pun juga belum akan bisa ee apa menstabilkan dari sisi ee ataupun bisa meredam ee koreksi di pasar keluhan kita
dan juga bisa men apa meredam pelemahan rupiah ke depannya. Oke. Jadi penyusutan cadangan devisa ini mengartikan apa, Mas Yosua? Apakah ini bukti nyata sebenarnya Bank Indonesia sudah habis-habisan melakukan intervensi di Pasar Valas dan juga pasar SBN untuk bisa menjaga rupiah? Ya, kembali lagi ya, bahwa permasalahan intinya dari koreksi di pasar saham dan juga pasar obligasi ini tidak berkaitan dengan kebijakan moneter. Dan Bank Indonesia yang tadi sudah saya sampaikan bahwa sudah menggelontorkan cara divisa
lebih dari 11 miliar US Dar ini mengindikasikan bahwa Bank Indonesia ee sudah apa namanya? sudah all out ya dalam hal melakukan langkah-langkah stabilisasi di luar ee triple intervention-nya ya, di di dalam pasar SBN dan juga di pasar ee DNDF dan juga pasar spot dolar rupiahnya. Ee dan juga meningkatkan attraktifness dari pasar SRBI-nya. Karena kalau kita lihat di dalam di sepanjang tahun ini sampai dengan awal Juni ini sekalipun ini ee pasar SRBI yang masih ee tercatat mencatatkan inflow dari asing dan ini ee
menunjukkan kembali lagi bahwa ini menjadi salah satu upaya langkah-langkah yang yang di yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Artinya Bank Indonesia sudah melakukan segala macam upaya gitu ya. Tapi kembali lagi kalau kembali lagi pemerintah mesti harus melihat lagi apa sih sebenarnya penyebab ya keluarnya dana-dana asing dan ini harus disolve ya. Karena kalau tidak disolve permasalahan ee penyebab dari keluar dana-dana asing dari pasar keuangan kita, koreksi di pasar saham dan pasar obligasi ee ee apa kalaupun Bank
Indonesia sudah sudah cukup habis-habisan yang mengintervensi di pasar di di apa dengan menggelontorkan cadevnya ee kembali lagi ini tidak akan optimal ya untuk bisa menenangkan rupiah dan juga menstabilkan dari sisi pasar ke kita. Oke, saya tangkap pernyataan Anda ee Mas Yosua. pemerintah di sini menjadi PR ya sebenarnya untuk pemerintah untuk bisa mencari permasalahan investor keluar padahal BI ini sudah all out. Nah, yang menjadi perhatian banyak pihak sebenarnya kan bukan cuma seberapa besar
cadangan devisa kita saat ini, tapi juga laju penyusutannya. Nah, apakah Mas Joshua melihat laju penyusutan ini merupakan hal yang wajar atau normal atau memang kondisi ini mengartikan dalam tanda kutip kedaruratan nilai tukar rupiah? Iya. Kalau kita melihat bagaimana ee aliran modal asing keluar ya dari sejak awal tahun kan memang jelas sekali ya di pasar saham ee sampai sepanjang tahun ini misalkan hampir 3,56 miliar US Dollar. Lalu juga di pasar SBN ya memang sudah mulai terjadi outflow itu ee cukup
besar itu di bulan Maret ya di bulan Juni ini sudah mulai terjadi mulai inflows lagi tapi secara tahun kalender eh outflow sekitar 0,42 miliar US dolar. Jadi ee jelas sekali bahwa upaya-upaya ini ya tadi untuk bisa menenangkan ee pasar gitu ya dan juga dengan beberapa kebijakan yang mungkin beberapa belakangan ini digulirkan oleh pemerintah ya terkait dengan DH SDA lalu juga terkait dengan ee apa namanya badan ekspor satu pintu yang mungkin harus di di apa namanya di di apa dieksplorasi oleh pemerintah kira-kira apa sekalipun
memang ada koreksi kebijakan di dalamnya itu saya pikir sangat dimungkinkan gitu ya agar bisa membalikkan akan memulihkan lagi kepercayaan dari para investor gitu ya. Karena kembali lagi kalau itu tidak bisa disolve tentunya ee apa namanya kondisi seperti ini ee ee tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya gitu ya. Karena kebakaran ini masih akan tetap terjadi dan ee kecepatan penurunan dari Catif ini pun juga akan semakin ee apa tidak bisa terkelola dengan baik dan ini tentunya bukan sepenuhnya apa namanya ee
