Bayangkan em Anda sedang menjual sebuah mobil sport mewah ke luar negeri. Barangnya dikirim transaksinya mulus. Pasti mulus banget tuh transaksinya. Iya kan? Tapi di kuitansi resmi yang Anda laporkan ke pemerintah, Anda menulis harganya ee cuma setara dengan sebuah sepeda lipat. Wah, itu sih jomplang sekali ya. sangat jomplang. Terus ke mana sisa uang dari mobil mewah itu pergi? Nah, selamat datang di penelusuran mendalam kita hari ini. Untuk Anda, em kita sudah mengumpulkan setumpuk laporan investigasi terbaru Kementerian
Keuangan. Benar, kita juga punya data manifest pelabuhan dan ee catatan ekspor komoditas. Betul sekali. Misi kita hari ini, kita mau membongkar bagaimana trik manipulasi harga bernilai jutaan dolar ini bisa lolos em lolos begitu saja di Laut Lepas. Ya, analogi sepeda lipat tadi itu sangat pas untuk mewakili temuan yang ee baru saja diungkap oleh Menteri Keuangan kita Purbaya Yudi Sadewa. Iya, saya dengar laporannya cukup mengejutkan sangat. Jadi, kita sedang melihat 10 perusahaan raksasa kelapa sawit atau
CPO. Mereka ini diduga secara sistematis memanipulasi data. Tujuannya untuk menekan pajak. Betul. Untuk menekan kewajiban pajak mereka secara drastis. Oke, mari kita bedah ini. Saya ee membayangkan selisih harga ini pasti benar-benar tidak masuk akal. Karena bagi Anda yang sudah sering mengikuti isu ekspor, kalau angkanya cuma beda 5 atau 10% itu biasa, kan? Iya. Biasanya itu cuma fluktuasi biaya asuransi atau ee ongkos angkut laut. Nah, tepat. Tapi temuan Kemenku ini pasti lebih dari itu. Bagaimana sih
tepatnya mekanisme mereka ini bekerja? Jauh. Jauh lebih ekstrem. Taktik yang mereka gunakan ini em dikenal dengan istilah underinvoicing. Underinvoicing. Oke. Dan mekanismenya bukan sekedar salah tulis angka secara tidak sengaja. Biasanya komoditas ini dijual dulu di atas kertas ke perusahaan perantara. Semacam perusahaan fiktif gitu ya. Semacam shell company di negara swaka pajak. Di situ harganya sangat ditekan. Baru dari shell company ini barang dijual kembali ke negara tujuan akhir seperti Amerika Serikat.
Oh. dengan harga pasar yang asli. Benar, Kemenku kemarin melakukan sampel acak pada ee tiga pengapalan. Hasilnya di pengapalan pertama ekspor dari Indonesia hanya tercatat 2,6 juta dolar AS. 2,6 juta. Terus saat sampai di tujuan, saat tiba di Amerika, data impornya melonjak menjadi 4,2 juta Dounggu. Itu kan em selisihnya 57%. Artinya lebih dari separuh nilai transaksinya lenyap begitu saja di tengah jalan. Lenyap. Dan e itu baru sampel pertama loh. Masa sih? Ada yang lebih parah? Ada sampel lain yang jauh lebih parah.
