JAKARTA, INDONESIA — Para astronom mengidentifikasi sebuah katai putih yang diperkirakan memiliki warna hijau, temuan langka yang menantang pemahaman tentang warna bintang dan proses evolusi benda langit. Objek bernama WD J1330+6435 itu berada sekitar 326 tahun cahaya dari Bumi dan diduga memperoleh rona kehijauan karena komposisi kimia atmosfernya.
Penemuan ini menjadi sorotan dunia astronomi menjelang Halloween 2026. Katai putih tersebut dijuluki “zombie kosmik” karena merupakan sisa inti bintang yang telah kehabisan bahan bakar, tetapi masih berinteraksi dengan material planet berbatu di sekitarnya.
Penelitian yang dilaporkan Space.com pada 15 Oktober 2026 menunjukkan bahwa sisa bintang yang telah mati tidak selalu terlihat putih atau kebiruan. Dalam kondisi tertentu, interaksi unsur kimia dengan cahaya dapat menghasilkan warna yang tidak biasa, termasuk hijau, merah muda, ungu, dan sian.
Hasil penelitian ini memperluas pemahaman tentang atmosfer katai putih sekaligus menunjukkan bahwa warna bintang tidak selalu dapat dijelaskan hanya berdasarkan temperaturnya.
Bintang Hijau WD J1330+6435 Menjadi Sorotan Astronomi
Selama ini, warna bintang umumnya dikaitkan dengan temperatur permukaannya. Bintang yang relatif dingin cenderung tampak merah atau jingga, sedangkan bintang yang lebih panas dapat terlihat putih hingga biru.
Namun, katai putih memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Kepadatan materi dan komposisi kimia atmosfernya dapat memengaruhi bagaimana cahaya dipancarkan, diserap, dan akhirnya diamati dari Bumi.
Mengapa katai putih bisa berwarna hijau?
WD J1330+6435 merupakan katai putih yang atmosfernya diperkaya oleh unsur-unsur dari material berbatu, termasuk kalsium, litium, dan natrium. Material tersebut diduga berasal dari benda-benda planet yang hancur atau tertarik ke dalam gravitasi bintang.
Menurut penjelasan peneliti Mark Hollands dari University of Warwick, jejak natrium di atmosfer katai putih dapat menyerap bagian spektrum cahaya berwarna jingga. Proses ini mengubah keseimbangan warna cahaya yang keluar dari bintang.
Model yang digunakan tim peneliti menunjukkan bahwa kombinasi unsur kimia dan kondisi atmosfer yang ekstrem dapat menghasilkan rona hijau yang tidak biasa.
Meski demikian, warna tersebut ditentukan melalui analisis spektrum dan pemodelan ilmiah. Bukan berarti bintang itu telah diamati secara langsung dengan warna hijau terang seperti objek dalam ilustrasi fiksi ilmiah.
Apa Itu Katai Putih dan Bagaimana Bintang Ini Terbentuk?
Katai putih merupakan sisa inti bintang bermassa rendah hingga menengah, termasuk bintang yang awalnya memiliki massa sebanding dengan Matahari.
Ketika bahan bakar nuklirnya habis, bintang seperti Matahari akan mengalami perubahan besar. Lapisan luarnya terlepas, sementara bagian inti yang tersisa mengalami pemadatan dan menjadi objek yang sangat rapat.
Sisa bintang yang sangat padat
Katai putih memiliki massa yang dapat mendekati massa Matahari, tetapi ukurannya jauh lebih kecil, kira-kira sebanding dengan ukuran Bumi.
Kondisi tersebut menghasilkan kepadatan yang luar biasa tinggi. Materi dalam atmosfernya dapat berperilaku berbeda dari materi dalam kondisi normal, sehingga unsur-unsur kimia memengaruhi spektrum cahaya dengan cara yang tidak selalu ditemukan pada bintang biasa.
Inilah salah satu alasan para astronom mempelajari katai putih untuk memahami evolusi bintang, komposisi kimia alam semesta, dan nasib sistem planet setelah bintang induknya menua.
Bagaimana bintang mati memakan planet?
Sebagian katai putih diketahui mengakumulasi material dari asteroid, komet, atau sisa planet yang berada di sekitarnya.
Ketika benda-benda tersebut mendekati bintang akibat gangguan gravitasi, materialnya dapat hancur dan jatuh ke atmosfer katai putih. Proses ini dikenal sebagai akresi.
Akresi material berbatu dapat meninggalkan jejak unsur kimia pada atmosfer bintang. Pada WD J1330+6435, jejak unsur tersebut menjadi bagian penting dalam penjelasan mengenai kemungkinan warna hijaunya.
Istilah “zombie kosmik” merupakan julukan populer untuk menggambarkan sisa bintang yang telah mati tetapi masih berinteraksi dengan lingkungan planetnya, bukan istilah teknis dalam astronomi.
Katai Putih Juga Bisa Berwarna Merah Muda hingga Ungu
Penelitian ini tidak hanya membahas objek berwarna hijau. Para ilmuwan juga mempelajari bagaimana komposisi atmosfer dan kondisi fisik katai putih dapat menghasilkan variasi warna yang lebih luas.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa unsur kimia tertentu dapat mengubah spektrum cahaya yang diamati dari objek tersebut.
Karbon dapat menghasilkan rona merah muda
Salah satu objek yang menarik perhatian peneliti adalah katai putih WD J1011+2845, yang berada sekitar 48 tahun cahaya dari Bumi.
Objek ini diduga memiliki warna merah muda menyerupai salmon. Karbon yang terbawa dari bagian dalam bintang menuju lapisan luarnya dapat memengaruhi cahaya yang dipancarkan.
Molekul karbon mengubah spektrum cahaya sehingga warna yang dihasilkan berbeda dari penampilan putih atau kebiruan yang lazim dikaitkan dengan katai putih.
Komposisi atmosfer menentukan warna bintang
Tim peneliti juga mengidentifikasi sejumlah pola warna berdasarkan unsur kimia yang dominan di atmosfer katai putih.
- Merah muda atau ungu: dapat muncul pada katai putih dengan kandungan karbon yang tinggi.
- Kuning: dapat berkaitan dengan atmosfer yang diperkaya material sisa asteroid, komet, atau sistem planet.
- Sian atau biru pucat: dapat muncul pada katai putih yang lebih dingin dengan atmosfer hidrogen dan helium dalam kondisi tertentu.
- Hijau: dapat muncul ketika kombinasi unsur kimia, termasuk natrium, memengaruhi spektrum cahaya secara khusus.
Warna tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara temperatur, kepadatan, dan komposisi kimia. Tidak semua katai putih dengan unsur yang sama akan memiliki penampilan identik.
Seberapa Langka Bintang dengan Warna Tidak Biasa?
Walaupun model penelitian menunjukkan beragam kemungkinan warna, katai putih dengan penampilan yang tidak biasa diperkirakan hanya merupakan sebagian kecil dari populasi objek tersebut.
Dalam sampel 151 katai putih yang berada dalam jarak sekitar 65 tahun cahaya dari Bumi, tim peneliti menemukan lima objek dengan karakteristik warna yang tidak biasa.
Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti memperkirakan bahwa sekitar satu dari 30 katai putih mungkin memiliki warna yang berbeda dari penampilan putih yang paling umum.
Mengapa penemuan ini penting?
Warna merupakan salah satu petunjuk yang digunakan astronom untuk mempelajari sifat fisik benda langit. Dengan memahami pengaruh komposisi atmosfer terhadap cahaya, ilmuwan dapat menafsirkan pengamatan bintang secara lebih akurat.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa model sederhana yang menghubungkan warna bintang hanya dengan temperatur belum tentu cukup untuk menjelaskan semua jenis katai putih.
Analisis spektrum yang lebih rinci dapat membantu mengungkap komposisi unsur, proses akresi, dan perubahan yang terjadi ketika bintang memasuki tahap akhir kehidupannya.
Penelitian Katai Putih Membuka Peluang Studi Baru
Studi mengenai katai putih berwarna tidak biasa memberikan kesempatan bagi astronom untuk menyelidiki hubungan antara bintang yang telah mati dan sisa sistem planetnya.
Material yang jatuh ke atmosfer katai putih dapat menjadi petunjuk mengenai komposisi benda berbatu yang pernah mengorbit bintang tersebut. Dengan demikian, objek ini dapat membantu ilmuwan memahami nasib sistem planet ketika bintang induknya memasuki tahap akhir evolusi.
Apa artinya bagi masa depan Matahari?
Matahari diperkirakan akan mengalami perubahan besar dalam beberapa miliar tahun mendatang ketika bahan bakar nuklirnya habis. Setelah melalui fase evolusi tertentu dan melepaskan lapisan luarnya, Matahari pada akhirnya akan meninggalkan katai putih.
Jika sisa bintang itu kemudian mengakumulasi material planet berbatu, komposisi atmosfernya berpotensi berubah. Namun, hal tersebut tidak berarti Matahari pasti akan menjadi hijau.
Warna akhir katai putih bergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi atmosfer, temperatur, serta jenis material yang masuk ke dalamnya. Kemungkinan Matahari mengalami perubahan warna seperti WD J1330+6435 masih merupakan skenario bersyarat, bukan prediksi pasti.
Kesimpulan: Bintang Zombie Hijau Mengungkap Keragaman Alam Semesta
Penelitian terhadap WD J1330+6435 menunjukkan bahwa katai putih dapat memiliki warna yang lebih beragam daripada yang selama ini diperkirakan. Komposisi kimia atmosfer, kepadatan ekstrem, dan akresi material planet dapat memengaruhi spektrum cahaya sehingga menghasilkan rona yang tidak biasa.
Temuan ini tidak hanya menarik karena julukan “bintang zombie” yang sesuai dengan suasana Halloween, tetapi juga penting bagi ilmu astronomi. Penelitian tersebut membantu menjelaskan bagaimana bintang berubah setelah kehabisan bahan bakar dan bagaimana sisa sistem planet dapat memengaruhi atmosfernya.
Studi lanjutan terhadap katai putih akan membantu ilmuwan menguji model warna bintang, memahami komposisi material planet yang telah hancur, dan memperkirakan evolusi sistem bintang seperti Matahari.
Comment