Aduh, pegang meter kaki. Eh, berasa kayaknya pasti semua orang marah sama aku. Pasti semua orang enggak suka sama aku. Pasti semua orang benci sama aku. Dan aku mengerti kenapa gitu [musik] aku bisa memahami itu. Aku berapa hari sebelum itu enggak bisa tidur, A. gitu udah enggak bisa tidur. Karena kan sebenarnya aku pun sangat amat menginginkan adanya pertemuan itu. [musik] Jadi aku udah kayak ayo ketemu, ayo ketemu, ayo ketemu, ayo ketemu. Tapi qadarullah ya memang hari itu akhirnya Allah izinkan
kita ketemu. Jadi berminta meminta ketemu itu sudah berkali-kali. Berkali-kali. Iya. Emang ketemu tapi memang segala macam alasan bisa waktu bisa apapun itulah. Terakhir [musik] kali sampai akhirnya kita ketemu gitu. Aku bilang sama Resa bahwa ayo bilang ini antara ibu sama kamu. Aku bilang gitu. Jadi ee ayo kita ketemu Nang. Aku bilang gitu. Dan aku ingat banget itu saat aku ngomong sama dia bahwa akhirnya panggilan yang aku panggil yang sebenarnya itu adalah panggilan yang udah lama ada di kepala aku akan aku
panggil dia dengan [musik] itu gitu. Tenang lanang anak laki-laki nangang. [musik] Nah, selama ini manggilnya Resa. Resa dan akhirnya Nang Nang gitu. Dan itu memang udah udah selalu ada di pikiran aku gitu. Sama 24 tahun kan kamu tahu ya. Iya. Dia adalah anakku. Iya. Tapi dia menganggap aku adalah sepupunya. Iya. Rasanya itu gimana? [musik] rasanya itu justru ee menjadi begitu terasa luar biasa di saat pertama kali aku mendengar dan membaca dia memanggil aku ibu di pertemuan itu. Iya kan sebelumnya kan cuma di WhatsApp
kan. Oh iya WhatsApp juga udah. Pada saat aku bilang Nang ini antara kamu dan ibu aku bilang ayo kita ketemu. Akhirnya aku pertama kali aku bisa ngomongin itu langsung sama dia. Aku bilang anak ibu ganteng. Aku bilang gitu aku senang banget. Alhamdulillah. [musik] Jadi memang sampai saat ini banyak hal-hal yang kita belum ngobrol. A apakah benar beliau orang Aceh? Pokoknya orang Indonesia. Orang Indonesia. Tapi yang pasti aku mau minta maaf dulu sebelumnya untuk karena banyak sekali kayaknya yang jadi
spekulasi ke beberapa nama-nama. Benar. Iwakeuh. Terus siapa lagi ya? Kekurian. Iya. Ya, minta maaf ya. Bukan, bukan bukan tekurian bukan bukanak bukan. Ada banyak nama kasihan. Jadi aku minta maaf sekali lagi untuk [musik] yang ee di tersangkut PAUD, Mas Aji. Oh iya, kalau enggak salahestu juga sampai ada kemarin juga sampai mohon maaf untuk keluarga Bapak Amin Rais juga mohon maafan apa Denada merahasiakan ayah biologis dari Resa [musik] buat aku dia sudah memutuskan untuk tidak berada di hidup kami.
Hm. Iya. Tapi ngopsi buat apa? Jadi selamanya akan [musik] dikubur dalam-dalam. Tapi untuk Resa akan dikatakan suatu saat. Suatu saat. Suatu saat. Suatu saat. Tapi untuk publik tidak. Buat [musik] apa? Buat apa? Ya. Balik lagi ya. Anak itu apapun kondisinya akan terikat secara perdata dengan ibunya. terlepas. Mau diketahui siapa bapaknya atau tidak, ya sudah kita serahkan kepada mereka. Tanpa with or without bapak, tetap aja apa segala sesuatunya harus melalui Ibu. Terlepas ee dari perdata, ada juga
sebuah ikatan, sebuah [musik] bond, sebuah hubungan dari seorang ibu biologis, ibu kandung kepada anaknya. Dan jujur hati itu kayaknya sangat senang ya melihat ya ketika Dena akhirnya bisa memeluk sang putra karena pasti ini adalah perjalanan yang mereka hadapi sebagai keluarga yang benar. Ya, mereka sendiri mengetahui betapa beratnya itu. Tapi yang pasti kini mereka sudah tiba di titik yang memang sudah sangat dinantikan oleh Reza, pemirsa.
Komentar