Catatan ekspor dari sini hanya 1,44 juta AS. Tapi saat masuk ke negara tujuan, angkanya meledak jadi lebih dari 4 juta. Doar Astaga. Itu lonjakan harga hampir 200%. Ini ini gila sih kayak kita memeriksa tiket di pintu depan bioskop dengan super ketat tapi membiarkan pintu belakang terbuka lebar. Analogi yang sangat tepat. Tapi pertanyaannya kalau harga di AS bisa melonjak sampai tiga kali lipat dan penelusurannya sudah sampai ke level kapal pengangkut, em bagaimana mungkin perbedaan semencolok ini baru tertangkap
sekarang? Karena mencocokkan data manifest kapal pengangkut di Indonesia dengan sistem pabean di negara tujuan itu tidak berjalan otomatis. Oh, sistemnya tidak terhubung. Bea cukai Amerika misalnya. Celah birokrasi inilah yang dieksploitasi selama bertahun-tahun. Pantas saja praktik ini baru terbongkar karena Kemenk mengambil inisiatif. Mereka menelusuri data secara manual sampai ke level manifest kapal untuk mencocokkan ruta dan volumenya. Nah, di sinilah bagian yang sangat menarik. Kalau selisihnya sampai 200%
berarti perusahaan-perusahaan ini hanya melaporkan pendapatan domestik yang sangat kecil, kan? Sangat kecil. Berarti berapa banyak potensi pendapatan yang menguap dari kas negara karena selisih ini? Wah, porsinya sangat masif. Jika kita hubungkan ini dengan gambaran besarnya, ee pajak dan pungukan ekspor itu kan dihitung berdasarkan nilai faktur dari pelabuhan asal. Benar. Yang nilainya sudah dikecilkan tadi. Perusahaan raksasa ini memang masih dirahasiakan ya. Tapi jika komunitas sekelas CPO yang nota B ini
diawasi sangat ketat bisa dimanipulasi begini, em apakah komunitas kita yang lain aman? Pertanyaan yang bagus dan jawabannya dari fakta Kemenko tidak aman. Serius? Bukan cuma CPO bukan. Kemenko sudah mengkonfirmasi bahwa target investigasi mereka selanjutnya adalah ekspor batu bara. Wah, merembet ke batu bara. Betul. Praktik manipulasi ini terbukti memicu efek domino. Ini menjadi eh pola sistemik yang menular ke berbagai sektor. Jadi, apa arti dari semua ini untuk Anda? Apa yang kita bedah hari ini bukan
sekedar perkara dokumen yang tercecer atau ee kesalahan administratif biasa? Sama sekali bukan. Kita sedang melihat celah sistem global yang dimanfaatkan secara terstruktur hingga ke level logistik kapal yang em merugikan negara besar-besaran. Dan itu membuktikan bahwa angka rapi di laporan keuangan seringki tidak menceritakan fakta sebenarnya di lapangan. Fakta di Laut Lepas tepatnya yang membawa kita pada satu pemikiran terakhir untuk Anda renungkan setelah penelusuran ini selesai. Ya, bayangkan saja
jika dari tiga sampel acak pada 10 perusahaan CPO saja ee sudah mengungkap selisih hingga 200%, seberapa besar sebenarnya kekayaan alam yang mengalir keluar dari negara ini setiap harinya? Pasti jumlahnya sangat tidak terbayangkan. Betul. Berubah menjadi semacam uang hantu di pasar internasional yang keberadaannya tidak pernah kita ketahui. Kalau tanya saya akan jawab tapi saya kan perusahaan apa aja, Pak? Bisa disebutin enggak sih, Pak? Kan enggak boleh. Kalau itu bisa saya cuman tes 10 perusahaan besar.
Heeh. Tiga penghafalan masing-masing perusahaan sehari yang dipilih. Dan aslinya ternyata aja ya. He cukup signifikan tuh. Kita lihat ya ada itu barusan itu 3 tahun sekali mereka melakukan yang ada di ekspor. Oke. Amerika misalnya atau mereka misalnya harganya di sini berapa cuman seperempat atau sepertiga ada yang diarin ke jadi dia di sini usahanya jadi rugiat sih ini juga jadi di sana ee Eh, jadi income-nya lebih rendah kan, nilai ekspornya juga lebih rendah di sini. Jadi saya lebih banyak ada perusahaannya
contohnya ya contohnya sayaak saya enggak enggak boleh sebutan perusannya ya. Katanya ini ada satu perusahan ini dari Indonesia dikirim harganya semuanya 2000. Rp2.600. Di sana di Amerika impornya Rp4.200. Jadi deltanya ada 57% lebih rendah. Ada yang lebih gila lagi ya. Ini satu peran lagi impornya 144 Rp1.44. Jadi sini ekspornya di sana Rp4.400. Jadi perubahan harganya tuh 400% eh 200% itu mereka enggak kita bisa resepsi kapal per kapal. Jadi itu mungkin saya laporin kalau ditanya kalau enggak ya udah.
Itu berapa perusahaan berarti Pak? Ada berapa perusahaan? 10 10 besar semuanya seperti itu. Itu 10 besar berarti lebih dari 10 Pak atau gimana? Lebih dari 10 cek 10 besar 10. Perusahaan dari mana aja Pak? Saya pilih 10 terbesar. yang diumumkan. Tapi kan saya punya berapa? 15 lebih yang kita cek sektornya, Pak. Ini yang CP aja. Download Tribun X sekarang menghadirkan lokal menjadi Indonesia. Yeah.

Komentar