di yang bisa kita persalahkan terus Bank Indonesia. Karena kembali lagi permasalahan utamanya bukan dari Bank Indonesia. He. Oke. Berarti artinya ee saat ini adalah bagaimana pemerintah untuk bisa mencari akar permasalahan itu tadi ya. Tapi kalau kita katakan kita bertanya lagi mengenai posisi BI di sini Mas Josua, langkah apa lagi yang kira-kira bisa dilakukan BI dalam hal ini adalah untuk menstabilkan rupiah? Karena kalau kita lihat kemarin BI dengan menaikkan BI red tampaknya juga belum terlihat
ampuh. Apakah dengan menaikkan lagi suku bunga di periode bulan-bulan ke depannya ini menjadi hal yang relevan begitu yang akan diterapkan oleh BI ke depannya? Ya, tentu ruang-ruang untuk adanya kenaikan suku bunga itu memang tetap terbuka gitu ya. Namun kalau kita mencermati juga bagaimana ee koordinasi ataupun komunikasi yang sudah dibangun antara Gubernur Bank Indonesia dan juga Menteri Keuangan di akhir pekan lalu di hari Sabtu pagi di yang juga di di didukung oleh DPR ya di mana ee di sana disampaikan bahwa
Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa mengupayakan ya Bank Indonesia ada dua strateginya adalah bagaimana meningkatkan daya tarik imbal hasil untuk menarik kembali portfolio investment ya ini dengan mengingat tadi adanya harus keluar modal ya upflow ya dan ini akibat tadi kenaikan bunga di di luar negeri yang mempengaruhi saham dan juga SBM dan juga deposito bank dan ini ada kesepakatan dari fiskal monter di mana akan meningkatkan daya tarik imbal hasil ya agar tadi ee aliran modal asing ini kembali masuk dan ini sudah nyata di
mana imbal hasil ee SBN 10 tahun ee di perdagangan kemarin naik signifikan. Lalu yang kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan pengan kas per pemerintah dan juga pengelolaan operasi moneter. Di mana memang pemerintah mengelola kasnya untuk menjaga likuiditas dan sementara Bank Indonesia juga mengelola operasi monetari untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan juga disampaikan ditambah yang menjadi catatan penting adalah pengelolaan bunga yang dibayarkan oleh BI kepada pemerintah ini juga akan
diperhatikan untuk mendukung operasi monoter ini. Dan memang ini salah satunya adalah terkait dengan ee koordinasi ini akan terus diperkuat ya. termasuk juga tadi remunerasi penempatan ee apa namanya ee kas pemerintah di Bank Indonesia pun juga memang akan ee di di dinaikkan gitu ya sehingga tadi akan bisa ee meningkatkan juga ee untuk bisa Bank Indonesia bisa lebih fleksibel lagi untuk apa menjaga ee likuitas rupiahnya sehingga harapannya ini akan bisa mendukung ee upaya-upaya untuk bisa menjaga ee ataupun mendorong e penguatan
Oke. Oke. Em tadi menyabun dengan pernyata ee pernyataan dari Mas Yosua, BI bilang kan akan menaikkan imbal hasil alias rumunerasi ketika kemarin bertemu dengan DPR dan juga Menteri Keuangan. Tapi kalau Mas sendiri melihat apakah ini merupakan langkah yang win-win solution? Iya tentunya kalau kita melihat kan sebelumnya beberapa hari sebelumnya memang kurva imbal hasil SB kita kan eh inverted ya ataupun tidak well shaped gitu ya. di mana ee imbal hasil yang jangka pendek ini relatif lebih tinggi
