Olahraga
Beranda / Olahraga / Trofi Hadir Sendiri! Oliver Glasner, Pembawaan Magis Buat Crystal Palace

Trofi Hadir Sendiri! Oliver Glasner, Pembawaan Magis Buat Crystal Palace

Siapa pelatih Eropa yang menjamin trofi? Kebanyakan orang pasti akan menjawab Carlo Ancelotti. Padahal Don Carlo toh tak meraih trofi saat menukangi tim medioker macam Everton. Publik sepak bola perlu memikirkan jawaban lain. Dan sejauh ini Oliver Glasner sosok yang tepat. Bayangkan ia pernah membawa tim macam Endra Frankfurt juara. [musik] Lalu saat sebagian besar masyarakat Indonesia sibuk bakar sate, pelatih yang satu ini sibuk mendulang prestasi. I Glasner membawa Crystal Palace. Sekali lagi, Crystal Palace, tim gurem yang

mungkin enggak ada fansnya di Indonesia menjuarai Liga Konferensi Eropa. [musik] Pertanyaannya, bagaimana Glasner melakukan itu dalam waktu bahkan kurang dari 3 tahun? [musik] Ketika CEO Crystal Palace Steve Paris bertemu Oliver Glasner akhir tahun 2023 lalu, ia mungkin tidak akan menyangka pertemuan itu akan mengubah sejarah klub. Ia bersama Doji Freeman, direktur olahraga saat itu jengah melihat situasi Crystal Pelace yang lagi-lagi [musik] targetnya cuma selamat dari degradasi. Paris dan Freedman menginginkan

perombakan besar. Mereka butuh manajer yang berpikiran maju dan memiliki kemampuan elit untuk mengubah skuad biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Kesuksesan membawa Entra Frankfurt menjuarai Liga Eropa mendorong Paris untuk memboyong Glasner ke Cellhur Park. Tidak ada tim Inggris lain yang seserius pelis dalam merekrut Glasner. Tottenham Hotsper sempat meminati Glasner tapi cuma masuk daftar pendek. Justru tim-tim dari luar Inggris macam Olimpic Long, Marse dan Alssyab yang giat membujuk Lasnar. Namun tawaran ketiganya

dienyahkan [musik] sang pelatih. Pelatih asal Austria itu justru tertarik untuk menangani Crystal Palace. Pertemuan dengan Steve [musik] Paris itu membuahkan hasil ketika The Eagles mengakhiri kontrak dengan Roy Hudson di pertengahan musim 2023-2024. [musik] Glasner masuk menggantikannya. Tapi situasi klub sedang kacau. Mereka terpuruk di posisi 15 usai kalah 10 dari 17 pertandingan. Melihat kondisi PES yang pesakitan, apa langkah Glasner? Muridnya Ralf Rangnik itu mulai mengenalkan [musik] strateginya. Di

hadapan pemain, ia bilang akan memainkan skema tiga bek entah [musik] 343 maupun 3421. Glasner tidak hanya menyuruh dan merombak strategi, tapi menanamkannya. Dengan cara apa? Dengan cara menyiapkan konsepnya. Tidak cuma kerangka permainan dan informasi, Glasner juga menyiapkan metode latihan. Metode latihannya disesuaikan untuk mendukung gaya main Glasner yang menitik beratkan pada intensitas tinggi, [musik] serangan balik agresif, dan transisi cepat. Glasner pun memberi kesan positif di laga debutnya. Menghadapi tim sekelas

Gabungan Seperti Ini Bisa Juara? Mulainya XI Timnas Belanda di Piala Internasional 2026

Burnley, Crystal Palace menang [musik] 3-0. Usai kemenangan itu, The Eagle sekian melejit. Strategi Glasner mengejutkan tim-tim [musik] besar tak terkecuali Liverpool. saat mengadu gegen pressing-nya dengan gegen pressing milik Juragan Club pada pekan ketiga-tig. Glasner menang lewat skor tipis 1-0. Strateginya juga ampuh untuk membantai Aston Villa dan Manchester [musik] United. Pelis terakhir kali kalah pada 6 April 2024. Setelah kekalahan dari Manchester City [musik] itu, Glasner membawa tim Unbeaten hingga akhir musim.

