Diskusi ini menyoroti kekhawatiran mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam perundingan damai. Narasumber, Prof. Angel Damayanti dan Mas Mulawarman, membahas insiden jatuhnya helikopter Apache yang memicu saling serang di sekitar Selat Hormuz. Amerika Serikat membungkus insiden ini sebagai serangan dari Iran, sementara Iran menunjukkan sikap siap siaga tanpa membantah maupun mengiyakan secara langsung.
Amerika Serikat dinilai memiliki kepentingan politik untuk segera menyelesaikan perang, terutama dalam konteks kampanye pemilihan Presiden Donald Trump. Namun, terdapat miskalkulasi karena Iran memiliki daya juang yang kuat dan tidak mudah menyerah. Di sisi lain, Iran berusaha mengirimkan pesan psikologis dan kedaulatan bahwa mereka siap merespons setiap serangan militer Amerika. Iran juga menegaskan bahwa kedaulatan mereka tidak hanya mencakup wilayah geografis, tetapi juga melibatkan proksi seperti Hizbullah dan Houthi.
Kondisi saat ini digambarkan sebagai eskalasi terkontrol atau perang pendahuluan, di mana efek gentar (deterrence) kedua belah pihak dianggap gagal. Perdamaian dinilai semakin jauh karena gencatan senjata tidak berhasil. Konflik di Lebanon yang melibatkan Israel juga menjadi hambatan besar dalam negosiasi perdamaian, karena Iran menolak berdamai selama Israel terus menyerang sekutunya.
Skenario ke depan mencakup kemungkinan eskalasi terbatas yang terus berlanjut, karena Amerika Serikat ingin menghindari perang total namun tetap ingin memperjuangkan kepentingannya di kawasan tersebut. Peran lembaga internasional seperti PBB dipertanyakan karena dianggap kurang efektif dalam menekan pihak-pihak yang terlibat. Meskipun terdapat upaya mediasi melalui negara seperti Oman, banyak pengamat melihat bahwa penentu utama perdamaian tetaplah aktor-aktor negara yang terlibat langsung dalam konflik.

Komentar