JAKARTA — Pemilihan lokasi pembangunan pangkalan manusia di permukaan Bulan di masa depan membutuhkan kalkulasi tingkat tinggi. Selain mempertimbangkan kedekatan dengan cadangan es air, para ilmuwan mengimbau agensi antariksa dunia seperti NASA untuk memetakan risiko gempa Bulan (moonquakes) yang terbukti jauh lebih aktif dan tersebar merata dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Laporan dari detikInet mengonfirmasi bahwa satelit alami Bumi tersebut terus mengalami proses penyusutan ukuran (contraction) secara perlahan yang memicu tekanan pada lapisan kerak dan melahirkan puluhan ribu patahan aktif.
Mekanisme Penyusutan Bulan dan Penemuan Lebih dari 10.000 Patahan Aktif
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik terintegrasi, Bulan merupakan benda langit tunggal tanpa pergerakan lempeng. Kondisi ini menyebabkan tekanan akibat pendinginan bagian dalam Bulan tersebar luas ke seluruh permukaan:
1. Laju Penyusutan Lambat Namun Berdampak Masif
Bulan menyusut secara perlahan dengan laju radius sekitar satu meter setiap 10 juta tahun. Kendati terlihat kecil, kontraksi termal ini menciptakan ketegangan hebat pada kerak Bulan hingga menghasilkan retakan, tebing lobus (lobed scarps), dan pergeseran tanah.
2. Temuan Kamera Lunar Reconnaissance Orbiter (LROC)
Tim peneliti yang dipimpin oleh Thomas Watters dari Smithsonian Institution berhasil mengidentifikasi lebih dari 10.000 patahan muda melalui pemetaan citra resolusi tinggi LROC:
“Jumlah patahan muda yang terungkap jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Seiring mendinginnya bagian dalam Bulan, pembentukan patahan baru dan perkembangan patahan lama terus berlanjut hingga saat ini,” terang Thomas Watters sebagaimana dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal.
Ancaman Gempa Dangkal Terhadap Pangkalan Manusia di Kutub Selatan Bulan
Berdasarkan analisis penanggalan geologi, sebagian besar patahan di Bulan diperkirakan berusia kurang dari 150 juta tahun (Zaman Kopernikus). Riset mencatat hampir setengah dari sampel 28 gempa Bulan dangkal berpusat dalam radius 90 kilometer dari tebing-tebing patahan aktif tersebut.
1. Bahaya Kerusakan Bangunan Tanpa Atmosfer
Di Bumi, gempa bumi merubuhkan fondasi beton. Namun di Bulan yang hampa udara, goncangan kecil yang meretakkan kubah pangkalan pelindung dapat berakibat fatal akibat kebocoran tekanan udara dan oksigen instan:
-
Sesar Dorong Dataran Tinggi: Patahan lebih jarang ditemukan pada area kerak Bulan yang sangat tebal. Area ini diproyeksikan sebagai lokasi paling aman untuk mendirikan pangkalan pemukiman.
-
Risiko Kerentanan Kutub Selatan: Para peneliti memberikan peringatan keras bahwa wilayah Kutub Selatan Bulan—lokasi yang menjadi target pendaratan Misi Artemis NASA karena kaya cadangan es—memiliki lapisan kerak yang tidak tebal dan rawan runtuh akibat guncangan sesar dorong.
“Penyebaran patahan aktif mengindikasikan bahwa perencanaan tata ruang pangkalan manusia di Bulan harus memperhitungkan Peta Bahaya Seismik demi menjamin keselamatan astronot,” ulas analisis astronomi dari detikInet.
Comment