Glasner lalu menutup musim dengan membawa [musik] timnya finish di posisi 10. Pelatih 51 tahun itu mengulangi pencapaian Alan Perdu yang membawa Crystal Palace finish di posisi serupa pada musim 2014-15. Setelah musim yang mengejutkan, Glasner mempertahankan strategi dan gaya bermainnya di musim berikutnya. Musim 2024-2025 adalah musim penuh pertamanya di Cell Horse Park. Musim itu juga ditandai dengan datangnya pemain baru yang segar dan tentu saja mahal. The Eagles memboyong Eddie Netiah dari Arsenal.

Uang senilai 30 juta pound sterling dilaporkan menjadi maharnya. Selain itu, Peles merekrut Ismail Azar dari Marseille seharga 12,6 [musik] juta pound sterling. Daichi Kamada juga didatangkan dari Lazio. Namun untuk yang terakhir itu Peles tak mengeluarkan biaya transfer alias gratis lewat kehadiran pemain baru strategi Glasner Kian Matang. Sayangnya di akhir musim [musik] Crystal Palace mengalami penurunan dari segi peringkat. musim lalu finish di posisi 10. Tapi di musim ketika Liverpool juara bareng Arnes Lot,

Pelis finish [musik] di peringkat 12. Walau begitu banyak yang menilai Glasner masih konsisten. Bayangkan saja sekalipun finish lebih jelek dari musim lalu, tapi Glasner mencatatkan rekor 53 poin yang diperoleh musim itu adalah poin terbanyak yang pernah diraih Pelis selama berkompetisi di Premier [musik] League atau divisi teratas. Wow banget kan? Tapi ada yang lebih wow dari itu. Posisi liga memang buruk, tapi di kompetisi domestik lain macam Karabau Cup dan Piala FA, Crystal Palace lumayan menggila. Pes berhasil melaju ke

perempat final di Piala ditupas Arsenal yang jago. Lain di Piala Kebo, lain pula di Piala FA. Pelis yang memulai Piala FA dari ronde ketiga terus melaju hingga final. Mereka mengalahkan eh enggak ding membantai Aston Villa di semifinal lewat skor telak 3-0. Membantai Unai Emry sepertinya sudah menjadi hobi Glasner. Nah, di final Glasner berjumpa Pep Guardiola dan Manchester City-nya. Di atas kertas tentu City diunggulkan tapi apa ya? Sepak bola tidak pernah dimainkan di atas kertas sepanjang laga. Benar. City

Pasti Sulit TERTANDINGI?! Mulainya XI Prancis di Piala Internasional 2026

membbardir pertahanan Pelis. Menurut Fotmob, mereka melepas 23 tembakan. Enam di antaranya mengarah ke gawang Din Henderson. City juga mencatatkan 60 sentuhan di kotak pertahanan lawan. Tak Ayal expected goals-nya menyentuh 2,23. Nilai expected goal Crystal Palace bahkan cuma 0,74. Namun justru pelis yang mencetak gol lewat Eberik Eiz di menit 16. Gol itu menjadi satu-satunya yang lahir di laga tersebut. [musik] Peles pun menjuarai Piala FA untuk pertama kalinya. Ini sekaligus mengakhiri 120 tahun puasa

gelar. Sebuah prestasi yang juga mengangkat reputasi Oliver Glasnar. Alah, cuma kebetulan aja. Begitu kata mereka yang meremehkan [musik] tim macam Pelis. Kenyataannya kegemilangan itu berlanjut di musim berikutnya. Awal musim 2025-2026 dibuka dengan partai Community Shield. Liverpool yang juara Liga Inggris bertemu Crystal Palace. Saat itu The Rets sudah diperkuat pemain barunya seperti Ekitike, Frimpong, Kerkes, hingga Mas Wiwit. Pertandingan berjalan seru hingga harus berlanjut ke babak penalti. Di sinilah Crystal Palace

berhasil keluar sebagai juara. Din Henderson yang tampil ganas di bawah mistar sukses membendung sejumlah [musik] eksekutor Liverpool. Kekalahan ini ternyata juga penanda Liverpool akan tampil menyedihkan sepanjang musim. Untung masih lolos ke Liga Champions ya meskipun [musik] finishnya di bawah King MU. Perjalanan Oliver Glasner di Crystal Palace nyatanya juga tak selamanya mulus. Kendati Glasner mendatangkan trofi buat klub setelah 120 tahun puasa gelar. Bahkan menggandakannya dengan community shield, tapi para petinggi

