JAKARTA — Satelit alami Bumi, Bulan, dilaporkan terus mengalami penyusutan volume dalam proses geologis yang telah berlangsung selama ratusan juta tahun. Fenomena ini tidak hanya mengubah ukuran fisiknya secara bertahap, melainkan juga memicu aktivitas seismik berupa gempa dangkal (moonquakes) serta tanah longsor di permukaannya.
Laporan riset terbaru yang dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal sebagaimana dilansir dari detikJabar menyebutkan bahwa radius Bulan telah berkurang sekitar 42 hingga 46 meter selama 400 juta tahun terakhir akibat proses pendinginan suhu di bagian intinya.
Analisis Patahan Kerak dan Analogi Mendinginnya Inti Bulan
1. Pemetaan Lebih dari 10.000 Patahan
Tim peneliti gabungan dari Smithsonian Institution dan NASA memanfaatkan data citra resolusi tinggi dari wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) untuk menganalisis retakan di permukaan Bulan:
-
Jumlah Patahan: Peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 10.000 patahan geologis, di mana sebanyak 5.470 patahan di antaranya memiliki panjang melebihi satu kilometer.
-
Kecepatan Penyusutan: Secara rata-rata, radius Bulan menyusut sekitar 6 hingga 11 sentimeter setiap satu juta tahun—kecepatan yang tidak kasatmata jika dibandingkan dengan total radius Bulan yang mencapai 1.737 kilometer.
2. Analogi Buah Anggur Menjadi Kismis
Para ahli menganalogikan proses ini seperti buah anggur yang mengering menjadi kismis. Berbeda dengan kulit anggur yang fleksibel, kerak Bulan bersifat sangat keras dan rapuh. Saat bagian dalam Bulan mendingin dan mengkerut, kerak keras di permukaannya pecah, saling menindih, dan membentuk tebing terjal yang dikenal sebagai thrust fault (patahan naik).
Aktivitas Seismik dan Implikasi Bagi Misi Eksplorasi Berawak Masa Depan
Penyusutan volume Bulan memicu pelepasan tegangan geologis raksasa yang berdampak langsung pada kestabilan permukaan:
-
Pelepasan Tekanan Seismik: Tegangan yang dilepaskan saat terjadi gempa Bulan diperkirakan mencapai 4 megapascal (MPa), atau setara 40 kali tekanan atmosfer Bumi.
-
Korelasi Lokasi Gempa: Analisis terhadap 28 titik gempa yang dicatat oleh instrumen Apollo menunjukkan bahwa 13 di antaranya berlokasi dalam radius 90 kilometer dari tebing patahan aktif.
“Informasi mengenai lokasi rawan gempa dan longsor tanah di Bulan menjadi pertimbangan krusial bagi NASA dalam memetakan zona aman pendaratan misi berawak Artemis serta pembangunan pangkalan permanen manusia di masa depan,” ulas laporan riset dari detikJabar.
Comment