dibandingkan yang jangka panjang. Tentunya ini mengindikasikan bahwa perekonomian sesuatu ee apa mengalami sesuatu kondisi yang tidak baik gitu ya. dan ini cerminan tadi ada ada kondisi yang krisis justru malah tidak bagus gitu buat perekonomian sehingga ini harus di apa namanya direspon kebijakan tersebut dengan ee dengan kebijakan tadi ya dengan ee meningkatkan remunerasi ee penempatan ee kas pemerintah di Bank Indonesia dan juga tadi dengan ee dengan mengoptimalkan juga ya operasi moner Bank Indonesia gitu ya sehingga
harapannya ini juga ee dan kemarin juga Bank Indonesia sudah apa ee merilis juga bagaimana ee dari sisi upaya-upaya Bank Indonesia ya dengan apa namanya kurva imbal hasil transaksi di pasar uangnya pun juga akan mulai di ee dipublikasikan secara harian gitu ya sehingga harapannya ini akan bisa meningkatkan lagi kepercayaan dari para investor gitu ya dan harapannya ee apa meskipun memang ini bukan solusi tunggal kembali lagi ya ini upaya-upaya yang diupayakan oleh bank Kementerian Keuangan dan juga
Kementerian Keuangan dan juga apa Bank Indonesia tapi kembali lagi ini harus ee di ditambah lagi dengan tadi kebijakan-kebijakan yang di mana tadi ee bisa ee menjawab ya ee apa keresahan ataupun ee apa ee ee kegelisahan dari para investor dan juga pelaku industri mungkin ee terkait dengan ee merespon kebijakan-kebijakan yang saat yang belakangan ini di digulirkan oleh pemerintah sehingga ini akan membost lagi ataupun memberikan ke apa eh confidence lagi kepada para investor dan juga pelaku industri. Oke, berbicara
soal kegelisahan investor saat ini kita berbicara soal SRBI. Ini juga tampaknya kurang dilirik oleh investor. Sebenarnya apa yang terjadi, Mas? Apakah memang belum optimal? Apa yang belum optimal di situ? Ee saya justru melihatnya sebaliknya ya, kalau kita melihat memang saat ini ee kemarin kan memang Bank Indonesia mengupayakan karena tadi terjadi outflow di pasar SB dan juga pasar saham. Oleh sebab itu, Bank Indonesia meningkatkan attracteness dari SRBI. Di mana kalau kita lihat dalam lelang SRBI dari
mungkin beberapa bulan terakhir ini trennya eh yield ataupun imbal hasil SRB 12 bulan itu terus mengalami peningkatan. Dan yang terakhir tanggal 29 Mei yang lalu ee imbal hasilnya sudah ee apa namanya? Sudah menyentuh 6 mendekati 7% ya 6,9% gitu ya. Dan ini kembali lagi mengindikasikan bagaimana ee untuk bisa menarik investasi asing, investor asing ini untuk masuk ke instrumen BI yang relatif memang janga pendek gitu ya. Meskipun tadi ya implikasi dampaknya tadi adalah ee imbal hasil SBN-nya jadinya ee apa namanya?
Jadinya kurang kurang well shape gitu ya. dan akhirnya inverted. Namun ee ee kalau tadi kalau tidak dilakukan langkah-langkah meningkatkan attractivess dari SRMB tentunya ini dampaknya pasti ee kepada rupiah. Mungkin saja rupiah akan bisa lebih melemah dari kondisi saat ini gitu ya. Sehingga makanya saya melihat bahwa ee apa namanya instrumen SRB ini juga menjadi salah satu ee instrumen yang dimaksimalkan, dioptimalkan oleh Bank Indonesia untuk juga bisa e apa menyerap ee investasi asing di tengah tadi
outflow dari pasar SB SR e SBN dan juga ee sahamnya. ee sehingga kalau saya lihat memang sampai dengan sajauh ini ee investor asing justru masih tetap ee masuk ya di pasar SRBI meskipun memang secara ee bulanannya ee sudah mulai agak sedikit menurun ya. Kalau kita lihat sampai dengan ee mungkin di bulan ini agak turun sekitar hampir 40 triliun di awal awal bulan ya. Tapi secara kuartal 2 tahun ini ee masih naik R8 triliun dan secara kalender sebenarnya naik juga kepemilikan ataupun ee apa kepemilikan
ee ses likuitas yang ditempatkan di SRBI itu di ee kenaikannya deltanya itu sekitar 209 triliun. Jadi makanya ini cukup meningkat, cukup signifikan. Hm. Oke. Tapi bagaimana dengan fenomena sel Indonesia, Mas Yoshua di kalangan investor global khususnya jika memang ekonomi kita kuat seperti apa yang disampaikan atau diklaim oleh pemerintah, mengapa hal ini terjadi? Apakah permasalahannya di krisis kepercayaan? Ya, kembali lagi ya kalau kita bicara ee mengapa ada seruan sel Indonesia dari salah satu analis ee aset manajemen
Australia gitu ya. Dan ini tentunya kan ee karena analis aset manajemen tersebut ataupun riset apa analisis itu kan tidak apa namanya tidak tentunya tidak ee sudah bisa membaca ya pernyataan-pernyataan ataupun komentar-komentar ataupun kebijakan-kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah gitu ya dan itu tentunya sudah akan mempengaruhi bagaimana kinerja dari sektor-sektor ekonomi yang terdampak gitu ya. Dan ini tentunya memberikan indikasi apakah itu memberikan misalkan berdampak negatif misalkan kepada fleksibilitas investor
asing ee memberikan dampak negatif fleksibilitas misalkan kepada eksportir kan itu mungkin saja di ee apa sangat dimungkinkan gitu ya. Sehingga reaksi-reaksi seperti itu dan juga mungkin ee masih e investor asing pun juga masih menunggu misalkan terkait dengan eh SNP rating SNP gitu ya. karena sebelumnya ee ee mudis dan FIT sudah menurunkan autocrating eh Indonesia dari stable menjadi negatif gitu ya. Sehingga dengan kondisi seperti ini dan kondisinya bahwa harga minyak masih trennya masih meningkat dan juga rupiah
masih lemah tentunya ini masih akan mempengaruhi juga ya kinerja dari sisi fiskalnya gitu ya. sehingga ini yang tentunya masih akan mempengaruhi bagaimana ee dan juga di luar itu ya bagaimana ee sekalipun memang sudah melakukan pemerintah sudah melakukan terus melakukan reformasi strukturalnya tapi mungkin persepsi yang dipersepsikan oleh para investor asing khususnyaun analis-analis di aset manajemen asing ini ee justru sebaliknya gitu ya artinya ada permasalahan komunikasi kebijakan yang dinilai ataupun itikat yang apa
dinilai itikat yang baik oleh pemerintah tapi ternyata belum dikomunikasikan belum dikonsikan secara baik kepada pihak luar ataupun pelaku industrinya dan juga investor asing dan juga mungkin ee apa namanya pelaksanaan ataupun ee ee pelaksanaan teknisnya ini juga belum dipersiapkan dengan matang gitu ya. Sehingga makanya ini pun juga akhirnya memberikan pertanyaan-pertanyaan besar juga kepada investor asing. Sehingga makanya ini yang harus dijelaskan secara gamblang dan secara transparan ya. Karena yang yang di yang di yang
diharapkan juga oleh investor asing adalah transparansi dan juga ee ee predictability dari kebijakan pemerintah ke depannya gitu ya. Karena karena perlu ada trust ya. Kalau misalkan pemerintah saja ee apa belum memberikan transparansi tentunya ee investor asing pun juga akhirnya mengurungkan ya trustnya kepada pemerintah Indonesia gitu. sehingga makanya ini yang harusnya ada jalan tengahnya gitu supaya kita bisa meningkatkan trustnya dari investor asing. Kita harus meningkatkan juga prediktibility kebijakan pemerintah dan
juga bagaimana meningkatkan transparansi dan juga koordinasi kebijakan antara kementerian lembaga dan juga komunikasinya diperkuat sehingga harapannya e trust itu akan kembali meningkat lagi. Oke, saya tangkap e semuanya, Mas Yosua. Poinnya mengenai cadangan devisa yang terus menyusut bahwa ini menjadi PR besar untuk pemerintah untuk bisa segera mencari akar permasalahan karena BI dinilai saat ini sudah all out dengan apa yang sudah dilakukan. Terima kasih Kepala Ekonom Bank Permata Yosua Pardede yang sudah
berbagi perspektifnya bersama kami di Kompas Bisnis pagi ini. Sehat selalu, Mas. Selamat pagi.

Komentar