klub [musik] tidak memihaknya. Glasner kehilangan Eberik E di detik terakhir bursa transfer. Klub lebih memilih tawaran 67,5 juta pound sterling dari Arsenal ketimbang mempertahankan E [musik] demi Glasnar. Ia kesal karena sebelum e klub juga membiarkan pergi Michael Olisse. Menurutnya manajemen masih memprioritaskan bisnis daripada sepak bola. Puncak kekesalannya terjadi kala klub melepas Mark Guehi ke Manchester City. [musik] Alih-alih didukung, Glasner justru merasa ditelanjangi karena fondasi skuad

juaranya dipreteli satu persatu. Yang lucunya oleh para petingginya sendiri. Kemarahan ini sempat membuat ruang ganti tak ubahnya neraka Hawiah. Glasar pun bilang akan minggat di akhir musim. Gejolak di ruang ganti membuat Crystal Peles goyah. Mereka tidak memetik kemenangan dalam 12 pertandingan beruntun di segala kompetisi. Peles juga disingkirkan oleh tim non Liga Michaels di putaran ketiga Piala FA. Itu artinya juara bertahan itu tersingkir persis di laga pertama. mulai Piala FA. Sungguh kemerosotan yang payah.

Selesai Buat Eropa Viral!! Sayangnya 7 Klub Ini Malah Bubar di Final UCL

Ketika memasuki paruh musim, manajemen pun berpikir untuk berdamai dengan Glasner. Tapi keputusannya untuk keluar tak bisa diganggu gugat. Klub tak mau memecatnya sehingga Glasner baru akan pergi saat kontraknya habis pada Juni mendatang. Kondisi ruang ganti pun mendingan. Sayangnya posisi Peles di Liga kadung amplas. Glasner hanya bisa berjuang untuk memastikan klub tak terdegradasi. Sementara di dua kompetisi domestik lain, Pele sudah tersingkir. Yang tersisa hanyalah Liga Konferensi Eropa. Di sinilah Glasner mencurahkan segenap

kemampuannya sebab ia sudah berjanji akan berpisah dengan cara baik-baik. The Eagles dibawanya ke babak gugur lewat playoff. Glasnar mendekati laga perlaga dengan sangat baik. Tim macam Aek, Larnaka, Fiorentina hingga Shahtar Donex dihajar untuk melaju ke final. Crystal Pis lalu bertemu Rayo Fayekano di Lipzig secara peluang fifty-fifty. [musik] Tapi Glasner yang berpengalaman di final Eropa diunggulkan. Glasner khatam cara memenangkan partai final. Kuncinya ada pada bermain pragmatis, tidak terburu-buru, dan

memanfaatkan momentum. Itu semua dilakukan Crystal Palace kemarin. Sama seperti saat menghadapi City di final Piala FA, Pelis memilih bermain menunggu. Mereka membiarkan pasukan Inigo Perez menguasai bola. Para pemain Peles yang cuma ngendon di pertahanan sendiri menyulitkan Rayo. Klub Spanyol itu terpaksa mengirim umpan-umpan jauh demi menembus pertahanan Pelis. Tapi strategi ini justru sulit menciptakan peluang. Sekalipun menguasai bola, menurut Fotmob, Rayo hanya menciptakan expected goals 0,52.

Menunjukkan betapa tidak efektifnya penguasaan bola mereka. Di sisi lain, pasukan Glasner justru berhasil memanfaatkan momentum. Lewat satu serangan balik, Jen Philip Mateta sukses mencetak gol di babak kedua. Gol semata wayang itu membawa Pelis meraih gelar Eropa pertamanya. Trofi Liga Konferensi Eropa musim ini tidak hanya melengkapi tiga trofi. Dalam 375 hari Glasner melatih pelis, tapi juga meningkatkan reputasinya. Tinggal di musim depan, kita akan lihat bakal berlabuh ke mana pelatih kelahiran Salsburg ini.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *